Gadisku Yang Hilang

Gadisku Yang Hilang
Suara Tak Asing


__ADS_3

Zilya merasakan kehangatan dalam pelukan Yessi. Rasa nyaman membuatnya seolah tak ingin lepas dari pelukan Yessi. Begitupun dengan Yessi, ia pun merasakan hal yang sama.


“Kenapa bisa aneh seperti ini? Apa karena aku iba pada anak yang tak punya orang tua ini?” gumam Yessi dalam hati.


“Hiks hiks hiks ….” Isak tangis Zilya mampu membuyarkan lamunan Yessi. Perlahan ia melepaskan pelukannya. Ia menatap memandangi wajah Zilya yang sudah basah dengan air mata.


“Sayang, kamu kenapa menangis? Apa kamu ada yang sakit?” tanya Yessi nampak khawatir.


“Iya Zilya kamu kenapa?” Elea pun ikut bertanya karena khawatir.


Zilya yang menangis hanya menggelengkan kepanya saja tanpa berkata apa pun, hanya isak tangis yang keluar dari bibir manisnya.


“Zilya, kamu jangan bersedih … kamu bisa menganggap mama ku ini seperti mama kamu juga, kita kan sahabat.” Elea yang seoalah paham atas kesedihan yang dirasakan Zilya, mencoba menenagkannya.


“Iya, sayang … kamu bisa menganggap Tante seperti mama kamu sendiri. Bahkan kamu juga boleh memangil ku dengan sebutan Mama sama seperti Alesha.” Yessi pun mengamini ucapan putrinya.


Grep ….


“Mama …huaaaaaa…. Mama ….” Zilya menagis histeris dipelukan Yessi.


“Ya Allah … kenapa hati ini rasanya sakit sekali melihat anak ini menagis seperti ini. Dia pasti sangat merindukan kedua orang tuanya.” lirih Yessi dalam hati.


“Sssstttt … udah ya Zilya cantik … kamu jangan menangis lagi … Nanti jadi jelek loh … gimana kalau kita pergi membeli es krim bersama Elea? " ajak Yessi membujuk.


“Iya aku mau aku mau ….” Elea malah yang semangat untuk pergi.


Setelah beberapa saat tangisan Zilya pun mereda. Ia pergi bersama Elea dan Yessi ke sebuah mall. Mereka bermain di wahana permainan yang ada di sana dengan riang gembira. Yessi pun mengabadikan momen itu dengan kamera ponselnya.


Ketiganya makan siang di sebuah restoran pizza dan membeli es krim tentunya sesuai ajakan Yessi sebelumnya. Karena Elea terus menagih. Dan kini mereka baru selesai berbelanja beberapa pakaian dan keperluan sekolah untuk Elea dan Zilya.


“Elea, om dua itu siapa? Kok dari tadi ngikutin kita?” tanya Zilya saat melihat dua orang pria kekar berpakaian hitam- hitam teru berada di dekat mereka.


“Oh, itu om pengawal ku. Tenang saja, mereka baik kok. Bukan orang jahat.” ucap Elea.


“Wah, ternyata kamu seperti di film- film princess yang memiliki pengawal segala … hebat ya.” puji Zilya takjub.


“Kata Papa biar aku sama mama selalu aman kalau ada yang menjaga. Jadi Papa bisa bekerja dengan tenang.” ucap Elea.

__ADS_1


“Terimakasih Elea, terimakasih Tante …”ucap Zilya pada ibu adan anak yang sudah membawanya ke tempat yang tak pernah ia datangi sebelumnya.


“Kok manggil Tante, kan tadi mama ku bilang kamu harus memanggil mama …” Elea memprotes Zilya.


“Hehe, ia maaf lupa … terimakasih Ma- ma ….” Zilya nampaknya masih canggung untuk memanggil Yessi dengan sebutan itu.


“Hehehehe …. Sudah yuk kita pulang. Sudah sore ini, nanti nenek kamu bisa nyariin.” Yessi mengusap lembut kepala Zilya.


“Ya ampun, aku belum bilang sama nenek kalau mau pergi bersama Elea dan Ma- ma… “ Zilya baru teringat akan hal itu.


“Tenang saja, kami akan mengantarkan mu sekalian meminta maaf karena sudah membawa mu tanpa seizin nya. Ayok kita pulang … Nanti bisa keduluan pulang sama Papa nya Elea.” ucap Yessi.


Yessi membawa kedua anak perempuan itu pulang bersamanya yang diikuti oleh mobil pengawal di belakangnya.


Sesampainya di alamat yang ditunjukan oleh Zilya yang ternyata memang tak jauh dari sekolah, mereka keluar dari mobil dengan membawa barang belanjaan di tangan Zilya. Ia mengajak Yessi dan Elea menyusuri sebuah gang menuju rumah neneknya.


Setelah berjalan sekitar dua ratus meter lebih, mereka pun sampai di depan sebuah rumah kecil dan sederhana.


“Ya ampun Zilya, kamu kemana saja? kakak nyariin kamu dari tadi … Nenek sampai kembuh sakitnya karena mikirin kamu yang takut diculik.” cerocos seorang wanita yang baru keluar dari rumah dan langsung menghampiri Zilya itu.


“Maaf Kak, tadi dagangan ku belum habis. Terus sama mamanya Elea diborong, terus aku diajak main sama Elea.” ucap Zilya.


“Maaf, anda siapa ya?” tanya wanita itu.


“Hai kakak … Kakak ini pasti Kak Lisda ya. aku Elea sahabatnya Zilya. Kami teman satu kelas di kelas satu.” Elea memperkenalkan dirinya.


“Dan ini mama ku, tap Zilya boleh menganggap mama ku juga sebagai mama nya, karena kami kan bersahabat selamanya,” ucapnya lagi dengan tersenyum ramah.


“Oh, jadi ini teman baru yang kamu ceritakan itu …” Lisda menganggukkan kepala.


“Iya, Kak …” angguk Zilya.


“Mari mari silahkan masuk …” ucapnya mempersilahkan.


Saat Yessi dan Elea hendak masuk, tiba- tiba telpon genggam Yessi berdering, dan ternyata itu adalah panggilan telpon dari suaminya, Razan.


“Maaf … sebentar saya angkat telpon dulu.” Yessi pun kembali ke jalan gang untuk menerima telpon dari suminya itu, sedangkan Elea ikut masuk dan menemui neneknya Zilya yang sedang beristirahat di kamarnya.

__ADS_1


“Assalamu’alaikum….” ucap Zilya dan Elea saat masuk ke kamar neneknya.


“Wa’alaikumsalam … Ya Allah, Zilya … kamu kemana saja Nak? Nenek sangat mengkhawatirkan kamu.” nenek langsung menyambut kedatangan Zilya dengan perasaan cemas.


“Maaf nenek … tadi aku bermain bersama Elea sampai lupa kalau belum bilang sama kak Lisda dan nenek.” Zilya nampak menyesali perbuatannya yang lupa akan pesan neneknya.


“Iya, nenek … jangan marahin Zilya ya. ini juga salah aku, karena tidak minta izin ngajak Zilya ke mall.” Elea ikut membela Zilya.


“Kamu siapa nak?” tanya Nenek heran saat melihat keberadaan Elea di kamarnya.


“Aku Elea, sahabatnyanya Zilya, nenek …” ia pun memperkenalkan dirinya.


“Apa? Eela ???” neneknya Zilya nampak terkejut mendengar nya.


“Iya, nenek … ini sahabat ku. Elea sangat baik, dan dia suka bantu aku berjualan roti di sekolah. Tadi juga aku diajak main dan makan pizza sama eskrim. Terus dibeliin ini juga …” Zilya terus memuji sahabatnya lalu memperlihatkan belanjaannya pada sang nenek.


“Ya ampun nak, kamu baik sekali … Terimakasih banyak ya anak cantik …” ucap nenek terharu. Karena masih ada yang mau berteman bahkan sangat baik terhadap cucunya.


“Bukan aku nenek, tapi mama ku yang mengajak kami main ke mall dan beli in semua.” Elea seolah takningin me dapatkan pujian yang tak semestinya ia terima.


“Kalau begitu nenek juga mengcapkan terimakasih pada mama kamu.” ucap nenek.


“Itu mama ada di luar. Mama dulu mau menjenguk nenek, tapi kata Zilya sudah sembuh jadinya gak jadi menjenguk.” Elea menjelaskan.


“Elea … sayang …” Yessi memanggil putrinya dari luar sana.


Elea, Zilya dan neneknya yang mendengar suara itu langsung mengarahkan pandangan mereka ke arah pintu kamar yang terbuka.


“Elea, dicariin sama mama kamu, katanya Papa menyuruh kalian pulang,” ucap Lisda dari gawang pintu.


“Nenek, aku pulang dulu ya … Assalamualaikum. …” ucapnya setelah mencium tangan neneknya Zilya. Ia bergegas pergi keluar.


“Suara itu … sepertinya tidak asing bagiku ….” gumam neneknya Zilya dalam hati


-


-

__ADS_1


Bersambung ….


__ADS_2