
"Papa … papa … tadi aku punya teman baru. Dia baik loh ngajarin aku menulis yang aku gak bisa tadi.” Elea yang duduk di jok sebelah Razan yang tengah mengemudikan mobil, bercerita dengan antusias.
“Oh ya … bagus dong kalau Elea baru masuk sudah punya teman baru.” Razan menyahut dan ikut senang.
“Siapa nama teman baru Elea?” tanya Yessi yang duduk di belakang.
“Namanya Zilya ….” Elea memberitahukan nama teman barunya.
“Wah nama yang cantik.” Yessi memuji.
“Iya, tapi tadi dia sedih.” Elea menampakan raut wajah sedih.
“Sedih kenapa, sayang?” tanya Yessi lagi.
“Katanya neneknya sedang sakit, jadi dia diantar sama dijemput ke sekolah oleh tetangganya.” Elea mengatakan sesuai curhatan teman barunya itu.
“Kasihan teman baru mu itu, sayang. Memangnya orang tua nya kemana?” Yessi nampak semakin penasaran pada teman baru Elea.
“Zilya bilang orang tuanya gak ada, dia cuma tinggal bersama neneknya. Dia juga bilang rumahnya dekat sekolah.” Ternyata Elea dan Zilya sudah seakrab itu, hingga Zilya menceritakan tentang keluarga dan tempat tinggalnya.
“Oh ya... " Yessi mengangukan kepala.
“Iya … Mama, nanti boleh gak aku menjengk neneknya Zilya?” Elea sangat perhatian pada teman barunya.
“Tentu saja sayang, nanti Mama akan menemani mu.” Yessi langsung memberinya izin.
“Hore … terimakasih mama ku tersayang, tercinta, tersegalanya ….” Elea sangat gembira mendapat izin dari mama nya.
“Oh jadi cuman sama Mama aja nih sayang dan cintanya? Sedangkan sama Papa enggak?” Razan nampaknya mencemburui putri tercintanya.
“Aku juga sayang Papa … muahh ….” Elea memeluk lalu mencium pipi Razan yang sedang menyetir.
“Sudah sudah jangan mengganggu Papa mu nyetir. Nanti konsentrasinya buyar.” Yessi meminta Elea duduk kembali seperti semula.
“Iya, Mama ….” Elea pun menuruti ucapan Mama nya.
Seusai mengantarkan Elea dan Yessi, Razan kembali lagi ke kantor karena ini masih jam kerja. Ia menjemput karena hari ini hari pertama Elea masuk sekolah.
**
Keesokan harinya Elea berangkat ke sekolah hanya ditemani oleh Yessi, karena Razan pergi ke kantor pagi- pagi sekali untuk meeting.
Sedangkan kakaknya Elea, Rafatar dan Ardi berangkat ke sekolah SMP dan SMA diantarkan oleh sopir.
“Zilya ….” Teriak Elea memanggil sahabat barunya yang sudah memasuki pintu gerbang lebih dulu. Ia berlari untuk menghampiri Zilya dan agar bisa berjalan bersamanya untuk masuk ke kelas.
“Elea sayang, jangan lari- lari nak,” ucap Yessi yang mengikuti putrinya. “Oh, jadi ini teman baru kamu, sayang.” Yessi tersenyum pada Zilya.
“Ta tante ...” Zilya terkejut melihat orang yang tak asing baginya.
“Iya ….” yessi melempar senyum.
“Kamu kenal sama mama aku, Zilya?” tanya Elea bingung.
__ADS_1
“Itu kemarin aku gak sengaja menabrak Tante ini setelah beli minum dari kantin.” ucap Zilya.
“Oh begitu.” Elea mengangguk.
“Iya, sayang …. Oh iya, kenalin saya Yessi mamanya Elea.” Yessi mengulurkan tangan kanannya pada Zilya. Ia pun mencium tangan Yessi.
“Ayok Zilya kita masuk ke kelas,” ajak Elea lalu beranjak pergi ke kelas meninggalkan mama nya seorang diri.
Yessi terus memandangi Zilya, hingga ia dan purtinya tak terlihat agi karena masuk ke dalam kelas. Ia merasa lega dan senang karena putrinya sudah tidak takut lagi ke sekolah, karena tak satu sekolah dengan teman- teman lainnya yang dulunya satu TK bersamanya.
“Zilya, apa nenek kamu masih sakit?” tanya Elea yang sudah duduk di bangku kelas yang kebetulan ia satu bangku dengan Zilya.
“Nenek bilang sudah sembuh, tapi harus istirahat jadi belum bisa jualan lagi,” ucap Zilya memberitahukan.
“Jualan? Jualan apa?” tanya Elea kepo.
“Nenek aku suka jualan roti. Aku juga kadang membantu nenek, tapi nenek suka melarangku karena aku harus sekolah. Jadi kakak Intan yang kemarin menjemput ku yang suka membantu nenek.” ucapnya menjelaskan.
“Oh ya? roti apa?” tanya Elea lagi.
“Ada roti keju, roti meses, roti pisang dan banyak lagi.” Zilya mengabsen varian rasa rotinyang dijual oleh neneknya.
“Wah, aku suka roti keju,” ucap Elea antusias.
“Oh ya? kalau aku enggak.” ucap Zilya.
“Kenapa kamu gak suka roti keju? Padahal enak tahu.” tanya Elea heran.
“Oh ya? kok sama kayak mama ku alergi keju.” ucap Elea.
“Berarti bukan cuman aku dong yang dibilang aneh karena alergi keju. Ternyata ada orang lain juga.” Zilya tersenyum.
“Iya, dan itu adalah mama ku,” ucap Elea lalu tertawa, namun Zilya nampak sedih.
“Kamu kenapa sedih lagi? Kan nenek udah sembuh,” tanya Elea heran.
“Engak apa- apa kok … eh itu ada bu guru.” Zilya malah mengalihkan pembicaraan.
**
Semakin hari Elea semakin akrab dengan Zilya. Bahkan saat Zilya membawa roti buatan neneknya ke sekolah,, Elea mempromosikan roti itu pada teman- temannya dan mereka menyukainya. Semenjak itu Zilya selalu membawa roti untuk dijual pada teman- temannya.
Setiap pagi Elea selalu membantu Zilya menjual rotinya. Tak jarang mereka berkeliling ke kelas- kelas menawarkannya pada kakak kelas mereka.
“Ya, rotinya gak habis ….” ucap Elea sedih.
“Enggak apa-apa Elea, kita kan bisa makan roti ini.” Zilya memperlihatkan roti yang tersisa di dalam kotak jualannya.
“Kan kita sudah dapat roti masing- masing dua secara gratis. Masa mau ambil lagi? Nanti nenek kamu marah loh.” Elea nampak was was.
“Enggak, nenek gak akan marah. Nenek kan sayang banget sama aku.” ucap Zilya.
“Hai, kalian ternyata masih disini. Mama nunguin di luar, yang lain udah pada bubar. Kok anak Mama gak kelihatan,” ucap Yessi yang masuk ke dalam kelas menghampiri putrinya dan Zilya.
__ADS_1
“Kamu kenapa sayang, kok kelihatanya sedih gitu?” tanya Yessi pada Zilya.
“Ini Mama, roti yang dijual Zilya masih ada sisa sepuluh lagi.” ucap Elea.
“Oh gitu, gimana kalau Mama membeli semua rotinya.” Yessi mengajukan diri.
“Beneran, Ma?” tanya Elea nampak tak percaya.
“Tentu saja sayang ….” anggul Yessi meyakinkan.
Zilya mengambil kantong kresek dan memasukan semua roti kedalamnya, lalu menyerahkannya pada Yessi. “Ini Tante, rotinya.” ucapnya.
“Terimakasih, dan ini uangnya.” Yessi memberikan uang pecahan seratus ribuan sebanyak dua lembar.
“Ini kebanyakan Tante, rotinya cuman dua puluh ribu, karena satunya dua ribuan.” ucap Zilya.
“Enggak apa-apa, itu buat uang jajan kamu saja ya.”
“Tapi Tante … nenek bilang aku gak boleh menerima apa pun dari orang tidak dikenal.” Zilyanmenolaknsecara halus.
“Loh, kan Zilya kenal sama Tante. Jadi boleh dong menerima uang ini.” ucap Yessi kekeuh.
“Tapi tante ….” Zilya nampak enggan menerimanya.
“Sudah, ambil saja ya. Tante ikhlas kok ngasihnya. Menolak rezki itu gak baik loh Zilya,”
“Terimakasih Tante, semoga rezeki tante semakin berkah dan banyak.” ucap Zilya senang.
“Amiin … kamu anak yang baik hati dan pintar sekali ya.”
“Terus aku gimna?” tanya Elea.
“Oh, anak Mama yang cantik ini juga pintar an baik hati. Jadi kalian berdua sama- sama cantik dan sama- sama baik. Sini Mama peluk sayang.” Yessi mengulurkan kedua tangannya lalu memeluk Elea.
Zilya tersenyum melihatnya, namun sesungguhnya ada rasa sakit di dalam hatinya. Seperti iri mungkin, karena sejak bayi ia tak pernah merasakam kasih sayang seorang ibu.
“Zilya, kamu kenapa kok terlihat sedih?” tanya Yessi heran.
“Zilya sudah gak punya mama sama papa, jadi dia sedih.” ucap Elea.
“Oh sini sayang, biarkan Tante memeluk mu juga.” Yessi mengulurkan tangannya, lalu membawa Zilya ke dalam pelukannya.
Ia membelai rambut Zilya. Ada rasa haru dan perasaan anaeh yang dirasakan Yessi saat Zilya ada dalam pelukannya.
“Kenapa perasaan ku aneh seperti ini?” gumamnya dalam hati dengan bertanya- tanya.
-
-
Bersambung …..
Happy Reading …
__ADS_1