
Tanpa terasa hampir satu bulan lebih Sebastian berada diluar kota. Selama itu pula, Clarissa selalu tidur seranjang bersama Raymond. Bahkan terkadang mereka juga melakukan hubungan layaknya suami istri di kamar utama rumah itu. Kamar yang biasa ditempati Sebastian bersama Clarissa. Hari-hari keduanya serasa milik mereka saja, tanpa memperdulikan keberadaan Mbok Itoh. Keduanya sering bermesraan dan bepergian seperti sepasang suami istri. Terlihat beberapa tetangga yang merasa aneh melihat kedekatan keduanya. Banyak omongan miring mengenai kedekatan Nyonya dan Sopirnya. Karena menurut mereka, Raymond tak pantas menjadi seorang Sopir,karena ia lebih tepat menjadi lelaki simpanan Nyonya nya.
Selentingan tentang hubungan Clarissa dan Raymond mulai menyebar di sekitar perumahan itu. Hingga gosip itu menyebar melalui grup wassap ibu-ibu komplek. Mereka membicarakan kehamilan Clarissa, mereka semua curiga dengan janin yang ada di rahim Clarissa. Beberapa bergosip mengatakan bayi di dalam rahim Clarissa adalah benih dari Sopirnya. Desas-desus itu mulai menyebar dari mulut ke mulut hingga para suami di komplek itu mendengarnya.
Clarissa jadi murka mendengar semua orang bergosip tentang dirinya. Ia menyalahkan Mbok Itoh atas gosip yang menyebar mengenai dirinya dan juga Raymond.
"Ampun Nyah, bukan saya yang mengatakan itu pada ibu-ibu di komplek ini. Nyonya sendiri yang memperlihatkan semua di depan umum." kata Mbok Itoh dengan menyatukan kedua tangan di depan dada.
"Jadi kamu nyalahin saya? hanya kamu saja di rumah ini yang mengetahui hubungan saya dengan Raymond. Jika rumor itu menyebar, sudah pasti kamu yang mengatakan pada orang-orang di sekitar sini. Saya akan memecatmu sekarang juga!" seru Clarissa dengan membulatkan kedua matanya.
"Jangan Nyah, jangan pecat saya. Bukan saya yang menyebarkan kabar itu Nyah. Tolotjangan pecat saya." Mbok Itoh berderai air mata, hanya kesedihan yang ia rasakan saat ini. Karena mencemaskan masa depan cucunya kelak.
Clarissa berdecih, ia sangat kesal melihat raut wajah Mbok Itoh yang memelas.
"Sudahlah sayang, biarkan saja perempuan tua ini tetap bekerja disini. Kalau kamu memecatnya, takutnya dia nekat melaporkan hubungan kita ke suamimu. Sebelum kita mendapatkan yang kita mau, jangan sampai hubungan kita terbongkar di hadapan nya." bisik Raymond dengan senyum liciknya.
Hampir dua bulan lamanya semenjak desas-desus itu menyebar. Akhirnya Sebastian kembali ke rumah. Nampak tatapan nyinyiran beberapa tetangga nya. Ia merasa aneh dengan pandangan orang-orang itu. Clarissa sudah menanti kedatangan suaminya di depan pintu. Raymond membukakan pintu mobil untuk Sebastian.
"Welcome home sayang." ucap Clarissa seraya mengecup pipi Sebastian.
"Apa kabar istriku tercinta? apa buah hati kita baik-baik saja?"
"Tentu saja ia baik-baik saja, kan papa nya udah pulang sekarang."
__ADS_1
Mereka masuk ke kamar, lalu Sebastian membicarakan tetangganya yang melihatnya dengan tatapan aneh.
"Apa ada sesuatu yang terjadj selama aku gak ada di rumah?"
"Gak ada apa-apa Mas, memangnya kenapa kalau mereka melihatmu begitu. Namanya juga ibu-ibu komplek, pasti mereka iri melihat suamiku yang pekerja keras ini pulang membawa banyak uang untuk istrinya. Mereka hanya iri saja Mas, gak usah di ambil pusing."
Triing.
Pesan masuk dari Maylani.
"Apa Bapak baik-baik saja?" kata Maylani melalui chat wassap.
Sebastian mengaitkan kedua alis mata, merasa heran dengan pesan yang dikirimkan sekertaris nya.
"Iya May, saya baik-baik saja. Memangnya kenapa?"
"Astaga, semoga itu hanya rumor saja. Kasihan Pak Tian jika itu benar. Padahal ia sangat mendambakan buah hatinya itu." batin Maylani di dalam hatinya.
"Lani, bukankah kau bekerja di Ekpedisi Jet Meroket? bukankah pemiliknya Pak Sebastian ya namanya?" tanya kakak iparnya.
"Iya Mbak, aku pegawai nya Pak Sebastian. Yang Mbak omongin dari tadi sama tetangga sebelah."
"Kasih tahu tuh atasanmu, istrinya selingkuh sama sopirnya. Kamu gak tahu aja kalau mereka pergi berduaan, gak kayak Nyonya sama sopirnya. Penampilan Sopirnya udah kayak Tuan nya, bahkan ada yang pernah mergokin mereka gandengan tangan di Mall. Kamu mau lihat gak videonya?" kata kakak iparnya seraya mengambil ponsel di saku bajunya.
__ADS_1
"Gak usah Mbak, aku gak mau lihat."
Triing.
Ponsel Maylani berbunyi, terlihat kakak iparnya sudah mengirimkan file video padanya.
"Telat! udah Mbak kirim barusan."
Maylani hanya menghembuskan nafas panjang. Ia tak ingin ikut campur dalam masalah rumah tangga orang lain. Jadi ia hanya mendiamkan chat kakak iparnya, dan tak membuka video itu.
"Apa urusanku dengan rumah tangga Pak Tian, kebohongan istrinya biar menjadi urusannya saja. Aku tak mau ikut campur, yang penting aku masih bisa bekerja dengan tenang di kantornya." gumam Maylani pada dirinya sendiri.
Saat itu Sebastian sedang joging di area perumahan. Seorang lelaki menyapanya, dan bertanya tentang kehamilan istrinya.
"Mungkin dua bulan lagi saya sudah resmi menjadi seorang ayah. Doakan saja ya Pak." jawab Sebastian dengan menyunggingkan senyumnya.
"Apa Pak Tian tahu kalau sopirnya sering tidur di rumah?"
"Oh iya Pak, kebetulan dua bulan kemarin saya diluar kota. Jadi sopir saya tinggal di rumah, sekalian menjaga istri saya kalau ada apa-apa dengan kandungan nya." jelas Sebastian tanpa curiga.
Lelaki yang kebetulan akrab dengan Sebastian itu merasa berat memberitahu desas-desus yang menyebar di komplek perumahan nya. Ia tak tega melihat ekspresi bahagia Sebastian, yang sebentar lagi akan menjadi seorang ayah.
...Bersambung. ...
__ADS_1
Hai othor punya rekomendasi novel yang bagus buat kalian loh.