
Sebastian berterima kasih pada Suster Nandini karena telah merawatnya dengan baik. Dan untuk sementara ia meminta Nandini mencarikan baby sitter untuk menjaga Stefani.
"Saya tidak tahu harus berbuat apa saat ini. Entah darah siapa yang mengalir di tubuh Stefani, saya gak tega ngelihat bayi sekecil itu di sia-siakan ibunya. Tolong bantu rawat bayi itu Sus, saya akan berusaha menerimanya seperti anak kandung saya sendiri. Selama ini saya melihat dan mendengar jika Stefani selalu di sia-siakan oleh Clarissa. Saya tak kan tega membiarkannya terlantar bersama ibu yang tak menyayangi nya."
"Saya mengerti kehawatiran Pak Tian. Bapak gak perlu hawatir, saya akan berusaha membantu menjaga Stefani. Jadi Bapak gak perlu mencari Baby sitter lagi. Saya sudah mendengar dari Pal Rafael, kalau keuangan Bapak sedang tidak stabil. Saya gak keberatan bantu Mbok Itoh menjaga bayi kecil itu."
Tiba-tiba Rafael datang memberi kabar jika Raymond membobol berangkas yang ada di rumahnya. Dan dia berhasil kabur dari kejaran Security komplek.
"Apa Clarissa bersamanya?"
"Dia udah ada di post Security, Polisi dalam perjalanan kesini."
Sebastian memaksa untuk menemui Clarissa, ia ingin berbicara langsung pada perempuan yang tega menghianati nya itu.
"Gak usah Tian, ntar lu bisa dipengaruhi Risa lagi. Gak nyangka gue dia sekarang sejahat dan selicik itu."
"Gue gak akan terpengaruh Fa, tolong kali ini aja. Setelah ini gue akan bener-bener memulai hidup tanpa Clarissa, jadi untuk terakhir kalinya gue mau berterima kasih karena dulu sempat mendampingi gue dari susah sampai bisa meraih semuanya."
Terpaksa Rafael menuruti permintaan Sebastian. Nandini mendorong kursi roda Tian ke post security. Clarissa berderai air mata menghampiri Tian lalu berlutut di hadapannya.
"Sayang maafkan aku, aku hanya kesepian saat kau sibuk bekerja. Jangan masukan aku ke penjara, ini demi anak kita Stefani." kata Clarissa terisak dengan menyatukan kedua tangannya.
__ADS_1
"Entah apa yang harus ku percaya darimu. Aku menjadi lumpuh seperti ini karena ulahmu dan lelaki tak tahu diri itu. Aku mempunyai bukti jika kau berselingkuh dengannya. Meskipun begitu aku tak akan bersikap kasar pada Stefani, walaupun aku tahu dia darah daging siapa. Pertanggung jawabkan perbuatan mu ke pihak yang berwajib, aku akan mengurus Stefani meski dia anakku atau bukan. Terima kasih sudah pernah menemani hidupku sedari susah dulu. Tapi sekarang kau tak layak ku pertahankan, tunggulah di penjara selingkuhan mu itu akan segera menyusulmu. Dia tak akan bisa hidup tenang setelah menghancurkan hidupku, apalagi sekarang ia membawa kabur harta bendaku."
Penjelasan Sebastian membuat Clarissa tercengang, ia tak menyangka jika Raymond pergi meninggalkan nya begitu saja.
"Dasar tak tahu diri, kau yang telah membuat hidupku terpuruk seperti ini. Tapi sekarang kau mencampakanku begitu saja. Aku tak akan pernah memaafkanmu Raymond." batin Clarissa dengan mengepalkan kedua tangannya.
Beberapa anggota kepolisian datang dan memborgol Clarissa. Perempuan itu berontak dan bersimpuh dibawah kaki Sebastian, tapi lelaki itu tak bergeming. Sebastian hanya diam di atas atas kursi rodanya. Nandini tak mau jika pasiennya itu dalam tekanan, lalu ia mendorong kursi roda itu pergi. Clarissa terus memberontak dan menangis histeris, kali ini meminta bantuan pada Rafael.
"Rafa, gue masih sahabat lu kan. Tolong gue Fa, gue gak mau mendekam di dalam penjara. Yakinin Mas Tian kalau gue akan berubah menjadi istri yang lebih baik lagi, please Fa tolong gue!" seru Clarissa menjerit lantang.
"Tunggu dulu Pak." ucap Rafael seraya berjalan mendekati Clarissa.
"Lu udah keterlaluan Risa, gue memang masih sahabat lu. Karena itu lah gue akan menyiapkan pengacara buat lu, tapi gue gak bisa bantu lu ngeyakinin Tian buat ngerubah keputusan nya. Lu harus mempertanggung jawabkan perbuatan lu. Biarkan pengacara yang mengurus semuanya, semoga hukuman lu bisa lebih ringan." jelas Rafael lalu melangkaj pergi.
"Saya ingin pulang Dok. Bolehkah saya beristirahat di rumah saja? rasanya tak nyaman sekali sepanjang hari terbaring di Rumah Sakit dengan keadaan tak bisa berbuat apa-apa. Saya merasa seperti benar-benar tidak berguna. Saya lebih nyaman berada di rumah."
"Tapi Pak, anda harus berada dalam pengawasan khusus. Sementara Suster Nandini, tidak bisa berada di rumah Bapak selama dua puluh empat jam penuh. Lantas bagaimana jika terjadi sesuatu dengan Bapak saat Suster Nandini tak ada disana?"
Sebastian menghembuskan nafas panjang, ia tetap pada pendiriannya. Ia mengatakan akan baik-baik saja selama Nandini tak ada di rumahnya.
"Saya akan terus berada di dekat Bapak, mulai sekarang saya akan bertugas di rumah Pak Tian."
__ADS_1
"Jadi itu artinya Suster Nandini memilih resign dari Rumah Sakit ini? karena jam kerja Suster akan sepenuhnya untuk Pak Tian?" tanya sang Dokter dengan wajah serius.
"Iya Dok. Saya sudah memikirkan ini barusan, karena sudah gak ada yang menjaga Pak Tian lagi setelah istrinya masuk penjara. Mbok Itoh akan kerepotan menjaga bayi dan mengurus Pak Tian. Lagipula gak akan mudah mencari perawat yang mau bertugas malam di rumah seseorang. Karena saya sudah mengenal baik keluarga ini, jadi saya bersedia bertugas disana."
"Apa Suster sudah mempertimbangkan sekali lagi? karena itu artinya setelah Pak Tian sembuh, Suster Nandini akan kehilangan masa bekerja di Rumah Sakit ini. Dan belum tentu ada kesempatan untuk kembali?"
Sebastian terdiam, ia tak menyangka jika Nandini akan berkorban sebegitu besarnya. Rafael yang baru saja datang ke ruangan itu merasa tak enak hati pada Nandini. Ia meminta Nandini untuk membatalkan keputusannya.
"Nandini, kau tak perlu berkorban sebesar ini? aku akan mencarikan perawat lain yang mampu mengurus Tian selama dua puluh empat jam, dengan imbalan yang cukup besar. Jadi kau gak perlu menyia-nyiakan impianmu bekerja di Rumah Sakit impianmu." kata Rafael dengan menggenggam tangan Nandini.
Sebastian hanya duduk diam tak dapat melihat keakraban keduanya. Meski ia sempat membatin dalam hatinya, kenapa Rafael berbicara secara santai pada Suster yang telah merawatnya itu. Tak ada jawaban dari Nandini, ia kembali mendatangi Dokter lalu mengatakan akan segera menyerahkan surat pengunduran dirinya.
"Saya permisi dulu Dok, lusa saya akan kembali membawa Pak Tian untuk check up sekaligus membawa berkas pengunduran diri saya."
"Suster Nandini."
"Iya Pak Tian, apa ada yang Bapak perlukan?"
"Kenapa Suster melakukan semua ini untuk saya? pengorbanan Suster untuk melepaskan perkerjaan di Rumah Sakit ini tak perlu dilakukan. Saya akan baik-baik saja, Rafael akan membantu mencari perawat yang bisa mengurus semuanya."
Nandini menghentikan langkahnya, ia mengambil nafas dalam-dalam. Ingatan nya kembali ke masa lalu, disaat Ayahnya mengalami hal yang sama oleh Tian. Sang ibu berselingkuh dengan lelaki lain, lalu mencampakkan Ayahnya dan juga dirinya sampai sang Ayah jatuh bangkrut, hingga sakit-sakitan sampai meninggal dunia. Seakan memiliki keterikatan masa lalu dengan Tian, Nandini tak mau kalau Tian dan Stefani mengalami penderitaan yang sama dengan dirinya.
__ADS_1
Sementara Rafael yang ada di belakang keduanya hanya bisa menundukkan kepalanya. Ia tahu betul kenapa Nandini melakukan pengorbanan sebesar itu, karena mereka sudah lama saling mengenal. Dan itulah yang menjadi alasan, kenapa Rafael memilih Nandini untuk mengurus sahabatnya Sebastian.
...Bersambung. ...