
Akhirnya Rafael mengajak Nandini kembali ke kota mereka berasal. Rafael ingin mengenalkan Nandini pada kedua orang tuanya. Tapi mama Rafael tak menyetujui hubungan keduanya, ia tak percaya dengan kehamilan Nandini. Karena ia mendengar desas-desus jika Nandini sudah hamil sebelum Rafael kembali menemuinya. Rafael terus membujuk mama nya, tapi sang mama bersikeras menolak menyetujui pernikahan mereka. Terpaksa Nandini kembali tinggal di rumah lamanya, tapi kedatangannya dalam keadaan hamil besar, justru membuat cibiran tetangga nya. Beberapa dari mereka bergunjing, mengolok-olok Nandini karena hamil tanpa suami.
"Rafael kita harus mempertimbangkan rencana pernikahan itu. Ternyata rencanamu tak bisa berjalan lancar, karena mamamu tak setuju dengan hubungan kita. Mungkin lusa aku akan kembali ke kontrakan saja, aku harus tetap melanjutkan hidupku. Anakku membutuhkan biaya hidup, dan aku sanggup membiayai semua kebutuhan nya sendiri. Kau tak perlu mencemaskanku." kata Nandini melalui panggilan telepon.
"Tolong beri aku kesempatan sekali lagi. Aku akan menjelaskan semuanya ke mama, dia hanya belum mengerti."
"Tak perlu Fa, lagipula anak ini memang bukanlah tanggung jawab mu. Jika dalam waktu satu bulan ke depan orang tuamu masih belum merestui hubungan kita. Lebih baik kita tak perlu melanjutkan hubungan itu, kita masih bisa terus berteman. Kandungan ku akan semakin besar, aku tak ingin berharap lebih pada siapapun. Aku tutup dulu ya telepon nya."
Setelah mengakhiri panggilan telepon, Nandini merapikan pakaiannya. Sore itu juga dia memutuskan kembali ke Kota D. Sinta sudah menunggu kedatangan temannya kembali. Ia sudah menunggu kepulangan Nandini dengan tidak sabar.
Suasana di bandara sore itu sangat padat, karena ada artis dari korea yang kebetulan baru saja tiba. Banyak fans yang memenuhi semua penjuru bandara. Nandini hanya membawa tas jinjing dan satu koper yang ia masukan ke dalam bagasi pesawat. Di lain sisi, ada Sebastian yang akan melakukan perjalanan bisnis ke Kota lain. Samar-samar kedua mata Sebastian melihat wajah seseorang yang tak asing dimatanya. Seorang perempuan yang diam-diam telah mengisi hatinya. Ketika Sebastian melihat perempuan itu dari atas hingga ke bawah, ia nampak terkejut dan membulatkan kedua matanya.
"Astaga. Apa perempuan itu benar-benar Nandini? Dan dia sedang hamil besar, apakah ia sedang mengandung benihku?" gumam Sebastian pada dirinya sendiri.
Sebastian berusaha mengejar Nandini, tapi perempuan itu sudah terlanjur masuk ruangan boarding. Dan petugas melarangnya masuk ke dalam, karena ia tak bisa menunjukan tiket dengan tujuan yang sama.
__ADS_1
"Maaf Pak, yang boarding disini tujuannya kemana ya?" tanya Sebastian pada petugas.
Petugas menjelaskan jika semua penumpang yang boarding disana akan melakukan penerbangan ke Kota D. Sontak saja Sebastian sedikit bernafas lega, karena setidaknya ia sudah mengetahui keberadaan perempuan yang selama ini ia cari-cari. Kemudian Sebastian menghubungi seorang kenalannya yang tinggal di Kota D, ia memintanya mengawasi seorang perempuan yang akan tiba di bandara D dalam waktu dua jam ke depan. Ia mengirimkan foto Nandini, dan meminta kenalannya itu untuk membuntuti Nandini. Supaya ia dapat mengetahui dimana tempat tinggalnya.
Dret dret dret.
Ponsel Sebastian bergetar, ada panggilan masuk dari Clarissa. Tanpa basa-basi Sebastian menceritakan jika ia tak sengaja bertemu dengan Nandini di bandara. Sontak saja Clarissa terkejut, ia tak menyangka jika suaminya akan bertemu dengan perempuan yang sedang mengandung benihnya.
"Kau tahu gak Sa, Nandini sedang mengandung saat ini. Aku yakin jika itu adalah darah daging ku, sesuai dengan janjiku waktu itu. Aku akan bertanggung jawab atas perbuatan ku padanya."
"Tapi kan Mas, belum tentu dia mengandung darah daging mu. Bisa saja kan dia hamil dengan lelaki lain!"
Setelah Sebastian mematikan telepon, Clarissa langsung menghubungi Rafael. Ia nampak kesal pada Rafael karena telah lalai membiarkan Nandini pergi seorang diri.
"Lu gak becus ya jaga satu perempuan aja? kenapa dia bisa berkeliaran di bandara tanpa lu sih Fa?" kata Clarissa dengan suara lantang.
__ADS_1
"Gue gak bisa nahan dia Sa, Nandini putus asa karena nyokap gue gak mau restuin hubungan kami. Gue gak tahu harus berbuat apa, nyokap gue denger kalau Nandini sempat deket dengan seseorang. Dan nyokap ragu kalau Nandini hamil sama gue."
Penjelasan Rafael membuat Clarissa kelimpungan, ia sedang memikirkan sebuah cara, supaya hubungan Rafael dan Nandini mendapatkan restu dari mama nya Rafael.
"Fa. Lu negosiasi aja sama nyokap lu, bilang aja lu bisa buktiin kalau bayi itu memang benar-benar darah daging lu. Bilang aja lu siap buktiin kalau bayi itu udah lahir nanti."
"Gak mungkin dong Sa. Lu udah gak waras ya? jelas-jelas itu memang bukan anak gue, gimana gue mau ngasih bukti ke nyokap coba?"
"Bener kan Fa, lu itu gobloknya natural. Kemarin kan kita udah buat rencana, kalau bayi itu lahir kita akan tukar dengan bayi yang udah meninggal. Jadi lu gak perlu ngasih bukti apa-apa ke nyokap lu. Udah ngerti belum sekarang? Gue bilang gitu, supaya nyokap lu restuin hubungan lu sama perempuan itu!"
Rafael mengaitkan kedua alis matanya, ia memikirkan matang-matang ucapan Clarissa. Dan ingin mencoba saran darinya.
"Tapi Sa, Nandini udah terlanjur balik. Gimana gue bisa bujuk dia lagi Sa?"
"Seperti yang pernah gue bilang, lu ambil aja hatinya terus bujuk kalau lu mau bahagiain dia dan bayinya juga. Intinya yang penting lu dapat restu dari nyokap dulu, yang lainnya bisa di atur ulang. Karena sekarang Mas Tian udah tahu kalau perempuan itu sedang mengandung, dia pasti bakalan berusaha nyari tahu dimana keberadaan nya. Gue gak mau sampai Mas Tian benar-benar menikahi perempuan itu. Gue gak mau dimadu Fa, lu juga harus bantuin gue!"
__ADS_1
Rafael mengacak rambutnya kasar, ia terlihat frustasi mendengar jika Sebastian sudah mengetahui keadaan Nandini. Pasti saat ini Sebastian sedang berusaha mencari keberadaan Nandini. Dan Rafael cemas, jika Sebastian sampai tahu kalau yang dikandung Nandini adalah darah dagingnya.
...Bersambung. ...