
Malam itu Clarissa sudah berdandan cantik, dan menyiapkan segalanya. Gairahnya yang terpendam sejak lama harus ia salurkan secepatnya. Karena dulu ia sering melakukan nya bersama Raymond, ia juga merasa rindu dengan belaian Sebastian. Meski permainan Sebastian tak sehebat Raymond, tapi Clarissa sudah tak dapat menahan gairahnya. Ia ingin menghabiskan malam bersama Sebastian untuk membalas sakit hatinya karena penolakan Sebastian tempo hari.
Terdengar tangisan Stefani yang memekakan telinga. Nampaknya gadis kecil itu sedang demam dan membuatnya rewel, hingga Nandini kesulitan untuk menenangkan nya. Clarissa menjadi kesal dan membentak si kecil Stefani, tapi Nandini menghentikan nya dan memintanya untuk tak melakukan itu pada anaknya sendiri.
"Kau tahu apa soal anak saya hah? bukankah jam kerjamu sudah selesai, lebih baik kau tinggalkan saja anak itu di kamarnya. Kalau dia lelah pasti berhenti sendiri kok nangisnya!" seru Clarissa berkacak pinggang.
"Tapi saya gak tega membiarkan Stefani bu, dia sedang demam dan terus menangis mencari papanya. Tapi Pak Tian belum pulang dari kantor, jadi saya gak bisa ninggalin Stefani sendirian."
"Ciih! sok perduli sekali kau ini. Terserah kau saja ya, yang jelas ini kemauan mu sendiri. Dan aku tak akan membayar untuk waktu lemburmu!" kata Clarissa acuh lalu berjalan pergi.
Malam sudah semakin larut, tapi Sebastian belum juga kembali ke rumah. Clarissa sudah lelah menunggu kedatangan Sebastian, ia sudah tak bisa menahan gairahnya lebih lagi. Karena saat itu Clarissa sudah lebih dulu mengkonsumsi obat kuat itu, dengan harapan ia dapat melakukan permainan panasnya berkali-kali dengan Sebastian. Karena ia juga akan memberikan obat kuat itu di minuman Sebastian. Karena Clarissa tahu betul kebiasaan Sebastian yang selalu minum teh hangat sebelum tidur.
Di lain tempat ada Nandini yang masih terjaga di kamar si kecil Stefani. Gadis kecil itu baru bisa terlelap setelah Nandini menggendongnya di taman rumah.
"Duh bagaimana aku bisa pulang selarut ini, mana hujan deras lagi." gumam Nandini seraya melihat keadaan di luar rumah melalui jendela.
Diluar hujan deras dengan guntur yang menggelegar. Sebastian baru saja kembali dari meeting bersama rekan bisnisnya. Ia memasukan mobil ke dalam garasi lalu berjalan ke kamarnya. Clarissa sudah menantikan kedatangan Sebastian, ia mengenakan lingerie tipis dan berjalan menghampiri Sebastian.
"Kau pasti kelelahan kan Mas, ini aku udah seduhkan teh untukmu. Kasihan kalau Mbok Itoh harus dibangunkan."
Tanpa curiga Sebastian meneguk teh hangat yang sudah dicampuri obat kuat. Baru seteguk ia meminumnya, terdengar tangisan Stefani sontak saja Sebastian meletakkan kembali cangkir teh itu, ia berniat pergi ke kamar Stefani untuk melihat kondisinya.
__ADS_1
"Biar aku saja Mas, kau mandi saja dulu. Kasihan Stefani masih demam, kalau kau belum mandi dan mendekatinya takutnya ada virus yang terbawa dari luar rumah." kata Clarissa seraya memberikan handuk pada Sebastian.
"Terima kasih Risa." kata Sebastian melangkahkan kakinya ke kamar mandi.
Sebastian merasakan tubuhnya seperti kepanasan, ia mandi dengan air dingin di tengah malam. Tapi tak membuatnya segar sama sekali, dan setelah mandi ia meminum teh itu kembali sampai habis tak tersisa. Clarissa pun mendatangi Sebastian dan menggoda kejantanan lelaki itu.
"Risa sepertinya aku tidak enak badan, bisakah kau mengambilkan obat untukku." kata Sebastian dengan mengusap belakang lehernya.
"Aku akan memijatmu Mas, siapa tahu tubuhmu bisa rileks." ucap Clarissa seraya menyentuh pundak dan leher Sebastian, membuat lelaki itu bergidik geli.
Kini Clarissa mengambil kesempatan itu untuk menyentuh setiap jengkal tubuh Sebastian. Lelaki itu merasakan rasa panas yang menjalar di seluruh tubuhnya, hingga keringat membasahi seluruh tubuhnya.
"Risa lepaskan tanganmu, aku ingin istirahat di kamar tamu saja." kata Sebastian berjalan gontai.
"Lepaskan aku Risa, kita tak bisa melakukan ini. Aku harus melihat keadaan Stefani."
"Sudahlah Mas, kita nikmati saja malam ini. Sebentar lagi juga anak itu akan diam dan tidur kembali."
Rupanya Nandini masih terjaga lalu menidurkan Stefani kembali. Ia kelelahan seharian menjaga anak itu, lalu ia memutuskan untuk beristirahat di kamar tamu. Tempatnya dulu tinggal sewaktu mengurus Sebastian. Baru saja ia berusaha memejamkan mata, tapi suara gaduh membuatnya terbangun kembali. Ia tak bisa melihat apapun karena gelap, bahkan batrei ponselnya pun sudah habis. Nandini duduk di tepi ranjang melihat kilatan petir dari balik tirai jendela.
Braaks.
__ADS_1
Terdengar sesuatu yang terjatuh hingga membuat Nandini berjingkat. Kini tangannya meraba-raba ingin berjalan keluar dari kamar tamu. Tapi seseorang yang tak terlihat menarik tangannya dengan kencang, hingga membuatnya jatuh tersungkur di lantai. Sayup-sayup Nandini mendengar suara nafas yang sangat berat, ia semakin ketakutan dan berusaha lari dari tempat itu.
...Bersambung. ...
Hai othor punya rekomendasi novel yang bagus buat kalian loh.
Pewaris Untuk Musuh
Author: As Cempreng
Namanya Kamila Prameswati gadis berusia 19 tahun yang dilelang di dunia bawah.
Berbekal sebuah informasi anonim dia berpikir jika pria yang telah membeli dirinya adalah pembunuh kedua orangtuanya.
Dalam misi pembalasan dendam, justru kehamilan mengacaukan rencananya. Dia mulai terjebak dengan kelembutan sang musuh yang membuatnya jatuh hati.
Tidak sampai di situ, Kamila terjebak tidak bisa melepaskan diri dari jeratan cinta Mafia, demi menemukan sang pembunuh sebenarnya dan berakhir pada sebuah perjanjian yang memisahkan Kamila dengan cintanya.
Kamila tidak tahu bahwa musuh dari musuhnya ada adalah petarung hebat di dunia Mafia dengan nama Edrik yang adalah kakak tirinya.
Di tengah perjalanannya Ia terjebak dalam dua cinta Mafia.
__ADS_1
Jadi kehidupan mana yang akan dipilih Kamila?