
POV NANDINI
Usia kandungan ku sudah berjalan empat bulan, perut yang semakin membesar, terkadang menyusahkan ruang gerakku. Orderan gaun yang masuk ke butik mulai banyak, beruntung nya aku memiliki cukup modal untuk membayar gaji beberapa pegawai. Berkat bantuan modal dari seorang perempuan kaya, aku berhasil mengembangkan bisnisku, dan menyewa sebuah tempat di pusat kota. Butik kecil ini mulai ramai dikunjungi pelanggan, mereka yang tak ingin membuat gaun secara custom, memilih datang langsung ke butik. Perlahan penghasilan mulai merangkak naik, aku dapat mengembalikan modal yang diberikan Sinta sebelumnya.
"Din.Din kau tahu gak, siapa yang datang ke kontrakan kita?" ucap Sinta berlari tergesa-gesa dengan nafas tak beraturan.
"Ada apa sih Sin? Aku sedang mengukur kain, sebentar ya, aku selesaikan yang ini dulu!" kataku seraya mengukur kain di atas meja.
Tiba-tiba Sinta menarik tanganku, dan mengatakan jika Sebastian datang ke kontrakan untuk mencariku. Sontak saja aku menjatuhkan pensil yang ada di tanganku. Aku tak menyangka jika Sebastian sampai mengetahui tempat tinggalku. Aku menggelengkan kepala tak percaya, darimana ia sampai tahu keberauku. Tak mungkin jika Clarissa yang mengatakan padanya, itu sama saja dia cari perkara.
"Sinta, bagaimana ini? Apa yang harus ku lakukan? Aku gak mau ketemu sama dia Sin, apalagi jika dia melihat kehamilan ku. Pasti dia akan tahu, jika ini adalah darah daging nya!"
"Mungkin lebih baik kau menemuinya Din. Jujurlah padanya, jika kau memang mengandung benihnya. Tak perlu risaukan perasaan istrinya, toh dia bukan perempuan baik. Mungkin itu adalah karma buruk untuknya, karena dulu ia pernah menghianati suaminya!" seru Sinta dengan mendengus kesal.
Nyonya Diana datang dengan membawa beraneka buah-buahan, menurutnya aku perlu vitamin yang cukup, supaya kandungan ku sehat. Kali ini ia bahkan ikut menasehati ku, untuk mempertimbangkan perkataan Sinta. Dan ia akan berusaha menjadi penengah di antara aku dan Clarissa.
__ADS_1
"Jika istrinya tak setuju memberikan ijin supaya suaminya bertanggung jawab dengan menikahimu. Aku akan menuntutnya atas perbuatan tidak menyenangkan. Dan pasal pemerkosaan, dengan hasil test DNA bayi ini. Kelak ia akak mendekam di dalam penjara. Jika ia cukup pintar, ia pasti akan memberikan ijin pada suaminya untuk menikahimu Nandini."
"Tapi Nyonya. Saya tidak mau menjadi perusak hubungan rumah tangga orang lain."
"Mau tak mau, suka tak suka. Kali ini kau harus mendengarkan kami Nandini. Jangan kau buat anakmu ini lahir tanpa ayah."
Aku tak dapat mengelak lagi, keduanya terus memojokan ku, hingga aku tak dapat berkata-kata. Nampak Nyonya Diana menghubungi seseorang di seberang telepon sana. Ia mengatakan, jika ingin bertemu dengan seseorang lusa depan. Ternyata ia memesan tiket pesawat ke sebuah tempat.
"Baiklah Sinta, selama aku pergi, tolong jaga dan awasi temanmu yang bandel ini. Jangan biarkan Rafael atau siapapun mendatangi nya. Karena Nandini akan mudah goyah, ia akan terpengaruh dengan ucapan orang lain." ucap Nyonya Diana seraya melangkahkan kakinya pergi.
Semenjak kepergian Nyonya Diana, aku merasa was-was. Hidupku terasa tak tenang, bahkan aku terpaksa tak kembali ke kontrakan, dan tinggal di dalam butik. Sinta terus membujuk ku supaya kembali ke kontrakan, tapi aku merasa tak tenang berada disana.
"Percuma dong Din, Nyonya Diana pasti akan membawa Sebastian menemui mu. Apa kau gak lihat gimana seriusnya wajahnya, saat mengatakan akan membuat Sebastian bertanggung jawab dengan menikahimu?" sahut Sinta melalui panggilan telepon.
"Jika itu sampai terjadi, aku gak tahu harus bersikap gimana Sin. Tapi aku juga gak mau anakku lahir tanpa ayah."
__ADS_1
Aku meneteskan air mata pilu, tak tahu lagi harus bagaimana. Aku hanya akan berpasrah diri dengan takdir yang Tuhan berikan. Jika memang Sebastian ingin bertanggung jawab dengan menikahiku, maka aku tak punya alasan untuk menolaknya. Karena semua yang dikatakan Sinta ada benarnya, jika apa yang terjadi saat ini, mungkin sudah di atur Tuhan. Untuk memberikan pelajaran pada Clarissa.
Setelah dua hari kepergian Nyonya Diana, ia belum kembali lagi menemuiku. Entah dimana beliau sekarang, karena aku juga tak dapat menghubungi nya. Padahal baru dua bulan kami saling mengenal, ia sudah begitu baik padaku. Dan kami jadi lebih dekat, seperti seorang anak dan ibu. Terkadang, memang aku berhayal memiliki seorang ibu seperti beliau. Yang selalu ada untuk membantuku, tapi sayangnya beliau bukanlah ibu kandungku.
"Maaf Bu, ada yang ingin bertemu dengan Ibu." ucap salah satu pegawai di butikku.
Aku menghembuskan nafas panjang seraya memijat pangkal hidungku. Ku katakan pada pegawaiku, untuk menangani tamu yang datang itu.
"Kau catat saja apa yang ia inginkan dari pesanannya. Gaun seperti apa yang ia mau!"
"Tapi Bu, ia seorang lelaki, dan ia hanya ingin bertemu dengan Ibu."
Aneh, kenapa ada seorang lelaki yang datang ke butikku. Jika ia tak ingin memesan gaun, apakah ia ingin membuat setelan jas. Tanpa berpikir panjang, aku bangkit berdiri lalu melangkahkan kaki ke depan. Nampak seorang lelaki mengenakan kemeja hitam dengan celana senada. Ia berdiri tepat di depan pintu memunggungiku.
"Maaf Pak, apa ada yang bisa saya bantu?" ucapku dengan melihatnya dari atas sampai bawah.
__ADS_1
Dan ketika lelaki itu membalikan tubuhnya, nampak wajah yang tak asing dimataku. Kedua mata dengan sorot sendu, aura teduh dari balik senyumnya, membuat jantungku hampir berdetak tak beraturan.
...Bersambung. ...