
Di hari pertama Clarissa kembali ke rumah, ia melarang Nandini untuk masuk ke dalam kamarnya. Ia ingin menghabiskan waktu bersama Sebastian, dan dia sendiri yang akan mengurus semua kebutuhi.
"Kau urus saja Stefani, karena kondisi ku sudah jauh lebih baik. Mulai sekarang aku yang akan mengurus suamiku sendiri, lagipula kau memang dibayar untuk mengurus anak itu."
Nandini hanya menganggukan kepala, lalu bergegas ke kamar Stefani dan mengajak anak itu bermain. Sebastian yang biasanya selalu bergantung pada Nandini kebingungan mencari nya, tapi Clarissa menegaskan jika mulai sekarang tugas Nandini adalah menjaga dan mengurus Stefani. Dan dia lah yang akan membantu Sebastian mengurus semua keperluannya.
"Besok jadwal terapi terakhir mu Mas, aku sudah menghubungi Dokter kita akan berangkat jam sembilan pagi." kata Clarissa seraya membawakan handuk untuk Sebastian.
"Aku bisa mengambilnya sendiri, kakiku sudah cukup kuat untuk berjalan. Kau tak perlu mengurusku seperti ini lagi!"
"Aku hanya ingin berbakti padamu seperti dulu lagi Mas. Semuanya aku lakukan seperti dulu, gak ada yang berubah Mas!"
"Ada Risa. Ada yang berubah! semua perasaan ku padamu tak sama lagi, semuanya sudah mati untukmu. Bersikap lah wajar padaku, nanti malam kita akan tidur terpisah."
Clarissa berlutut dihadapan Sebastian, ia menyatukan kedua tangannya. Memohon ampunan supaya ia tak diperlukan seperti itu terus. Ia tak masalah di acuhkan oleh Sebastian, tapi ia memohon supaya ia dapat terus melayani nya seperti seorang istri.
"Apa kau pikir, kau akan melayani ku di ranjang ini juga? aku tak bernafsu untuk melakukan itu denganmu Risa!"
__ADS_1
Degh.
Hati Clarissa teriris mendengar perkataan Sebastian, ia tak terima dengan kata-kata yang Sebastian lontarkan.
"Kau bilang tak nafsu melakukan itu denganku Mas! lihat saja apa yang akan ku lakukan padamu, kau akan kembali tergila-gila padaku!" batin Clarissa di dalam hatinya kesal.
Hari berlalu dengan cepat, semakin hari Nandini semakin dekat dengan Stefani. Si kecil itu selalu lebih nyaman bersama Nandini, tapi ketika ia rewel. Stefani selalu memanggil papanya, dan secara tak langsung Sebastian harus bersama Nandini untuk menghibur si kecil Stefani. Kedekatan keduanya semakin terjalin, berkat si kecil Stefani. Stefani yang terus rewel selalu diam dipelukan papanya, tapi ia juga tak ingin jauh-jauh dari Nandini. Hingga keduanya terlelap bersama di tpi tidur Stefani, dan Rafael yang baru saja datang melihat kedekatan keduanya. Clarissa terus saja menghasut Rafael, hingga ia percaya kalau keduanya saling memiliki perasaan satu sama lain.
"Kalau lu gak bertindak sekarang juga, mereka berdua bisa aja melakukan sesuatu dibelakang lu. Sahabat yang lu percaya diam-diam memiliki perasaan sama perempuan yang lu cintai, lebih baik lu buruan bertindak." kata Clarissa penuh hasutan.
Rafael mengepalkan tangannya, hasutan Clarissa berhasil mempengaruhi Rafael. Ia terlihat sangat marah dan ingin menghajar Sebastian. Tapi Clarissa menahannya, dan melarang melakukan itu.
"Lu gak bisa bermain keras begini Fa, kita harus memisahkan keduanya dengan cara yang halus. Jangan sampai mereka menyadarinya, kita harus membuat keduanya saling membenci. Minimal salah satu dari mereka harus ada yang kecewa. Bagaimana kalau lu melakukan sesuatu ke Nandini?" tanya Clarissa dengan menaikan alis matanya.
Clarissa membisikan sesuatu pada Rafael, dan membuat lelaki itu membulatkan kedua matanya.
"Gila lu Sa! gue gak mungkin melakukan itu sebelum ada ikatan resmi antara gue dan Nandini. Yang ada lu malah ngerusak hubungan gue sama dia!" seru Rafael dengan nada suara lantang.
__ADS_1
"Sstss!" ucap Clarissa seraya menarik tangan Rafael menjauh dari sana.
"Lu kalau ngomong jangan kenceng-kenceng bisa gak! kalau mereka sampai dengar, rencana kita bisa berantakan tahu gak!"
"Nah lu juga gila Sa! ngasih saran kaya gitu ke gue. Sama aja lu mau ngerusak hubungan gue sama Nandini tahu gak!"
Keduanya diam untuk sesaat, mereka terlihat sedang memikirkan suatu cara. Hingga akhirnya Clarissa menjentikan jarinya, ia mendapatkan ide harus berbuat apa. Ia membisikan rencananya pada Rafael, dan lelaki itu hanya menganggukan kepalanya.
"Gimana menurut lu? rencana gue bagus gak?"
"Kalau itu sih gue setuju aja Sa, asal bukan gue yang ngelakuin. Tapi lu yakin rencana ini akan berhasil?"
"Udah lu percaya aja sama gue, sekarang tugas lu cari apa yang gue butuhin buat menjalankan rencana ini. Hanya dengan ini kita bisa mendapatkan apa yang kita mau." kata Clarissa menyeringai licik.
Mereka saling berjabatan tangan, dan setuju untuk bekerja sama. Rafael yang cemburu buta berhasil dihasut oleh Clarissa, dan ia berniat menjebak sahabatnya sendiri.
...Bersambung....
__ADS_1