
Sesampainya di rumah Nandini, ia malah bertemu lagi dengan Rafael. Hampir terjadi keributan di antara mereka, tapi seorang perempuan paruh baya datang menghentikannya. Kali ini Sebastian terlihat memberi perlawanan dengan menepis setiap pukulan yang Rafael arahkan kepadanya.
"Maaf kalian ini siapa ya? dan mau apa kesini?"
Rafael berbicara terlebih dulu, ia mengaku sebagai teman dekat Nandini dan ingin bertemu dengan nya. Tapi menurut ibu itu, Nandini sudah meninggalkan rumah sejak pagi tadi, dan ia memberikan pesan pada ibu itu jika ia ingin menjual rumahnya.
"Saya yang diberi amanat untuk membersihkan rumah ini dan menawarkan pada orang yang mau membeli. Entah kenapa Nandini terburu-buru ingin menjual rumah ini, sepertinya dia mau pindah. Jadi saya yang dipasrahin ngurus rumah ini selama belum terjual."
"Maaf bu apa saya bisa minta nomor hapenya Nandini?" tanya Sebastian menyela pembicaraan.
"Gak! lu gak boleh tahu nomor hapenya! Nandini pergi seperti ini pasti gara-gara perbuatan lu!" pekik Rafael membulatkan kedua matanya.
"Duh maaf ya Tuan-Tuan, tolong jangan bertengkar disini. Nanti jadi ramai warga yang salah paham, lebih baik Tuan berdua pergi saja dari sini."
__ADS_1
Akhirnya Sebastian terlebih dulu pergi dari sana, ia sangat frustasi tak dapat menemukan dimana keberadaan Nandini. Ia bahkan belum mendapatkan maaf dari perempuan itu, dan kini ia sudah menghilang entah kemana.
"Nandini kau dimana sekarang, maafkan aku yang telah merenggut kehormatan mu. Aku siap bertanggung jawab atas semua perbuatan ku. Tapi dimana kau sekarang?" gumam Sebastian dengan mengemudikan mobilnya.
Sebastian memutuskan untuk berkeliling di sekitar kota, dengan harapan dapat menemukan Nandini. Sementara Rafael memerintahkan beberapa orang kepercayaan nya untuk menemukan dimana keberadaan Nandini, entah bagaimana keadaan perempuan malang itu. Sebenarnya Rafael tak tahu dengan hatinya sendiri, ia sebenarnya ragu masih bisa menerima Nandini atau tidak. Apalagi ia sudah kehilangan kesuciannya, tapi Rafael juga tak tega membiarkan Nandini melewati semua ini seorang diri. Karena Nandini sudah tak memiliki keluarga lagi, ia pasti akan sangat terpuruk saat ini. Dan itulah yang menjadi pertimbangan Rafael untuk menemukan keberadaan Nandini.
Dret dret dret.
"Kenapa lu reject panggilan gue Fa? apa yang udah lu lakukan di kantor Mas Tian? apa lu mau gue beberkan semuanya ke Nandini, kalau yang terjadi padanya juga ada campur tangan lu hah!" ancam Clarissa diseberang telepon sana.
"Lu hati-hati ya Sa kalau ngomong! gue hanya ngelakuin apa yang lu minta. Tapi kenyataan nya apa hah! lu yang ceroboh dan buat kesalahan fatal, sampai semua ini terjadi diluar rencana kita. Seandainya lu gak minta Nandini menjaga Stefani sampai larut malam, pasti mereka gak akan melakukan hubungan itu!"
"Udah ya Fa, tutup mulut lu! kita harus sama-sama menjaga rahasia ini, gue gak mau Mas Tian tahu dan buat dia gak merasa bersalah lagi. Karena kejadian itu, dia sedikit merasa bersalah padaku. Dan kemungkinan hubungan kami dapat membaik, lu hanya perlu menjauhkan Nandini dari hidup kami."
__ADS_1
"Gampang banget lu ngomong kayak gitu Sa? kalau sampai Nandini hamil anak Tian gimana hah? apa lu gak mikir sampai situ? dengan gampangnya lu nyuruh gue jauhin Nandini dari hidup kalian. Lu gak sadar harapan gue hancur karena rencana lu? gak mungkin gue ngurus Nandini kalau sampai dia beneran hamil anak Tian!"
"Jadi lu gak mau nikah sama dia?" tanya Clarissa dengan mengaitkan kedua alis matanya.
Pertanyaan Clarissa semakin membuat Rafael frustasi, setengah hatinya masih sangat mencintai Nandini. Tapi ia tak yakin bisa menerima Nandini dengan keadaan yang sekarang atau tidak. Perempuan itu sudah dinodai oleh orang lain, belum lagi kemungkinan jika Nandini hamil. Kini Rafael sangat kesal, tangannya mengepal di penuhi dendam pada Sebastian.
"Gue gak akan biarin Sebastian hidup tenang, gue akan buat hidupnya seperti di neraka!" seru Rafael seraya mematikan panggilan telepon itu.
Terlihat Clarissa cemas mendengar perkataan Rafael, ia takut jika Rafael berusaha menjatuhkan bisnis Sebastian. Karena bagaimanapun selama Sebastian lumpuh, Rafael lah yang membantunya mengelola bisnis mereka. Dan kini Rafael menjadi ancamam terbesar dalam bisnis Sebastian. Clarissa nampak resah, ia berjalan mondar-mandir memikirkan sesuatu yang dapat menghentikan niat Rafael untuk membalas dendam.
"Kalau sampai Rafael berusaha menjatuhkan bisnis Mas Tian, bisa-bisa gue ikut merasakan imbasnya. Gue gak mau hidup susah, gue harus memberitahu Mas Tian supaya dia berhati-hati. Karena saat ini Rafael bisa melakukan apa saja untuk membalaskan dendamnya. Bagaimanapun singa yang terluka akan lebih berbahaya, dan itulah yang terjadi pada Rafael." gumam Clarissa pada dirinya sendiri.
...Bersambung. ...
__ADS_1