
...POV NANDINI. ...
...🍂...
...🍂...
Lelaki bertubuh kekar dengan wajah sendu tengah menatapku dalam. Perlahan ia mengembangkan senyumnya lalu berjalan mendekat ke arahku. Tangannya menyentuh pipiku, dan membelai rambutku dengan lembut. Sontak saja aku menepis tangannya, dan memintanya pergi dari hadapanku. Sudah susah payah aku memulai kehidupan baruku di tempat yang baru juga, tapi kenapa bayangan masa lalu masih saja mengikutiku.
"Tolong jangan ganggu aku lagi, pergilah dari sini!"
"Nandini, kenapa kau menghindar dariku juga? apa salahku padamu? semua yang terjadi padamu, bisa kau bagi denganku. Aku sudah mencarimu selama dua bulan ini, aku mencemaskan mu. Tolong mengertilah, biarkan aku melindungi mu."
"Rafael, semua yang menimpa diriku sudah terlanjur terjadi. Semua tak akan kembali seperti semula, aku bukan perempuan yang baik. Lebih baik kau cari perempuan yang layak untukmu!"
"Tidak Nandini! beberapa hari setelah aku mengetahui kejadian itu, aku memang sempat goyah dan ragu menjalin hubungan denganmu. Tapi aku tetap berusaha mencarimu, bahkan sekarang perasaan ku untukmu tak pernah berubah. Ijinkan aku untuk menjagamu, aku tak akan mempermasalahkan apa yang sudah terjadi padamu." ucap Rafael memohon penuh harapan.
Nandini semakin terisak mendengar semua ucapan Rafael. Ia merasa tak pantas mendapatkan perhatian sebesar itu dari lelaki baik seperti Rafael. Tiba-tiba kepalanya terasa berat, pandangan nya mendadak kabur. Nandini kehilangan kesadarannya dan pingsan di depan pintu kontrakannya. Seketika Rafael membopongnya lalu membaringkannya di sofa. Nampak Rafael sangat panik dan berusaha menelepon ambulance, tapi ponselnya kehabisan batrei. Tak tahu harus berbuat apa, Rafael berjalan keluar rumah dan berusaha meminta bantuan dari warga sekitar. Beruntungnya Sinta datang ke kontrakan Nandini, karena ingin membawakan mangga muda yang ia janjikan. Tapi Sinta justru terkejut melihat seorang lelaki asing ada di depan kontrakan temannya.
"Hei! Siapa kau berani-beraninya berkeliaran di depan kontrakan temanku!" pekik Sinta dengan berkacak pinggang.
"Jadi kau temannya Nandini? Syukurlah." kata Rafael menghembuskan nafas lega.
Rafael langsung menarik tangan Sinta masuk ke dalam kontrakan. Sinta yang ketakutan melihat sikap lancang Rafael berusaha berontak dan berteriak. Tapi Rafael langsung membekap mulutnya dan menunjukan pada Sinta, jika saat ini Nandini sedang terbaring tak sadarkan diri.
"Sebelum mengatakan apa-apa lihatlah bagaimana keadaan Nandini. Tiba-tiba ia pingsan, aku takut terjadi apa-apa padanya. Bisakah kau menghubungi Dokter atau ambulance? biar aku yang akan menanggung semua biayanya!"
"Hei Tuan kaya, bisa diam dulu gak! Tenang saja aku ini juga seorang perawat, aku akan memastikan kondisinya lebih dulu. Lagipula kenapa tak berkata sejak awal sih, bikin cemas saja!"
__ADS_1
Samar-samar aku mendengar perdebatan mereka. Aku membuka kedua mataku, dan keduanya langsung mendekati ku. Mereka menanyakan keadaan ku, sepertinya aku sudah membuat mereka hawatir.
"Sin, tolong ambilkan obat sakit kepala di kotak P3K." pintaku pada Sinta, yang masih terlihat kesal dengan Rafael.
Rafael langsung duduk di sampingku, ia memandangku dengan wajah sendu.
"Kalau kau sakit lebih baik periksa ke Dokter saja, aku tahu kau pasti tak menjaga kesehatan dengan baik selama disini."
Tak sempat aku menjawab perkataan Rafael, Sinta datang dan menceramahinya.
"Hei Tuan kaya! Jangan sok tahu, mana ada perawat yang tak menjaga kesehatannya. Lagipula kau itu siapa tiba-tiba datang menemui Nandini sampai ia pingsan begitu?"
"Kenapa kau terus memanggilku dengan sebutan itu? gak sopan sama sekali ngakunya perawat tapi bad attitude!"
"Eh kalau ngomong dijaga ya! udah tadi main pegang-pegang tanganku tanpa dosa, sekarang kau mengataiku hah!" pekik Sinta dengan menunjuk-nunjuk wajah Rafael.
"Rafael, tolong biarkan aku sendiri. Pergilah dari sini!" kataku seraya menyenderkan kepala di sofa.
"Tuh kau dengar apa kata Nandini? dia ingin sendiri jadi kau juga harus pergi dari rumah ini!" celetuk Rafael menyeringai di hadapan Sinta.
Nampak Sinta melotot dan mendorong tubuh Rafael. Sinta mengatakan jika ia akan tetap berada disini bersamaku, lalu menyeret Rafael ke depan pintu.
"Rafael. Sinta benar, dia akan tetapi berada disini. Aku sedang kurang enak badan, dan aku membutuhkannya. Pergilah Fa, jangan buat keadaan semakin sulit."
"Tapi Nandini, aku sangat mencemaskanmu!"
"Pergilah. Lain waktu kita akan berbicara lagi, aku yang akan menghubungi mu. Kembalilah ke Kota mu, aku belum siap berbicara denganmu saat ini."
__ADS_1
Rafael menundukan kepalanya, ia kembali mendekatiku lalu menggenggam tanganku. Ia memintaku berjanji supaya tak kabur lagi darinya, aku hanya menyunggingkan senyum seraya menganggukan kepala. Memang sepertinya tak ada gunanya lagi aku melarikan diri dari Rafael, karena ia pasti akan mencariku dan menemukan keberadaan ku. Kini Rafael bangkit berdiri, ia menatap tajam ke arah Sinta dan meminta Sinta untuk menjagaku.
"Katanya kau temannya kan? Bisa minta tolong jaga Nandini gak? beberapa lagi aku akan datang kesini, akan ku berikan berapapun yang kau minta asal kau menjaga Nandini untukku!" seru Rafael dengan menaikan alis matanya.
Kini Sinta mulai berang melihat kesombongan Rafael. Ia membentak Rafael dan memakinya dengan berkacak pinggang.
"Dengar ya Tuan kaya! Tanpa kau mintapun, aku akan menjaga Nandini. Dan aku tak butuh uangmu, enyahlah dari hadapanku!"
Melihat mereka berdua saling debat, aku merasa lucu dan sedikit mendapat hiburan. Mereka terlihat serasi jika aku lihat-lihat, akhirnya aku berdiri dan mengantarkan Rafael sampai depan rumah dan memintanya segera pergi, sebelum Sinta semakin kesal dan perdebatan mereka tak akan ada habisnya.
...Bersambung. ...
Hai othor punya rekomendasi novel yang bagus buat kalian loh.
Menjadi Madu Sahabatku
Author: Ayu Andila
Dia tidak menyangka kalau akan menjadi pemeran antagonis dalam kehidupan sahabatnya.
Viola Rinjani, seorang gadis muda berusia 23 tahun harus terpaksa menikah dengan seorang pria yang merupakan suami dari sahabatnya sendiri.
Awalnya, Viola menolak tawaran pernikahan itu. Namun, keadaan yang terus memburuk terasa mencekik leher Viola hingga membuatnya harus mengambil keputusan untuk menjadi istri kedua.
Biduk rumah tangga pun dimulai, akankah Viola berhasil melewatinya ?
Atau terpuruk dengan segala siksaan dan hinaan yang dilayangkan oleh semua orang ?
__ADS_1