
Setelah meyakinkan Clarissa, Rafael berhasil membujuknya untuk meninggalkan kontrakan Nandini. Terlihat pula jika ada raut kekecewaan di wajahnya, tapi Rafael berusaha tegar menghadapi kenyataan. Setengah hatinya terasa mati, dadanya begitu sesak menerima kenyataan bahwa Nandini sedang mengandung benih suami orang. Akhirnya Rafael pergi bersama Clarissa, untuk memastikan jika perempuan itu tak akan menggangu Nandini lagi. Dan di sepanjang perjalanan, terdengar Clarissa terus mengoceh memaki Nandini dengan kata-kata kasar. Ia tak mau dimadu, meskipun ia sempat mengatakan pada Sebastian jika ia rela dimadu jika Nandini sampai benar-benar mengandung benihnya. Tapi setelah melihat kenyataan yang sesungguhnya, hati Clarissa tak cukup tegar untuk berbagi suami dengan perempuan lain.
"Sa, stop jangan nangis lagi! Lu pikir gue gak pusing lihat keadaan kaya gini. Gue juga gak mau Sa semua ini terjadi, tapi kita juga gak bisa sepenuhnya nyalahin Nandini. Bukan ini yang dia harapin Sa, lu harusnya gak boleh nyalahin Nandini. Karena bagaimanapun kita yang bersalah!"
"Kalau menurut lu begitu, kenapa lu tetep musuhin Mas Tian? Gampang banget ya lu ngomongin gue, sedangkan lu sendiri gak bisa ngelakuin nya!"
Rafael dan Clarissa sama-sama diam, untuk sesaat mereka merasa bersalah dengan situasi yang terjadi saat itu. Tapi nasi sudah menjadi bubur, kandungan Nandini akan semakin besar setiap harinya. Dan jika sampai Sebastian tahu, ia pasti akan bertanggung jawab dengan menikahi Nandini. Dan itulah yang menjadi problem keduanya.
"Fa. Lu cinta perempuan itu kan? Kenapa lu gak nikahin dia aja?" tanya Clarissa dengan wajah gusar.
"Risa! Masalahnya gak segampang itu. Pernikahan bukan cuma antara gue dan Nandini aja. Menurut lu, apa yang akan orang tua gue pikirin tentang Nandini, jika mereka tahu kalau Nandini hamil anak orang lain. Kalau masalah dia udah gak suci lagi, gue masih bisa terima. Tapi ini beda cerita Sa, yang ada orang tua gue bisa ngamuk, dan gue bisa dicoret dari daftar warisan mereka!"
__ADS_1
Clarissa mengaitkan kedua alis matanya, tak lama ia menjentikan jarinya, lalu membisikan sesuatu pada Rafael.
"Gila lu Sa! Lu nyuruh gue bohongin orang tua gue? Kalau sampai kebongkar bisa habis gue Sa!" kata Rafael dengan menghembuskan nafas panjang.
"Apa salahnya lu bilang, kalau yang dikandung perempuan itu adalah darah daging lu. Yang penting kan lu bisa nikah sama dia!"
"Tapi bayi itu bukan keturunan gue Risa! Bagaimana kalau kedua orang tua gue benar-benar sayang ke ank itu."
"Lantas kalau Nandini jadi berubah benci sama gue gimana Sa? Mana mungkin gue bisa terang-terangan mau buang bayinya!"
"Ya elah Fa! Lu itu gobloknya natural banget ya! Ngapain lu pake bilang segala, lu tuker aja bayi yang udah dia lahirin sama bayi orang lain yang udah meninggal. Lu bisa tukar bayi itu atau menitipkan nya ke panti atau ke siapapun lah. Asal ada uang kita bisa ngelakuin apa aja Fa, itu udah hukum alamnya. Yang terpenting lu bisa ikutin arahan gue barusan, gimana setuju gak lu?" tanya Clarissa dengan menaikan dagunya.
__ADS_1
Rafael kembali diam seraya mengemudikan mobilnya, ia nampak mengaitkan kedua alis matanya. Berpikir keras, dengan ide yang Clarissa berikan. Tapi Rafael juga ragu, apakah Nandini mau menikah dengannya. Sedangkan ia sudah mengatakan dengan tegas, jika ia tak mau mengorbankan Rafael hanya demi kepentingan nya sendiri.
"Lu hanya perlu yakinin perempuan itu aja Fa. Bagaimanapun dia akan menjadi seorang ibu, lu harus bujuk dia dengan membawa-bawa bayinya. Bilang aja lu akan nerima bayinya seperti anak lu sendiri, dan lu gak akan ngecewain dia. Pasti dia bakal luluh Fa, ikuti aja kata-kata gue!"
"Tapi gue gak bisa lakuin semuanya sendiri Sa, kalau bayi itu udah lahir, lu harus bantuin gue nyingkirin bayi itu dalam hidup gue ya?"
Clarissa pun menyeringai, setuju dengan permintaan Rafael. Keduanya saling berjabat tangan, menyetujui rencana besar yang akan mereka jalankan. Karena bagi Clarissa kehadiran bayi itu adalah anacaman besar bagi kehidupan nya. Ia tak mau rumah tangga nya kembali hancur, karena Sebastian pasti akan menikahi Nandini jika ia tahu kalau ada darah dagingnya di dalam rahim perempuan yang telah ia nodai. Apalagi Clarissa sempat membuat janji demikian, karena itulah Clarissa panik setelah melihat perut Nandini membesar. Apapun akan ia lakukan untuk menjauhkan Nandini dari kehidupan nya, meskipun seribu satu cara jahat harus dilakukan. Clarissa tak akan menyerah begitu saja.
...Bersambung. ...
Maaf agak slow update ya, othor lagi kurang sehat. Jadi memperlambat up nya, see you all 👋
__ADS_1