
Rafael sangat menghawatirkan kondisi Sebastian, ia pergi menemui Dokter yang menangani nya. Dokter menjelaskan hal yang sama pada Rafael mengenai cedera tulang belakang yang di alami Sebastian.
"Cedera tulang belakang sering secara permanen menyebabkan hilangnya kekuatan, sensasi, dan fungsi di bawah tempat cedera itu. Bisa jadi pasien tak hanya mengalami lumpuh di tubuhnya, tapi fungsi saraf yang lainnya. Kita hanya perlu menunggu pasien sadar, dan melihat bagaimana kondisi nya lebih lanjut. Karena pada kasus tertentu cedera tulang belakang menyebabkan gangguan permanen pada fungsi motorik atau gerak dan sensorik bagian tubuh terdampak cedera. Jika kondisi lebih parah biasanya pasien juga tdak mampu menggerakkan sebagian atau seluruh bagian tubuh ada gangguan mati rasa atau menurunnya kemampuan merasakan panas, dingin, sentuhan. Terkadang pasien juga mengalami aktivitas refleks yang berlebihan atau kejang. Jadi kondisi demikian akan membutuhkan penanganan khusus."
Rafael tercengang setelah mendengar penjelasan Dokter. Ia tak menyangka kondisi Sebastian begitu parahnya. Tak hanya mengalami kelumpuhan di tubuh, mungkin ia juga kehilangan kemampuan nya untuk merasakan sentuhan ataupun berkomunikasi dengan orang lain.
"Astaga, apa yang harus ku lakukan sekarang? aku akan menemukan pengobatan yang bagus untuk Sebastian." gumam Rafael seraya mengacak rambutnya kasar.
Sudah dua hari Sebastian belum sadar juga, Mbok Itoh bergantian dengan Rafael untuk menjaga Sebastian. Sementara Clarissa harus tetap berada di rumah, mengingat sebentar lagi ja akan melahirkan.
"Nyah, Tu tuan sudah sadar Nyah. Apakah Nyonya bisa datang ke Rumah Sakit sekarang juga?" ucap Mbok Itoh melalui panggilan telepon.
"Apa Mbok Itoh sedang memerintah saya? banyak yang harus saya lakukan di rumah, lebih baik Mbok Itoh urus saja sendiri lelaki lumpuh itu!" seru Clarissa langsung mematikan panggilan telepon.
Raymond datang memeluk Clarissa, dan menanyakan apa yang membuatnya marah. Clarissa menceritakan segalanya, jika ia males mengurus Sebastian, tapi Mbok Itoh selalu saja merepotkan nya.
"Lebih baik kau istirahat saja sayang, daripada memikirkan hal yang gak penting seperti itu."
"Bisakah kau antar aku ke kamar? rasanya perutku sakit sekali sayang." kata Clarissa dengan memegangi perutnya yang terasa tak karuan.
"Sebentar ya aku kunci pintu depan dulu."
Karena tak sabar menunggu Raymond datang, Clarissa berjalan menuju kamar sendiri. Karena rasa sakit yang luar biasa di perutnya, ia jatuh tersungkur di lantai, dan ia mengalami pendarahan hebat.
"Aaaakh!" pekik Clarissa lantang.
__ADS_1
Raymond bergegas mendatangi Clarissa, dan ia sangat terkejut ketika melihat perempuan itu mengalami pendarahan. Dengan terburu-buru Raymond membawanya ke Rumah Sakit. Ketika Clarissa sedang di dorong di atas brangkar, Mbok Itoh melihat Nyonya nya itu kesakitan.
"Apa yang terjadi dengan Nyonya?" tanyanya pada Raymond.
"Lebih baik kau hubungi Rafael, bilang saja Clarissa pendarahan. Minta dia segera kesini, aku tak bisa mengurus segalanya tanpa Clarissa." jawab Raymond kesal.
Tiba-tiba Rafael berlari ke Ruang rawat Sebastian, ia nampak terburu-buru dan mengacuhkan panggilan Mbok Itoh.
"Kenapa kau hanya diam disini saja perempuan tua! cepat kejar Rafael, dan beritahu kondisi Clarissa sekarang juga!" bentak Raymond pada Mbok Itoh.
Perempuan tua itu berlari tergopoh-gopoh mengejar Rafael. Ia menunggu di luar pintu. Tak berselang lama Rafael keluar, dan meminta Mbok Itoh pulang ke rumah untuk memanggik Clarissa.
"Saya sudah menghubungi Clarissa berkali-kali, tapi ponselnya tak bisa terhubung. Tolong Mbok Itoh pulang ke rumah, dan minta Clarissa datang kesini karena Tian sudah sadar. Tapi kondisinya benar-benar parah, kita harus memberitahunya sekarang juga Mbok."
"Ta tapi Tuan, Nyonya gak ada di rumah. Dia baru saja dibawa ke rumah sakit ini karena mengalami pendarahan. Tolong Tuan Rafael mengurus semua berkas administrasi nya Tuan."
"Permisi Pak, apakah Bapak yang menjadi penanggung jawab atas pasien yang bernama Clarissa Darmawangsa?" tanya seorang perawat dengan membawa map berwarna putih di tangannya.
"Ada apa Sus?"
"Begini Pak, pendarahan yang di alami pasien mengakibatkan pasien kekurangan darah. Dan kami harus memberikan transfusi darah, selain itu kami harus melakukan tindakan sesar untuk menyelamatkan bayi yang ada di dalam rahimnya."
"Tapi kan sus, ini belum saatnya dia melahirkan?"
"Bapak tenang saja, Dokter akan melakukan yang terbaik. Silahkan Bapak tanda tangani persetujuan untuk melakukan tindakan sesar." kata perawat seraya menyodorkan map putih di tangan nya.
__ADS_1
Rafael benar-benar bingung melihat kedua sahabatnya dirawat di rumah sakit itu. Ia berniat menemui Sebastian dan menceritakan kondisi Clarissa sekarang.
"Meski Tian gak bisa melakukan apa-apa, setidaknya gue bisa ajak dia bicara mengenai kondisi istrinya." batinnya di dalam hati.
Sesampainya di ruangan Sebastian, ia duduk di samping ranjang. Rafael menjelaskan semuanya mengenai pendarahan yang di alami Clarissa.
"Lu temang aja ya bro, gue terpaksa menyetujui tindakan sesar supaya bayi kalian bisa selamat. Sebentar lagi lu akan menjadi seorang ayah, dan gue harap lu segera pulih ya bro." ucap Rafael dengan mata berkaca-kaca.
Hening tak ada jawaban dari Sebastian, dan Rafael mengira jika sahabatnya hanya kesusahan berbicara karena alat yang menutupi mulutnya. Rafael tak akan pernah menyangka, jika Sebastian juga mengalami kelumpuhan disekitar wajahnya yang mengakibatkan ia tak bisa menggerakan mulut nya. Hanya air mata yang mengalit dari kedua matanya.
"Lu gak usah sedih bro, ada gue yang akan selalu bantu kalian berdua. Yang terpenting lu bisa secepatnya sembuh, dan berkumpul bersama keluarga kecil lu."
Cekleek.
Dokter datang untuk memeriksa kondisi Sebastian, lalu Rafael menceritakan jika Sebastian kesulitan untuk berbicara karena alat yang menutupi mulutnya. Lalu Dokter membuka alat itu, dan mengajak Sebastian untuk berkomunikasi. Hasilnya Sebastian tetap kesulitan mengucapkan apapun. Bahkan bibirnya tak bisa terbuka lebar, hanya bergerak sedikit saja.
"Maaf Pak sepertinya pasien tak hanya mengalami gangguan di tubuhnya. Tapi saraf disekitar wajahnya juga mengalami gangguan. Sepertinya pasien akan kesulitan untuk berkomunikasi, tapi kondisi ini bisa diperbaiki lebih cepat daripada proses penyembuhan saraf tulang belakang nya. Dengan berbagai metode pengobatan, pasien bisa mendapatkan kemampuan untuk mengendalikan saraf disekitar wajahnya kembali." ucap Dokter itu dengan menundukan kepalanya.
Rafael terkejut mendengar penjelasan Dokter itu, nampak sahabatnya yang terbaring di ranjang hanya bisa meneteskan air mata. Tak hanya mengalami kelumpuhan ditubuhnya, Sebastian bahkan tak bisa membuka mulutnya. Untuk makan dan minum ia harus dibantu orang lain, apalagi untuk berkomunikasi dengan orang-orang, ia tak akan mampu melakukannya.
"Astaga, apa yang harus gue sampaikan ke Clarissa. Dia pasti benar-benar akan terguncang jika mendengar kabar ini." batin Rafael dengan mengacak rambutnya.
...Bersambung....
Hai othor punya rekomendasi novel yang bagus buat kalian loh.
__ADS_1