GAIRAH ISTRIKU MELUKAIKU

GAIRAH ISTRIKU MELUKAIKU
BAB 19


__ADS_3

"Apa maksud Mbok Itoh? saya hanya ingin memberikan Mas Tian minum. Memang Mbok pikir saya mau kasih apa hah?"


"Bukan begitu Nyah, Tuan sepertinya sedang tidak haus. Matanya terus berkedip sepertinya ia memberi tanda tak ingin meminumnya."


"Mbok Itoh gak usah sok tahu, emangnya Mbok Itoh tahu darimana kalau Mas Tian menolak minum?"


"Suster Nandini yang ngasih tahu saya Nyah. Tuan suka ngajak bicara dengan kedipan mata."


"Udahlah Mbok Itoh urus saja Stefani, saya akan menunggu Suster Nandini datang."


Mbok Itoh pergi dengan menggendong Stefani. Tak ada kecurigaan dengan gelagat Clarissa yang tak biasanya perduli dengan Sebastian. Padahal biasanya jika bukan dirinya atau Nandini yang mengurus kebutuhan Sebastian, tak ada lagi yang akan mengurusnya.


"Beres sayang. Perempuan tua itu udah pergi keluar rumah ngajak Stefani jalan-jalan. Cepat berikan minum itu padanya." kata Raymond tersenyum melalui sudut bibirnya.


Raymond dan Clarissa memaksa Sebastian meneguk minuman yang sudah ada di mulutnya. Sampai akhirnya minuman yang sudah dicampur zat berbahaya itu tertelan oleh Sebastian. Keduanya tersenyum puas, karena telah berhasil memberikan zat berbahaya itu pada Sebastian.


"Kita harus meninggalkan rumah sekarang juga. Sebentar lagi Nandini datang, dia pasti akan memberikan makan minum pada lelaki lumpuh itu. Dan gak lama setelahnya zat berbahaya itu akan bereaksi, setelah itu dia akan meregang nyawa. Lalu Nandini yang akan dipersalahkan atas meninggalnya pasien yang dirawatnya. Lalu kau bisa menguasai segalanya sayang hahaha." ucap Raymond seraya menggandeng tangan Clarissa ke dalam mobil.


Pagi itu Nandini datang terlambat karena ada perbaikan jalan di sekitar rumahnya. Ia berdiri mematung di depan pagar, tak ada satupun orang yang membuka pagar itu.


"Loh Suster kok masih diluar? berarti Tuan sendirian di rumah ya, itu mobil Nyonya sudah gak ada."

__ADS_1


"Iya Mbok, saya terlambat nih. Sini saya yang bukakan pagarnya."


Nandini mengambil kunci dari kantong baju Mbok Itoh. Mereka bergegas masuk ke dalam, nampak Sebastian terbaring di atas ranjang dengan nafas tersengal-sengal. Nandini memberikan obat yang biasa di konsumsi Tian. Tapi tak ada perubahan, Tian masih saja bernafas tak beraturan. Nandini panik dan mengecek kondisi Tian, nampak raut wajah Tian berubah pucat. Seluruh kuku nya berubah menghitam, ia berteriak memanggil Mbok Itoh yang sedang meletakkan Stefani di bok bayi.


"Mbok saya sudah menghubungi ambulance, setelah ini saya akan membawa Pak Tian ke Rumah Sakit. Saya sudah mencoba menghubungi Bu Clarissa, tapi ia tak menjawab panggilan telepon saya. Tolong sampaikan padanya, jika mendadak kondisi Pak Tian kritis, jadi saya terpaksa membawanya tanpa ijin terlebih dulu."


Mbok Itoh terlihat cemas, ia tak tega melihat kondisi Sebastian. Yang terlihat seperti mayat hidup, dengan berlinang air mata Mbok Itoh mengantarkan Tuan nya itu sampai ke dalam mobil ambulance.


Sesampainya di Rumah Sakit, Sebastian langsung mendapatkan penanganan dari Dokter Spesialis. Karena kondisi yang di alami Sebastian memang membutuhkan penanganan khusus. Beruntungnya Nandini cepat membawa Sebastian ke Rumah Sakit, karena jika terlambat mendapat pertolongan dari Dokter, nyawa lelaki malang itu bisa hilang dalam hitungan jam.


"Suster Nandini, apakah anda memberikan sesuatu pada pasien diluar resep dari Dokter?" tanya Dokter Spesialis itu.


"Saya hanya memberikan obat yang biasa Pak Tian konsumsi Dok."


Dengan gelisah Nandini menunggu hasil tes, kondisi Tian masih belum sadarkan diri, tapi Dokter sudah memastikan jika ia sudah melewati masa kritisnya. Tak lama setelah itu Clarissa datang dengan menangis histeris. Ia menyalahkan Nandini karena lalai menjalankan tugasnya.


"Apa yang kau berikan pada suamiku hah? kenapa ia sampai sekarat seperti ini, jangan-jangan kau memberikan sesuatu padanya! cepat katakan padaku, mengakulah!" seru Clarissa dengan membulatkan kedua matanya.


"Apa maksud ibu? saya hanya memberikan obat yang biasa dikonsumsi Pak Tian."


Perdebatan keduanya terhenti ketika Dokter datang dengan membawa hasil laboratorium. Dokter menjelaskan jika pasien mengkonsumsi zat berbahaya di dalam tubuhnya.

__ADS_1


"Kami menemukan kandungan Benzena dalam tubuh pasien. Benzena juga berpotensi merusak sistem kekebalan tubuh dengan mengubah kadar antibodi dan menyebabkan hilangnya sel darah putih. Beruntungnya Suster Nandini bertindak cepat dengan membawa pasien ke Rumah Sakit."


Clarissa menelan salivanya ketika mendengar penjelasan Dokter. Nampaknya Sebastian berhasil diselamatkan, dan ia tak berhasil melenyapkan nyawa Sebastian.


"Aah kenapa Nandini harus menyadari kondisi buruk Mas Tian, jika tidak aku sudah berhasil mendapatkan semuanya." batin Clarissa kecewa.


"Kalau ibu mau, saya akan melaporkan kasus ini ke pihak yang berwajib. Karena sepertinya ada yang sengaja ingin mencelakai suami ibu."


"Tidak perlu Dok, saya akan menyelesaikan masalah ini sendiri. Takutnya Suster Nandini lalai dalam tugasnya, dan gak sadar ngasih sesuatu ke suami saya. Saya gak mau Suster Nandini bermasalah dengan polisi."


Nandini menundukan kepalanya, ia merasa tak melakukan kesalahan apapun. Tapi berulang kali Clarissa seakan menuduh nya memberikan zat berbahaya itu pada suaminya.


"Maaf bu kalau saya lancang, karena saya gak pernah merasa memberikan zat berbahaya itu. Kalau ibu masih gak percaya, lebih baik pihak kepolisian yang mengusut kasus ini." kata Nandini dengan wajah serius.


"Bukan begitu maksud saya Sus, saya gak bermaksud menuduh Suster Nandini. Kalau begitu kita gak perlu membahas masalah ini lagi."


Clarissa memilih tak membahas masalah itu lagi, ia hawatir jika Nandini benar-benar mengusut kasus ini ke pihak yang berwajib. Karena nantinya akan menimbulkan masalah untuk dirinya sendiri.


"Pak Tian, maafkan saya sudah lalai menjaga Bapak huhuhu." Nandini terisak di samping Sebastian yang terbaring.


Tiba-tiba jari jemari Tian bergerak, perlahan Sebastian mulai bisa menggerakkan beberapa anggota tubuhnya. Nampak Nandini menyunggingkan senyumnya, ia sangat bersyukur pada Tuhan, karena ada mukjizat dibalik musibah hari ini.

__ADS_1


"Alhamdulillah ya Allah terima kasih atas mukjizatMu." ucap Nandini bersyukur melihat hal yang tak mungkin terjadi secepat itu, karena biasanya pasien yang mengalami cedera tulang belakang akan sembuh dalam waktu yang lama.


...Bersambung....


__ADS_2