
Nandini berusaha berlari tapi seseorang memegangi tangannya dan menghempaskan tubuhnya hingga keningnya membentur tembok. Nandini merasakan sakit di kepalanya, ia berdiri dengan tubuh oyong lalu tersungkur ke lantai.
Bruugh.
"To tolooong." ucap Nandini setengah sadar.
Suara langkah dengan pemilik nafas yangbberat itu semakin mendekat ke arah Nandini. Tangan kekarnya merengkuh tubuh mungil Nandini, ia menyentuh setiap jengkal tubuhnya. Nandini yang merasa sakit di kepalanya tak dapat berontak lagi, bahkan ia hampir tak sadarkan diri. Cahaya kilatan guntur memantulkan bayangan seorang lelaki yang berdiri tegap di hadapannya.
"Pak Tiaan ja jaangaan." ucapnya lirih sebelum tak sadarkan diri.
Sebastian yang sudah dalam pengaruh obat kuat tak dapat melihat siapa yang ada di dekatnya. Gairahnya sudah memuncak karena Clarissa memberikan dosis yang tinggi pada minumannya. Kini Sebastian tengah melucuti semua pakaian yang menempel ditubuh Nandini. Meski tak ada respon dari Nandini, Sebastian tetap menikmati permainan panasnya. Entah apa yang ada didalam pikiran Sebastian saat itu, karena ia sudah kehilangan akal sehatnya dan tak tahu apa yang sedang ia lakukan bersama perempuan yang tak dapat ia lihat wajahnya. Sebastian berusaha menerobos benteng pertahanan milik Nandini, tapi seakan pintu itu tertutup rapat dan sulit diterobos. Hingga akhirnya setelah mencoba berkali-kali, ia berhasil membobol benteng pertahanan Nandini. Perempuan itu setengah sadar merasakan seluruh tubuhnya bagaikan di koyak. Hanya rasa sakit dan perih yang dapat ia rasakan, menjerit pun seakan sia-sia karena ia kehilangan seluruh tenaganya. Suara-suara aneh Sebastian sedikit membuat Nandini merasa merinding di seluruh tubuhnya. Perlahan ia merasakan sesuatu menjalar di dalam dirinya. Kini tubuh lelaki kekar itu ambruk di atasnya, ia mengecupi bibir mungil Nandini dengan lembut. Dan Nandini pun membalas kecupan itu, hingga mereka lemas dan terlelap bersama di atas ranjang.
Sayup-sayup Nandini mendengar suara teriakan seorang perempuan. Ia menangis histeris lalu menjambak rambut panjangnya.
"Awww lepaskan saya Bu!" seru Nandini kesakitan.
"Apa yang kau lakukan dengan suamiku hah? dasar perempuan ja*lang, murahan!" jerit Clarissa seraya menampar wajah Nandini.
Sadar tak mengenakan apapun yang menempel di tubuhnya, Nandini berusaha meraih selimut yang ada di atas ranjang. Ia hanya bisa menangis meratapi nasib buruknya.
"Mas apa yang kau lakukan bersama perempuan ja*lang ini hah!" pekik Clarissa menarik tangan Sebastian yang masih terpejam di atas ranjang.
__ADS_1
Perlahan Sebastian membuka kedua matanya, ia terkejut melihat Clarissa murka padanya.
"Apa yang kau lakukan Risa? bukannya semalam kau sendiri yang menggodaku? lalu apa salahku melakukan ini padamu? jika kau tak merayu ku, aku tak akan menghabiskan malam denganmu!" kata Sebastian yang tak sadar apa yang telah ia perbuat semalam.
"Apa kau pikir aku akan marah seperti ini jika kau melakukannya denganku hah? lihatlah si ja*lang itu, kau sudah menghabiskan malam bersamanya!" Clarissa menunjuk Nandini yang masih duduk di lantai menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut.
Nandini hanya bisa menundukan kepala dengan berlinang air mata, kehormatan nya sudah direnggut paksa oleh lelaki yang sudah beristri. Kini masa depan Nandini seakan hancur begitu saja, ia terus menangis dan meratapi nasibnya. Nampak Sebastian sangat terkejut mengetahui apa yang sebenarnya terjadi. Pantas saja semalam ia begitu kesulitan melakukan permainan nya, karena Nandini yang masih gadis dan terjaga kesuciannya.
"Nandini ma maafkan saya." ucap Sebastian dengan mengacak rambutnya kasar.
Sebastian terlihat begitu frustasi, ia tak menyangka semua ini akan terjadi.
Clarissa pun menjelaskan jika semalam Nandini menjaga Stefani yang sedang demam, mungkin ia tak pulang karena sudah larut malam dan hujan deras.
"Dan semalam, aku terjatuh Mas. Saat kita sedang bersama tapi tiba-tiba mati listrik, aku terjatuh dan pingsan di tangga depan ruang tv. Entah apa yang terjadi setelah itu, karena ketika aku sadar dan mencarimu, kau sudah terlelap bersama pelakor itu. Kalian melakukannya di rumah ini Mas, kalian berselingkuh di depan mataku sendiri!" jerit Clarissa lantang dengan meneteskan air mata.
"Pelankan suaramu Risa, jangan bikin keributan di pagi buta seperti ini!" kata Sebastian seraya menutup pintu kamar itu.
"Aku tak tahu dan tak sadar melakukannya dengan Nandini, karena semalam ia seperti tak sadarkan diri juga. Bahkan aku pikir itu kau Risa, aku terpaksa melampiaskan hasratku padamu karena aku tak dapat menahan gairah ku. Tapi kenyataan berkata lain, bukan kau yang menghabiskan malam bersamaku melainkan Nandini."
Sebastian benar-benar frustasi, ia begitu merasa bersalah bahkan ia sampai berlutut di hadapan Nandini dan meminta pengampunan darinya. Tak ada sepatah katapun yang keluar dari bibir Nandini, ia hanya bisa menangis meratapi nasin buruknya.
__ADS_1
...Bersambung. ...
Hai othor punya rekomendasi novel yang bagus buat kalian loh.
Rahim Sengketa
Author Asri Faris
Seorang laki-laki muncul di hadapan Ajeng. Tidak amat tampan tetapi teramat mapan. Mengulurkan keinginan yang cukup mencengangkan, tepat di saat Ajeng berada di titik keputus-asaan.
"Mengandung anaknya? Tanpa menikah? Ini gila namanya!" Ayu Rahajeng
"Kamu hanya perlu mengandung anakku, melalui inseminasi, tidak harus berhubungan badan denganku. Tetap terjaga kesucianmu. Nanti lahirannya melalui caesar." Abimanyu Prayogo
Lantas bagaimana nasab anaknya kelak?
Haruskah Ajeng terima?
Gamang, berada dalam dilema, apa ini pertolongan Allah, atau justru ujian-Nya?
__ADS_1