GAIRAH ISTRIKU MELUKAIKU

GAIRAH ISTRIKU MELUKAIKU
BAB 41


__ADS_3

Perawat itu meletakan Stefani ke atas brangkar, tak lama dua perawat senior datang membawanya ke sebuah ruangan. Untuk sesaat Nandini terdiam ketika melihat wajah Stefani yang terbaring tak sadarkan diri. Ia menoleh ke segala arah mencari keberadaan Sebastian ataupun Clarissa. Dengan cepat Nandini langsung mengenakan masker penutup wajah, ia tak mau sampai keberadaanya disana diketahui oleh Sebastian ataupun Clarissa.


"Astaga Stefani, kau kenapa Nak?" gumam Nandini seraya mendorong brangkar dengan berlinang air mata.


Sinta yang melihat gelagat aneh Nandini memintanya untuk menenangkan diri, ia tak ingin Nandini memeriksa kondisi gadis kecil itu. Karena sepertinya Nandini punya ikatan emosi dengan pasiennya.


"Tenanglah Nandini, sepertinya gadis kecil ini hanya kelelahan dan panas dalam. Makanya dia mimisan, kita tunggu Dokter datang supaya memeriksa kondisi lebih lanjut." ucap Sinta dengan menyunggingkan senyumnya.


"Terima kasih Sin, aku memang mengenal anak ini. Dari kecil aku yang menjaganya, makanya aku tak tega melihatnya seperti ini. Oh iya, kau lihat kedua orang tua anak ini kan? tolong jangan katakan apapun tentangku pada mereka, bisa kan?"


"Memangnya ada apa Nandini?"


"Ceritanya panjang, jika aku sudah siap, aku akan menceritakan segalanya padamu. Bisa gak kau gantikan tugasku untuk sementara ini? aku gak mau ketemu sama kedua orang tua Stefani."

__ADS_1


Sinta menganggukan kepala, dan aku berjalan mendekati Stefani lalu mengecup keningnya. Tak lama terdengar suara langkah kaki masuk ke dalam ruangan, seketika aku mengenakan kembali masker diwajah. Lalu berjalan keluar meninggalkan ruangan itu. Aku berpas-pasan dengan Sebastian, wajahnya masih tak berubah. Terlihat tampan dan berwibawa, membuatku jantungku berdegup kencang. Nampak sorot mata Clarissa menatap tajam ke arah Nandini, ia menyipitkan kedua matanya, merasa tak asing dengan bentuk tubuh perawat yang baru saja melewatinya.


"Tunggu dulu Sus!" ucap Clarissa menghentikan langkah Nandini.


Nandini langsung menghentikan langkahnya, jantungnya berdetak semakin kencang karena mendengar suara langkah Clarissa mendekat ke arahnya. Beruntungnya Sinta menyadari kecemasan ku, ia memanggil Clarissa untuk menjelaskan apa saja yang akan Dokter katakan mengenai kondisi Stefani.


"Syukurlah Sinta memanggilnya, jika tidak keberadaan ku di kota ini pasti terbongkar." batinku di dalam hati dengan menghembuskan nafas panjang.


Dokter hanya memberikan resep obat yang harus ditebus untuk Stefani. Karena kondisinya memang sedang tidak sehat, dan ia mengalami panas dalam akut.


Terdengar keributan kecil di antara Sebastian dan Clarissa. Nampaknya Sebastian memarahi Clarissa karena tak becus mengurus anaknya sendiri.


"Dulu Stefani tak pernah mengalami hal seperti ini selama ia dijaga oleh Nandini. Tapi sekarang ia jadi sakit begini karena kau tak becus mengurusnya!"

__ADS_1


"Jangan samakan aku dengan pelakor itu ya Mas!" sahut Clarissa membulatkan kedua matanya.


"Hah pelakor? perempuan itu bilang kalau Nandini adalah pelakor? masak iya sih, setahuku Nandini bukan perempuan seperti itu." batin Sinta mengerutkan keningnya.


Akhirnya Sebastian pergi dari Rumah Sakit itu dengan menggendong Stefani. Ia mengatakan pada Clarissa, jika selama dua hari ke depan ia harus tinggal di kamar hotel bersama Stefani untuk menjaganya.


"Tapi kan Mas, salah satu tujuanku kesini untuk menghabiskan waktu bersamamu!"


"Apa kau lupa salah satu alasanku mempertahankan hubungan denganmu adalah karena Stefani? jika kau tak bisa menjaganya, jangan pernah berharap lebih padaku!" cetus Sebastian seraya melangkahkan kakinya keluar dari Rumah Sakit itu.


Ternyata Nandini mendengar perkataan Sebastian tadi. Ia sedikit menyunggingkan senyumnya, merasa lega setelah mendengar pengakuan Sebastien mengenai hubungan nya dengan Clarissa.


"Aah kenapa aku jadi senyum-senyum begini! bagaimanapun mereka adalah sepasang suami istri yang sah. Dan bayi yang ku kandung ini adalah hasil dari hubungan terlarang." batinku dengan memegangi perutku.

__ADS_1


Tanpa terasa bulir-bulir bening membasahi pipiku, aku kembali gelisah jika memikirkan bagaimana nasibku dan nasib calon jabang bayi yang ada di dalam rahimku. Entah bagaimana aku menjalani hidup ke depannya, tanpa suami, dan tanpa sanak saudara. Sepasang tangan mengusap air mata yang menetes diwajahku, Sinta menyunggingkan senyumnya dengan menganggukan kepalanya. Ia memintaku untuk berbagi duka dengannya, tapi apakah aku harus menceritakan kejadian kelam di malam itu padanya. Memendamnya seorang diri pun aku tak tahan lagi, hanya rasa gelisah yang menggelayut di otakku. Aku benar-benar mencemaskan masa depanku bersama bayi yang ada di dalam rahimku. Apakah aku bisa bertahan tanpa menyandang status sebagai istri seseorang. Hanya waktu yang akan menjawab semua, dan semoga Allah memberikan jalan keluar yang terbaik.


...Bersambung. ...


__ADS_2