GAIRAH ISTRIKU MELUKAIKU

GAIRAH ISTRIKU MELUKAIKU
BAB 13


__ADS_3

"Beres bro, gue udah taruh beberapa kamera di rumah lu. Sekarang lu bisa sambungin ke hape lu, moga aja lu kuat menghadapi kenyataan ya bro." kata Rafael melalui seberang telepon sana.


"Thanks bro, gue harap kenyataan sesuai yang gue inginkan. Gimana tadi keadaan di rumah selama gue gak ada?"


"Normal aja sih bro, gak ada yang janggal. Tapi gue agak heran sih tadi, karena pembantu di rumah lu yang tiba-tiba keluar dari kamar lu tanpa gue tahu. Padahal tadi posisi gue di deket kamar lu, dan gue gak tahu kapan Mbok Itoh keluar kamar. Tahu-tahu masa dia ada di belakang punggung gue, kan aneh bro. Untung gue gak jantungan, nalarnya kalau Mbok Itoh di belakang gue kan berarti dia dari arah luar rumah. Tapi bini lu ngeyakinin gue, kalau gue aja yang gak lihat Mbok Itoh keluar kamar."


"Ya mungkin aja emang lu gak lihat Fa, ya udahlah gue lanjutin kerja dulu. Kapan-kapan kita ngobrol lagi, bye." ucap Sebastian seraya mematikan panggilan telepon itu.


Maylani datang dengan membawa setumpuk berkas di tangannya, ia sedikit canggung menemui atasannya itu. Karena ucapan kakak iparnya tempo hari.


"Kenapa kamu diam saja May? apa gak ada yang ingin kamu sampaikan ke saya?"


Dengan gugup Maylani menundukan kepalanya, ia ingin mengucapkan maaf pada Sebastian karena masih tak enak hati.


"Ehm iya Pak, saya ingin menyampaikan permintaan maaf sekali lagi atas ucapan kakak ipar saya. Tolong Pak Tian jangan marah dan memecat saya ya Pak." jelas Maylani gugup dengan meremas tangannya sendiri.


"Hahaha bukan itu maksud saya May. Saya tanya apa gak ada yang ingin kamu sampaikan itu mengenai urusan pekerjaan. Dan kamu tenang saja, saya gak marah hanya karena ucapan kakak iparmu. Apalagi sampai mempunyai pikiran untuk memecatmu, saya gak ada pemikiran kesitu. Justru saya berterima kasih sudah diperingatkan, mungkin memang ada sesuatu yang gak saya tahu mengenai istri saya."


"Duh gimana nih, sebaiknya aku kasih lihat video itu ke Pak Tian atau enggak ya?" batin Maylani gelisah.


"Ada apa lagi Maylani? apa kamu masih ingin menyampaikan sesuatu lagi? kalau sudah tidak ada yang ingin kamu katakan, tolong siapkan berkas untuk meeting bersama Pak Adiguna." titah Sebastian seraya menyerahkan map berwarna biru pada Maylani.

__ADS_1


Maylani meninggalkan ruang kerja Sebastian dengan perasaan bersalah. Setengah hatinya ingin sekali menunjukan video kedekatan istrinya dengan sopirnya. Tapi setengah hati Maylani merasa tak tega, ia sangat berat menunjukan kebenaran pada atasannya. Maylani berdiri di sudut ruangan, menyandarkan kepalanya di tembok lalu menghembuskan nafas panjang. Rekan kerjanya menghampiri nya, dan membahas hubungan gelap istri atasannya dengan sopirnya.


"Loh lu tahu itu darimana?" tanya Maylani membulatkan kedua matanya.


"Itu loh kurir paket yang biasa tugas di deket perumahan si bos. Dia pernah nganter paket di komplek perumahan si bos, terus dia denger ibu-ibu pada ngomongin itu. Kasihan ya Pak bos Tian, istrinya selingkuh sampai hamil gitu."


"Huuss. Lu jangan sembarangan kalau ngomong. Ntar kalau Pak Tian denger, lu bisa dipecat tahu gak." kata Maylani mengaitkan kedua alis matanya.


"Eh emang beneran Pak bos belum tahu gosip itu?"


"Itu lu tahu kalau gosip, kenapa masih lu omongin aja sih. Udah ah, gue mau bikin bahan buat meeting dulu. Mending lu selesaiin kerjaan lu, sebelum Pak Tian manggil lu ke ruangan nya." kata Maylani seraya berjalan kembali ke meja kerjanya.


Tiba-tiba terdengar suara barang yang berjatuhan.


Sebastian membanting cangkir teh nya, ia membulatkan kedua matanya kesal. Sebelah tangannya memegang ponsel, yang sudah siap ia banting ke sembarang tempat. Tapi Maylani terlebih dulu datang dan menangkap ponsel atasannya.


"Ma maaf Pak saya masuk tanpa mengetuk pintu. Saya kira ada apa-apa dengan Bapak." jelasnya ketakutan.


Tanpa mengatakan apa-apa, Sebastian mengambil ponselnya dari tangan Maylani lalu beranjak pergi. Dengan tergesa-gesa Maylani mengikuti Sebastian, ia berusaha mengatakan sesuatu tentang janji temunya dengan Pak Adiguna. Tapi Sebastian membentak Maylani dihadapan banyak pegawai.


"Kenapa kamu terus ganggu saya hah? apa mata kamu gak lihat kalau saya ingin pergi dari sini!" seru Sebastian dengan berkacak pinggang.

__ADS_1


"Ma maaf Pak. Saya hanya ingin mengingatkan Bapak, setengah jam lagi Bapak harus meeting dengan Pak Adiguna. Dan berkasnya sudah saya siapkan, tapi Pak Tian pergi tidak membawa berkasnya."


Sebastian diam dengan mengacak rambutnya kasar. Nampaknya ia benar-benar kacau saat itu, ia tak sadar meluapkan amarahnya pada sekertaris nya.


"Tolong jadwalkan ulang meeting saya dengan Pak Adiguna. Katakan saja saya ada urusan mendesak, kamu bisa lanjutkan pekerjaan yang lain. Saya pergi dulu." kata Sebastian dengan wajah tegang.


Tak ada yang berani berkata-kata, semua pegawai hanya diam membisu melihat amarah atasan mereka. Kini Maylani berjalan gontai ke meja kerjanya, ia memijat pangkal hidungnya, tak biasanya atasannya marah hingga membentaknya seperti itu. Beberapa pegawai bergosip mengatakan jika Sebastian akhirnya mengetahui hubungan gelap istrinya dengan sopirnya. Maylani yang mendengar gosip mereka lalu membentak mereka, dan mengancam akan mengadukan mereka pada Sebastian, jika mereka masih saja membicarakan hal itu."


"Hargai perasaan Pak Tian, beliau sudah sangat baik pada kita. Apa pantas kalian membicarakan nya seperti itu? lebih baik kalian tutup mulut saja, dan lakukan tugas masing-masing." ucap Maylani lantang.


Rupanya saat itu Sebastian sedang dalam perjalanan ke rumah. Ia sudah melihat Raymond bersama Clarissa bermesraan, lalu masuk ke dalam kamarnya. Karena itulah Sebastian murka dan membanting cangkir teh di ruang kerjanya. Banyak pertanyaan di dalam otaknya, Sebastian bahkan takut membayangkan nya. Ia berpikir mengenai janin yang ada di kandungan Clarissa, ia jadi curiga dengan bayi itu.


"Entah sejak kapan Clarissa berhubungan dengan Raymond. Aku tak bisa membayangkan jika bayi itu bukanlah darah dagingku. Kenapa Clarissa sangat tega padaku." batin Sebastian dibalik kemudinya.


Karena terbawa emosi, Sebastian mengemudikan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Ia berniat memergoki Clarissa bersama Raymond di dalam kamarnya. Tapi ia kehilangan kendali, mobil yang di kemudikan nya menabrak mobil yang tiba-tiba berbelok di depannya.


Braak braak.


Kedua mobil saling bertabrakan dan membentur pembatas jalan. Sebastian tak sadarkan diri di dalam mobilnya, kepalanya membentur dashboard hingga ia tak sadarkan diri. Beberapa orang berhenti untuk menolong, lalu memanggil Polisi. Tak lama Ambulance datang membawa Sebastian dan dua orang korban lainnya. Melihat kondisi mobil mereka, nampaknya Sebastian mengemudi dengan kecepatan tinggi. Terlihat bekas ban mobil di jalan, nampaknya Sebastian berusaha keras mengerem mobilnya hingga meninggalkan bekas di aspal. Kabar kecelakaan itu sampai di telinga Clarissa, dengan cemas ia menghawatirkan kondisi Sebastian. Ia takut jika terjadi sesuatu pada Sebastian, karena ia belum mendapatkan apapu sari suaminya itu.


...Bersambung. ...

__ADS_1


Hai othor punya rekomendasi novel yang bagus buat kalian loh.



__ADS_2