GAIRAH ISTRIKU MELUKAIKU

GAIRAH ISTRIKU MELUKAIKU
BAB 48


__ADS_3

Hari berlalu dengan cepat, Nandini berusaha keras menjalankan butik kecilnya. Ia mendapatkan dukungan dari Sinta, dan ia bahkan meminjamkan modal untuk Nandini. Orderan gaun pesta yang terakhir di order oleh seorang perempuan kaya, berhasil membuat Nandini mendapat modal besar. Perempuan kaya itu ingin bekerja sama dengannya, ia memberikan modal yang cukup besar, supaya Nandini dapat membuka butik di pusat kota D. Kini hasil desain gaun nya sudah banyak dipesan orang, bahkan wisatawan mancanegara sudah banyak yang order gaun di tempat nya. Butik yang berjalan baru satu bulan itu, sudah memiliki pelanggan tetap.


Seorang perempuan paruh baya, dengan kekayaan yang bergelimang mendatangi Nandini di dalam butiknya. Perempuan itu terharu melihat semangat hidup Nandini, ia tak tega melihat Nandini banting tulang seperti itu. Karena itulah ia memberikan modal besar, supaya Nandini bisa mengelola butiknya. Diana prameswari, seorang perempuan yang dikenal orang tak memiliki anak. Ia hidup sebatang kara meski bergelimang harta. Selama hidupnya, ia hanya sibuk bekerja dan membantu beberapa organisasi sosial mendapatkan sponsor darinya.


"Bu Ana, terima kasih sudah banyak membantu saya. Saya gak tahu harus gimana untuk membalas budi." kata Nandini dengan mata berkaca-kaca.


"Nandini. Aku membantumu bukan tanpa sebab, aku ingin kehidupan mu jadi lebih baik. Jangan pernah sembarangan percaya dengan lelaki. Karena dulu aku pernah mengalami hal yang sama sepertimu, dan aku berakhir seorang diri seperti sekarang. Satu-satunya darah daging ku dibawa pergi entah kemana, mungkin dulu aku telah bersalah menyia-nyiakan darah dagingku sendiri. Dan mantan suamiku membawanya pergi entah kemana." ucap Nyonya Diana bercerita dengan wajah sendu.


Nandini mengaitkan kedua alis matanya, ia merasa memiliki keterikatan batin dengan perempuan yang seusia ibunya itu. Tanpa sadar ia memeluk Nyonya Diana, dan memberikan kekuatan pada perempuan itu supaya kuat menghadapi kenyataan.

__ADS_1


"Saya yakin, dimanapun anak Nyonya saat ini. Ia tak akan pernah melupakan Nyonya, bagaimanapun anak tetaplah anak, tak akan mungkin ia bisa begitu saja melupakan ibunya, meski mereka lama tak bertemu."


"Masalahnya, aku sudah lama mencari keberadaan anakku itu. Tapi tak ada hasil sama sekali, bahkan ada sumber yang mengatakan kalau anakku itu hidup sebatang kara karena ayahnya telah tiada. Aku ingin memperbaiki hubungan ku dengannya, kekayaan yang ku miliki tak ada artinya Nandini. Karena itu lah untuk mengurangi rasa bersalah ku pada anakku, aku berusaha membantumu semampuku. Aku tak ingin kau dan anak di dalam kandungan mu mengalami nasib yang sama sepertiku."


Semenjak saat itu, Nyonya Diana lebih sering mengunjungi Nandini. Bahkan ia melindunginya dari Clarissa, karena beberapa kali Clarissa datang ke kontrakan Nandini dan mengancamnya. Ia selalu mendesak Nandini untuk menikah dengan Rafael, karena jika tidak ia akan nekat menyakiti bayi yang ada di dalam kandungan Nandini. Nyonya Diana sudah mengetahui segalanya dari orang-orang kepercayaan nya yang ditugaskan mencari tahu latar belakang Nandini. Berbekal petunjuk itu, Nyonya Diana mengetahui juga siapa ayah dari bayi yang dikandung Nandini. Ia ingin lelaki itu bertanggung jawab atas kehamilan Nandini. Tapi Nandini yang mengetahui niat Nyonya Diana, malah menghentikan niat baik perempuan itu.


"Terima kasih Nyonya sudah sangat perduli padaku. Aku sudah terbiasa hidup sebatang kara begitu, dari kecil aku hanya hidup berdua dengan ayah. Karena ibu sudah tiada semenjak melahirkanku, jadi aku akan berusaha menjadi seperti ayahku. Membesarkan anakku seorang diri, lagipula lelaki itu sudah beristri, aku tak mau menjadi orang ketiga dalam pernikahan mereka."


Di lain tempat, Sebastian sedang mencari-cari keberadaan Nandini. Dari informasi yang diberikan kenalannya, Sebastian hanya memiliki petunjuk dimana letak kontrakan Nandini. Tapi sesampainya di kontrakan itu, ia tak menemukan keberadaan Nandini. Saat itu hanya ada Sinta, ia sangat terkejut melihat kedatangan Sebastian. Beruntung nya saat itu Nandini berada di butiknya, jadi keduanya tak saling bertemu.

__ADS_1


"Maaf apakah benar ini adalah tempat tinggal Nandini?" tanya Sebastian seraya menunjukan foto Nandini yang ada di dalam ponsel nya.


Sinta menggelengkan kepala. "Saya baru pindah kesini, jadi saya gak mengenal perempuan itu." jawab Sinta berdalih.


"Lalu apakah anda tahu kemana pergi nya perempuan yang tinggal disini sebelum anda?"


Lagi-lagi Sinta hanya menggelengkan kepala, ia tak mau mengatakan apapun pada Sebastian meskipun ia tahu siapa lelaki yang ada di hadapan nya itu. Tak lama setelah itu, Sebastian pergi meninggalkan tempat itu dengan langkah gontai. Wajahnya nampak kalut, ia begitu frustasi tak dapat menemukan keberadaan Nandini. Padahal tujuannya mencari Nandini untuk mengetahui kondisi perempuan itu yang sebenarnya. Karena setelah melihat Nandini dalam keadaan hamil, Sebastian selalu dihantui rasa bersalah. Ia sangat yakin jika benih yang ada didalam rahim Nandini adalah darah dagingnya.


...Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2