
POV SEBASTIAN.
Pagi itu, aku baru saja tiba di kantor. Sekertaris ku berlari tergesa-gesa menghampiri ku. Katanya ada seorang perempuan membawa pengacara ingin berbicara padaku. Aku tercengang mendengar penjelasan nya. Maylani langsung mengatakan jika perempuan itu sudah menunggu di ruang tunggu.
"Maaf anda siapa ya? ada perlu apa dengan saya?"
"Jadi kau yang bernama Sebastian? Perkenalkan saya Diana, Ibunya Nandini. Saya datang kesini untuk menuntutmu atas tindakan pelecehan pada anakku. Jika kau tak ingin mendekam di dalam penjara, lebih baik kau segera bertanggung jawab dan menikahinya. Karena saat ini kandungannya semakin membesar, dan membuat nama baik Nandini jelek di mata masyarakat. Saya sudah membawa pengacara kesini, jika kau tak bisa bekerja sama dan melakukan apa yang saya perintahkan, maka saya akan mengusut kasus ini sampai tuntas!" Ancam Nyonya Diana dengan wibawanya.
"Ja jadi benar Nandini mengandung darah daging saya? Pasti saya akan bertanggung jawab. Karena itulah saya mencarinya kemana-mana. Tolong pertemukan saya dengan Nandini Nyonya, saya bersedia menikahinya. Karena saya memang mencintainya, meski kesalahan satu malam itu terjadi tanpa kami sadari."
Perempuan yang mengaku sebagai Ibu Nandini hanya menyeringai di hadapanku. Sepertinya ia tak percaya dengan ucapanku, bahkan kini ia mengancamku lagi. Dia berkata akan menghancurkan bisnis yang sudah ku kelola, jika ternyata aku hanya menipunya. Aku hanya bisa menjelaskan, jika aku benar-benar serius dengan ucapanku.
__ADS_1
"Anda bisa membuktikan perkataan saya tadi. Saya akan menikahi Nandini, dan bertanggung jawab."
Karena desakan Nyonya Diana, aku langsung memutuskan pergi ke Kota D, tanoa memberitahu Clarissa lebih dulu. Sesampainya di Kota D, Nyonya Diana mengantarku ke sebuah butik. Butik kecil yang dipenuhi pelanggan, entah kenapa Nyonya Diana membawaku ke tempat ini.
"Sebentar, saya ada perlu dengan pemilik butik ini. Kau bisa tunggu disini dulu." Ucap Nyonya Diana pergi bersama seorang pegawai butik.
Setelah menunggu hampir sepuluh menit, ada seorang perempuan yang menyapaku. Suaranya terasa tak asing ditelingaku, aku membalikan tubuhku dan melihat perempuan yang selama ini ku cari-cari. Nandini dalam keadaan hamil besar, berdiri mematung di hadapanku. Wajah teduhnya membuatku bernafas lega, akhirnya aku bisa bertemu lagi dengannya.
Hening. Tak ada jawaban dari Nandini, ia hanya berlinang air mata seraya melangkahkan kakinya keluar dari butik. Aku terus mengikutinya, dan berlutut di hadapan nya. Ku genggam kedua tangannya, dan memohon permintaan maaf tulus darinya. Setelah membujuknya dengan berlutut di hadapan banyak orang, akhirnya Nandini sedikit luluh dan memintaku berdiri. Ia meneteskan air mata, lalu menganggukan kepalanya.
"Aku bersedia memaafkanmu, tapi bagaimana nasib bayi ini Tian huhuhu."
__ADS_1
"Aku akan menikahimu Nandini, tak akan ku biarkan anak kita terlantar tanpa memiliki seorang Ayah. Terimalah permintaan ku, hanya itu yang bisa ku lakukan untuk menebus semua kesalahan ku."
"Tapi Clarissa tak akan mengijinkan ku untuk menikah denganmu. Ia sudah mengancamku, kalau aku tetap berhubungan denganmu, ia akan mencelakai anakku."
Nyonya Diana datang, dan mengatakan sesuatu yang mengejutkan ku. Ternyata ia sudah mengantisipasi semuanya. Ia meminta orang lain untuk menemui Clarissa, dan menandatangani surat persetujuan untuk dimadu. Karena kalau Clarissa menolak, aku akan menceraikannya. Dan Clarissa tak akan mau hidup menjanda.
"Kau bisa menikah dengan Sebastian secepatnya. Tak perlu risaukan istri pertamanya, perempuan itu hanya mengejar harta. Aku sudah memberikan penawaran untuknya, ku berikan sejumlah uang sebagai kompensasi untuknya. Dan perempuan yang gila harta itu, akhirnya setuju untuk menandatangani berkas yang kami berikan. Saya sudah mengatur semuanya, pernikahan kalian akan dilakukan lusa depan, dengan pesta yang mewah. Anggap saja saya akan menikahkan anak saya sendiri." jelas Nyonya Diana dengan menyunggingkan senyumnya.
"Tapi Nyonya, saya tidak mau merayakan pesta mewah. Bagaimana mungkin saya bersenang-senang di atas kesedihan perempuan lain. Meski Clarissa gila harya, sebagai istri, ia pasti akan sedih dan patah hati, jika suaminya menikah lagi dengan perempuan lain. Karena sesungguhnya, tak akan ada perempuan yang mau dimadu."
Aku benar-benar beruntung, akan menikahi perempuan sebaik Nandini. Bahkan ia masih sempat memikirkan perasaan Clarissa. Padahal sudah jelas, jika Clarissa tak pernah bersikap baik padanya.
__ADS_1
...Bersambung. ...