
...POV NANDINI. ...
...🍂...
...🍂...
Setelah kejadian di malam petaka itu terjadi, aku memutuskan untuk tak bekerja lagi di rumah Sebastian. Entah apa yang aku rasakan saat ini, meski hatiku hancur berkeping-keping karena kehormatan ku telah direnggut paksa oleh lelaki lain. Ada perasaan yang tak dapat ku mengerti, di malam saat semua itu terjadi, aku merasakan jantung ku berdebar tak karuan. Meski aku sempat berontak, tapi sentuhan dan belaian Sebastian membuatku terbang hingga tak merasakan kesakitan lagi. Hanya rasa puas yang dapat ku rasakan, rupanya semakin lama aku menikmati setiap waktu yang kami habiskan bersama. Mungkinkah aku benar-benar mencintai lelaki yang sudah beristri itu? aku tak tahu harus berbuat apa setelah kejadian itu, dan aku pun malu jika harus bertemu dengan semua orang.
"Astaga bagaimana kalau aku sampai hamil?" gumamku pada diriku sendiri seraya mengacak rambut kasar.
Sebenarnya setelah aku resign dari Rumah Sakit, aku menerima panggilan kerja di Rumah Sakit swasta di daerah D. Kota yang terkenal dengan pantai nya yang indah. Aku sudah tak punya muka lagi jika tetap berada di kota ini, apalagi bertemu dengan Rafael. Rasanya diri ini sudah hina, dan tak pantas berada di dekatnya.
Waktu berlalu dengan cepat, sudah hampir dua bulan aku merantau di kota ini. Pekerjaan yang semakin berat memaksaku untuk lebih bekerja keras. Disaat aku sedang mengurus seorang pasien yang baru saja operasi karena luka bakar di tubuhnya, aku merasa ada yang aneh dengan diriku. Tiba-tiba perutku terasa mual menghirup aroma anyir dari tubuh pasien itu. Aku berlari ke toilet dan memuntahkan isi perutku. Keringat dingin membasahi seluruh tubuh, rasanya tubuhku sangat lemas. Dan seorang rekan seprofesi ku melihatku, dan mengatakan jika aku seperti perempuan yang hamil muda.
"Eh Sin, jangan asal ngomong gitu dong. Kalau ada yang dengar gimana!" kataku menegur Sinta.
__ADS_1
"Hehehe ya maaf Din, habisnya tanda-tanda yang kau tunjukkan seperti orang yang hamil muda saja. Jangan-jangan setelah ini kau pengen mangga muda juga lagi!" ucap Sinta dengan gurauannya.
Seketika aku menelan saliva mendengar kata mangga muda.
"Kayaknya enak juga ya Sin, kalau dibikin rujak."
"Eh di rumah ku udah banyak tuh mangga yang tumbuh. Besok aku bawakan untukmu deh."
"Wah makasi ya Sin, kalau gitu aku ijin pulang dulu ya. Gak enak badan nih, daripada aku pingsan disini ntar."
"Apa yang harus aku lakukan ya Allah? lebih baik aku memastikannya dulu." gumamku seraya bangkit berdiri.
Aku pergi ke Apotek terdekat untuk membeli alat test kehamilan. Untuk melihat hasil yang lebih akurat, lebih baik aku melakukan test esok pagi saja. Malam ini aku tak dapat tidur dengan nyenyak, aku benar-benar cemas memikirkan hasil test besok pagi. Jika Allah menakdirkan aku hamil anak Sebastian, lantas apa yang harus aku lakukan. Tak terasa bulir-bulir bening membasahi pipiku, aku yang sebatang kara tak memiliki siapapun, bagaimana mungkin aku dapat mengurus seorang bayi tanpa adanya seorang suami.
Samar-samar cahaya sang mentari menyilaukan mata, ternyata aku menangis sampai tertidur di ranjangku. Aku bergegas bangkit berdiri dan mengambis alat test kehamilan itu, butuh waktu untuk melihat hasil yang akurat. Aku hanya berdiri termenung di dalam kamar mandi dengan memegangi alat test itu. Rasanya jantungku berdetak tak karuan, aku merasa takut untuk melihat alat test kehamilan yang ada di tanganku.
__ADS_1
Aku menghembuskan nafas panjang, ku katakan pada diriku sendiri untuk kuat menghadapai apapun yang terjadi.
"Ayo Nandini kamu pasti kuat! jangan pernah takut ataupun putus asa!" kataku pada diriku sendiri.
Tanganku gemetar mengangkat alat test itu, kedua mataku membulat sempurna begitu melihat dua garis melintang disana.
Degh.
Jantungku serasa berhenti berdetak untuk sesaat. Aku tak menyangka jika semua ini akan terjadi padaku. Entah dosa apa yang pernah ku lakukan, sampai nasib buruk ini menimpaku. Aku hamil tanpa ada seorang suami, apa yang akan orang-orang katakan tentangku huhuhu. Aku menangis tanpa bersuara, hatiku begitu hancur tak tahu harus berbuat apa.
Tiba-tiba suara ketukan pintu mengejutkan ku. Entah siapa yang datang sepagi ini ke kontrakanku.
Aah mungkin saja itu Sinta, kemarin dia mengatakan akan membawakan mangga muda untukku. Segera ku usap air mata yang membasahi pipiku, aku berjalan ke depan lalu membuka pintu. Tapi setelah aku membuka lebar pintu itu, aku sangat terkejut melihat siapa yang datang menemuiku.
...Bersambung. ...
__ADS_1