GAIRAH ISTRIKU MELUKAIKU

GAIRAH ISTRIKU MELUKAIKU
BAB 46


__ADS_3

Hari berlalu dengan cepat, setiap harinya, Rafael selalu mengunjungi Nandini dan membantunya mengurus bisnis butik kecilnya. Sinta yang melihat ketulusan Rafael berusaha membujuk Nandini untuk menerima lelaki itu menjadi pendampingnya. Tapi Nandini tetap tak mai mengorbankan masa depan Rafael, hanya untuk menyelamatkan harga dirinya sebagai perempuan yang hamil diluar nikah. Meskipun Rafael memang tulus mencintai Nandini, tapi ia tak bisa menerima kehadiran darah daging Sebastian. Dan Nandini tak mengetahui itu, ia hanya beranggapan jika Rafael memang tulus membantunya. Padahal ia memang memiliki tujuan lain, yang sudah i rencanakan bersama Clarissa.


"Rafa, lebih baik kau pulang saja ke rumahmu. Selama disini kau tinggal di vila, itu hanya akan membuat pengeluaran mu bengkak saja!"


"Nandini. Aku senang dapat membantumu, apalagi temanmu itu tak setiap saat dapat menolongmu. Kelak dia juga akan memiliki kehidupan sendiri, lalu kau tak akan mungkin merawat dan membesarkan bayi ini seorang diri. Percayalah padaku, berikan aku kesempatan untuk membuktikannya, kalau aku mampu dan bisa menerima bayi yang kau kandung. Aku akan menyayangi nya seperti darah daging ku sendiri, tak akan aku menyia-nyiakan nya. Apa kau tega membuatnya hidup di dunia ini tanpa kasih sayang seorang ayah? Kelak ia akan bertanya-tanya dimana, dan siapa ayahnya. Apa kau sampai hati melihat anakmu seperti itu?"


Pertanyaan Rafael berhasil menembua relung hati Nandini yang paling dalam. Perempuan itu menundukan kepalanya dengan mata berkaca-kaca. Memang ucapan Rafael ada benarnya, dan itulah yang membuat Nandini kalut dan dilema. Dari arah belakang keduanya, datanglah Sinta yang tak sengaja mendengar ucapan Rafael.


"Maaf menyela pembicaraan. Benar apa yang ia katakan Din. Kasihan anakmu, dia pasti akan mempertanyakan ayahnya. Apa salahnya kau menerima cinta Tuan kaya ini, mungkin dia bisa memberikan kasih sayang yang tulus pada anakmu." ucap Sinta seraya memeluk Nandini.


Terlihat Nandini mulai luluh, ia menatap sendu wajah Rafael. Perlahan ia menyunggingkan senyumnya seraya menganggukan kepala. Seketika Rafael berjingkrak kegirangan, akhirnya ia berhasil meyakinkan Nandini. Semua ini tak lepas dari dukungan Sinta, yang percaya dengan semua ucapan Rafael.

__ADS_1


"Tapi ingat ya Tuan kaya, kau tak boleh menyakiti hati teman baikku ini. Jaga dan sayangi ibu dan anaknya, kalau kau sampai menyakiti salah satu di antara mereka, aku akan datang memberimu pelajaran yang tak akan kau lupakan. Cam kan itu!" kata Sinta dengan berkacak pinggang.


"Baiklah perawat yang galak, aku akan menepati semua omongan ku. Dan kau tak perlu mengancam ku begitu!" sahut Rafael menghembuskan nafas panjang.


Setelah itu Sinta pergi meninggalkan keduanya, ia memegangi dadanya yang tiba-tiba terasa sesak. Entah apa yang ia rasakan saat itu, tapi ia hanya tahu, jika ia merasa sedih karena akan kehilangan sesuatu.


"Ada apa denganku, harusnya aku bahagia karena Nandini akan memiliki pendamping hidup. Masa aku sedih melihat temanku akan bahagia." batin Sinta didalam hati bimbang.


"Nandini. Apakah kau mau menjadj istriku?" tanya Rafael seraya menggenggam sebelah tangan Nandini.


"Rafael apa yang kau lakukan, jangan seperti ini. Kita bisa membahasnya perlahan, aku harus memikirkan yang lainnya juga. Aku takut orang tua mu tak akan setuju, apalagi setelah mereka melihat kehamilan ku." ucap Nandini menundukan kepala menatal perut besarnya.

__ADS_1


"Semua sudah ku pertimbangkan baik-baik. Asal kau mau mengikuti ucapanku, kau harus setuju dengan perkataan ku. Aku akan mengatakan pada kedua orang tuaku, jika kau sedang mengandung bayiku. Dan secepatnya kita akan menikah, dengan begitu mereka akan setuju. Tak ada masalah bukan, berbohong sedikit demi kebaikan bersama."


"Tapi Rafa, sebuah hubungan harus dimulai dengan kejujuran. Kelak jika mereka sampai mengetahui yang sebenarnya, apa yang akan mereka katakan padaku. Aku tak akan sanggup menghadapi kenyataan itu!"


"Kita melakukan semua ini demi bayi yang kau kandung. Percayalah padaku, semua akan baik-baik saja Nandini." bujuk Rafael sekali lagi.


Tak tahu harus mengatakan apa, Nandini hanya bisa diam karena tak bisa mengambil keputusan apapun. Ia dilema dengan situasi saat itu, ingin rasanya menolak lamaran Rafael, tapi ia tak sampai hati membayangkan masa depan anaknya tanpa sosok seorang ayah. Kembali lagi Rafael menanyakan apakah Nandini mau menerima cintanya. Dan akhirnya Nandini menyetujuinya, ia menganggukan kepala menerima lamaran lelaki yang ada di hadapannya.


"Terima kasih Nandini, aku pasti tak akan mengecewakan mu. Secepatnya kita harus kembali ke tempat kita berasal, kedua orang tua ku tinggal disana. Dan aku akan menjelaskan semuanya pada mereka."


Nandini membuat persyaratan, kalau Rafael harus mendapatkan ijin dan restu dari kedua orang tua nya terlebih dulu. Karena ia tak ingin mengatakan semua kebohongan itu dari mulutnya sendiri. Jadi ia meminta Rafael lah yang harus mengatakan semua kebohongan yang ia rencakan. Karena Nandini tak mau merasa terlalu bersalah dikemudian hari.

__ADS_1


...Bersambung....


__ADS_2