
Hasil test sudah keluar dan menunjukan ketidakcocokan di antara keduanya. Rafael dan Nandini terlihat kecewa, mereka duduk di lorong dengan menyandarkan kepala.
"Rafa, kau harus minta Bu Clarissa melakukan test."
"Tapi Tian belum sadar saat ini."
"Kondisinya benar-benar memburuk, lebih baik kau minta Bu Clarissa melakukan test dulu. Siapa tahu hasilnya positif, dan dia bisa menjadi pendonor. Ketika transplantasi akan dilakukan, baru kau jelaskan pada Pak Tian." ucap Nandini dengan wajah sendu.
"Seandainya Risa mau jadi pendonor, Tian harus mau mempertahankan hubungan mereka. Apa mungkin dia mau, gue ragu soal itu."
"Nanti aku akan bantu menjelaskan pada Pak Tian. Dia gak boleh egois seperti itu, semuanya demi kehidupannya dan juga anaknya yang masih kecil. Dia harus mengorbankan segalanya, supaya dia kembali seperti sedia kala."
Akhirnya Rafael mengikuti pendapat Nandini, ia meminta ijin dari pihak yang berwajib supaya Clarissa dapat melakukan test di Rumah Sakit. Terlihat Clarissa tersenyum melalui sudut bibirnya. Ia merasa bahagia karena sebentar lagi keinginan nya akan tercapai.
"Semoga aja hasilnya positif dan gue bisa kembali lagi dalam kehidupan Mas Tian." batin Clarissa di dalam hatinya.
__ADS_1
Hasil test akan didapatkan lima jam ke depan. Polisi membawa Clarissa kembali ke tahanan, tapi perempuan itu kembali meyakinkan Rafael, jika apa yang akan dilakukan nya tidak cuma-cuma.
"Ingat Rafa, semua gak ada yang gratis. Gue harus tetap mempertahankan rumah tangga gue." kata Clarissa seraya berjalan pergi bersama dua orang petugas polisi.
Nandini mendengar semuanya, ia menundukan kepala dipenuhi rasa kesedihan.
"Apakah setelah hasilnya keluar, dan menunjukan kecocokan, kita harus langsung melakukan transplantasi tanpa memberitahu Tian dulu?"
"Mau bagaimana lagi, semua demi kebaikan banyak orang. Jika Pak Tian gak segera pulih, bisnisnya akan semakin berantakan. Banyak orang yang bertumpu dan mencari nafkah melalui bisnisnya. Kalau Pak Tian gak segera sembuh, apa yang akan terjadi pada semua orang itu. Belum lagi si kecil Stefani, siapa yang akan mengurusnya."
"Aku mengerti kecemasanmu Nandini, hanya saja aku tak bisa membayangkan bagaimana reaksi Tian pas udah sadar nanti. Dia pasti akan merasa berhutang budi pada Risa."
"Ini saya sudah memberikan surat ijin pada pihak kepolisian. Supaya Ibu Clarissa dapat melakukan transplantasi lusa depan." kata Dokter itu seraya menyerahkan amplop putih pada Rafael.
Nandini dapat bernafas lega, setidaknya harapannya untuk melihat Sebastian pulih dapat terwujud. Ia memberi kabar baik itu pada Mbok Itoh, dan perempuan tua itu tak kalah bahagianya. Karena ia sudah menganggap Sebastian seperti anaknya sendiri. Tapi ia juga sedikit kecewa karena ada harga yang harus dibayar Sebastian untuk mendapatkan transplantasi itu.
__ADS_1
"Hidup Tuan Tian pasti tak akan lebih baik meski mendapatkan transplantasi itu. Ia juga akan semakin menderita jika melihat wajah perempuan yang menghianati nya setiap hari."
"Bagaimana lagi Mbok, semua demi kebaikan banyak orang. Pak Tian harus mengorbankan perasaannya sendiri." kata Nandini melalui panggilan telepon.
*
*
Hari yang paling ditunggu Clarissa tiba. Ia sudah ada di Rumah Sakit untuk melakukan transplantasi. Dia di dampingi seorang pengacara yang akan membuat perjanjian hitam di atas putih.
"Sebagai bahan pertimbangan, lu harus menandatangani berkas ini. Berkas persetujuan kalau kalian akan mencabut tuntutan, dan membatalkan gugatan perceraian. Karena Mas Tian gak sadarkan diri, lu yang akan menjadi perwakilan nya. Kalau apa yang gue mau ini harus kalian setujui. Lu bisa jelaskan ini ke Mas Tian kalau dia udah sadar."
Ucapan Clarissa membuat Rafael tersudut, ia tak tahu harus mengatakan apa. Tapi Nandini meyakinkannya, jika ia harus menyetujui permintaan Clarissa.
"Ini demi Pak Tian dan banyak orang lainnya. Percayalah semua akan baik-baik aja Rafa."
__ADS_1
Dengan berat hati Rafael menandatangani berkas itu. Clarissa tersenyum puas melihat Rafael tidak berdaya mengikuti keinginan nya. Clarissa menunggu untuk melakukan pemeriksaan, supaya ia dapat segera melakukan transplantasi sumsum tulang belakang untuk Sebastian.
...Bersambung. ...