
"Kenapa kau harus takut kehilangan lelaki bodoh itu sayang? bukankah kalau dia mati semua akan jauh lebih baik. Kau bisa menguasai semuanya tanpa perlu repot-repot lagi."
Raymond terus meyakinkan Clarissa, membujuk dengan berbagai rayuan supaya Clarissa menuruti ucapannya.
"Kita berdoa saja, supaya lelaki bodoh itu tiada. Itu akan mempermudah jalan kita." kata Raymond tersenyum licik.
Sore itu Clarissa sudah sampai di Rumah Sakit bersama Raymond. Dokter meminta persetujuan untuk dilakukan operasi, karena ada beberapa tulang rusuk Sebastian yang patah. Kondisi itu diperparah dengan cedera dibeberapa bagian tubuh lainnya.
"Tolong Dok selamatkan suami saya huhuhu."
"Kami akan berusaha sebaik mungkin Bu." kata Dokter seraya berjalan masuk ke ruang operasi.
Setelah dua jam menjalani operasi, Dokter keluar ruangan dengan peluh yang membasahi keningnya. Dokter meminta Clarissa ke ruangan nya, karena ada hal penting yang harus dibicarakan.
"Bagaimana kondisi suami saya Dok?"
"Kami sudah melakukan operasi dibagian tulang rusuk yang patah. Tapi ternyata pasien juga mengalami cedera saraf tulang belakang. Dan itu membutuhkan waktu yang cukup lama untuk sembuh. Cedera saraf tulang belakang atau nama lainnya spinal cord injury (SCI). Ketika terjadi cedera saraf tulang belakang, kehidupan orang tersebut bisa jadi berubah drastis karena cara tubuh bergerak, merasakan, dan berfungsi pada umumnya pun berubah. Orang tersebut bisa jadi lumpuh atau sebagian anggota tubuhnya tak bisa lagi berfungsi seperti sebelumnya. Setelah seseorang mengalami cedera, kami para Dokter tidak selalu dapat mengetahui bagaimana kondisi orang tersebut dalam jangka panjang. Pemulihan bisa berjalan hingga lebih dari dua tahun setelah cedera. Orang yang mengalami cedera saraf tulang belakang memerlukan perawatan medis secara intensif dan berkelanjutan agar dapat pulih. Itu saja yang saat ini bisa saya saya jelaskan pada anda." ucap Dokter tersebut dengan menghembuskan nafas panjang.
Clarissa sempat terkejut dan tak menyangka, jika Sebastian ternyata dapat selamat meski ia harus mengalami kelumpuhan pada tubuhnya. Keputusannya untuk meninggalkan Sebastian makin bulat, ia tak sudi merawat seseorang yang lumpuh dan tak bisa melakukan apa-apa.
__ADS_1
"Waktu itu kau masih bisa bekerja dan bercinta denganku saja, aku masih belum puas dengan permainan mu. Apalagi sekarang kau lumpuh, sudah tak ada gunanya lagi aku mempertahankan mu." batin Clarissa didalam hatinya.
Clarissa berjalan keluar lalu menceritakan segalanya pada Raymond. Terlihat keduanya sedang berpikir untuk mengambil langkah selanjutnya. Tiba-tiba Rafael datang menghampiri Clarissa, ia menanyakan bagaimana kondisi Sebastian.
"Sa, apa yang sebenarnya terjadi hah? tadi gue masih sempet telponan sama Tian. Kenapa sekarang dia berakhir seperti ini?" tanya Rafael dengan wajah cemas.
"Gue gak tahu apa-apa Fa, harusnya Mas Tian masih kerja di Kantornya. Tapi dia mengalami kecelakaan, di arah jalan pulang. Dan kondisinya sangat serius Fa, Mas Tian bisa aja lumpuh karena dia mengalami cedera saraf tulang belakang." kata Clarissa berpura-pura sedih.
"Apa! lu gak salah ngomong kan Sa? lu ingat kejadian yang di alami salah satu selebgram yang meninggal dunia karena kecelakaan sama pacarnya itu gak sih? itu loh selebgram Maura Ana namanya. Dia juga menderita sakit saraf tulang belakang, dia bertahan sampai beberapa tahun sampai akhirnya dia meninggal dunia. Gue hawatir Sebastian mengalami kondisi yang sama Sa!" seru Rafael dengan mengacak rambutnya kasar.
Clarissa duduk di kursi lorong rumah sakit, ia meratapi nasib Sebastian dan calon bayi mereka yang membutuhkan ayahnya.
"Gue disini dulu ya Fa, gue hawatie banget sama Mas Tian."
"Tapi Sa, kondisi lu bisa aja drop kalau nekat disini terus. Apalagi usia kandungan lu yang udah mendekati hari kelahiran. Jangan sampai bayi itu terpengaruh dengan kondisi kesehatan lu yang bermasalah nantinya. Gue akan minta sopir lu bawa lu pulang ya." bujuk Rafael pada sahabatnya itu.
Rafael mendatangi Raymond yang sedang duduk seorang diri di ujung lorong. Nampak Rafael berkacak pinggang lalu menatap tajam Raymond.
"Saya tahu modelan orang seperti anda. Kalau saya sampai tahu anda berusaha melakukan sesuatu dengan keluarga kecil sahabat saya. Saya pasti akan membuat perhitungan dengan anda!" tegas Rafael dengan membulatkan kedua matanya.
__ADS_1
"Maksud Bapak apa ya? saya tidak mengerti."
"Anda tidak usah sok polos, saya yakin anda mengerti. Camkan kata-kata saya baik-baik, jika sampai terbukti anda melakukan sesuatu yang dapat merusak hubungan sepasang suami istri itu, saya akan membuat perhitungan dengan anda!" ancaman Rafael tak main-main, karena Rafael memiliki hubungan baik dengan beberapa gangster di kota itu. Dan ketika ia meminta bantuan pada para gangster itu, hidup Raymond bisa langsung dalam masalah besar.
Terdengar Clarissa berteriak memanggil Rafael, ia melambaikan tangannya pada sahabatnya itu. Lalu Rafael memberi perintah pada Raymond untuk mengantarkan Clarissa kembali ke rumah.
"Kalau begitu saya permisi dulu Pak." ucap Raymond seraya melangkahkan kakinya pergi.
Raymond bersama Clarissa pergi meninggalkan Rumah Sakit itu. Raymond mengatakan semua ancaman Rafael pada Clarissa. Dan ia sangat terkejut mendengar cerita Raymond.
"Gawat sayang. Kalau Rafael udah ngomong begitu artinya dia udah curiga dengan hubungan kita. Aku tahu betul watak Rafael, dia bisa ngelakuin apa aja buat mengungkap hubungan kita. Sepertinya kita perlu berjaga jarak dulu sampai Rafael gak curiga lagi sama kamu. Karena itu bisa mengancam keselamatan mu, dia memiliki banyak kenalan gangster dan mafia yang siap melakukan apa saja untuknya. Nyawamu bisa terancam, jika sampai Rafael mengadukanmu ke teman-temannya itu." jelas Clarissa dengan menelan salivanya.
"Lalu bagaimana dengan rencana kita sayang? bukankah ini saat yang tepat untuk merebut segalanya dari lelaki bodoh itu. Kalau dia benar-benar lumpuh, kamu bisa dengan mudah menguasai semua harta berdanya, termasuk bisnisnya." seru Raymond dengan rencana jahatnya.
"Aku juga tahu itu sayang, tapi masalahnya gak semudah itu. Ketika kita nekat mengambil semuanya dari suamiku, Rafael pasti akan sangat murka, bisa-bisa gak hanya kamu yang dalam bahaya tapi aku juga. Kita harus bermain cantik, biarkan saja hubungan kita seperti ini dulu. Perlahan kita akan merebut aset-aset Mas Tian, dengan begitu Rafael gak akan curiga, dan kehidupan kita bisa tetap aman. Selagi Mas Tian dalam keadaan lumpuh, pasti aku yang akan memegang kendali atas semua aset dan bisnisnya. Satu persatu kita rampas miliknya, dan setelah kita berhasil menguasai semuanya, kita bisa meninggalkan kota ini. Aku akan menjual semua aset milik Mas Tian, dan menjual sah bisnisnya pada orang lain. Dengan begitu kita bisa hidup aman dan nyaman, sementara Mas Tian akan hidup sebatang kara tanpa memiliki apa-apa. Biar saja Rafael yang akan mengurusnya." ucap Clarissa tersenyum licik.
...Bersambung....
Hai othor punya rekomendasi novel yang bagus buat kalian loh.
__ADS_1