
Pagi ini Nandini mual luar biasa bahkan bergerak sedikit saja ia langsung merasa mudah lelah, mual dan muntah, dada terasa panas, dan kerap buang air kecil. Sinta yang saat itu kebetulan menginap di kontrakan Nandini merasa semakin aneh dengan gejala-gejala yang Nandini rasakan. Karena hari itu mereka sedang off, awalnya Nandini mengajak Sinta untuk jalan-jalan. Tapi karena perubahan kondisinya, Sinta meminta Nandini untuk beristirahat saja di rumah. Karena tanda-tanda yang ditunjukkan Nandini seperti perempuan hamil, Sinta pun memberanikan diri untuk bertanya.
"Din, sorry nih kalau pertanyaan ku agak lancang dan terdengar gak enakin hati. Kemarin aku sempat mendengar perkataan perempuan yang bersama gadis kecil yang bernama Stefani, perempuan itu menyebut namamu sebagai pelakor. Padahal menurutku kau bukan perempuan yang semacam itu. Tapi aku tetap ingin mendengarkan langsung penjelasan darimu. Apalagi beberapa kali ini aku melihat ada yang janggal darimu, kau menunjukan tanda-tanda seperti orang hamil." tanya Sinta tampak sungkan.
Nandini kini menundukan kepalanya, kedua matanya berkaca-kaca, tanpa sadar bulir-bulir bening membasahi pipinya. Nandini berderai air mata jika mengingat kejadiam kelam itu. Ia menangis sesegukan di hadapan Sinta. Akhirnya ia memutuskan untuk membagi dukanya dengan seseorang. Nandini menceritakan segalanya yang ia alami bersama Sebastian. Malam yang membuat hidupnya hancur tak terarah.
"Jadi awalnya kau menjadi perawat untuk lelaki itu? karena istrinya sibuk dengan lelaki lain, dan gadis kecil kemarin itu anak dari hasil hubungan gelapnya?"
"Iya Sin, waktu itu aku tak tega melihat Sebastian yang lumpuh harus mengurus bayi kecil yang bukan darah dagingnya sendiri. Mereka hampir saja berpisah, tapi takdir berkata lain. Tuhan menyatukan mereka kembali, tapi entah kenapa ada perasaan tak rela ketika keduanya kembali rujuk. Mungkin karena aku tahu jika perempuan itu tak pantas menjadi pendamping lelaki sebaik Sebastian. Tapi gadis kecil itu juga membutuhkan kasih sayang kedua orang tua, dan aku terpaksa menjadi pengasuhnya setelah Sebastian sembuh dari kelumpuhan nya. Tapi malam itu, ada yang lain dengan Sebastian. Entah kenapa ia memaksaku melakukan itu, awalnya aku sempat berontak tapi yang terjadi justru aku jatuh dan pingsan. Setelah aku tersadar, ia sudah mengambil kesucianku. Dan tak ada yang bisa ku perbuat lagi Sin, aku gak bisa berontak lagi. Seluruh tubuhku terasa remuk, dan ada perasaan lain di dalam hatiku. Ketika ia terus melakukannya hingga kami sama-sama terbaring. Tak ada perasaan marah atau benci padanya. Mungkin aku hanya kecewa, karena ia melakukan itu tanpa ikatan apapun di antara kami. Seandainya dia bukan suami orang, mungkin aku akan menuntut tanggung jawab darinya."
"Jadi kau udah gak suci lagi kan? jadi bener dong dugaanku, kalau kau sedang hamil?"
__ADS_1
Nandini hanya menganggukan kepalanya dengan berlinang air mata. Sinta langsung memeluk temannya itu, dan menepuk punggungnya supaya ia sedikit tenang. Sinta terus mendesak Nandini untuk menemui Sebastian dan meminta pertanggung jawaban. Karena bagaimanapun saat ini ia telah mengandung benihnya.
"Bagaimana aku bisa melakukan itu Sinta? kau tahu dia sudah memiliki istri dan anak. Aku pasti akan di anggap sebagai perusak rumah tangga orang!"
"Siapa yang perduli Din? kau jadi seperti ini bukankah istrinya juga melihatnya sendiri. Jadi dia gak bisa menilaimu sebagai pelakor. Toh dia sendiri juga bukan perempuan baik-baik, rasanya tak pantas saja dia mengataimu seperti itu. Lalu siapa Tuan kaya yang kemarin datang kesini? kenapa kau tak minta tolong saja padanya?"
"Dia adalah sahabat baik Sebastian dn Clarissa, tapi itu dulu. Setelah malam petaka itu, hubungan Rafael dengan mereka renggang. Aku pun menjauh darinya, karena aku malu Sin. Aku sudah kotor dan gak layak dicintainya huhuhu."
Mendengar perkataan Sinta yang tak masuk akal membuat Nandini tercengang. Bagaimana mungkin Sinta mempunyai pemikiran seperti itu. Nandini tak mungkin tega menjadikan Rafael sebagai penebus dosa sahabatnya. Apalagi saat ini ia sedang mengandung benih dari lelaki lain. Nandini tak akan tega menjadikan Rafael sebagai papa pengganti untuk calon bayinya.
"Sinta. Jangan pernah katakan itu lagi ya, please! Aku gak bisa mengorbankan masa depan Rafael hanya untuk masa depan bayi yang ku kandung ini."
__ADS_1
"Tapi jika kandunganmu semakin membesar, itu juga akan menjadi masalah untuk hidupmu Din. Pihak Rumah Sakit tak akan mau mempekerjakan perempuan yang hamil diluar nikah. Lalu bagaimana caramu melanjutkan hidupmu bersama calon bayimu?"
Sadar dengan kebenaran yang dikatakan Sinta, Nandini hanya bisa berlinang air mata pilu. Ia belum bisa memikirkan sampai kesana, bagaimanapun ia harus tetap melanjutkan hidup. Dan jika ia sampai dikeluarkan dari Rumah Sakit, Nandini belum tahu harus berbuat apa.
"Nandini cepat atau lambat kebenaran yang kau tutupi ini akan terbongkar. Daripada semua orang tahu lebih dulu, lebih baik kau coba mencari usaha yang lain. Biar orang disekitar lingkungan ini saja yang tahu tentang kehamilan mu. Semoga saja kelak kau bisa kembali lagi ke Rumah Sakit setelah melahirkan bayimu."
"Terima kasih Sin, udah mau mendengar keluh kesahku. Tapi aku tak bisa sendiri mengurus semuanya Sin, kau tahu kan aku sudah tak memiliki siapapun di dunia ini. Bagaimana aku bisa mengurus bayi ini seorang diri huhuhu."
Sinta memeluk Nandini dengan meneteskan air mata, ia mengatakan akan selalu membantu Nandini disaat ia kesusahan nanti. Ketika kehamilan Nandini sudah makin membesar, Sinta memutuskan untuk tinggal di kontrakan itu bersama Nandini untuk membantunya menjaga bayinya. Terlihat Nandini mulai mengembangkan senyumnya, ia tak menyangka mendapatkan teman sebaik Sinta. Yang mau menolongnya dalam keadaan apapun.
...Bersambung. ...
__ADS_1
Hai readers tercinta mohon tinggalkan jejak kalian di setiap bab nya ya, supaya othor tahu kalau kalian itu ada 🤗😘