GAIRAH ISTRIKU MELUKAIKU

GAIRAH ISTRIKU MELUKAIKU
BAB 42


__ADS_3

...POV CLARISSA....


...🍂...


...🍂...


Aku benar-benar kesal dengan sikap acuh Mas Tian. Tujuanku ikut dalam perjalanan bisnisnya ke Kota D adalah untuk mendapatkan cintanya kembali. Tapi ia tak pernah memberikan kesempatan padaku untuk berbuat manis padanya. Setiap waktu ia hanya sibuk dengan pekerjaan, kalaupun ada waktu senggang hanya Stefani saja yang ia tanyakan. Lebih sialnya anak itu jatuh sakit di momen seperti ini. Aku terpaksa merawatnya sepanjang hari. Di tengah-tengah kegundahan ku, aku memikirkan sebuah cara untuk bisa menghabiskan malam bersama Mas Tian. Seakan semesta mendukungku, di dalam tas kecilku ternyata masih ada sisa obat kuat yang ku gunakan waktu itu. Apa salahnya aku memberikannya pada Mas Tian, toh sekarang hanya ada kami berdua. Dan Stefani pasti akan tidur setelah meminum obat dari Dokter.


Tepat pukul tujum malam, Mas Tian baru saja pulang ke hotel. Ia mengaku kesal pada sikap Rafael, karena tadi mereka sempat bertemu.


"Rafael benar-benar diluar batas, sepertinya dia sengaja datang ke kota ini untuk mengacaukan bisnisku bersama Mr Daryl Dixon. Tadi ia hampir membatalkan perjanjian bisnis yang sudah ku bicarakan dengan Mr Daryl. Beruntungnya aku berhasil meyakinkan Mr Daryl, jika tidak bisnis yang sudah susah payah ku pertahankan bisa hancur dalam sekejap!" ucap Mas Tian dengan kesal.

__ADS_1


"Astaga! Rafael udah kelewat batas Mas! Hanya karena si ja*lang itu, dia sampai memusuhi kita berdua. Aku akan bicara dengannya Mas, tak akan ku biarkan Rafael menghancurkan bisnismu!"


Aku tak mau membiarkan kesempatan emas kali ini. Mas Tian sedang dalam keadaan kesal, dan aku harus mengambil hatinya. Ku buatkan teh hangat yang sudah ku campuri obat kuat itu. Lalu aku memijat pundaknya, untuk membuatnya rileks dan melupakan sejenak urusan bisnisnya. Ia menatap Stefani yang sudah terbaring di ranjang, harus ku akui meskipun Mas Tian tak yakin jika Stefani adalah darah dagingnya, ia tak pernah sekalipun bersikap buruk padanya. Itulah yang membuatku semakin kagum dengan nya. Aku memijit pundak dan bagian punggungnya, dan Mas Tiang sudah meminum teh hangat buatanku. Ternyata reaksi obat kuat itu sangat dahsyat, bari beberapa menit saja Mas Tian sudah mulai kepanasan.


"Mas berbaringlah, aku akan memijat seluruh tubuhmu." kataku seraya membuka satu persatu kancing bajunya.


Mas Tian hanya diam di atas ranjang, terdengar suara nafasnya semakin berat. Peluh membasahi kening dan dadanya yang kekar. Aku mengusap keringat di atas dadanya yang bidang, membuatnya melenguh panjang. Aku langsung duduk di atas pangkuannya lalu mengecup bibirnya. Mas Tian langsung membalas kecupanku dengan liar, tangannya menjelajah ke seluruh tubuhku. Dan kami akhirnya terbaring lemas bersama sambil berpelukan hingga pagi tiba.


"Loh kok aku udah pakai baju sih? bukannya semalam aku tak mengenakan apa-apa." batinku dengan mengerutkan kening.


"Maaf buat kejadian semalam, entah setan apa yang merasukiku. Hingga aku melakukannya denganmu. Aku yang memainkan kau baju, rasanya tak nyaman melihatmu tanpa busana."

__ADS_1


"Kenapa tak nyaman Mas? bukannya semalam kau sangat liar di ranjang?" tanyaku seraya bangkit berdiri lalu mendekap tubuhnya dari belakang.


"Risa lepaskan aku, apa kau tak lihat aku sedang menyuapi Fani makan?" jawab Mas Tian berusaha melepas pelukanku, tapi aku tak mau melepaskan nya begitu saja.


Segera ku kecup bibirnya, lalu aku berlari ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhku. Setelah itu kami bersama-sama ke restoran hotel untuk sarapan. Kali ini Mas Tian membiarkan ku menggenggam tangannya, nampaknya cintanya padaku mulai tumbuh usai permainan panas kami semalam. Dan sialnya kami bertemu dengan Rafael di restoran. Tatapan matanya sinis, lalu ia tersenyum melalui sudut bibirnya. Entah kenapa aku sangat kesal melihat tingkahnya. Aku langsung mehgejar Rafael dan mengancamnya. Ku katakan padanya untuk berhenti mengganggu bisnis Mas Tian, karena jika ia masih melakukannya, aku akan benar-benar memberitahukan segalanya pada Nandini. Padahal saat itu aku tak tahu dimana keberadaan si ja*lang itu, tapi tentu aku harus menggunakannya untuk menekan Rafael. Entah apa yang ada dipikiran Rafael, seketika ia langsung menuruti ucapanku, dan ia berjanji tak akan menggangu bisnis Mas Tian lagi.


"Aneh. Kenapa Rafael langsung menuruti ucapanku, padahal sebelumnya aku pernah menggunakan cara ini, dan Rafael tak takut dengan ancamanku. Tapi sekarang ia langsung menuruti ucapanku, jangan-jangan si ja*lang itu ada di Kota ini lagi." batinku di dalam hati penuh tanya.


Aku harus menemukan keberadaan pelakor itu, dan memintanya pergi jauh dari kehidupan kami. Jika perlu aku akan memastikannya menikahi Rafael, supaya Mas Tian berhenti merasa bersalah dan terus menerus memikirkan perempuan ja*lang itu. Tapi kemana aku harus mencarinya ya. Oh iya, sepertinya aku harus menggunakan jasa detektif untuk menemukan keberadaan nya, jika ia memang berada di Kota ini, akan semakin mudah untuk menemukannya.


...Bersambung. ...

__ADS_1


__ADS_2