
Setelah renungan panjang, akhirnya Nandini memutuskan untuk resign menjadi perawat. Dengan mempertimbangkan perkataan Sinta, ia memberanikan diri untuk memulai usaha di rumah. Apalagi perutnya akan semakin membesar, dan itu akan membuat nama baiknya tercoreng dalam karirnya. Dengan bakat yang ia punya, Nandini memulai usaha butik kecil-kecilan. Ia memposting beberapa gaun pesta di akun Lovagram miliknya, dan banyak orang yang tertarik dengan desain gaun buatannya. Meski ia harus merangkak dari nol, Nandini tak pernah putus asa karena Sinta selalu mendukungnya.
"Din, aku berangkat ke Rumah Sakit dulu ya. Nanti aku dobel sift gantiin sift nya Siska. Kau tidur duluan saja ya, aku pasti pulang agak malaman." kata Sinta berpamitan pada Nandini.
Setelah kepergian Sinta, Nandini melanjutkan pekerjaan nya. Mengukur beberapa kain yang akan ia buat menjadi gaun pesta pesanan seorang Nyonya kaya.
Tok tok tok.
Suara ketukan pintu menghentikan gerakan tangan Nandini. Ia berjalan ke depan untuk membuka pintu, terdengar suara tepukan tangan dari seseorang yang belum ia lihat wajahnya. Dan ketika Nandini mendongakkan kepalanya ke atas, ia sangat terkejut melihat Clarissa ada di hadapannya.
"Sudah ku duga kau ada di Kota ini. Aku sengaja menyewa detektif untuk menemukan keberadaan mu. Untung saja Mas Tian gak sempat melihatmu ketika kami honeymoon disini." kata Clarissa seraya berdecih.
Kedua mata Clarissa membulat sempurna begitu melihat perut Nandini yang membesar. Ia tercengang dengan apa yang dilihatnya, Clarissa membulatkan kedua matanya dan membentak Nandini dengan kata-kata kasar.
__ADS_1
"Jadi kau sengaja menghilang untuk melancarkan rencanamu untuk merebut Mas Tian dariku hah! Kau sengaja mempertahankan janin dalam kandunganmu supaya Mas Tian bertanggung jawab dan menikahimu? Aku tak akan membiarkan itu terjadi!" Pekik Clarissa seraya mendorong Nandini lalu mencekik lehernya.
Nandini tak kuasa melawan gerakan Clarissa, ia terpojok di tembok dan hampir kehabisan nafas. Beruntungnya Rafael tiba disaat yang tepat ia menarik lengan Clarissa dan menghempaskan tubuhnya ke sembarang tempat. Clarissa jatuh tersungkur di lantai, ia semakin murka dan berusaha mendorong tubuh Nandini supaya ia terjatuh. Lagi-lagi Rafael berhasil menghentikan tindakan konyol Clarissa, ia memegang kuat tangan perempuan itu lalu menyeretnya keluar dari kontrakan Nandini.
"Lu udah gila ya hah? Lu mau bunuh Nandini? Gue gak akan biarin lu nyentuh dia lagi Sa!" pekik Rafael murka.
"Gue gak akan biarin si ja*lang itu memberikan keturunan untuk Mas Tian. Hanya gue aja yang boleh jadi istrinya!" sahut Clarissa berontak ingin masuk ke dalam kontrakan itu lagi.
Clarissa berbicara dengan Rafael, dan menunjukan bahwa Nandini tengah mengandung benih suaminya. Ia ingin menggugurkan benih yang ada didalam rahim Nandini. Sontak saja Rafael sangat terkejut melihat apa yang dikatakan Clarissa benar adanya. Sejak dua bulan yang lalu, Rafael baru menemui Nandini kembali. Saat itu perut Nandini belum sebesar sekarang, sehingga Rafael tak menyadari jika saat itu Nandini sedang hamil muda.
"Nandini. Apa yang kau coba tutupi dariku ini hah? seandainya waktu itu kau menceritakan segalanya padaku. Pasti aku akan memberikan solusi terbaik untukmu." ucap Rafael dengan mata berkaca-kaca.
Tak ada jawaban dari Nandini, ia hanya menundukan kepala dengan berlinang air mata. Kedua tangan Clarissa meraih rambut panjang Nandini lalu menariknya, hingga Nandini berteriak kesakitan. Ia hampir saja terjatuh, dan dengan cepat Rafael menangkapnya.
__ADS_1
"Risa hentikan semua ini! Gue gak suka lu melakukan kekerasan pada Nandini. Lebih baik lu pergi dari sini, biar gue yang selesaikan semuanya."
"Gak! Gue mau pelakor ini gugurin kandungan nya. Gue gak akan tenang sebelum janin di dalam rahimnya hilang!"
"Tidak bu, tolong jangan sakiti bayi dalam kandungan saya! Saya tidak bermaksud merebut Pak Tian, tolong bu jangan salah paham dengan saya lagi. Bagaimanapun janin yang ada didalam rahim saya adalah anak kandung saya. Saya gak mungkin menggugurkan nya. Ibu tenang saja, saya tidak akan pernah datang menemui Pak Tian. Saya akan mengurus bayi ini sendirian." Pekik Nandini menyatukan kedua tangan didepan dada.
Clarissa berkacak pinggang dengan deru nafas yang tak beraturan. Ia tak mau begitu saja percaya dengan ucapan Nandini. Bahkan Clarissa mendesak Nandini untuk menikah dengan Rafael.
"Kalau kau ingin aku mempercayai ucapanmu, kau harus segera menikah dengan Rafael. Barulau setelah itu, aku tak akan menyakitimu ataupun bayimu!"
Rafael hanya diam mendengar perkataan Clarissa, sementara Nandini langsung menggelengkan kepalanya. Ia tak mau menjadikan Rafael sebagai pelarian semata. Dan Nandini bersikeras untuk bertahan seorang diri dalam keadaan mengandung seperti itu.
...Bersambung....
__ADS_1