
Riuh suara orang-orang tua yang berkumpul memenuhi rumahku yang tak besar. Sulit kuikuti pembicaraan mereka. Saat terlihat sangat asyik membahas perhiasan baru, tiba-tiba saja mereka membahas masalah lain. Dahiku berkerut-kerut ketika namaku disebut dan dikaitkan dengan hal yang tidak aku tahu. Beberapa kali aku tersenyum sambil menggeleng. Hanya untuk menghargai usaha mereka melibatkanku dalam pembicaraan.
Merasa tak nyaman bersama orang-orang yang hampir empat puluh tahun dilahirkan sebelum ku, aku melangkahkan kaki. Ke sudut ruangan. Ruang keluarga yang sehari ini telah disulap menjadi ruang pesta. Bukan memberikan kesan mewah, orang tuaku malah membuat ruangan terluas di rumahku ini menjadi terlihat lebih berantakan. Kertas pesta di mana-mana. Balon karet yang ditiup manual tertempel di sudut langit-langit. Banyak juga yang berserakan di lantai.
Ini ulang tahunku, dan aku tak sama sekali merasa nyaman. Kebaya yang kupakai terasa gatal di bawah tengkuk. Memang modelnya pas untukku. Tapi, ibuku seperti tak juga paham bahwa aku tak bisa--semalam saja--menjadi gadis lemah lembut. Gadis yang formal dalam berdandan dan memiliki banyak rumus. Rumus untuk tersenyum, rumus berjalan, rumus menyuapkan makanan ke mulut dan lainnya. sungguh, aku bersumpah. Aku tak bisa.
Dan sekarang, dengan mengundang seluruh anggota keluarga besar ayah dan beberapa anggota keluarga ibu, aku harus terpenjara dalam kebaya yang anggun ini. Bukankah apapun yang anggun akan pantas jika dipakai oleh orang anggun? Well, tak ada gunanya aku memberontak. Hanya akan ditanggapi dengan senyuman manis ibuku. Dia kemudian akan bilang bahwa ini adalah janjinya ketika aku hampir mati di usia batita-ku dulu. Kuputar mataku. Orang dewasa memang membingungkan .
Susah payah kuangkat kakiku bergantian menaiki tangga rumah. Sebentar saja, aku ingin menatap langit. Berharap mendapat kekuatan dari bintang-bintang yang bisa melayang di langit tanpa ada tali penggantungnya. Aku tahu anggapanku ini bodoh. Aku tahu ilmunya. Aku tahu Tuhan tak perlu benang penggantung seperti lampu pesta yang digantung di langit-langit. Dia hanya tinggal meletakkannya. Seperti menempel biji petai cina ke kertas, persis seperti saat aku menyelesaikan tugas mozaik dulu.
Meski tahu semuanya, aku tetap merasa kagum . Aku juga tahu, bisa saja bintang yang kupandang sekarang pada kenyataannya telah tak ada. Hancur terbakar. Tapi, tetap saja kucari yang menurutku bisa berbicara denganku dan mengerti apa inginku.
Tetap saja aku ke kamarku dan membuka lebar jendelanya. Tetap saja kupandangi satu persatu bintang yang bisa kujangkau. Tidak semuanya, tentu. Langkah kaki sepupu jauh-ku mengalihkan perhatian. Mula-mula dia menertawakan ku. Setelah itu dia tak bicara apa-apa. Hanya helaan nafasnya yang memenuhi telinga ku.
"Aku benci mengakuinya"
"Apa?"
"Kau cantik."
"Terimakasih sudah bersedia berbohong demi menghiburku."
"Jangan lekas tersanjung."
"Tidak. Aku tahu setelah memuji kau akan mengejek."
"Kau juga harus tahu kalau kau terlihat sangat tersiksa malam ini."
"Kau berkata seolah-olah terbiasa melihat gadis berdandan."
"Jangan kira tidak. Usiaku sepertimu, dua puluh. Dan sudah sekitar empat orang gadis bersedia menjadi pacarku."
Aku diam lagi. Dia hanya menyerahkan sebuah kotak kecil. Selain itu dia juga bilang bahwa orang - orang menungguku.
"Cepatlah mencari calon suami."
"Kenapa?"
"Aku punya firasat bahwa orang tua kita ingin kita menikah."
"Hatiku mengatakan bahwa kaulah yang ingin aku jadi istrimu."
Bunyi yang ditimbulkan sepatunya ketika menumbuk lantai seolah mengajakku. Aku mengikutinya. Untuk ukuran pesta keluarga seperti ini bajunya terbilang santai. Celana Jeans dan kaus dibalut blazer biru gelap. Dia hanya beberapa bulan lebih tua dariku.Tapi, karirnya di bidang asmara sering kali membuatnya dengan mudah mengejekku yang belum sama sekali jatuh cinta.
Tak heran jika dia banyak pacar. Dia tinggi, kaya, pandai merayu. Harmonika, gitar, dan piano adalah alat musik yang sangat dia kuasai. Semua yang ada di tubuhnya--kulit kuning Langsat, hidung mancung, alis hitam, tubuh atletis--benar-benar mendukungnya untuk menjadi musisi terkenal. Entah apa yang dia tunggu untuk mengikuti kontes atau casting iklan. Dia seperti asik dengan dunianya sendiri.
Salah satu hal yang membuat aku dan dia akrab, selain usia kami yang sama dan hampir tiap hari menjemput ku ke rumah , adalah karena dia suka suaraku. Ya, aku suka menyanyi. Aku adalah penyanyi kamar mandi yang tak tahu bagaimana caranya membaca partitur. Mulai dari Pop, alternatif, Melayu sampai dangdut bahkan campursari. Aku sering menyanyikannya.
Suatu saat, sepupuku yang bernama Damar itu tak sengaja mendengar ku bernyanyi dengan iringan musik karaoke yang kuunduh dari internet. Dia berkomentar ini itu dan aku hanya diam saja.
"Kau berjalan macam tuan putri saja."
"Baru saja kau bilang kalau kau tahu betapa aku tersiksa"
"Halo! Ini rumahmu, jangan terlalu memaksakan diri."
__ADS_1
"Baiklah, beri tahu aku caranya!"
"Kau sebenarnya bisa dengan mudah membubarkan pesta yang--mungkin menurutmu--tak penting ini."
"Tidak bisa"
"Kenapa tidak?"
"Orang tuaku menginginkannya."
"Ya, dan kau tidak. Siapa yang ulang tahun dan siapa yang sangat ingin pesta?"
"Jangan membuatku berpikiran lebih liar dari aku yang sekarang."
Dia tergelak.
"Omong-omong, kau belum mengucapkan selamat ulang tahun padaku."
"Tidak akan."
Akhirnya aku dan dia sampai di tempat di mana semua orang berkumpul. Ayahku segera mengambil tanganku dan memintaku berdiri di antara dia dan ibuku. Ayahku berpidato singkat di depan keluarga yang datang. Mengatakan bahwa ini adalah sesuatu--seperti janji--untuk kehidupanku yang hampir mati di usia bayi. Demam berdarah yang terkutuk.
"Untuk itu, sekarang silahkan Anna potong tujuh nasi tumpeng yang tersedia." Pungkasnya untuk pidato yang tidak lama itu. Aku melotot pada ibuku. Aku setuju diadakan pesta. Tapi, aku tidak mau bertindak sebagai apapun--termasuk sebagai pemotong tumpeng.
Namaku sudah terlanjur disebut dan tidak sopan kalau aku merajuk atau memberontak. Paling tidak itu yang bisa kuartikan dari tatapan ibuku terhadapku. Aku kalah. Kulangkahkan kakiku yang alasnya membuatku lima Senti bertambah tinggi.
Kurapikan rambut yang menutupi tubuh bagian atas depan-ku. Semuanya kusampirkan di punggung. Sekarang aku siap memotong nasi kerucut yang telah dihiasi dengan macam-macam penganan lainnya. Ada bawang merah yang ditusuk bersama dengan cabai merah besar, dan ditusukkan di sekitar nasi. Ada telur puyuh berwarna cokelat yang ditusuk tiga-tiga dan di ujung tusukannya ada cabai rawit hijau. Dan lainnya. Alas nasi berupa daun pisang yang dibentuk sedemikian rupa.
Aku yakin orang tuaku paham betul bahwa akan lebih kecil dana yang dikeluarkan jika mereka memesan kue ulang tahun ukuran besar. Aku sudah mendiskusikannya. Tentang tak perlunya perayaan ini. Tentang betapa tak nyambungnya nasi dengan hiasan yang dipasang. Tentang tak sukanya aku dilibatkan. Tapi, baru sekarang aku sadar bahwa yang aku lakukan dengan orang tuaku seminggu lalu itu bukanlah diskusi. Hanya pemaparan ide dari ibuku. Ayahku seketika setuju. Mereka tak perduli apakah aku setuju atau tidak. Bukan diskusi, sebenarnya.
Entah dari mana bunyi biola yang terdengar setelah aku selesai memotong tujuh tumpeng--yang setiap ujungnya ditutupi buah tomat--itu.Lagu selamat ulang tahun yang dibuat mendayu dan melengking. Segera kucari sepupu pembuat onar-ku itu--Damar. Tak salah lagi , dia orangnya.
"Tak ada orang yang memberimu satu buket bunga dan memeluk mu?" celetuk bibiku--sepupu ayah.
"Tante Nia. I'm just fine without love."
"Till now?"
" Akan datang pada waktunya, Tan."
" Kau sudah dua puluh tahun. Kapan waktunya?"
" Mungkin setahun lagi, Mungkin setelah aku lulus sarjana. Mungkin setelah aku menyelesaikan magister."
"Sayang__"
"Kita bahas hal lain ya, Tante."
Semua orang paham bagaimana aku. Hanya satu bibiku itu yang keras kepala. Orang lain tidak pernah membahas masalah jodoh atau cinta. Sedang dia selalu melakukan hal itu.
"Selamat ulang tahun."
" Kau bilang kau tak akan melakukannya.'
"Kau terlihat sedih."
"bukan Karena kau tak mengucapkan selamat."
"Karena novelmu tak juga terbit? karena IPKmu tak juga cumlaude? Atau karena tak kunjung kau debut?"
__ADS_1
Aku diam.
"Karena tak juga menemukan pacar?"
"Damar!"
"Anna." Ledeknya.
Orang tuaku melerai. Perdebatan ku segera diganti dengan obrolan keluarga yang hangat. Aku duduk diapit oleh Tante Nia dan Damar. Salah satu tanganku menerima cincin. Tante Nia memberikannya sembunyi-sembunyi. Matanya mengawasi setiap orang yang ada di sini. Ada sekitar empat puluh orang. Tak ada satupun yang tidak dipastikan bahwa orang itu tidak melihatnya memberikanku cincin itu.
"Ini cincin keberuntunganku. Cincin yang membuatku dipuja banyak orang. Kau pakailah. Pasti akan segera ada pemuda yang mendekatimu."
Aku mengernyit. Tangan lainku menerima bujukan juga telingaku yang lain menerima bisikan yang berlawanan
.
"Percayalah padaku. Padamu aku tidak pernah menggombal. Ingat kataku tadi. Kau cantik. Untuk ukuran perempuan kau tinggi. Yeah, meski bahumu lebar dan lengan serta betismu lumayan berotot. Tapi kau cantik. Kulit sedikit cokelat tak masalah. Kau toh tak berjerawat. Yang jelas tak usah pakai jimat apapun. Tapi biar kuberi saran. Kau kelihatan lebih keren dengan pakaian sporty."
Aku mengangkat kedua bahu dan menengadah. Kenapa duniaku penuh dengan orang-orang yang berlebihan dalam segala hal?
"Kakek buyut kalian datang." Bisik Tante Nia lagi.
"Akan ada cerita khayal yang menghibur. Kau punya camilan ? enak kalau mendengarkan sambil makan." Bisik Damar.
"Habiskan saja nasi tumpeng itu!" Tukasku.
Kuberi salam pada orang yang seluruh rambutnya telah memutih itu. Ujung tongkatnya telah aus menerima tekanan dari tangan keriput si tua. Dari gerakannya aku tahu bahwa dia ingin memelukku. Aku memeluknya dengan hati-hati. Tubuhku seketika mendeteksi getar saat dia tersenyum bahagia karena mengelus kepala ku.
Selesai memandangiku, matanya berpindah ke Damar yang ada di sampingku.
"Aku senang bisa melihat kalian tumbuh hingga usia dua puluh."
"Kelihatannya kau lelah, Eyang. Duduklah." Kata Damar ramah.
Aku hanya diam. Memang kami berdua adalah sepasang cucu buyut pertama dari laki-laki itu. Damar adalah cucu pertama kakek dari ayahnya. Aku cucu pertama Kakek dari ayahku. Kakekku adalah Kakak Kakek Damar. Ayahku anak pertama kakekku dan Tante Nia adalah anak pertama kakek Damar. Seperti itulah garis persaudaraan antara aku dan laki-laki tampan itu. Banyak yang tak percaya kalau kami berdua masih saudara. Dari warna kulit saja sudah jauh berbeda.
"Untuk ulang tahunmu, Sayang. Kali ini tak seperti biasanya. Aku punya hadiah untukmu. Baiklah, pertama-tama aku ucapkan selamat ulang tahun. Semoga yang kau inginkan tercapai."
"Amin" Damar mengusapkan telapak tangan ke wajah, lalu menyikut tanganku. Aku mengaminkannya juga, tentu.
Saat kakek buyutku duduk di sofa, semuanya bersiap mendengarkan petuah dengan Hidmat. Bagi orang lain, mendengarkan perkataan pria yang telah berusia lebih dari seabad itu bagaikan pusaka yang menentukan nasib hidup selanjutnya. Bagiku, mendengarkan perkataan kakek buyut ku hanyalah kewajiban pelestarian budaya etis. Bahwa yang muda harus menghormati yang tua. Bagaimana aku akan hidup, aku yang sendiri yang menentukan.
"Kau tahu, Anna. Hidup hingga cucu buyut-ku dewasa adalah sebuah impian. Itulah sebabnya aku selalu mendorong anak cucuku untuk tidak menunda pernikahan."
"Eyang, ibu sudah jam sembilan lewat. kau tidak apa-apa kalau tidur sedikit larut?" Tante Nia mengingatkan.
"Tidak apa-apa. Kalau kalian ingin tidur, tidurlah dulu. Tapi tinggalkan dua remaja ini bersamaku. "
"Baiklah, Eyang. sepertinya kau memang butuh waktu pribadi bersama mereka. Kau bahkan tak pernah membahas masalah warisan dengan cucumu." Ayahku kemudian tergelak. Laki-laki itu memang senang melawak.
Beberapa orang kemudian bersiap kembali ke rumah mereka. Hanya ada tiga kamar di rumahku. Dua kamar sudah terpakai. Hanya tinggal satu kamar. Tidak mungkin cukup untuk menampung empat puluh orang lebih di sini .
Aku dan Damar bertukar pandang. Menanti hal sepenting apa yang akan dikatakan kakek buyut kami.
"Kira - kira apa yang akan dikatakan oleh kakek bau tanah ini?"
"Jaga mulutmu, Damar. Bagaimanapun dia kakek buyut kita."
"Yeah!".
__ADS_1
(****)