
Note author: maaf jika banyak kekurangan pada cerita, karena author masih pemula 🔰
.
Mendengar penjelasan Putri, Wulan hanya diam, entah penjelasan itu ia simak dengan baik atau masih saja tetap keras hati untuk menerima fakta.
"Mbak, kita sama sama wanita pastinya punya perasaan yang sama, saya yakin, mbak juga kalau berteman sama laki laki dituduh selingkuh itu pastinya gak enak kan? Begitu juga dengan saya, mbak. Saya gak suka kalau saya dicap pelakor karena saya yang memang murni kesalahan saya yang tidak sengaja meninggalkan bekas lipstik saya di balik baju suami mbak karena saya ditabrak oleh karyawan magang dikantor tempat saya bekerja" jelas Putri.
"Ya, aku tau, aku salah" ucap Wulan dengan singkat.
"Mbak, saya gak akan setega itu merusak rumah tangga orang, karena itu akan berimbas ke rumah tangga saya juga. Mbak bisa bayangkan, bagaimana nanti kalau mbak punya anak dan anak mbak terke.... "
"Jangan ungkit ungkit soal anak! " teriak Wulan.
Putri yang sedang menjelaskan ucapannya terkejut mendengar teriakan Wulan, Marsel pun begitu.
"Hei Putri, aku tau ya kamu udah punya anak, setidaknya kamu jaga perasaanku yang belum sama sekali mempunyai anak selama dua tahun ini! Berhentilah menceramahi ku, kalau tujuanmu kesini bukan untuk menjelaskan kesalahpahaman yang sudah kamu dan suamiku buat! Jaga ucapanmu, aku ngga senang ya jika ada orang yang dekat denganku mengungkit soal anak! " tegas Wulan sambil menunjuk nunjuk ke arah Putri.
"Wulan... "
"Apa?! Abang mau belain dia?! Sekarang Wulan tanya, siapa istri abang yang sebenarnya?! Wulan, atau wanita yang bernama Putri yang sedang di depan Wulan ini, bang?! " tanya Wulan dengan tegas.
Marsel menepuk keningnya, ia tidak tau lagi bagaimana cara menjelaskannya pada Wulan.
"Kalau begitu, aku pamit pulang dulu ya, sudah malam soalnya" ucap Putri.
"Itu kamu sadar juga, malam malam masih ngeluyur juga" sindir Wulan.
"Yaudah Put, aku anterin kamu sampai ke rumah ya? "
Mendengar ucapan Marsel, Wulan terkejut, ia melihat Marsel dengan tidak percaya.
"Apa? Abang mau anterin dia? " tanya Wulan dengan tidak percaya.
"Lan, abang cuma nganterin dia doang" jawab Marsel.
"Eh, gak usah Sel, aku bisa kok cari taksi online di depan, kamu gak usah repot repot" tolak Putri.
"Gak papa Put, lagian juga tadi kamu kesini barengan sama aku, nanti David marah sama aku kalau aku gak bertanggungjawab untuk nganterin kamu sampai ke rumah karena kamu naik taksi online" ucap Marsel.
"Gak usah Sel"
"Gak papa, ayo, aku anterin, disekitaran rumahku kalau taksi online gak ada kalau sudah jam begini" ucap Marsel.
Putri akhirnya terdiam, ia kemudian menganggukan kepalanya dan menggandeng tas tangannya.
"Gak tau malu kamu ya? Bukannya nolak, kamu malah terima? " tanya Wulan dengan sinis.
"Lan, please, abang cuma nganterin dia doang, ini karena tanggungjawab abang yang bawa dia kesini malam malam buat ngejelasin kesalahpahaman tadi pagi itu. Jadi, abang izin sama Wulan, abang mau nganterin Putri sampai ke rumahnya" ucap Marsel.
Wulan tidak merespon, ia kemudian langsung masuk ke kamar dan membanting pintunya dengan keras.
"Sel, istrimu... "
"Gak papa, nanti aku bisa bujuk dia, yaudah ayo aku anterin sampai ke rumah kamu" ucap Marsel.
Marsel dan Putri keluar dari rumah bersama sama, Marsel kemudian mengunci pintu dari luar dan mengajak Putri untuk masuk ke dalam mobil.
"Sel, aku jadi gak enak sama istrimu, lihatlah tadi, kalian jadinya ribut karena aku" ucap Putri.
"Gak papa Put, aku malah lebih seneng kamu bisa bantu aku jelasin kesalahpahaman yang terjadi kemarin, setidaknya istriku bisa percaya kalau aku sama kamu gak ngapa ngapain selain murni itu kesalahpahaman" jelas Marsel.
Putri menganggukan kepalanya, Marsel fokus lagi mengendarai mobilnya menuju ke rumah Putri.
.
.
Sesampainya di depan rumah Putri, terlihat David sedang menunggu Putri di luar rumah, Putri segera keluar bersama Marsel.
"Vid, maaf ya aku bawa istrimu malam malam ke rumahku buat ngejelasin kesalahpahaman aku sama Putri kemarin sama istriku, harusnya sejam yang lalu dia udah pulang kerumah" ucap Marsel.
"Gak papa Sel, lagipula dari kemarin itu udah niatnya Putri buat ngejelasin kesalahpahaman kamu sama Putri kemarin, kami juga sepakat buat ngerencanain ini dari malam kemarin" ucap David.
__ADS_1
"Makasih ya Sel udah nganterin aku ke rumah sampai tengah malam begini, aku jadinya ngerepotin"
"Gak papa Put, yaudah, aku pamit dulu ya mau langsung pulang" pamit Marsel.
"Iya, hati hati dijalan Sel"
Marsel bergegas masuk ke mobil, ia menghidupkan mobilnya dan mengendarai mobilnya untuk langsung pulang ke rumahnya.
Sayangnya, saat diperjalanan menuju pulang, Marsel terjebak kemacetan yang sebelumnya tidak ada kemacetan seperti ini.
"Pak, di depan ada apa ya? Tadi perasaan gak macet seperti ini? "
Marsel bertanya dengan pengendara motor di sebelahnya.
"Katanya tadi ada kecelakaan, makanya jalanan jadi macet begini" jelas pengendara motor, Marsel menganggukan kepalanya.
Setelah menunggu hampir 20 menit, Marsel akhirnya terlepas dari kemacetan, ia melihat tempat kecelakaan tersebut, cukup tragis baginya ketika langsung melihat korbannya.
.
.
Sesampainya di rumah, Marsel memarkirkan mobilnya di sebelah rumahnya, ia kemudian memastikan mobilnya telah aman terkunci dan ia berjalan menuju ke rumah.
Marsel membuka kunci rumahnya, ia kemudian masuk dan melihat Wulan duduk di sofa ruang tamu dengan tatapannya yang seolah-olah benci.
"Kenapa belum tidur? Tadi perasaan udah dikamar? " tanya Marsel.
"Kenapa abang bertanya seperti itu? Oh, Wulan tau, kalau saja Wulan udah tidur di dalam kamar duluan, Wulan yakin kalau abang pasti bawa si Putri itu diam diam kan?! " tuduh Wulan.
"Lan, udah beberapa kali abang bilang, abang sama Putri cuma teman kerja! Kenapa kamu masih ngotot kalau abang punya hubungan sama dia? " tanya Marsel dengan nada tidak senang.
"Karena Wulan belum sepenuhnya percaya sama abang, Wulan gak yakin kalau itu gak sengaja, mustahil si Putri itu bisa terjatuh dan bibirnya mengenai belakang baju abang itu! Sekarang abang suka berbohong sama Wulan! " jawab Wulan.
Marsel merasa geram, ia ingin marah, tetapi hanya bisa menahannya.
"Oke, sekarang kamu sebut abang pembohong. Tapi sebelum itu abang mau kamu jujur, kemana sebagian tas punya kamu? "
Skakmat!
Pertanyaan Marsel membuat Wulan terkejut, karena pertanyaan itu merupakan ancaman baginya.
"Wulan udah bilang, tasnya ada di dalam box! " tegas Wulan.
"Bohong! Abang udah periksa box tas tas milikmu dan tidak ada satupun sebagian tas tas yang kamu bilang itu semua disimpan dalam box! Sekarang jujur, di mana semua tas itu, Wulan?! " tanya Marsel dengan tegas.
"Aku gak tau dimana tasnya, bang! " elak Wulan.
"Wulan! Kamu bilang abang pembohong karena kamu gak yakin sama penjelasan dari abang dan teman abang, tetapi kamu sekarang juga berbohong sama abang! Abang tanya sekali lagi, kemana tas tas kamu itu hah?! "
"Aku gak tau, bang! "
Marsel tetap mencecar Wulan dengan pertanyaan yang sama, tetapi Wulan belum juga mengakui nya.
"Lan, kemana semua tas kamu?! " tanya Marsel dengan tegas.
"Wulan gak tau! Wulan gak tau di mana semua tas tasnya Wulan! " teriak Wulan, ia kemudian menangis karena sudah lelah dicecar pertanyaan seperti itu berulang-ulang kali dengan Marsel.
"Sudahlah! Kamu gak jelas sekarang, Lan! Nuduh abang macam macam, tapi kamu saja seperti itu! "
Marsel berjalan dengan marah ke arah ruangan lain, sedangkan Wulan tetap menangis di sofa, karena ia berusaha menyembunyikan kebenaran yang ada.
Di dalam ruang kerja, Marsel membanting pintu, ia kemudian berjalan ke meja kerjanya dan duduk dengan menggebrak mejanya.
Marsel menyenderkan tubuhnya di kursi kerja miliknya, ia memijit mijit keningnya karena pusing dengan tingkah laku Wulan selama ini.
Seketika Marsel melihat cutter yang ada di dalam kotak pena di mejanya, ia mengambilnya dan mulai melihat cutter yang tajam itu, sesekali memegang ujung cutter itu dengan tatapan kosong.
Tiba-tiba HP Marsel berdering, Marsel mengambil hpnya dan melihat siapa yang menelponnya kemudian mengangkat nya.
"Halo mah, ada apa? "
Di kediaman keluarga Thomas, Salma sedang menelpon Marsel, ia memberikan kabar bahwa Misella akan lahiran.
__ADS_1
"Sel, Misella mau lahiran, jadi mama mau kasih tau kabar ini sama kamu, karena Misella minta kamu datang ke rumah sakit" ucap Salma dari telpon.
"Apa? Sela mau lahiran? Bukannya umur kandungannya masih 7 bulan, mah? " tanya Marsel.
"Ketuban Misella pecah lebih awal, dokter bilang Misella bakalan melahirkan anaknya secara prematur, makanya mama kasih kabar begini sama kamu" ucap Salma.
Marsel mengusap kasar wajahnya, ia kemudian menghela nafas berat.
"Iya mah, besok Marsel sempatkan datang ke sana"
Terdengar dari telpon suara Marsel yang tampaknya ada masalah, Salma mulai menanyakan keadaan Marsel.
"Nak, kamu kayaknya ada masalah, ada apa nak? " tanya Salma.
Marsel terkejut, mamanya tau bahwa ia ada masalah, tetapi ia berusaha untuk menormalkan dirinya agar tidak dicurigai.
"Gak, Marsel gak ada masalah sama sekali, mah" ucap Marsel dengan nada datar.
"Jangan bohong sama mama, kamu lagi ribut sama Wulan ya? " tanya Salma dari telpon.
Marsel menghela nafasnya, ia kemudian mengakuinya.
"Iya mah, kami berdua ribut" ucap Marsel.
"Kenapa? Kalian kenapa ribut? " tanya Salma.
"Kesalahpahaman, Marsel ada salahpaham sama Wulan mah, udah begitu aja" ucap Marsel.
"Nak, ayo ceritakanlah, mama siap mendengar kan kamu"
Marsel menarik nafasnya, ia mengatur nafasnya yang masih terasa panas akibat emosinya.
Setelah terasa reda, Marsel akhirnya mulai bercerita dengan Salma.
"Yang sabar nak, kamu kan laki-laki, jangan sering merajuk agar selalu menang. Mungkin saja Wulan ada pikiran lainnya kan, makanya sampai dia mau ribut sama kamu"
Marsel yang sedang menatap cutter hanya bisa melihat tajamnya cutter tersebut dengan mendengarkan nasehat mamanya.
"Marsel gak tau lagi, mah" ucap Marsel dengan pasrah.
"Nak, kamu... "
"Udah ya mah, Marsel mau istirahat dulu, kepala Marsel udah mau meledak rasanya karena habis ribut begini, assalamu'alaikum"
"Waalaikumsalam"
Panggilan berakhir, Marsel kemudian meletakkan hpnya di atas meja, ia menatap langit langit kantornya dan merenung.
"Lan, andaikan penyakit yang kamu idap sekarang gak ada di tubuh kamu, mungkin sifat kamu gak berubah seperti sekarang ini... "
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Jangan lupa tinggalkan jejak 👣👣👣
__ADS_1