Garis Merah

Garis Merah
Hanya Tidur


__ADS_3

Sebuah perjalanan yang aku tahu tak akan mulus baru saja kuambil. Dengan tujuan yang belum juga kutemukan, aku tetap berjalan. Damar adalah orang yang kupilih sebagai pemanduku.


Saat melihat senyumnya kemudian dia berpamitan rasanya aku semakin yakin bahwa aku akan mengambil segala risiko yang ada untuk bersamanya. Sejakaku bisa mengingat, semua anggota saudara ku sudah berpikir bahwa aku identikdengan kegilaan. Kali ini, dalam urusan cinta, aku juga gila. Ya, yang telah menjadi gila tak mungkin kembali waras. Tapi orang waras bebas memilih untuk tetap waras atau mencoba gila.


Meski berat ketika melihat kedua orang tuaku yang frustasi, aku tak bisa berhenti. Aku yakin mereka mengerti bahwa dengan begini juga aku tersiksa. Mereka lalu memilih mengalah setelah berusaha merasakan bagaimana dalam posisiku. Damar juga sepertinya kesulitan memposisikan diri. Kekakuannya semakin kentara sejak ayahku menggeram didepannya.


Dia terlihat bingung apakah akan bertindak seperti dia biasanya, atau menjadi calon menantu yang santun. Hal itu diperparah oleh ayahku yang berpura-pura tak memahami. Dia tak pernah mengalah pada Damar. Tidak mau memulai lebih dulu.


Malam ini, sambil terus memandangi pesan dari Damar yang dikirim tiga haru lalu, aku berdiri di depan cermin lemari pakaianku. Kulihat tubuhku dari lutut hingga atas kepala. Kuraba pipiku setelah terlebih dahulu menyentuh bedak tabur. Kuratakan beda itu dengan tanganku ke seluruh muka. Kuputar badanku hingga aku yakin bisa terlihat sempurna di depan Damar. Yeah, ideal. Karena ada yang sempurna di dunia ini.


Dua jam aku menunggu di kamar dan tak ada kabar. Kami sudah membuat janji sejak tiga hari lalu. Tapi sejak itu pula dia tak pernah mengirim pesan. Mungkin baginya tak masalah walopun tak ada kontak. Toh, aku dan dia masih saudara jauh. Aku tinggal bertanya pada bibiku yang tinggal bersamanya. Dia tinggal menelepon ibuku jika sedikit saja curiga dengan gelagatku.


“Anna!” seru ibuku.


“Bunda, aku kaget.”


“Cepatlah turun. Kita ke rumah Damar.”


“Ada apa? Terjadi sesuatu dengan Tante Nia?”


“Damar.”


“Kenapa? Kenapa dia?”


“Aku tak paham detailnya. Aku hanya ditelepon oleh Om Anand.”


Segera kusambar jaketku yang paling tebal kemudian berlari menuruni tangga. Ibuku mondar-mandir mencari kunci rumah. Menyimpan barang berharga kemudian mematikan lampu kamarnya. Hatiku sangat khawatir.


“Dimana Ayah?”


“Dia masih di warung. Rencananya akan bergantian denganku nanti. Ayo pergi!” dia berjalan cepat menuju pintu utama rumah dan kuimbangi langkahnya.


Kupakai helmku sebelem sampai di depan sepeda motor. Mesin motor mengaum ketika aku menarik gas. Ibuku melompat sigap dan segera kami meluncur ke rumah Damar. Butuh waktu sekitar lima belas menit jika motorku melaju dengan kecepatan sedang saja.


Aku tak cukup sabar untuk menunggu lima belas menit. Kupacu motorku hingga ibuku berpegangan sangat erat.


Begitu kakiku menginjak pelataran rumah Damar, aku ingin berlari. Tapi, aku tetap menunggu ibuku yang berjalan cepat. Bagiku dia lambat sekali. Tante Nia menyambut kami dengan pelukan. Desah kesedihan dia perdengarkan pada ibuku.


Sebelum memelukku, dia memandangku aneh. Banyak hal yang tak bisa kmengerti dari tindakan itu. Apa dia ingin menyalahkanku atas hal yang menimpa anaknya? Apa Damar bunuh diri setelah berdebat dengannya tentangku? Setelah frustasi oleh tentangan keluarganya? Benarkah begitu?


Tangis bibiku pecah ketika mengelus rambut yang tak sempat kuikat tadi. Tak kuasa melanjutkan belaiannya, dia mencengkeram pundakku kuat. Kemejaku basah karena air matanya.


Jawaban dari pertanyaanku tentang Damar kutemukan saat Tante Nia memimbingku masuk ke kamar. Kamar Damar ada di lantai dasar, jadi kami tak perlu naik tangga. Kulihat anak itu tidur. Terlihat sangat pulas. Aku bingung. Kenapa Ibunya begitu panik karena Damar tidur dengan nyenyak?


“sejak tiga hari  lalu dia tak bangun” kata Tante Nia.


Aku terkesiap. Kututup mulutku yang ternganga saking kagetnya. Sosok Eyang yang duduk di depan ranjang Damar terlihat begitu tenang. Aku mendekatinya.


“Eyang, apa yang terjadi?”


Dia menjawabku dengan satu kedipan mata yang dilakukan berbarengan dengan belaian dari ubun-ubun, turun ke samping pipiku.


“Dokter bilang ini aneh. Damar hanya tidur, katanya.” Kata Tante Nia lalu mengelap ujung matanya. Kuperhatikan Tante Nia dan Eyang bergantian. Pernah aku melihat Tante Nia setakut itu ketika usiaku dan Damar sepuluh tahun. Saat dia panik karena tiba-tiba suaminya terkena serangan jantung ketika berolahraga.

__ADS_1


“Damar hanya tidur, Sayang.” Eyang menenangkan. Tak ingin ada pertanyaan lagi.


“Tapi kenapa dia tak bangun sejak tiga hari lalu?”


“aku sudah berusaha membangunkannya, tapi tetap saja matanya tertutup.” Sela Tante Nia.


“Eyang?”


“Aku juga tak mengerti, Cu.” Katanya.


Baiklah, sekarang aku menyerah. Taka akan bertanya lagi. Yang bisa kulakukan hanyalah meraba tangan anak itu dan membisikkan sesuatu dalam hati.


Hei, tukan tidur. Kau bilang kau akan membawaku ke tempat yang kau rahasiakan selama ini. Mana? Kenapa kau malah enak-enakan tidur di kamarmu? Cepat bangun atau aku akan mencarinya sendiri. Atau, bagaimana kalau aku mencari laki-laki lain? Aku yakin selain kau, ada juga yang mau menerima kegilaanku.


Helaan nafasku terdengar sangat keras di telingaku sendiri. Mungkin karena tidak ada seorangpun yang bicara. Kucium keningnya dan hatiku kembali


berbisik.


 Cepatlah bangun. Aku mencintaimu.


Hingga ayahku tiba, aku tetap berada di sisi Damar. Berhadapan dengan Eyang seharian penuh. Tetap kupandangi wajah anak itu dengan seksama. Dia tak terlihat bernafas sama sekali. Wajahnya semakin lama semakin pucat. Aku takut. Setiap aku kembali panik, Eyang bilang Damar hanya tidur.


Berkali-kali aku mencoba meyakinkan dan menguatkan hati. Tapi tetap saja aku cemas. Tidur macam apa itu? Bagaimana mungkin tidur tak bangun selama tiga hari. Meski hanya untuk mengecek ponsel, minum, atau makan, dia seharusnya bangun. Bangun dan mengabariku, mestinya.


***


Ibuku menyuruhku pulang karena Ayah sudah tiba. Dia juga harus bergantian dengan Ayah untuk menjaga warung. Pusat oleh-oleh khas daerah sebesar itu hanya dibilang warung oleh mereka.


“Besok kau bisa ke sini lagi.”


“Tapi—“


“Anna.” Sela ayahku.


“Baiklah.” Gumamku.


Kutatap wajah Damar sebelum pulang. Masih layaknya orang tidur. Hanya kulitnya lebih pucat dari biasanya. Kupastikan Eyang akan menjaganya. Dia bilang serahkan saja bocah itu padanya.


 Banyak sekali asumsi dalam otakku. Mungkinkah hal ini ada kaitannya dengan benda itu? Eyang terlihat seperti sudah memprediksikan hal ini. Tapi, Damar bilang dia tidak pernah mengalami hal aneh.


Kubawa tebakanku memakai mantel, mengambil kontak motor dan meninggalkan kamar yang penuh poster musik itu. Kemudian keluar mengajak Ibuku dan bermaitan dengan semuanya.


“Kau mau menemaniku.” Tanya bunda ketika kakiku menghentak-hentak di tangga rumah.


“Baiklah.” Dengan lesu aku kembali turun. Kami lantas mengendarai motor lagi untuk menjaga toko. Di toko ibuku mengajakku bicara ini itu. Aku hanya menjawab sekenanya. Aku bahkan tak benar-benar paham apa yang dia katakan. Otakku masih sibuk dengan berbagai terkaan yang semakin lama semakin membuat frustasi.


Mungkin Damar akan sgera mati. Sebenarnya Eyang itu orang jahat? Moyang keluargaku adalah orang jahat yang merebut pusaka itu dari pemilik aslinya? Ya begitu pasti. Agar tetap bertahan hidup lama, Eyang butuh tumbal. Dan dia mengambil Damar. Mula-mula. Selanjutnya aku. Mungkin.


“Apa yang sedang kau pikirkan, Anna?”


“Tak ada, Bunda.” Aku tergagap.


“Kalau kau tak bisa di sini, pulanglah. Tak apa-apa aku

__ADS_1


sendiri.”


“Aku hanya masih tak mengerti.”


“Butuh istirahat?”


“Kurasa begitu.”


“Rebahkan badanmu.”


“Baiklah. Bangunkan aku jika aku tertidur.”


Jatuh dalam tidur yang penuh mimpi buruk adalah hal yang menyebalkan. Apalagi jika mimpi itu seperti bukan mimpi. Aku tak merasa tidur. Hanya memejamkan mata. Bangun lagi dan kembali ke rumah Damar. Kulihat dia benar-benar telah mati.


Saat bangun aku merasa lelah sekali. Seperti habis tidur untuk waktu yang lama. Ibuku kaget ketika tiba-tiba aku meloncat.


“Ada apa?”


“Pulang saja. Aku pulang saja.” Seruku.


“Kau bilang butuh istirahat. Jangan menyetir dalam keadaan


lelah.”


“Aku sudah beristirahat, Bunda”


Kucium pipi ibuku, mengucap salam lalu memakai helm. Roda sepeda motorku terus berputar mengantarku ke tempat tujuan. Awalnya ingin langsung ke rumah, tapi aku berubah pikiran.


Kuputar balik motorku. Beberapa menit kemudian aku sudah sampai di depan pintu Rumah Damar. Tante Nia membukakan pintu dengan cepat.


“Anna.”


“Ya, Tante. Aku ingin memastikan keadaan Damar.”


Perempuan cantik yang telah sepuluh tahun hanya hidup dengan putranya itu mempersilakanku duduk terlebih dahulu. Aku hanya bisa memandang tanpa satu kata pun pada Eyang dan Tante Nia.


Lunglai langkah kaki mengantarku pulang. Entah sampai kapan aku tidak memiliki sepasang telinga yang akan mendengar semua keluh kesahku.Tak tahu sampai kapan aku harus menguatkan diri sendiri tanpa mulut yang—meski terkadang nakal—selalu membuatku optimis itu.


“Kau tak ingin duduk dulu?” eyang menggenggam salah satu pundakku.


Aku hanya menoleh, kemudian menggeleng lemah.


Orang tua itu kemudian membiarkanku pergi. Membiarkanku larut dalam kesedihaku yang menurut orang lain pasti berlebihan. Hanya ada beberapa orang yang memilih mengerti.


Kupeluk bibiku sebelum mengendarai sepeda motor. Aku berpesan agar dia segera menelepon ketika bocah itu bangun. Dia mengerti sebagai apa aku mencemaskan anaknya. Saat ada masalah seperti itu memang tak akan ada yang mempermasalahkan hubungan antara aku dan Damar, hubungan yang kami inginkan.


Rumahku sudah gelap ketika aku sampai. Meski begitu ayahku belum tidur. Aku terkejut ketika ia menegurku di depan TV. Ibuku mungkin pulang sebentar lagi.


Rasanya tak sabar aku ingin melemparkan tubuhku ke pembaringan. Tak sabar juga untuk melupakan kejadian menyakitkan dalam hidupku. Paling tidak, seharusnya aku bisa lupa ketika aku terlelap.


Kupanjatkan doa  ketika menemukan posisi paling nyaman. Doa untuk sendiri, doa untuk orang tua, dan tiba-tiba kepalaku menoleh ke pusaka itu saat berdoa untuk Damar. Tak ada doa lain untuk dia kecuali agar cepat bangun dan mengajakku bicara. Membuatku kesal lagi, membuatku tersenyum lagi. Mengejekku lagi. Pokoknya yang penting dia bangun, tidak hanya tidur di kamar seperti itu. Karena hal itu membuatku merasa kehilangan. Seolah dia tak akan bangun selamanya.


(****)

__ADS_1


__ADS_2