Garis Merah

Garis Merah
08: Hadiah


__ADS_3

Note author: maaf jika banyak kekurangan pada cerita, karena author masih pemula 🔰


.


Sebulan telah berlalu, tetapi aktivitas kedua pasangan muda yaitu Marsel dan Wulan masih tetap, mereka seperti biasa akan sibuk sendiri sendiri saat mengerjakan sesuatu.


"Bang, nanti sore kita ke rumah mama sama papa ya, Wulan sebelumnya udah janji sama mama buat datang minggu ini ke rumah" ucap Wulan.


"Oh iya, boleh Lan, nanti sore kita siap siap, kamu siapin aja semua barang yang pengen dibawa, biar nanti pas abang pulang, tinggal angkut barang barang ke mobil" ucap Marsel.


Wulan kemudian mendekat Marsel, ia bersalaman dengan Marsel, kemudian Marsel mencium kening Wulan.


"Abang pergi dulu ya, assalamu'alaikum"


"Waalaikumsalam, hati hati dijalan bang"


Marsel kemudian pergi dari rumah, sedangkan Wulan masuk ke rumahnya untuk melanjutkan pekerjaan rumahnya.


Di dalam mobil, Marsel mengangkat telpon dari Enrico, ia ditelpon karena Enrico menanyakan berkas dokumen.


"Emangnya tanggal berapa sekarang, kok mau ditagih berkas dokumen nya? Awas nanti berkasnya bisa diambil sembarangan isi datanya" ucap Marsel.


'Lah, itu berkasnya memang dikirim hari ini, harusnya malam tadi tuh berkas dikirim tapi jaringan terganggu, makanya ditagih untuk sekarang, kamu Sel yang gak lihat tanggal' ucap Enrico tidak mau mengalah.


Marsel kemudian melihat tanggal di jam tangannya, ia kemudian mengingat sesuatu, tetapi mendengar panggilan Enrico membuat ingatannya yang mengingat sesuatu menjadi buyar.


'Sel! '


"Iya ric, nanti, lagi dijalan ini, aku lagi di jalan, nanti langsung kasih berkasnya sama kamu" ucap Marsel.


Panggilan berakhir, Marsel kemudian memikirkan lagi, tetapi ia sudah lupa dan memilih fokus untuk cepat ke kantor.


.


.


"Iya mah, nanti Wulan bawain ya mah masakannya Wulan, biar mama papa sama Sela bisa nyicip masakannya Wulan"


Wulan sedang duduk di meja dapur, ia sedang video call dengan Salma sambil membuka sayuran-sayuran.


'Wah boleh banget, kalau enak, kamu boleh kerja barengan sama mama di catering, kan mayan bisa kerja sama mama' ucap Salma dari telpon.


"Nanti Wulan tanyain sama bang Marsel aja mah, boleh atau ngga Wulan kerja sama mama, lagian juga Wulan kangen terus sama mama"


'Ya, Marsel gak bakalan ngelarang kok, nanti mama kasih tau aja pas kalian nginep kesini ya' ucap Salma.


"Yaudah ya mah, Wulan mau lanjut masak dulu ya, nanti sore Wulan sama bang Marsel kesana"


'Iya, dadah, assalamu'alaikum'


"Waalaikumsalam"


Wulan mematikan hpnya, ia kemudian melanjutkan memasaknya.


.


.


Di kantor, Marsel sedang fokus pada kerjaannya, ia masih memikirkan pikirannya yang buyar saat di mobil.


"Mikirin apa, Sel? " tanya Enrico.


"Aku lagi mikirin sesuatu ric, tadi sempat kepikiran, tapi gak inget lagi... " jawab Marsel.


"Wah, mikirin apa tuh? Inget Wulan di rumah, Sel... " ejek Enrico.


Marsel kesal, ia ingin meninju perut Enrico, tetapi ia berusaha menahannya.


"Ric, kini tanggal berapa? "


Enrico melihat layar hpnya, ia kemudian mulai mendikte nya.


"17 Mei, hari Sabtu, kenapa Sel? " tanya Enrico.


Marsel mengambil kalender kecil di dekat komputer nya, Enrico menaikkan bibirnya dan menatap Marsel dengan tatapan melotot.


"Ngapain nanya tanggal sama aku kalau kalender ada di dekat kamu, Marsel?! " kesal Enrico.


"Lupa ric, astaga! "


"Kenapa? Ada apa Sel? " tanya Enrico.


"Aduh, gimana gua gak lihat sih, padahal udah satu kartu keluarga juga, aduh... " keluh Marsel.

__ADS_1


"Apa sih Sel? Gak jelas kamu" tanya Enrico sambil mengerutkan kening.


"Wulan, hari ini dia ulang tahun" jawab Marsel.


Enrico hanya melihat ekspresi terkejut nya Marsel, ia kemudian berdecak.


"Ck ck ck, ultah istri sendiri aja gak ingat kamu Sel. Kemarin bikin kartu keluarga nyewa siapa sampai gak tau tahun lahirnya Wulan? " tanya Enrico.


"Ric, harusnya kamu tuh bantuin kasih saran buat aku kek, bukannya malah mojokin aku terus, gimana sih jadi sahabat gak setiakawan" jawab Marsel dengan nada tersinggung.


"Oke oke, emmm gimana ya... "


Enrico berdengung kemudian berpikir, Marsel juga ikut berpikir sambil melihat tanggal yang sudah ia lingkari.


"Nah, gini aja Sel, gimana kalau kamu bikin aja kejutan sama dia. Kan kata kamu setiap hari sabtu tuh jadwal kamu sama Wulan sesekali nginep ke rumah mama sama papa kamu. Kenapa gak minta bantuan sama keluarga kamu untuk bikin kejutan sama Wulan? " ucap Enrico.


Marsel merasa ide tersebut bagus, ia kemudian menjentikkan tangan dan tertawa.


"Bagus Ric! Aku suka idemu itu! Memang gak sia sia kamu jadi bos pemilik di perusahaan ini, otakmu benar-benar lancar! " puji Marsel.


Enrico merasa senang, ia kemudian memamerkan dirinya karena dipuji.


"Iya dong, Enrico, lakinya Arinska mah pinter, apalagi calon anaknya nanti, hehe"


"Yaudah, makasih ya Ric" ucap Marsel.


"Makasih doang nih? " tanya Enrico.


"Terus mau ngapain Ric? Harus aku bilang makasih sambil cium kamu gitu? " tanya Marsel.


"Gak lah, yaudah, makasih untuk kamu, udah ngerjain berkas sebelumnya"


Enrico kemudian meninggalkan meja kerja Marsel, Marsel menelpon Misella untuk meminta tolong rencana memberi kejutan untuk Wulan.


.


.


Sore harinya, Marsel pulang dari tempat kerjanya, Wulan yang sedang menyapu teras menyambut kepulangan suaminya.


"Lan, ayo angkut barang barang kita ke dalam mobil, sebelumnya cek dulu listrik sama kompor" ucap Marsel.


"Iya bang, abang angkutin barang barang kita ya"


Wulan bergegas ke dalam rumah, ia memeriksa listrik dan kompor dirumah, sedangkan Marsel mengangkut barang-barang nya dan barang barang milik Wulan.


Menuju magrib, ditengah perjalanan Marsel menghentikan mobilnya di dekat masjid untuk melaksanakan shalat maghrib, begitupun dengan Wulan.


"Lan, kamu laper gak? " tanya Marsel, Wulan yang melipat mukenanya melihat ke arah suaminya.


"Laper sih bang, tapi enaknya kita beli juga makanan buat dibawa lagi ya bang? Wulan bawa masakan buat mama sama papa, tapi kita makannya disana aja barengan" jawab Wulan.


"Boleh juga, mau beli apa nih? " tanya Marsel lagi sambil memasang seatbelt nya.


"Soto atau bakso aja bang, mama sama papa makan pedes gak? " tanya Wulan.


"Mama yang bisa makan pedes, papa gak bisa, kalau gitu kita beli bakso aja ya biar porsinya bisa banyak" jawab Marsel.


"Boleh, ayo bang"


Marsel mulai menghidupkan mobilnya, ia kemudian mengendarai mobil nya menuju ke rumah orang tuanya.


.


.


Sudah menunjukkan jam setengah sembilan malam, Marsel dan Wulan sampai di rumah kediaman keluarga Thomas, di depan rumah sudah ada Thomas yang tampak menikmati kopi.


"Anak anak, akhirnya kalian sampai juga" sambut Thomas.


"Assalamu'alaikum pah, gimana kabar papa sekarang? " tanya Wulan bersalaman dengan Thomas.


"Baik baik saja nak, kalian datengnya malam banget, yasudah ayo masuk ke dalam" ajak Thomas.


Di dalam rumah, Salma dan Misella menyambut kedatangan Marsel dan Wulan, Wulan langsung memeluk Salma dan Misella dengan erat kemudian mereka tertawa.


"Rindu banget sama mbak, mbak jarang banget main kesini, itu kakak juga jarang banget kasih kabar mau main ke sini" ucap Misella.


"Ya mau gimana lagi, Sela, kan kakak kerja, ada wanita yang harus kakak penuhi kebutuhan nya, dan itu adalah mbak Wulan mu" ucap Marsel.


"Oh iya mah, ini aku bawain masakan aku tadi loh, ini buat mama, sama baksonya juga" ucap Wulan.


"Aduh, banyak banget bawain makanannya, yaudah ayo kita makan sama sama, mama yakin kalian belum makan" ucap Salma sambil memegang banyak makanan.

__ADS_1


"Yuk kita makan sama sama"


Di dapur, tampak jelas sekeluarga menikmati makanan mereka dengan lahap, Wulan mengingat sirup yang diceritakan oleh Salma, membuatnya ingin mencicipi sirup tersebut.


"Mah, sirup yang mama bilang ada di kulkas kan mah? Boleh Wulan ambil gak, mau cicip" ucap Wulan sambil berjalan ke arah kulkas.


Mengingat ada kue di dalam kulkas dan itu untuk perayaan ulang tahun menantunya, ia kemudian berjalan melarang Wulan untuk membuka kulkas.


"Eeh, biar mama aja yang ngambilin nya, kamu duduk aja lagi" ucap Salma.


"Oh iya deh kalau gitu, Wulan minta tolong ambilin ya mah" ucap Wulan, Salma mengangguk kepala nya kemudian mengambil gelas untuk menaruh sirup tersebut untuk Wulan.


.


.


Malam harinya, tepatnya tengah malam, Wulan terbangun karena ingin minum, ia kemudian membuka matanya dan melihat kamarnya mati lampu, ia meraba ke arah sebelahnya yaitu posisi Marsel tidur untuk membangunkan nya.


"Bang... Bang... "


Wulan meraba raba, ia kemudian mendekat dan tidak ada Marsel di sampingnya, ia hanya memegang kasur.


"Bang Marsel, abang kemana? " panggil Wulan.


Di gelap mati lampu tersebut, Wulan meraba raba dinding untuk mencari saklar lampu, ia menemukannya dan mulai menghidupkan lampunya, sayang tidak hidup sama sekali, memang itu sedang mati lampu.


Wulan berjalan ke arah depan, ia membuka pintu kamarnya dan semua ruangan gelap gulita, Wulan merasa takut saat gelap melanda seperti ini.


Tiba-tiba sebuah api dari korek muncul, bersamaan dengan lilin lilin yang membuat terang, dengan kue yang dibawa oleh orang-orang, itu adalah suaminya, kedua mertua dan adik iparnya.


"Selamat ulang tahun, Wulandari Ningsih"


Wulan terkejut mendengar suara orang-orang di rumah, mengucapkan selamat ulang tahun untuk nya secara bersamaan.


"Selamat ulang tahun~ Selamat ulang tahun~ Selamat ulang tahun, Wulan~ Selamat ulang tahun~ "


Nyanyian tersebut membuat Wulan terharu, Marsel mendekati Wulan dengan kue dan lilin tersebut kemudian memeluk istrinya.


"Selamat ulang tahun ke 21, sayang, semoga di tambah umur kali ini, kamu selalu sehat dan bahagia, maaf ya kemarin gak ngucapin ulang tahun kamu" ucap Marsel.


"Aduh, kok nangis sih, mbak Wulan? " tanya Misella.


"Sampai gak bisa ngomong Wulan... Tapi, makasih banget untuk kalian semuanya, Wulan gak pernah dirayain kayak gini sebelumnya dan cuma lihat adik adik pantinya Wulan aja dulu yang selalu dirayain kayak gini... Wulan berterimakasih untuk kalian semuanya, udah dibikinin perayaan ulang tahunnya Wulan... "


Wulan sesenggukan, Marsel beserta Salma, Thomas dan Misella tertawa melihat Wulan yang menangis.


"Udah nak, sekarang bikin harapan buat kamu sendiri di hari ulang tahun kamu" ucap Salma.


"Wulan berharap diri Wulan dan keluarga dari suami Wulan, entah itu suaminya Wulan, mama dan papa mertua Wulan beserta adik iparnya Wulan selalu sehat, rezekinya bertambah dari sebelumnya, selalu diberikan kesehatan, dijauhkan dari marabahaya, selain dilancarkan semua tujuan tujuannya, dan juga Wulan berharap Wulan bisa hamil secepatnya untuk memberikan penerus bagi keluarga ini... "


Fyuh~


Wulan meniup lilin ulang tahun tersebut, mereka semua bertepuk tangan.


Marsel kemudian menunjukkan kalung emas, Wulan menutup mulutnya sebagai tanda kagum.


Salma, Thomas dan Misella mendekati kedua pasangan tersebut untuk menyinari mereka, Marsel memasangkan kalung emas tersebut ke leher istrinya dan merapikan nya.


Wulan memandang kagum dengan kalung emasnya, ia kemudian memeluk Marsel dan ingin menciumnya.


"Errrghh, Misella balik aja deh ke kamar, kayaknya ada yang mau ciuman, gak tahan liatnya" iri Misella.


Salma dan Thomas tertawa, begitupun dengan Wulan dan Marsel, karena mendengar ucapan Misella yang lebih baik kabur daripada harus melihat mereka saling bermesraan.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


.


Jangan lupa tinggalkan jejak 👣👣👣


__ADS_2