Garis Merah

Garis Merah
29: Nasehat


__ADS_3

Note author: maaf jika banyak kekurangan pada cerita, karena author masih pemula 🔰


.


"Apa...? Suamiku kecelakaan? "


Wulan tak percaya dengan ucapan bu Sri, tetapi kemudian disusuli oleh bu Jeni.


"Bu Sri, ibu seriusan bu? Anak saya juga jadi korban? "


Terlihat bu Jeni bertanya dengan bu Sri, tangisan dan rasa cemas akhirnya dirasakan oleh Wulan.


"Bu Sri, ibu jangan bercanda... Jangan buat saya cemas, bu.... " ucap Wulan dengan gemetaran.


"Lan, bu Sri gak bercanda, suami bu Sri itu polantas, informasi yang diberikan oleh suami bu Sri gak sembarangan, yasudah, ayo kita langsung ke rumah sakit" ucap bu Jeni.


Wulan kemudian menangis, ia bersiap siap dengan terburu-buru, karena tak sanggup mendengar kabar dari bu Sri bahwa Marsel juga menjadi korban kecelakaan beruntun.


Di depan rumah Marsel, mobil suami bu Jeni sudah menunggu di depan rumahnya, suara tangisan terdengar dari mobil.


"Udah mom, kita do'ain Randi gak ada apa apa ya? " bujuk suami bu Jeni.


"Mommy juga berharap begitu, dad" ucap bu Jeni.


Tangisan Wulan pecah, ia dipeluk oleh bu Sri dan menutup wajahnya dengan tisu yang diberikan oleh adik Randi.


Di sepanjang perjalanan, tepatnya di jalan menuju ke rumah sakit yang melewati tempat kecelakaan beruntun tersebut, Wulan melihat para petugas kebersihan maupun pihak medis sedang membersihkan darah darah korban kecelakaan, dan juga mengantongi jenazah yang tergeletak di jalanan.


Melihat para korban maupun jenazah, membuat bu Jeni dan Wulan menangis kembali, mereka kemudian nekat untuk turun, tetapi ditahan oleh bu Sri dan suami bu Jeni.


"Mom, sabar dulu mom... " tahan pak Yudi.


"Gak bisa, dad, mommy mau lihat ke sana! Mommy mau lihat Randi! " ucap bu Jeni dengan nada tangisan yang ingin memberontak.


Tak tahan lagi dengan berontakan bu Jeni dan Wulan, pak Yudi kemudian mengunci pintu mobilnya, agar bu Jeni dan Wulan tidak nekat berlari mencari Marsel dan Randi yang berada di tempat kecelakaan tersebut.


"Dad, kenapa daddy kunci pintu mobilnya?! Mommy mau lihat Randi diluar sana, dad! " teriak bu Jeni.


Pak Yudi tidak merespon, membuat bu Jeni berteriak dan menangis histeris, hati seorang ibu mana yang tak mengkhawatirkan anaknya yang ikut menjadi korban kecelakaan beruntun saat pulang dari kostan menuju ke rumah.


.


.


Sesampainya di rumah sakit, tampak banyak orang dengan keadaan panik, dan juga suara tangisan histeris terdengar juga dari luar ruang jenazah.


"Permisi suster, saya ingin bertemu dengan korban kecelakaan beruntun yang terjadi tadi malam.... " ucap bu Jeni dengan nada cemas dan panik.


"Sebentar bu, atas nama siapa ya bu? " tanya suster tersebut.


"Randi Agus Yudhoyono, umur 19 tahun, ada di mana ya bu? Di ruang berapa ya bu? " tanya bu Jeni dengan cemas.


Suster yang berjaga menghela nafas dan menatap sedih ke arah bu Jeni, dengan berat hati suster tersebut memberitahukan yang sebenarnya.


"Atas nama korban kecelakaan Randi Agus Yudhoyono, laki-laki, berumur 19 tahun. Maaf bu, sekarang anak ibu berada di ruangan jenazah"


Ucapan dari suster membuat bu Jeni tak percaya, pak Yudi berusaha menahan bu Jeni agar ia tidak memberontak.


"Dad, Randi kita dad...! " tangis bu Jeni dengan nada suara berteriak putus asa, pak Yudi yang awalnya menahan tangisnya sekarang ikut menangis dengan anak bungsunya, mereka bertiga saling berpelukan dan menangis karena harus kehilangan Randi.

__ADS_1


Bu Sri tampaknya sedang kewalahan mengurusi Wulan yang pingsan, ia juga ikut menangis, walaupun tidak ada keluarga nya yang mengalami tragedi ini, tetapi terbesit di hatinya merasa sedih dan menangis.


"Gak kebayang jadi mereka, baru bertemu dengan keluarga yang menjadi korban kecelakaan ini kemarin atau hari ini, dan mendengar kabar seperti ini, pastinya perasaan mereka hancur" ucap bu Sri dengan isak tangisan nya.


Beberapa menit menunggu, keluarga Marsel, termasuk Salma, Thomas dan Misella datang ke rumah sakit, mereka kemudian mendatangi Wulan yang sedang duduk bersender di kursi.


"Wulan...! " panggil Salma.


Wulan menatap mertua dan adik iparnya, dengan tangisannya yang kuat membuat Salma dan Misella ikut menangis.


"Nak, bagaimana keadaan Marsel? Apa dia baik baik saja? " tanya Thomas dengan khawatir.


"Wulan belum tau keadaan bang Marsel, sekarang dia sedang dirawat di ruang UGD, belum tau hasil akhirnya" jawab Wulan dengan isak tangisnya.


Salma menenangkan menantunya, dengan mengelus rambut Wulan dan memeluknya, ia kemudian menumpahkan air mata yang ia tahan sebelumnya.


.


.


Menunjukkan pukul 4 pagi, Wulan terbangun dari tidurnya, ia kemudian melihat di sekeliling rumah sakit, sudah banyak orang-orang dan peti jenazah yang di dorong ke ruangan lain.


Wulan duduk menatap ke arah peti peti jenazah itu didorong, ia kemudian menangis, Wulan merasa bersyukur bahwa Marsel masih bisa ditangani walaupun kabarnya suaminya sempat kritis.


"Atas nama keluarga pasien Queretta Marsel? " tanya suster yang berdiri di depan Wulan.


"Iya sus, apakah pasien boleh dijenguk? " tanya Wulan.


"Boleh, silahkan langsung ke ruangan nomor 5 ya, barusan tadi pasien sudah dipindahkan ke ruangan sana" jawab suster tersebut.


"Baik sus, terimakasih"


"Mama, papa, ayo bangun"


Wulan menggoyangkan bahu Salma dan Thomas, tak lama kemudian Salma dan Thomas terbangun dari tidurnya, mereka kemudian melihat Wulan.


"Ada apa, nak? " tanya Thomas.


"Bang Marsel sekarang boleh dijengukin, ayo kita ke sana" ucap Wulan.


Salma dan Thomas beranjak tadi tidurnya, mereka kemudian mengikuti arah Wulan.


Menuju ke ruangan nomor 5, Wulan kemudian berlari ke arah ranjang tempat Marsel di rawat, ia kemudian menangis lagi karena melihat kondisi suaminya yang terbaring lemah diranjang rumah sakit.


"Bang Marsel...! "


Marsel yang terkulai lemas menatap ke arah Wulan, Wulan dengan berlari kemudian memeluk Marsel yang penuh luka lebam di badannya. "


, sakit... " ringis Marsel.


"Bang, maafin Wulan bang, mungkin karena abang banyak pikiran gara-gara Wulan selama ini, abang harus celaka seperti ini... Wulan sangat sangat minta maaf sama abang, Wulan minta maaf... "


Tangisan Wulan membuat Marsel tambah merasa bersalah, belum sempat ia yang minta maaf duluan, malah sekarang ia harus tertimpa musibah seperti ini.


"Sudah, kamu gak salah kok sayang, memang musibah seperti ini sedang menimpa diri abang, abang cuma bisa pasrah saja... " ucap Marsel dengan lemas.


Mendengar ucapan Marsel, bukannya membuat tangisan Wulan terhenti, malah makin menjadi.


"Abang jangan pasrah pasrah banget dong, Wulan gak mau harus jadi bu Jeni, yang kehilangan Randi saat kecelakaan ini terjadi...! " tangis Wulan.

__ADS_1


Dengan tangan yang masih terasa kaku dan nyeri, Marsel mengelus rambut istrinya, Wulan kemudian memegang pelan tangan Marsel dan menciumnya sambil menangis.


"Maksud kamu banyak pikiran, apa kalian sempat ribut lagi? " tanya Salma.


"Ngga kok mah, kami... "


"Gak, mama sudah tau, tanpa Misella dan kamu beritahu masalah kamu sama Wulan, mama sudah tau" ucap Salma.


Marsel dan Wulan diam, Salma menghela nafasnya.


"Nak, mau bagaimanapun kamu berbohong sama mama tentang keadaan kamu, mama sudah tau. Hubungan mama dan kamu itu kuat, mama tau bila kamu ada masalah, tanpa kamu beritahu pun mama sudah tau. Mama tau dari hubungan kamu dan Wulan, kalian seringkali ada masalah, tapi kalian berusaha menyembunyikan nya. Lainkali, ada masalah apapun, beritahu mama sama papa" ucap Salma pada Marsel.


"Iya mah" ucap Marsel.


"Dan juga Wulan, nak, kami sudah tau dengan kondisi kamu"


"Apa? Mama sudah tau kalau Wulan... "


"Tak perlu diucapkan, mama sudah tau nak. Wulan, mama, papa dan Marsel tidak ingin memaksakan kamu nak, dan juga kami memberikan kebebasan untuk kamu memilih sendiri. Kami sayang sama kamu, Wulan. Kami juga masih tetap menerima kamu, kamu adalah bagian keluarga kami sekarang, mama tidak ingin menjadi mertua yang misoginis karena kekurangan yang kamu punya. Kenapa kemarin Wulan menyembunyikan penyakit Wulan pada mama dan Misella?" tanya Salma.


Mendengar ucapan Salma, Wulan kemudian menangis, ia menundukkan kepalanya dan berusaha mengusap air matanya.


"Maafin Wulan, mah... Wulan, Wulan hanya gak mau jika Wulan menceritakan penyakit Wulan ini pada kalian, karena Wulan gak mau kalau Wulan dihempaskan dari keluarga kalian... Hanya kalian yang Wulan punya sekarang, keluarga Wulan gak peduli akan diri Wulan... Jika Wulan memberitahukan penyakit ini dengan kalian, mungkin hidup Wulan akan hancur dan gak punya tujuan lagi... Wulan gak mau, karena Wulan kista, kalian akan membenci Wulan karena Wulan gak bisa memberikan keturunan untuk bang Marsel... Wulan sangat sangat minta maaf... "


Wulan menangis terisak isak, ia menangis karena memberitahukan semuanya pada kedua mertuanya.


Thomas dan Salma menggeleng kepalanya, mereka kemudian mengelus rambut Wulan.


"Nak, manusia gak ada yang sempurna, kami akan sepenuhnya menerima kamu apa adanya. Bagi kami, kami gak peduli masa lalu pasangan anak kami bagaimana, asalkan hubungan kami dan pasangan anak kami baik baik saja. Tak peduli mau kekurangan menantu kami bagaimana, yang penting mereka bisa menyayangi anak anak kami, melayani anak anak kami dengan baik dan bisa berhubungan baik dengan kami sudah cukup bagi kami. Hanya itu saja yang kami harapkan, dan semuanya ada di kamu ini. Jadi, kalian baikan lagi ya, jalani saja rumah tangga kalian dengan baik. Rumah tangga itu ibarat tiang rumah, suami dan istri layaknya pondasi, dan anak adalah furnitur. Pernikahan itu mengikat dua pasangan untuk sehidup semati, anak adalah bonus, jadi, jagalah rumahtangga kalian dengan baik. Jangan ribut ribut lagi ya? Kalau masalah anak, kan Rafael juga anak kalian, anggap saja kalian orangtuanya Rafael juga, mama rasa Raka dan Misella gak keberatan kok kalian jadikan dia sebagai anak kalian juga" nasehat Salma.


"Makasih, makasih, Wulan sangat sayang kalian semua.... " isak tangis Wulan sambil memeluk kedua mertuanya.


"Udah dong nangisnya, nanti diejek Rafael kalau dia sama Misella datang jengukin ayah Marselnya disini" ucap Thomas.


Wulan menganggukan kepalanya, ia kemudian tersenyum dan merasa lega, karena bisa mencurahkan isi hatinya pada suami dan mertuanya.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Jangan lupa tinggalkan jejak 👣👣👣

__ADS_1


__ADS_2