
Note author: maaf jika banyak kekurangan pada cerita, karena author masih pemula 🔰
.
Pagi hari telah tiba, Wulan merasa ada yang menetes di celananya, ya dia bulanan.
"Lan, kenapa? " tanya Marsel yang bangun dari tidur.
"Bang, pake baju! " jawab Wulan.
"Iya, nanti aja, lagi nyaman di balik selimut ini tau, oh iya, kamu kenapa? " tanya Marsel lagi.
"Biasa bang, maaf ya, bakalan gagal lagi karena bulanan" jawab Wulan.
"Ya gak papa lah, namanya berusaha, yang penting udah dapat jatah" ucap Marsel dengan tersenyum.
"Dih, abang ih! " ucap Wulan dengan nada malu.
"Kan, selalu aja kalau diungkit malu malu, padahal paling liar" ucap Marsel.
"Bang! " tegas Wulan dengan wajah memerah.
"Yaudah, kamu lanjut tidur lagi sama abang, baru jam 4 juga, nanti ngantuk" ucap Marsel.
Wulan menganggukan kepalanya, ia kemudian naik lagi ke kasur dan memeluk Marsel di balutan selimut yang hangat.
.
.
Pagi harinya, Marsel sudah bersiap siap, ia menyusul ke dapur dan melihat istrinya sedang memasak sarapan.
"Sayang, lagi masak apa? " tanya Marsel sambil mencium pipi Wulan.
"Masak makanan kesukaan abang, nugget" jawab Wulan sambil mengelus dagu Marsel.
"Tau aja kesukaannya abang" ucap Marsel.
"Ya tau dong bang. Yaudah, abang langsung duduk aja di kursi, nanti Wulan bawain kesana" ucap Wulan.
Wulan kemudian merasakan sakit pada bawah perutnya, seperti nyeri saat bulanan, tetapi ia berusaha menahannya karena semua wanita sudah terbiasa dengan nyeri saat bulanan.
"Ini bang, silahkan dinikmati" ucap Wulan.
"Kamu nyeri ya? " tanya Marsel.
Marsel menyadari Wulan yang sedang merasa nyeri ia jadi bertanya, tetapi Wulan hanya menahannya.
"Sini sebentar, abang ambilin bantal kompres buat ditaruh di perut kamu" ucap Marsel.
"Gak usah bang, udah biasa kok... " ucap Wulan.
"Selagi gak parah kamu harus kompres perut kamu pake bantal kompres. Abang isi dulu bantal kompres nya sama air hangat"
Marsel kemudian mengambil bantal kompres dan mengisinya dengan air hangat dan memberikannya ke perut Wulan.
"Panas bang" keluh Wulan.
"Gak papa, biar nyerinya hilang" ucap Marsel.
Marsel kemudian duduk di kursi nya kembali, ia kemudian melanjutkan makannya dan sesekali memantau keadaan Wulan.
.
.
__ADS_1
Selesai sarapan, Wulan mengantarkan Marsel sampai kedepan pintu, ia kemudian bersalaman dengan Marsel.
"Hati hati dijalan ya bang"
"Iya, kamu kalau masih terasa nyeri langsung telpon abang ya, biar keluhan nyeri kamu gak terlalu parah" ucap Marsel.
"Iya bang, akan Wulan hubungi abang kalau memang udah parah" ucap Wulan.
"Abang pergi ya, jangan capek capek banget pas lagi begini, assalamu'alaikum"
"Waalaikumsalam" balas Wulan.
Setelah perginya Marsel dari rumah, Wulan berbaring disofa dengan bantal kompres yang masih ia taruh di perut.
Sedikit menghilangkan nyerinya, Wulan merasa lega akhirnya nyerinya lega, tetapi nyerinya mulai beranjak ke bagian pinggul dan belakang badannya.
"Kok nyeri bulanan ku sampe separah kayak hari ini ya? Padahal belum sama sekali mengidap sakit nyeri kayak gini? " tanya Wulan pada dirinya sendiri.
Wulan kemudian berinisiatif untuk menelpon Salma, ia perlu saran dari mama mertuanya dalam meredakan nyerinya.
.
.
Di rumah keluarga Thomas, Salma yang sedang duduk menonton televisi bersama Misella terarahkan oleh dering telpon, Salma langsung mengambil hpnya dan mengangkat telponnya.
"Halo, ada apa lan? " tanya Salma.
"Mah, maaf nih Wulan ganggu waktunya. Wulan mau tanya sesuatu, ini privasi" ucap Wulan dengan ringisan kesakitan.
"Loh, suara kamu kenapa, nak? Kamu sakit? " tanya Salma.
"Iya mah, Wulan sakit, bulanan Wulan bulan ini gak normal. Bahkan rasa sekujur tubuh Wulan hampir seluruh nya nyeri banget, perut Wulan juga kerasa kembung" keluh Wulan.
"Mau mama mampir kesana? " tanya Salma.
"Perut kamu udah kamu kompres? "
"Sudah mah, tadi bang Marsel yang ngasih Wulan bantal kompres, bukannya bikin reda tapi masih aja nyeri nya terasa" ucap Wulan.
"Gini aja lan, coba kamu makan telur atau pisang, bagusnya makan semangka biar asupan air dalam tubuh kamu gak berkurang. Itu saran dari mama buat kamu coba, biar rasa nyerinya bisa hilang" saran Salma.
"Oh iya mah, makasih sebelum nya udah kasih saran buat Wulan. Moga aja udah nyoba makanan yang mama saranin sama Wulan, rasa nyerinya bisa hilang" ucap Wulan.
"Iya sama sama nak, kalau beneran parah, hubungi mama lagi ya, biar mama susul kesana"
"Gak usah repot repot mah, makasih, kalau gitu Wulan tutup ya telponnya"
"Iya, dahh, assalamu'alaikum"
"Waalaikumsalam" balas Wulan.
Panggilan berakhir, Wulan kemudian terpikir oleh ucapan Salma untuk makan telur atau pisang.
Mengingat belum membeli telur, Wulan memutuskan untuk meminta buah pisang tetangganya yang sedang berbuah di sebelah rumahnya.
"Bu Jeni.... Assalamu'alaikum" panggil Wulan dari depan rumah tetangganya, kemudian pintu terbuka dan orang yang dipanggil keluar dari dalam rumah.
"Eh Wulan, ada apa lan? " tanya bu Jeni.
"Bu, maaf nih sebelumnya, boleh gak saya minta buah pisang nya yang udah masak itu? " tanya Wulan.
"Boleh kok, daripada gak kemakan sama saya, saya juga rencana nya mau bagi bagi sama tetangga disini. Sebentar ya, saya mau ambil parang dulu buat sekaligus nebang pohon pisangnya"
"Makasih ya bu" ucap Wulan.
__ADS_1
.
.
Beberapa menit kemudian, bu Jeni datang dengan membawa parang dan keranjang, ia kemudian meminta Wulan untuk duduk menunggunya di teras rumahnya, sementara bu Jeni menebang pohon pisangnya untuk mengambil buahnya.
"Bu Jeni, tumben keluar rumah, lagi manen pisang kayaknya nih yeee"
Bu Jeni dipanggil oleh bu Sri dan bu Tuti, bu Jeni yang sedang menebang pohon pisangnya hanya tertawa.
"Iya, kebetulan si Wulan mau minta pisang ini, jadinya sekalian udah ranum juga pisangnya di pohon, makanya saya mau sekaligus tebang aja" ucap bu Jeni.
"Wih keren si Wulan, keliatan kayak lagi ngidam aja sampai mau minta buah pisangnya bu Jeni. Kasih yang banyak, bu, biar akrab" ucap bu Mega.
"Apaan sih jeng Mega? Gak boleh asal asal nebak kayak gitu tau... " ucap bu Tuti.
"Ya namanya iseng doang jeng, biasa aja dong ih... " ucap bu Mega dengan nada merajuk.
Bu Jeni memberikan seikat pisang ranum itu pada Wulan, Wulan merasa senang dan langsung memakan satu pisang tersebut sambil mendengar obrolan ibu ibu tersebut.
"Kita kita gak dikasih nih, bu Jeni? " tanya bu Sri dengan iseng.
"Ambil aja, gitu aja repot toh jeng, mau sekalian bangkai pohonnya aja boleh kalau jeng Sri mau bawa" ucap bu Jeni.
"Ihhh, masa sekalian pohon pohonnya bu Jen. Memang bisa untuk apa? Bikin kripik? " tanya bu Sri.
Semua yang mendengar perdebatan tersebut hanya bisa tertawa, perdebatan antara bu Sri dan bu Jeni membuat yang berada disana tertawa.
Wulan yang sedang menikmati buah pisang itupun ikut tertawa, secara tiba-tiba ia merasakan hal yang lebih menyakitkan terjadi di tubuhnya.
"Auhh.... " ringis Wulan.
"Loh, itu Wulan kenapa? " tanya bu Mega.
"Tolong.... Pinggul Wulan sakit... " ringis Wulan.
"Astaga, Lan, Wulan...! "
Rombongan ibu ibu tersebut berlari ke arah Wulan, mereka kemudian membantu Wulan yang ingin pingsan.
"Bu Jeni, ada anak bujang gak di dalam? Panggil dulu sana" ucap bu Tuti dengan panik.
"Bentar, saya panggilin dulu, Ran...! "
Bu Jeni berlari ke dalam, sedangkan para ibu ibu masih dalam keadaan panik untuk membantu Wulan.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
.
Jangan lupa tinggalkan jejak 👣👣👣