
Note author: maaf jika banyak kekurangan pada cerita, karena author masih pemula 🔰
.
Marsel merasa geram, ia mengetahui bahwa bibinya Wulan, Sania, adalah dalang dari pemerasan uang belanja milik Wulan.
"Kurang ajar, kalau begitu cepat bekukan nomor rekening itu! " perintah Arinska pada Rudy.
"Baik bu, akan kami pro.... "
"Secepatnya! Gak ada pake proses proses! " tegas Arinska, akhirnya Rudy menganggukan kepalanya.
"Kak, secepatnya atau nanti malam kita labrak tuh rumah si Sania itu! Gak tahan rasanya, benci banget sama orang yang suka meras sama ngambil hak orang! Dikira cari uang gampang apa?! " kesal Arinska.
'Ternyata Arinska masih menilai uang dan barang itu berharga ya, lihat saja dia sampai bilang susahnya cari uang' ucap Marsel dalam hati.
"Gimana kak? Setuju kan?! " tanya Arinska.
"Iya iska, kakak juga bakalan cepat bertindak, gak bisa didiemin kayak gini terus, yang ada malah kesenangan keluarga nya Wulan" jawab Marsel.
"Kalau begitu, kami bakalan ikut sama kamu, Sel, biar kami ikut kasih dia pelajaran" ucap Enrico.
"Ya, baiklah, tetapi jangan main kekerasan terhadap mereka, bisa bahaya jika kita sempat nyakitin mereka, yang ada malah kita yang kena denda" ucap Marsel.
"Masalah itu aman, Sel. Kita gak usah main otot, tapi kita main hukum" ucap Enrico.
"Yasudahlah, kak Marsel, kakak lagi gak dicari kan sama Wulan? Soalnya kita langsung proses hukum aja, gak bisa harus tunggu tungguan, ada waktu dia buat kabur nanti" geram Arinska.
"Yasudah, ayo" ajak Marsel.
"Mih, titip aja Ardian sama suster nya, gak baik bawa dia ke permasalahan keluarga" ucap Enrico.
"Tapi mami bakalan rindu Ardian, pih. Mami bawa aja ya? " tanya Arinska.
"Kali ini gak boleh, papi gak kasih izin. Hani! Suster Hani! "
Arinska cemberut, ia kemudian memberikan Ardiansyah pada suster anaknya, sementara ia mengikuti Marsel dan Enrico.
.
.
Di kediaman Marsel, Wulan tampak sedang dihubungi oleh bibinya, tampak wajah kebingungan hingga rasa cemas menyelimuti dirinya saat mengangkat telpon bibinya.
'Kenapa rekening ku beku? Kamu bekuin ya?! ' teriak Sania dari telpon.
"Wulan gak tau menau, bibi, soalnya baru saja Wulan transfer uang ke bibi dan Wulan dapat kabar begini dari bibi" ucap Wulan.
'Alasan! Awas saja kamu ya, aku gak segan buat ngasih tau sama besan kamu, kalau kamu punya penyakit! ' ancam Sania.
Panggilan terputus, Wulan melempar hpnya ke dinding hingga hp miliknya terburai, dengan wajah cemas ia mulai membanting barang barang lainnya ke arah mana pun.
"Gak! Gak mungkin! " teriak Wulan.
Wulan berteriak dan menangis, dengan dirinya yang tak terkendali membuatnya menjadi kacau.
"Bang Marsel....! " teriak Wulan.
.
.
Dikediaman keluarga Sania, terlihat Sania yang mulai mengetikkan pesan dengan Wulan.
Sania hanya menggertak, karena ia saja tidak mempunyai nomor telpon keluarga besan keponakannya.
Tiba-tiba pintu rumah Sania diketok, ia kemudian berdiri dan langsung membuka pintu rumah nya.
Sania terdorong masuk, ternyata Arinska, Enrico dan Marsel telah sampai bersama asisten dan kepolisian.
Plak!
Pipi Sania ditampar oleh Arinska, dengan tatapan tajam Arinska menatap benci dengan Sania.
"Kemana tas tas milik Wulandari Ningsih? " tanya Arinska.
__ADS_1
"Apa? Apa maksud kamu? "
Arinska merasa kesal, rasanya ia ingin memukul Sania, tetapi Enrico menahan istrinya itu untuk melakukan kekerasan.
"Geledah saja rumahnya, bawa dia ke kantor polisi" perintah Enrico, beberapa aparat kepolisian mulai menggeledah rumah Sania.
Marsel dan Amaris mulai mencari keberadaan tas milik Wulan.
Setelah beberapa menit, polisi menemukan tas tas yang dimaksud oleh Arinska, beserta sekantong obat obata yang tak asing, yaitu narkotik.
"Kami selain menemukan tas, kami juga menemukan obat obatan, ayo ibu, ikut kami"
Kepolisian kemudian memborgol Sania, sebelumnya Caca dan Rena pulang dengan menenteng tas branded, yang tak lain itu punya Wulan juga.
"Anak anak, bantu mama! Mama ditahan karena tas dan obat! Siapa pemilik obat obatan itu, hah?! " teriak Sania.
Raut wajah Rena dan Caca terlihat panik dan ketakutan, obat yang dimaksud adalah obat milik mereka, yang akhirnya ketahuan langsung oleh aparat kepolisian.
Marsel langsung menyuruh polisi untuk ikut memborgol dan mengambil tas yang dipegang oleh Rena, ia menatap sinis pada ketiga wanita yang ditangkap itu.
"Heh, pantas saja istriku tak ingin lagi bertemu dengan kalian bertiga, karena kalian bertiga ternyata busuk! Beraninya kalian merampas hak yang seharusnya milik istri saya! "
"Tetapi itu Wulan... "
"Wulan yang kasih? Mustahil! Tanpa izin ku, Wulan tidak akan memberikan haknya pada orang lain! Kalian kira saya bodoh? Tidak, saya akhirnya tau kebusukan kalian sekarang! " tegas Marsel, ia kemudian menunjuk ke arah Sania.
"Ternyata tidak semua keluarga sendiri itu benar-benar baik, contohnya anda dan anak anak anda. Sekarang, berhentilah berhubungan dengan istri saya, karena saya dan istri saya tidak butuh memiliki keluarga seperti kalian. Kalian bukan keluarga bagi Wulan, tapi pengemis! "
Ucapan tersebut membuat Sania, Caca dan Rena terkejut, Marsel kemudian menyuruh polisi untuk langsung membawanya ke dalam mobil, sedangkan ia mengikuti Enrico dan Arinska.
"Kak, sekarang kita sudah menangkap mereka, kakak siap mengurusi ini sampai besok di kantor polisi? " tanya Arinska sambil mengelus punggung Marsel.
"Iya iska, kakak siap untuk langsung ngurus ini secepatnya, kakak gak mau mereka seenaknya lagi bebas tapi gak kapok" jawab Marsel.
.
.
Menuju malam, Wulan merasa kesal ketika mengetahui bahwa Marsel belum pulang.
Muncul pemikiran nya yang macam macam, mulai dari Marsel yang pulang ke rumah orangtuanya dan Marsel yang sengaja benar-benar selingkuh di luar sana.
"Terserah lah! " kesal Wulan, ia kemudian memaksakan dirinya untuk tidur.
Di kantor kepolisian, Marsel, Enrico dan Arinska berhasil memenjarakan bibi dan sepupu Wulan karena bukti yang kuat serta bukti bukti lainnya di temukan oleh kepolisian.
"Kak Marsel, masalah bukti bukti yang ditemukan oleh polisi kemarin sudah diamankan, bisa diambil besok, sekarang kita urus sebagian prosedur yang telah ditunjuk oleh aparat tadi" jelas Arinska.
Tidak mendengar jawaban dari Marsel, Arinska kemudian melihat Marsel yang tertidur bersender di dinding.
"Yah, orangnya tidur" ucap Arinska.
"Ya sudah mih, biarin Marsel tidur, lagian juga mami harus pulang sekarang kan? Ardiansyah udah nunggu mami di rumah, katanya kan mami rindu sama Ardian" ucap Enrico.
"Papi gimana? "
"Gak papa, papi bakalan nginap disini, kasihan kalau Marsel ditinggal sendirian di sini, sementara kita semua pulang" ucap Enrico.
"Yasudah ya pih, mama pulang dulu bersama Amaris, sampai jumpa besok, pih"
Arinska kemudian pulang bersama asistennya, sementara Enrico menemani Marsel yang sedang tertidur dan memberikan Marsel dengan balutan selimut yang telah diberikan oleh Amaris sebelumnya.
"Tidurlah yang nyenyak kawan, keadilan akan menentukan jawaban perjuanganmu besok"
.
.
Keesokan harinya, proses hukum berjalan lancar, dan akhirnya Sania beserta Rena dan Caca dijatuhi hukuman 10 tahun penjara atas penemuan obat obatan terlarang serta mengambil hak milik orang lain tanpa izin.
"Akhirnya selesai juga ya pih, asli, mami kesel banget kemarin" ucap Arinska sambil menggendong Ardiansyah.
"Iya mih"
"Iska, Rico" panggil Marsel, Arinska dan Enrico kemudian menatap ke arah Marsel, kemudian Marsel memeluk kedua pasangan tersebut secara bersamaan.
__ADS_1
"Makasih sebelumnya untuk kalian, mungkin ini gak akan bisa kuganti dengan apapun, tetapi aku tetap berterimakasih, sangat sangat berterimakasih. Tanpa kalian, mungkin Wulan akan tetap mereka peras hingga rumah kami bisa mereka ambil" ucap Marsel.
Arinska dan Enrico memeluk Marsel, mereka bisa mengetahui arti terimakasih dari Marsel.
"Iya sama sama kak, kami ikhlas membantu kakak. Kakak juga adalah kakaknya iska, selama perjalanan hidup Arinska, selalu ada kakak yang berada bersama iska dulu sampai sekarang iska udah nikah dan punya anak. Jangan sungkan untuk minta bantuan dari kami" ucap Arinska.
"Kalau aku belum seikhlas itu Sel, sebelum Ardiansyah dapat jodoh, aku pengennya Ardiansyah bisa jadi menantu kamu" ucap Enrico.
Arinska mendengar ucapan suaminya, ia kemudian menyenggol Enrico, dengan wajah malu memeluk Ardiansyah.
"Ih papih, Ardian masih kecil, umurnya aja masih setahun begini kok udah main jodoh jodohan? "
"Biarin mih, yang penting Ardian jodohnya udah kita pilih, biar Ardian kita gak sibuk cari jodoh nya. Secara kita tau, mungkin calon anaknya Marsel bibit unggul yang udah kita ketahui" ucap Enrico.
"Yasudah, kalau begitu aku pamit pulang ya, mau lihat keadaan Wulan sekarang gimana" pamit Marsel.
"Yasudah, hati hati di jalan" ucap Arinska dan Enrico bersamaan.
Marsel kemudian pulang, ia juga menghubungi Wulan, tetapi tidak di jawab.
"Habislah aku di rumah nanti"
Marsel mempercepat laju mobilnya, seketika mobilnya mati.
"Waduh, kenapa ini mobil? "
Berusaha menghidupkan mobil, tetapi mobilnya tidak merespon, Marsel keluar dari mobilnya dan mendorongnya hingga ke pinggir jalan, Marsel tak mau repot hingga ia menelpon mobil derek.
"Ojek mas? " tanya ojek yang ada di jalan, Marsel menganggukan kepalanya dan segera menaiki ojek tersebut.
.
.
Sesampainya di depan rumah, Marsel membayar ojek tersebut dan turun, ia kemudian langsung memasuki rumahnya.
Marsel membuka pintu rumahnya, belum sempat mengucapkan salam, Wulan datang dan menampar wajah Marsel.
"Abang kemana lagi hah?! Gak ingat rumah saking serunya dengan wanita diluar sana?! " bentak Wulan.
Merasa jenuh dengan sikap Wulan, Marsel meninju dinding rumahnya hingga foto bingkai yang berada di dinding terjatuh ke bawah, membuat Wulan terkejut.
"Abang gak tau lagi apa yang ada dipikiran Wulan saat ini tentang abang. Wulan sering banget mikir yang macem-macem sama abang, seperti Wulan ngga bisa kasih kepercayaan sama abang" ucap Marsel.
"Karena Wulan tau, abang berbohong kan? " tanya Wulan.
"Abang berbohong? Harusnya kamu yang jujur! Wulan, harusnya kamu sadar sama sifat kamu selama ini sama abang! Wulan saja pandai berbohong sekarang, Wulan juga bisa banget nyembunyiin rahasia Wulan tentang tas yang kemarin diambil sama keluarga Wulan dan Wulan jawab Wulan gak tau dimana keberadaannya! Wulan juga gak seperti dulu yang selalu melayani lahir batinnya abang dengan baik seperti sebelumnya, sebelum Wulan didiagnosa kista sama dokter! "
Marsel berteriak sambil menitikkan air matanya, Wulan terdiam dan menatap Marsel.
"Lan, kalau kamu berpikir kamu saja yang pengen punya anak, abang juga pengen, Lan. Abang juga gak pernah maksain Wulan buat beranak karena kondisi Wulan sama kesiapan kita belum sepenuhnya terwujud dan matang, Lan. Seharusnya, Wulan gak harus memaksakan diri Wulan dan sengaja menghindari abang karena kamu yang terlalu overthinking sama abang. Kamu juga menjatuhkan talak buat kamu sendiri tanpa ucapan itu keluar dari mulut nya abang, kamu hebat dalam menyiksa dirimu sendiri Lan demi mendapatkan seorang anak"
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Jangan lupa tinggalkan jejak 👣👣👣
__ADS_1