Garis Merah

Garis Merah
22: Bertanggungjawab


__ADS_3

Note author: maaf jika banyak kekurangan pada cerita, karena author masih pemula 🔰


.


Mendengar teriakan tersebut, Marsel kemudian berlari ke arah kamar mandi.


"Ada apa, Lan?!" tanya Marsel dengan cemas.


"Heh, ada apa abang bilang? "


Wulan yang melihat Marsel di depan pintu kamar mandi segera melemparkan kemeja milik Marsel, Marsel kemudian mengambil nya dan melihat bekas lipstik yang ada di kemejanya.


"Lan... "


"Kenapa? Abang mau jelasin apa lagi, hah?! " bentak Wulan.


"Lan, abang bisa jelasin, ini bekas lipstik nempel karena patner kerja abang gak sengaja terdorong sampai nabrak belakang baju abang" jelas Marsel.


"Gak, abang cuma alasan aja, bilang aja abang selingkuh kan? " tuduh Wulan.


Tak terima mendengar tuduhan tersebut, Marsel membantahnya.


"Abang bersumpah, abang gak bakalan mau selingkuh, Lan...! " bantah Marsel.


"Bohong! Selama ini abang sering pulang malam dengan alasan lembur itu cuma alasan kan?! " tegas Wulan.


"Ngga Wulan! Abang gak beralasan! Abang serius, abang lembur untuk kerja, bukan untuk bermain wanita diluar! " bantah Marsel.


Wulan menggelengkan kepalanya dan menutup telinganya, seakan ia tidak ingin mendengarkan penjelasan dari Marsel.


"Cukup! Aku gak mau dengerin ucapan abang! Aku benci sama suami yang suka berbohong! " bentak Wulan.


"Astaghfirullah Lan, masa abang sebagai suamimu sendiri di bilang bohong, abang serius sayang" ucap Marsel dengan lembut.


"Udahlah! Sekarang abang pergilah bekerja! Abang mau terlambat karena kita ribut begini?! " tegas Wulan.


Marsel kali ini mengalah, ia kemudian memutuskan untuk pergi ke kantor dengan mood paginya yang sudah berantakan akibat salah paham yang terjadi.


.


.


Di perjalanan, Marsel menatap fokus ke arah jalanan sambil mengendarai mobilnya, tampak sekali ia memikirkan sesuatu.


"Sempat sempat nya kamu Lan nuduh aku berselingkuh, padahal aku tidak sama sekali berselingkuh! "


Tinjuan Marsel mengarah ke klakson mobilnya, suara klakson spontan tersebut membuat pengendara lain terkejut.


Sesampainya di kantor, Marsel membawa barang bawaan nya ke arah meja tempat bekerja nya bersama patner kerjanya, terlihat hanya dia, Evi dan Kirana yang baru datang, tiga orang lagi belum datang sama sekali.


"Selamat pagi, Marsel" sapa Evi.


Marsel hanya menatap Evi, ia kemudian fokus dengan menyusun barang barangnya, sedangkan Evi hanya terdiam.


'Marsel kenapa ya? Tumben dia gak balik nyapa' ucap Evi dalam hati.


Setelah beberapa menit berlalu, akhirnya Dimas dan Kirana datang, dan disusul oleh Putri, mereka duduk dan menghela nafasnya yang ngos-ngosan akibat berlari.


"Pagi semua, haduh syukur gak terlambat... " ucap Putri ngos-ngosan.


"Pagi Put... "


Semua menyambut dan membalas sambutan pagi dari Putri, terkecuali Marsel, tampaknya sedang sibuk mengerjakan data pekerjaan yang sudah ada di atas mejanya.


"Pagi Sel... " salam Putri.


Marsel melihat ke arah Putri, ia tersenyum dan kembali lagi dengan wajah datarnya menatap komputer.


Merasa ada yang aneh hari ini, apalagi dengan sifat Marsel yang tak seperti biasa, membuat kelompoknya menjadi khawatir dengan Marsel.


Beberapa jam berlalu, tampak semua karyawan sibuk mengerjakan data pekerjaan yang telah di bagikan.


"Sel, tolong ini sebagian ya" ucap Dimas.


"Ya, taruh aja di sana, nanti kukerjakan"


Dimas kembali ke kursinya dan melanjutkan pekerjaannya, terlihat Marsel sedang membutuhkan sesuatu di mejanya, ia mencari hingga tak sengaja menyenggol pot kecil dan terjatuh.


Di kala moodnya kacau, Marsel kemudian menggebrak mejanya dan pergi, patner kerjanya yang ada di sebelahnya terkejut ketika Marsel menggebrak meja.

__ADS_1


"Marsel kenapa ya? Perasaan dari tadi vibes dari dirinya itu gak se cheers seperti biasa gitu, apalagi pas aku nyapa dia, dianya malah kayak gak bales dan ada masalah gitu" tanya Evi.


"Lah iya sih, biasanya Marsel tuh nyapa duluan sama kita, hari ini dia beda banget, apa ada masalah ya? " tanya Kirana.


Putri teringat akan sesuatu, seperti nya ia merasa Marsel bermasalah dengan kejadian kemarin yang membuat Marsel terlihat tidak bersemangat dan murung hingga emosi seperti tadi.


'Apa istrinya ngelihatin bajunya ya? Aduh, mungkin Marsel sempat ribut sama istrinya. Aduh, ini salahku nih... ' ucap Putri dalam hati.


Putri kemudian berpikir dengan bimbang, ia kemudian berdiri dari kursi kerjanya, berencana untuk menyusul Marsel.


"Mau kemana, Put? " tanya Yunita.


"Aku coba susul Marsel sebentar ya, mau tau dia kenapa" jawab Putri, ia kemudian berjalan meninggalkan meja kerja untuk menyusul Marsel.


.


.


Di area merokok, Putri melihat sosok yang ia kenal dari pintu kaca area merokok, itu adalah Marsel yang belum pernah ia lihat sedang berada di area merokok.


"Marsel... " panggil Putri.


Marsel yang sedang menghisap rokoknya menatap ke arah Putri, ia kemudian mematikan putung rokoknya dan memastikan rokoknya telah mati kemudian dikantongi.


Marsel keluar dari area merokok, ia kemudian menghampiri Putri yang berada di luar ruangan merokok.


"Sel, kamu hari ini kenapa? Kok beda banget sih kamu" tanya Putri.


"Gak ada yang berbeda, sama aja, aku hanya karyawan biasa dan aku termasuk dalam kelompok kamu" jawab Marsel dengan santai.


Putri belum yakin, ia kemudian mengajak Marsel ke luar ruangan, tepatnya di balkon kantor.


Sesampainya di balkon, Marsel dan Putri hanya diam, Putri berdeham dan memulai percakapan.


"Sel, kamu kenapa hari ini? Kamu ada masalah? " tanya Putri.


Marsel hanya menggelengkan kepalanya, itu tidak membuat Putri menyerah untuk mengetahui alasannya.


"Istrimu melihat bekas lipstik yang ada di kemeja kamu kemarin, kan? " tanya Putri, Marsel menghela nafasnya dan melihat kearah Putri.


"Ya, istriku menemukan bekas lipstik kamu kemarin di bajuku" jawab Marsel.


"Gak, dia malah menuduhku berselingkuh denganmu" potong Marsel.


Putri berteriak gelisah, ia mondar-mandir tak karuan karena mendengar jawaban dari Marsel.


"Sel, sesuai kesepakatan aku dan David tadi malam, aku bakalan bantu kamu ngejelasin kesalahpahaman itu sama istrimu! " ucap Putri dengan tegas.


"Nggak usah Put, istriku... "


"Gak! Aku gak mau ya kalau sampai aku dicap sebagai pelakor sama istrimu karena bekas lipstik, Sel, aku masih punya suami dan anak anak, gak mungkin aku mau kesalahpahaman ini jadi karma buat anakku dan diriku! Pokoknya titik, aku bakalan bantu kamu jelasin semua itu sama istrimu, Sel! " ucap Putri dengan tegas.


Marsel melihat ketegasan Putri kemudian tersenyum, karena Putri mau membantu nya untuk menjelaskan permasalahan yang terjadi padanya dan juga Wulan.


"Makasih Put, kamu memang wanita yang bertanggungjawab" puji Marsel, Putri merasa salting ketika dipuji.


"Biasa saja Sel, ini murni kesalahpahaman" jawab Putri.


"Ya sudah, mari kita kembali ke meja kita, kelompok kita pasti menunggu kita" ajak Marsel.


"Ayo"


Marsel dan Putri berjalan menuju ke dalam kantor, mereka memutuskan untuk kembali ke meja kerja mereka dan melanjutkan pekerjaan mereka dengan kelompoknya.


.


.


Menunjukkan pukul 10 malam, terlihat Putri sedang menghubungi suaminya untuk pamit mampir ke rumah Marsel, sedangkan Marsel menunggu panggilan tersebut selesai baru ia mengajak Putri naik ke mobilnya.


"Gimana Put? Si David kasih izin? " tanya Marsel.


"Iya, ayo langsung saja ke rumah kamu, Sel" jawab Putri sambil memasukkan hpnya ke dalam tas.


"Maaf ya Put malam malam begini aku harus ngerepotin kamu untuk bantu aku ngejelasin kesalahpahaman ini sama istriku, secara biasanya jam segini kamu gak sabar pulang ke rumah buat ketemu sama David dan anak anakmu dirumah" ucap Marsel.


"Gak papa Sel, yang penting masalah ini selesai. Kalau gak cepat di jelasin lebih detail, sampai sekarang aku takutnya kamu sama istrimu gak akur dan ya ribut gitu" jelas Putri, Marsel kemudian menganggukkan kepalanya dan segera mengendarai mobilnya.


"Iya, nanti Wulan transferin kalau bang Marsel udah gajian... "

__ADS_1


Wulan tampak menelpon seseorang, seperti meminta transferan dari uang nya.


Panggilan berakhir, Wulan menghela nafas kasar dan duduk bersender di kursi.


Suara mobil terdengar dari luar rumah, Wulan kemudian beranjak dari sofa dan berjalan ke arah pintu rumah, ia membuka pintu rumah dan menunggu suaminya keluar dari mobil.


Dari dalam mobil, Marsel dan Putri keluar, Wulan terkejut ketika melihat suaminya membawa wanita lain.


"A... Abang?! "


"Ngga, bukan Lan, ini teman abang" jelas Marsel.


"Saya teman kerjanya Marsel" sapa Putri.


Wulan menatap Marsel dan Putri dengan tatapan tidak senang, ia kemudian mengajak masuk Putri ke dalam, disusul oleh Marsel.


"Duduk dulu, Put" ucap Marsel.


Putri kemudian duduk, Marsel berjalan ke dapur untuk mengambil minum.


Wulan duduk menatap Putri, Putri kemudian memutuskan untuk mengenalkan diri nya terlebih dahulu.


"Halo mbak, perkenalkan saya... "


"Aku gak butuh perkenalan kamu, kenapa kamu datang malam malam begini sama suami ku? " ucap Wulan dengan nada tak senang.


Putri terdiam, baginya Wulan tidak bisa menerimanya, buktinya saja memotong perkenalannya dengan nada tidak senang.


"Silahkan diminum, Put"


"Makasih" ucap Putri.


"Bang, apa maksud abang bawa bawa wanita malam malam begini ke rumah? Abang sengaja mau nunjukin perselingkuhan abang sama dia?! " tanya Wulan dengan tegas.


Putri terkejut mendengar ucapan Wulan, begitupun dengan Marsel.


"Lan, abang sudah bilang, ini teman kerja abang, dia ingin menjelaskan bekas lipstik yang kamu temukan tadi pagi, Lan" bantah Marsel.


"Apa? "


"Maaf, benar, saya ingin menjelaskan kesalahpahaman yang terjadi, karena saya yakin kalau mbak belum sepenuhnya yakin terhadap penjelasan Marsel. Jadi, saya datang kesini tujuan saya ingin menjelaskan kesalahpahaman itu sama mbak" ucap Putri.


"Apa lagi yang mau kamu jelaskan sama aku? " tanya Wulan.


"Saya sebagai Putri, datangnya kesini karena saya ingin menjelaskan permasalahan ini. Jadi, kemarin saya dan Marsel, suaminya mbak, berencana untuk pergi ke ruang kerja manager kami. Kami ditugaskan dengan kelompok kami untuk menyerahkan berkas kami kepada manager kami. Secara tidak sengaja, dari belakang saya ada anak magang yang datang terburu buru dan menabrak saya dari belakang. Ketika kami berdiri, dengan tidak sadar bibir saya yang sedang menggunakan lipstik tebal terkena baju kemeja milik Marsel" jelas Putri.


"Saya sama Marsel gak ngapa ngapain, kamu sebagai istrinya merasa tidak yakin suamimu si Marsel ini kalau memang saya yang tidak sengaja meninggalkan bekas lipstik di belakang bajunya karena saya ditabrak oleh karyawan magang dari belakang" sambung Putri.


"Setidaknya tolong hargai ucapan suami, saya juga bersuami, sekesal apapun saya dengan suami saya karena dia sering pulang malam, saya tidak pernah menuduhnya berselingkuh di luar. Karena saya yakin, hati saya terpaut sama dia, sedangkan hatinya terpaut sama dia. Mungkin begitulah Marsel memperlakukan mbak. Jadi, jangan tuduh saya berselingkuh dengan suaminya mbak, mau bagaimanapun, saya masih ingat rumah, suami dan anak anak saya"


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


Jangan lupa tinggalkan jejak 👣👣👣


__ADS_2