
Tak ada lagi kilat di langit dunia. Bisa jadi aku yang tak lagi memperhatikan hal apa pun termasuk langit lewat jendela. Selain benda bercahaya itu, aku tak lagi perduli. Aku bersumpah bahwa rasa takutku telah sirna seluruhnya. Sekarang justru ingin tahu apa yang terjadi pada benda itu setelah ini.
Apakah dengan bercahayanya batu akik itu dengan sangat terang adalah tanda bahwa benda ini menerima salam perkenalanku. Aku menertawakan diri. Entahlah. Tak perlu terlalu banyak menghayal lagi. Biar kulihat saja kenyataannya. Bisikku dalam hati.
Tanganku menyusuri salah satu benda bercahaya itu dengan jari telunjuk. Dari ujung kuku, hingga batas telapak tanganku berwarna merah. Saat kucoba menyentuh dua batu akik lain, mereka juga mengeluarkan cahaya. Hanya saat disentuh. Tidak seperti yang paling besar. Tunggu, apa generasi ketiga tetuaku sudah mengenah sensor sentuhan?
Cahaya merah itu padam ketika jariku menjauh, membuatku mengernyit. Kemudian menyala lagi saat disentuh. Inikah pertanda? Aku juga tidak tahu. Juga tidak mau menerka terlalu berlebihan. Mungkin saja ini fosfor atau apa. Atau kemungkinan sensor sentuhan tadi. Semester ini aku mempelajari sensor cahaya dan sensor suhu. Jadi dugaan tersebesarnya memang ke arah sensor.
Adalah hal yang sangat mungkin jika Eyang mengarang cerita menakutkan hanya agar kedua cucu buyut tertua-nya menjadi anak baik dan menghargai sejarah budaya negeri ini.
Kuingat lagi wajah Eyang saat itu. Saat bercerita , dia sama sekali tak terlihat berbohong. Seperti sedang menuturkan sebuah kisah nyata. Keadaan yang tak sedikitpun menyimpang. Pandainya orang dewasa berakting!
Kugelengkan kepalaku dan kembali memusatkan perhatian pada benda pusaka itu. Tanganku mengangkatnya dengan hati-hati. Salah satu ibu jari menekan satu akik merah ada di permukaan. Seperempat detik kemudian, hal mustahil kembali terjadi.
Kurang dari setengah bagian benda itu terangkat beberapa milimeter. Seperti ada yang mengoyak jantungku dalam satu detik. Setelahnya, aku kembali seperti biasa. Aku berhasil mengendalikan diri untuk tidak serta merta melemparkan benda itu keluar jendela. Justru kemudian aku mengankat bagian yang terangkat itu. Terlepas sudah bagian itu. Benar-benar seperti toples. Ada badan, juga ada penutupnya.
Kuletakkan tutup itu dalam keadaan tengkurap di meja, kemudian mengamati setiap titiknya. Dari beberapa sudut dan jarak yang bervariasi. Tak ada perbedaan. Hanya sebuah toples kosong yang bisa diisi beberapa butir permen kedelai.
Dengan sedikit kecewa, kuangkat benda itu. Tanganku terentang lurus dan kutanggalkan tengkukku di sandaran kursi. Kupandangi rongga kosong itu. Artinya sekarang aku memandang dengan jarak sehasta.
Sedikit demi sedikit kuturunkan benda itu berharap ada perubahan dari pemandangan yang kupunya sekarang, kosong dan hitam. Semakin dekat, lingkaran hitam di dalam wadah itu berubah menjadi terang. Semakin dekat, semakin jelaslah penglihatanku.
Gerombolan burung pipit tiba-tiba melintas. Hanya seperti kumpulan titik hitam dan segera enyah dari pandanganku. Diganti dengan burung elang yang berputar lama di cakrawala. Sesekali dia masuk ke awan putih yang terlihat empuk. Kemudian terlihat lagi setelah menghilang beberapa detik lamanya.
Kutempelkan mulut wadah itu ke mataku, akhirnya. Semakin jelaslah penglihatanku. Kawasan udara yang terlihat alami, sejuk dan menenangkan. Aku bisa merasakan nyamanannya burung pipit terbang dan menghirup udara. Juga seperti elang yang tak merasa panas meski terbang meninggi seolah ingin menyentuh matahari. Hanya kengatan tanpa polusi.
Kujauhkan lagi benda itu, tak kuasa menahan senyum di bibir. Siapa yang menciptakan ini? Bagaimana dia bisa memasukkan kehidupan dalam wadah sekecil itu?
Rasa ingin tahuku semakin membuncah. Kupindahkan benda itu dari tangan kanan ke kangan kiri. Saat kutempelkan ke mata sebelah kanan, benda itu memberi gambaran langit biru nan cerah. Dilengkapi arak-arakan awan yang sama sekali tak mengurangi kecerahannya. Putih bersih di atas biru muda. Justru indah. Ketegasan warna hitam dari elang dan kawanan burung pipit juga tak sama sekali mengganggu. Yang terlihat hanya keserasian . Harmoni.
Kira-kira apa yang akan terlihat jika ditempelkan ke mata kiri? Apakah akan sebaliknya? Alam yang rusak dan tak menyenangkan. Terus saja kudekatkan benda itu ke jendela hatiku yang lain. Perlahan-lahan terlihat apa yang ada di dalamnya. Samar, tampak warna dasar dari pemandangan itu, hijau.
Semakin dekat jarak benda itu dengan mata, semakin tegas warnanya. Satu senti dari alisku, terlihat jelas kanopi sebuah hutan. Kumpuan berjuta pohon yang terlihat seperti zabarjad. Itulah Zamrut Khatulistiwa. Mulutku bergumam-gumam tak jelas.
Setelah kutempelkan benda itu ke mataku, aku melihat tanahnya. Tertutup oleh daun tua yang telah jatuh. Udaranya sejuk, sangat sejuk mendekati lembab. Sinar matahari hanya bisa menebus lewat celah kecil dedaunan saja. Cahaya bintah terdekat dengan bumi itu kemudian membentuk lingkaran kecil atau pola tak tentu di tanah yang gembur—karena tumpukan daun yang kembali menyatu dengan tanah.
Di sana tidak ada daun yang terbakar sama sekali. Menciptakan persediaan hara yang melimpah bagi kelangsungan hidup berjuta pohon yang memancangkan akar di tanah itu.
Aku tahu bagaimana berjalan dengan kaki teanjang di atas tanah basah tertutup daun. Aku tahu bagaimana udara sejuk itu menusuk hidung. Terlalu dingin untuk dikatakan sejuk. Semua yang ada di dalam sana terasa seperti dekat, dan pernah kusentuh. Sepertinya sangat akrab.
Kuangkat lagi benda itu. Kini bukanlah takut yang kurasa. Bahagia karena telah mendapat anugerah yang belum tentu di dapat orang lain. Aku yakin, tempat dan pemandangan yang kulihat tadi tidak ada di dunia nyata. Jika benar pernah ada, maka bukan pada abad ini. Itu beratus-ratus tahun lalu atau bahkan mungkin beberapa ratus tahun yang akan datang.
Meski masih bingung dengan apa yang terjadi sebenarnya, aku
tersenyum saja. Aku senang karena memiliki mainan yang menakjubkan.
Tarian luwes di tanganku mengambil bagian penting dari benda itu. Henda kusatukan lagi. Tapi aku malah tertarik untuk mengamatinya. Tidak kulakukan yang sama dengan bagian yang lain. Langsung saja kutempelkan bagian itu ke mata. Seperti menggunakan teropong.
Mata kanan ku bisa melihat bintang-bintang. Gemerlap dan damai. Tanganku gatal, ingin segera memindahkannya ke mata kiri. Mungkin hatiku lebih ingin mengamati hal lain selain langit malam yang cerah. Mungkin juga mataku lebih menginginkan keindahan yang berbeda.
Laut biru dengan sejuta keindahannya menyapaku di sana. Mata kiriku menajam, ingin lebih fokus. Beberapa ekor fauna laut melompat atraktif. Sungguh luar biasa!
Mari bereksperimen. Apa yang akan terjadi jika kutempelkan tutup di bagian atas mata kanan dan badannya di sebelah kiri. Apakah akan terjadi hal lain lagi? Atau hanya perpaduan antara keduanya?
“Anna.” Teriakan ibuku sampai di telinga.
Kubereskan benda itu, meletakannya serapi mungkin di posisi semula.
“Anna.” Pintu kamarku terbuka.
Aku menoleh tersenyum.
“Kenapa kau tak menyahut?”
“Aku tak yakin bahwa itu kau. Aku ingat perkataanmu, di sini aku lebih baik tak lekas menyahut panggilan jika hanya sekali. Kau bilang itu setan.”
“Itu Cuma kata orang. Aku juga tidak tahu kebenarannya.”
“Kau baru pulang?”
“Ya. Aku buatkan mendoan untukmu?”
“Bunda, ini sudah malam.”
“Tak akan menambah berat badan jika hanya sekali dalam sebulan. Sekali-kali jangan menyiksa diri.”
“Bukan masalah gendut atau tidak. Aku tak perduli soal itu. Lebih kepada rasa yang akan timbul di perut selama tidur, Bunda. Rasanya aneh, penuh sesak. Itu mengganggu, Bunda.” Aku menggerakkan kaki mengikuti langkahnya.
“Meski hanya dua potong?” Bujuknya.
“Baiklah. Apa kau punya cabe rawit hijau? Aku butuh
lalapan.”
“Tentu, Sayang. Stok cabe selalu banyak saat kau di rumah.” Senyumnya merekah menentramkan.
__ADS_1
Matanya berbinar-binar setelah selesai memberikan jawabannya. Kutinggalkan kursi tanpa lengan dan meja kecil dengan memastika bahwa benda itu masih di sana. Aku tahu sebenarnya ibuku hanya ingin berkumpul bersama anak dan suaminya. Makanan dan lainnya itu hanya alasan. aku tak habis pikir kenapa mereka tetap saja berbasa-basi meski dengan anak sendiri.
Sudah ada tiga cangkir teh di meja. Sepiring tempe mendoan bertabur rawit hijau menemani cangkir-cangkir yang mengepulkan bau manis itu.
“Yang masih ada sendoknya itu punyamu.” Sambut ayahku sumringah.
Aku berterimakasih.
“Duduklah sayang.”
Aku duduk dengan sikapku yang biasa. Bukannya asli sopan, tapi ingin menghormati yang lain. Itulah belenggu hidup yang tak akan pernah lepas dariku.
“Apa topik hari ini?” celetukku sebelum mendekatkan bibir cangkir ke mulut. Kedua manusia di meja yang sama denganku saling bertukar pandang lalu tersenyum. Keduanya terlihat berpikir.
“Bagaimana dengan jodoh?” Cetus Ayahku.
Aku merengut.
“Tidak, itu bukan ide bagus. Bagaimana dengan rencana masa
depanmu?” Aku tahu ibuku mencoba menghibur.
“Jodoh juga termasuk rencana masa depan, bukan?” Ayah menimpali.
Aku mengaminkan.
“Setidaknya aku tidak langsung menjurus pada satu titik itu.” Bela ibuku.
“Sudahlah.” Kataku.
Beberapa saat kubiarkan ruang yang kadang-kadang berfungsi sebagai ruang keluarga, sesekali ruang makan, sesekali juga sebagai dapur itu diam tanpa ada pembicaraan. Kuambil selembar tempe super tipis yang dibalut dengan adonan tepung terigu serta campuran bumbu lain.
Ibuku tiba-tiba berkomentar tentang diriku saat memakan mendoan. Dia bilang aku terlalu banyak memasukkan cabe rawit ke mulut, 5 buah untuk selembar tempe berukuran sedang. Aku tertawa. Dia tahu anaknya dari dulu. Saking tak nyaman saling diam sampai bingung mencari topik. Mengharukan sekali.
“Omong-omong, apa kau punya rencana lain selain menjadi penulis?” Ibuku bertanya hati-hati.
“Sesuai studiku, aku akan menjadi guru. Bukankah kau juga menginginkan hal itu, Bunda?
“Ya, itulah pekerjaan yang paling idela untuk seorang wanita. Kau bisa menjadi ibu rumah tangga juga nantinya. Kau tak akan pulang malam, kan? Saat musim libur kau juga akan libur.”
“Menjadi guru bukanlah suatu pekerjaan, Bunda. Itu lebih pantas disebut pengabdian. Kudengar gajinya tidak cukup besar untuk disebut sebagai profesi.”
“Baiklah, terserah kau saja.”
Aku menyeruput lagi tehku. Ayah terlihat asik mendengarkan aku bicara dengan Bunda meski tak ingin terlibat. Minggu lalu dia berusaha terlibat tapi hasilnya tak bagus. Pandai belajar dari kesalahan. Sifat ayah itu menurun kepadaku.
“Indonesia, tentu.”
“Maksudku, di daerah mana? Ingat, Anna. Aku tak mau lagi jauh darimu.” Ibuku memperingatkan. Aku terkekeh.
Hingga tengah malam kami bertiga tetap mengelilingi meja berukuran kecil itu. Sesekali ayahku menertawakan tingkah salah satu perempuannya. Terkadang ibuku terlihat lebih kekanakkan dariku.
“Ayah.” Aku menghentikan tawanya.
“Ya, Anna.”
“Aku ingin menanyakan sesuatu.”
“Boleh.”
“Apa benar aku tidak boleh mencintai Damar? Um, maksudku bukan sebagai saudara. Apa tidak boleh aku mencintainya sebagai teman laki-laki?”
Seketika air mukanya berubah. Atmosfer mencekam dan aku siap dengan kemarahannya. Dia memandang ibuku dan berpikir. Sesaat kemudian gelak tawanya kembali terdengar.
“Ayah?”
“Mencintai orang dari garis keturunan ayah adalah yang terlarang. Itu pantangan dari nenek moyangmu.”
“Tapi Damar dan aku hanya saudara jauh, Yah.”
“Terserah kau saja lah.”
“Ayah!”
“Apa ada gunanya aku melarang? Kau akan tetap melakukan hal itu meski aku menodongkan belati ke arah mu, bukan? Jadi, lakukan apa yang kau suka. Kita lihat bagaimana tangan Tuhan akan mencampuri kehidupan kita.” Pungkas ayahku.
Setelah itu aku tak lagi bicara. Dalam sekali tenggak aku habiskan setengah cangkir teh yang hampir dingin.
“Kau marah padaku?” tanyaku hati-hati.
“Tidak. Sama sekali tidak.”
“Baiklah, aku ingin pergi tidur.”
Kusempatkan mencium kedua pipi ayah dan ibuku dan mengatakan bahwa bagaimana pun sikapku, aku mencintai mereka. Dan ibuku bilang bahwa merekalah yang paling mengerti aku. Bahkan lebih dari diriku sendiri.
__ADS_1
Debam langkahku terdengar amat jelas di tangga kayu sempit sederhana itu. Suara pintu yang ditutup keras juga pasti bisa didengar dengan jelas oleh dua pasang telinga di lantai bawah. Kucari ponsel kemudian menelepon Damar. Entah kenapa aku ingin bicara padanya.
“Ada apa?”
“Aku mengganggu?”
“Aku senang kau mengganggu. Aku belum tidur.”
“Apa yang kau pikirkan?”
“Memikirkanmu.”
“Aku bicara serius.”
“Anna, aku tidak bisa menggombal padamu. Aku juga serius. Saat aku bilang aku menyayangimu aku tak bercanda. Tapi saat kau mengatakan dengan tanpa beban bahwa kau menyukaiku seperti itu, aku merasa sedikit takut dan malang. Jika boleh minta dilahirkan lagi, aku ingin dilahirkan oleh orang lain yang diizinkan menjalin hubungan denganmu.”
“Hubungan apa?”
“Kau jangan berpura-pura bodoh. Aku ingin mencintaimu tanpa
ada perasaan takut dan bersalah.”
Aku tersenyum mendengar hal itu. Perasaan aneh muncul di
hatiku. Seperti ada karnaval. Entahlah, aku tak bisa menggambarkannya dengan
baik. Intinya aku diliputi kebahagiaan.
“Aku ingin melihat ekspresi wajahmu saat bicara serius.” Gumamku.
Bilang saja kau merindukanku.”
“Sebenarnya, Well! Sedikit.”
“Tunggu sepuluh menit. Aku akan datang.”
“Hei, Damar, aku__”
Percuma saja aku memperingatkan. Ini sudah malam dan dia tetap nekat melempari jendela dengan kerikil. Aku mengelongok ke bawah. Tangannya melambai memintaku turun.
Kembali langkahku berdebam membuat kegaduhan. Kedua orang tuaku mendongak.
“Aku ingin melihat bintang.”
“Dari jendelamu kan bisa?” Timpal ayah penuh selidik.
“Ya, tapi kali ini aku ingin melakukannya di halaman.”
“Ada Damar di luar?” mata ayahku menyipit.
Aku mengangguk pelan.
Tak disangka, ayaku menarik tanganku dan dengan cepat membawaku ke halaman. Aku takut. Saat Damar memutar badannya, ekspresinya berubah cepat. Kentara sekali dia bingung.
“Kau tahu itu dilarang?” Tanya ayahku. Matanya menajam pada Damar. Rahangnya tetap mengatup.
“Iya, Om.” Dia menunduk lesu.
“Kenapa tetap bersikeras, kalau begitu?”
“Aku tak bisa berhenti. Tak tahu kenapa.”
“Kalian ini!”
“Ayah....” rengekku.
Pria yang berusia tiga puluh tahun lebih dariku itu mendesahkemudian melepas cengkeraman tangannya. Kemudian mengingatkan bahwa ini sudah tengah malam. Aku menganggu cepat. Setelah menatap wajah kami satu persatu, dia berlalu dengan rona wajah frustasi. Dalam hati aku meminta maaf.
Aku mendekat padanya selangkah. Ragu-ragu aku memandangnya lalu mennduk lagi. Tanpa sadar, dia sudah sangat dekat denganku. Mungkin dia mendekat saat aku tak melihatnya. Sekarang aku harus mendongak untuk menatap matanya.
“Tak ada yang salah.” Dia menenangkan dengan mengelus salah satu pipiku. Aku menahan airmata yang akhirnya tumpah juga.
Dia menanggalkan dahiku ke dadanya. Tangannya mengelus punggungku pelan-pelan. Kucengkeram jaketnya. Semakin sesak dadaku karena menahan isakkan, semakin kuat cengkeram tanganku.
Kurasakan bibirnya menyapu ubun-ubunku dalam waktu yang singkat.
“Kau membicarakannya dengan mereka?”
“Baru saja.”
“Ibuku juga sudah frustasi menghadapiku.” Katanya.
“Seandainya bisa minta dilahirkan kembali.” Gumamku.
Dia mengeratkan pelukannya saat aku terisak. Aku membayangkan betapa sulit jika tiba waktunya kita benar-benar dilarang untuk menyukai satu sama lain. Dunia memang kejam. Jatuh cinta salah, tak jauh cinta dicibir.
__ADS_1
(****)