
Kakek bernama Sumodhiardjo itu menghirup nafas lama berkali-kali. Mungkin salah satu alasannya adalah kerentaan. Banyak masalah yang ditimbulkan dari bertambahnya umur. Rambut yang memutih, kulit tak halus lagi, tekanan darah meningkat, jalan tak lagi tegap, penglihatan dan pendengaran tak lagi jelas, sengal nafas terdengar menyusahkan bahkan untuk telinga sendiri_yang telah berkurang ketajamannya. Jika sudah seperti itu, tidak ada lagi orang yang menyayangi dengan tulus. Anak sendiri pun merawat dan menjaga hanya karena keterpaksaan.
Terpaksa karena merasa berhutang budi, dilahirkan, dirawat, dibesarkan. Terpaksa karena terikat etika sosial. Terpaksa karena takut terkena kutukan, sumpah, atau hal buruk lainnya. Banyak orang bilang, menyia-nyiakan orang tua akan fatal akibatnya.
Begitulah manusia hidup. Tak mau melakukan apapun tanpa memikirkan akibat jika dia melakukan atau tidak melakukannya. Selalu saja ada yang ingin diperoleh. Walau sekecil apapun.
"Apa yang membuatmu melamun, Anna?"
"Bukan hal penting."
"Tampaknya kau suka merenung dan menghayal."
"Kalau tidak, Kek. Mana mungkin dia menulis omong kosong sampai beratus-ratus halaman?" Celetuk Damar.
Aku hanya memandangnya dengan sedikit membesarkan biji mata. Dia menutup mulutnya yang pasti terbuka lebar. Menertawakanku. Kujitak kepalanya, dan kembali kakek buyut kami melerai.
Laki-laki renta yang kupanggil Eyang itu mengulurkan tangan meletakkan sesuatu. Sedikit memberikan ketukan nyaring di meja kayu di depan kami. Dia menatapku tajam. Entah apa artinya. Matanya terlihat lelah menjalani hidup ini. Seabad dan setengah dekade dia hidup, membuat banyak orang mengira bahwa dia memasukkan benda keramat di tubuhnya.
Aku menautkan alis, Damar mengamati benda itu.
"Persis punyaku."
Kupandang ayah dari kakekku itu. Wajahnya tak menjelaskan apapun mengenai apa yang kuhadapi. Benda aneh dari zaman purba, kelihatannya. Kupandang juga benda itu. Terlihat seperti toples tempat meletakkan makanan saat hari raya. Besarnya satu kepalan tanganku. Tidak, lebih besar lagi. Aku tak tahu apa bahannya. Apakah emas atau tembaga. Yang terlihat oleh mataku adalah warna dari benda itu seperti peniti emas yang sering menempel di dada sebelah kiri kebaya kuno milik mendiang istrinya dulu.
Kutatap wajah eyang buyut-ku lagi, kemudian kembali melihat benda itu. Sekilas benda itu terlihat seperti kubah masjid. Tapi, setelah diperhatikan, ternyata berbeda. Alasnya berupa lingkaran dengan diameter sekitar delapan senti. Tingginya tidak kurang dari sepuluh senti. Pada empat arah mata angin, ada empat garis lengkung seperti bentuk daun bunga bugenvil. Bukan tulang daunnya, tapi bagian luar daun jika dianggap dua dimensi.
Batu akik besar merah ada di setiap garis lengkung itu. Dua yang lain berwarna biru dan hijau. Setiap bagian pada benda kuno itu memiliki relief yang familiar bagiku. Hampir mirip seperti lambang WOSM. Entahlah. Sulit bagiku untuk menjelaskannya.
Di tengah bagian yang berelief seperti gambar yang dijumpai di bendera berwarna ungu dalam gerakan Pramuka itu ditanamkan akik merah. Di bawahnya ada akik--yang lebih kecil--berwarna biru. Di atasnya, di dekat titik temu garis lengkung utama, ada akik yang paling kecil berwarna hijau muda. Setidaknya itu yang bisa kuamati. Dari dasar sampai seperdelapan tinggi total benda itu melingkar relief teratai. Mengingatkanku pada kendaraan tokoh dewa dalam cerita Kera Sakti dari Cina.
"Apa ini, Eyang?" Aku akhirnya membuka mulut.
"Ini pusaka bersejarah dari jaman prasejarah. Hanya orang-orang tertentu yang bisa memilikinya. Dan kaulah yang terpilih. Di dalamnya ada makhluk yang bisa mengabulkan semua permintaanmu. Dan kau bisa menggenggam dunia ini jika benda ini tetap di tanganmu. Syaratnya, kau harus minum darah laki-laki remaja setiap purnama. Ha ha ha!!" Damar mendramatisir omong kosong-nya. Aku tak sama sekali menggubris. Hanya memandangnya dengan tatapan jengah dan sarat permohonan agar dia sedikit serius.
Dia mengedikkan bahu dan mengangkat kedua alis. Seperti menyerah dalam berusaha membuat suasana renyah dan santai. Seolah dia berkata, Baiklah, kukunci mulutku. Tak akan bicara lagi.
"Itu hadiahmu." Kata Kakek Buyut.
"Untukku? Apa gunanya?"
"Terima saja. Punyamu masih kau simpan, Anak Muda?" Dia memandangku dan Damar bergantian. Damar geligapan. Tadinya tak ingin terlibat pembicaraan. Sekarang dia dipaksa terlibat. Senyumnya mengecewakan lelaki berkulit keriput itu.
"Kau buang?"
"Tidak."
"Tidak kau buang, syukurlah."
"Tapi tidak juga kusimpan."
__ADS_1
"Apa maksudmu?"
"Aku yakin masih ada di rumah. Hanya saja aku tak tahu di mana."
"Kau memang nakal, dari lahir hingga sekarang."
Kutunggu penjelasan pejuang bangsa tak diakui itu. Sementara orang tuaku sibuk menata kembali ruangan yang baru saja dipakai untuk berkumpul. Mereka hilir mudik kesana kemari. Sesekali Ibuku menawarkan beberapa tusuk sate telur puyuh dengan mulut penuh. Aku hanya memberi satu set gelengan kepala. Damar tersenyum setelahku, tandanya dia juga sama. Kakek buyut kami mengangkat telapak tangan yang berada di lengan sofa--tanda penolakan.
"Bawakan aku teh tawar saja." Kata Eyang.
"Kopi hitam sedikit gula." Sambungku.
"Kopi, Om. Memarkan jahe dan masukkan ke dalamnya."
Ayahku enggan berkomentar. Hanya mengangguk tak rela. Menyesal sudah menawarkan hidangan.
"Tetua kalian adalah prajurit. Mereka mempertaruhkan segalanya untuk mengawal pemimpin pada masa mereka. Tak takut meski saudara di samping mereka mari karena senapan para penjajah atau karena golok prajurit kerajaan lain saat perebutan kekuasaan. Pada generasi ketiga, mereka membuat suatu benda yang kental akan budaya Hindu dan Buddha.
"Aku tak tahu berapa pastinya jumlah benda ini di awal kemunculannya. Aku hanya tahu bahwa ayahku memiliki dua buah. Sebelum kakakku meninggal dia menyerahkan miliknya padaku. Dan sebelum itu kami telah berdiskusi untuk mendapat pertimbangan. Kakakku mendapat pesan melalui mimpi beberapa malam berturut-turut."
Eyang menghela nafas sebelum melanjutkan perkataannya. Disandarkannya punggung yang tak setegap dulu itu ke sofa--walau dia sudah terlihat seperti sekarang ini semenjak aku bisa mengingat. Bagian belakang kepalanya menyentuh bagian atas sandaran. Jika aku melihat dari belakangnya, hanya akan terlihat setengah bagian kepala--bagian atas--saja.
"Berada di barisan paling depan dalam sebuah peperangan memerlukan kekuatan yang besar. Baik mental maupun fisik. Hati yang mantap dan kekuatan serta tekad pantang menyerah tak cukup bagi mereka. Lawan-lawan mereka menyeringai di depan. Dengan pedang yang mengkilat. Siapapun pasti memiliki rasa gentar saat berada di posisi seperti itu.
"Dan dengan benda ini mereka mendapat energi lain. Entah dari mana." Dia lalu menarik nafas dalam. Kualihkan pandangan kepada sepupu jauh-ku. Dahinya berkerut-kerut penuh arti ke-tidak percaya-an. Semua gerak mata dan bibirnya benar-benar mencerminkan keraguan.
"Mereka menganggap benda ini adalah pembawa keberuntungan, pelindung, dan penambah kekuatan."
"Kenapa bisa begitu?" Aku penasaran.
"Mereka tak asal membuat. Ada banyak ritual yang dilakukan. Bentuk pusaka dan desain yang ada di pusaka itu bukan sembarang menentukannya. Mereka tak asal mengukir atau menggambar di atas sebuah benda. Ada unsur magis di dalam pembuatan benda itu."
"Ritual macam apa, Eyang?" Aku belum puas dengan jawabannya.
"Berpuasa dari makanan tertentu, mengasingkan diri, bertapa di dalam gua. Aku tidak tahu kesengsaraan macam apa lagi yang rela mereka lakukan demi mendapat petunjuk Tuhan Penguasa Alam. Akhirnya dalam tapa Brata itu mereka mendapat gambaran bagaimana mereka akan memberi bentuk."
"Tujuannya memang mencari kekuatan?"
"Tidak, Anna sayang. Awalnya karena ingin ada suatu karya yang bukan hanya senjata semacam keris, sastra seperti kitab, atau bahkan candi, mereka menginginkan seni rupa yang lain."
"Untuk sebuah seni rupa pun mereka mencari wangsit?"
"Ya begitulah kebiasaan nenek moyang kalian. Sangat yakin dengan kekuatan magis yang entah dari mana datangnya. Aku, mau tak mau, juga mempercayai hal itu. Karena banyak karma terjadi jika sebuah pantangan dilanggar. Orangtuaku sangat menghargai benda ini, dan katakanlah kami memperlakukan dengan cara yang sama sebagai bentuk bakti kami kepada mereka."
"Maaf, Eyang. Tapi di tangan kami benda ini tidak akan diperlakukan secara sakral." Kata Damar separuh menguap. Tidak sopan sekali.
Eyang menatapnya lekat. Lalu tersenyum tipis. Seperti tahu maksud lain dengan menatap mata Damar.
" Aku tahu." Katanya kemudian.
__ADS_1
"Lalu?" Aku lebih tertarik. Bagaimana kalau benar kami abaikan saja benda itu di dalam kamar atau bahkan di gudang. Apa akan terjadi malapetaka yang akan menimpa kami?
"Simpan saja. Ingat, Moyang kalian bertaruh nyawa untuk mempertahankan pusaka ini. Mereka, untuk menjadi prajurit kepercayaan, harus melawan banyak orang yang iri terhadap mereka. Pencipta bentuk utama seni yang menjadi pusaka ini pun meninggal saat baru menyelesaikan ritual atas benda ini"
"Maaf lagi, Eyang. sebenarnya kau sedang menceritakanku pengantar tidur, semacam mitos begitu kan, Eyang?" Damar merosot.
"Ini sejarah tentang moyang kalian, Cucuku . Mungkin hidupku tak akan lama lagi. Maka itu kuberi tahu kalian yang kurasa sudah saatnya tahu. "
"Kedua laki-laki beda generasi di depanku terus berdebat entah mengenai apa. Aku sendiri sibuk dengan pikiranku yang juga entah tentang apa. Sepertinya aku pernah melihat benda itu . Entah di gambar apa, sampul buku yang mana, atau halaman web apa.
"Eyang, kau bilang benda ini penuh unsur magis. Apa selama memegang benda ini aku akan mengalami hal magis? "
"Tidak tentu, Sayang. Efek benda itu berbeda pada setiap pemegangnya. Tapi Kakakku sudah mendatangi mimpiku dua kali, agar segera memberikan pada dua cucu buyut tertua."
"Terimakasih , Eyang. Kau menambah inspirasi khayalanku." Kataku sambil tersenyum menertawai kalimat yang keluar dari mulut ini.
"Jaga ini dengan baik, Manis."
Pria tua itu mendapat bantuan dari cucu laki-lakinya--yang meski setelah itu mengomel beberapa hari. Damar kembali padaku setelah mengantar Eyang ke kamar kosong di rumahku. Dia berkata banyak tentang hal aneh yang terdapat pada orang-orang tua. Terutama pada kakek buyut kami itu. Aku hanya mendengarkannya sambil lalu. Otakku sebagian besar sedang memproses bentuk dan gaya benda yang sedang kugenggam sekarang.
"Kau ingin mengetahui sesuatu tentang itu?"
"Tentang apa?"
"Pusaka yang lebih mirip toples itu."
"Damar, ini barang antik."
"Baiklah, Pusaka antik itu. Apakah benar yang dikatakan lelaki tua itu, atau dia hanya mengarang saja."
"Hati-hati kalau bicara. Kena karma kau nanti."
"Baiklah, aku akan mencari punyaku juga kalau sempat." Dia menengokku lagi sebelum pergi.
Damar menemani Eyang di rumahku. Sementara aku menghabiskan hampir separuh malam untuk memandangi benda cantik itu. Dalam benakku tersimpan harap bahwa benda itu mungkin tiba-tiba akan mengeluarkan cahaya yang membuatku silau. Kemudian aku akan mengalami hal aneh yang dapat kutulis dalam buku atau apa. Mungkin aku bisa segera menerbitkan sebuah novel fenomenal jika ada kejadian seperti itu.
Sebagian otakku juga mencoba menerka seperti apa nenek moyangku. Maksudnya, mereka termasuk prajurit seperti apa. Apakah orang baik, atau malah mereka yang merebut pusaka itu. Aku mengharapkan yang baik, tentu saja. Baiklah, dalam kepalaku mulai muncul banyak kemungkinan. Rekonstruksi alur yang pasti dalam waktu beberapa hari lagi akan menyiksaku karena harus menuruti nafsu menulisku. Sampai lembur dan lupa makan.
Ketukkan jariku lama kelamaan menjadi lebih cepat dari detak jarum jam di dinding kamar. Tak sabar menanti benda itu mengeluarkan cahaya emas atau mengajakku bicara.
Hal itu membuatku susah tidur. Kepalaku pusing ketika harus membantu ibuku membersihkan rumah dan mencuci peralatan dapur yang kotor. Kakek buyut-ku hanya tersenyum saat aku mengeluh begini begitu padanya. Damar mengolokku habis-habisan. Dia bilang aku tak waras.
"Anna, Sayang. Cukuplah kau saja yang gila. Jangan ajak aku untuk jadi gila sepertimu." Katanya dengan wajah khawatir. sesaat dia menatap mataku setelah selesai bicara. Entah itu drama macam apa.
"Aku tahu, Baiklah." Tukasku.
Aku memang gila.
(****)
__ADS_1