
Note author: maaf jika banyak kekurangan pada cerita, karena author masih pemula 🔰
.
Di kantor, Marsel beserta anggota nya sedang fokus mengerjakan pekerjaan mereka.
Seperti biasa, Putri selalu terlambat dan tergesa-gesa ketika mengambil sesuatu.
"Baru datang, Put? " tanya Marsel.
"Eh, iya, maaf semuanya, aku telat datangnya" ucap Putri engos engosan.
"Gak papa, Put, lagipula kan kamu mau nganterin anak anak kamu ke sekolah sebelum kamu pergi kerja ke kantor" ucap Kirana.
Marsel terkejut mendengar hal tersebut, begitupun dengan Evi dan Dimas.
"Loh, gak salah denger tadi? Putri nganterin anak anak? " tanya Marsel.
"Wah, baru tau ya. Iya, Putri ini young mom, bukan berarti dia MBA ya, tapi dia nikah muda" jelas Yunita.
"Iya, aku ibu muda, kalian semua kaget ya? " tanya Putri dengan malu malu.
"Begitu ya, kukira kamu karyawan muda disini Put, makanya kami yang masih baru kaget denger kamu udah punya anak" jawab Marsel, jawaban tersebut dianggukan oleh Evi dan Dimas.
"Oh iya, biar gak senggang nih, status kalian tuh apa sih sekarang? Sama berapa umur kalian? Biar pada tau, soalnya ragu aja kalau aku yang merasa paling tua disini karena udah punya 2 anak" tanya Putri dengan tersenyum.
"Kalau aku sih sekarang statusku udah tunangan" ucap Yunita.
"Istri saya lagi hamil anak pertama kami, hehe" ucap Dimas.
"Masih jones, hihi" ucap Evi.
"Lagi pdktan kalau aku, si Putri pasti tau" ucap Kirana.
"Nah sekarang Marsel lagi, status kamu sekarang apa, Sel? " tanya Putri.
"Udah... " ucap Marsel dengan singkat.
"Udah apa? Nikah? Punya anak? Atau udah tunangan? " tanya Evi.
"Dia sudah menikah"
Mereka kemudian dikejutkan oleh manager sebelah, bu Reni.
"Loh, bu Reni, tumben ibu kesini? " tanya Dimas.
"Ya, tentu saja saya mampir kemeja kalian ada perlunya lah" jawab bu Reni.
Bu Reni kemudian mendekati Marsel, ia menepuk-nepuk pundak Marsel dan mengelus bahu Marsel.
"Tentu saja saya pengen lihat karyawan saya yang diambil sama Daniel ini, patah hati saya ketika dia dapat dipindahkan disini, dialah pencuci mata saya ketika saya lagi sibuk sibuknya bekerja, tambah patah hati lagi karena dia sudah nikah, aduh... " keluh bu Reni.
Evi, Kirana, Putri, Dimas dan Yunita hanya bisa tersenyum konyol, mereka tidak menyangka bahwa manager kantor sebelah sangat menyayangi karyawan biasa, yaitu Marsel.
.
.
Di kediaman LaMar, Wulan hanya bisa diam menatap adik adik sepupunya yang melakukan siaran langsung dengan tas tasnya, itu tanpa izin darinya dengan lancang diambil paksa oleh Caca dan Rena.
"Tas herm*s ya gess, uhh, kalian pasti iri ya, tas harga 300 juta begini ada ditangan kita kita, ulala" ucap Rena dengan sombong.
"Ini juga gess, tas di*r, bukan harga 16 ribuan ya, tapi 39 jutaan, kalian mana mampu" pamer Caca.
Sania si bibi hanya tersenyum melihat anak anaknya bahagia menggunakan tas milik Wulan, ia kemudian melihat Wulan yang hanya diam menatap ke arah Rena dan Caca.
"Yaelah Lan, kayak gak ikhlas aja minjemin tas tas kamu sama adekmu sendiri. Bersyukur dikit kenapa sih kalau kamu masih ada keluarga, sampai mampir juga tanpa dikasih tau alamatnya" ucap Sania.
"Tapi kalian seenaknya aja ngambil tas tas Wulan dari lemari, itu namanya gak sopan" ucap Wulan.
"Kak Wulan pelit banget deh, kami kan adik adiknya kak Wulan juga. Masa kakak gak ingat kata pepatah 'Harta kakak, harta adik. Harta adik ya punya adik'. Jadi, boleh gak kalau kita ngambil beberapa seri tasnya kakak? Boleh ya? Soalnya teman teman kami pada nanyain tasnya, malu ih pamer tapi gak ada bukti" ucap Rena.
"Ide bagus Ren, boleh ya kak? " tanya Caca.
"Ngga, Wulan gak mau kasih, kalau Wulan belum dapat izin dari bang Marsel berarti kalian gak boleh ambil seenaknya" bantah Wulan.
__ADS_1
Mendengar hal tersebut, Caca, Rena dan Sania menjadi kesal, mereka kemudian mulai mengacak-acak rumah Wulan.
"Hei, kalian kenapa berantakin rumahnya Wulan?! " teriak Wulan.
"Biarin! Tau rasa akibat pelit! Sama keluarga aja pelit! " teriak Caca, ia mengacaukan berbagai macam barang barang yang ada di rumah.
Wulan ditahan oleh Sania, mulutnya disekap agar tidak berteriak.
"Pokoknya ambil! " ucap Rena sambil mengambil tas tas milik Wulan yang terpajang di lemari.
"Mama! Caca nemuin obat loh! " teriak Caca dari kamar Wulan.
Sania mendengar hal tersebut langsung melihat obat yang ditemukan anaknya, sedangkan Wulan terkejut ketika Caca menemukan obatnya.
"Obat hormon? Kok ada obat hormon sih, Lan? " tanya Sania.
"Mah, kayaknya kak Wulan ada apa apa deh sama dirinya, mungkin dia butuh ini karena mungkin dia ada riwayat penyakit di badannya" ucap Caca.
"Ih, Rena lihat di artikel ini, ini bisa dijadikan obat yang sering digunakan dalam penyembuhan kista, waduh, jadi kak Wulan punya kista ya? "
Mendengar hal tersebut, Wulan menjadi terdiam dan terkaku, penyakit yang ia sembunyikan selama ini dan yang cuma mengetahuinya hanya Marsel akhirnya ketahuan oleh bibi dan adik sepupunya.
"Bener dugaan, lama nikah udah hampir dua tahun tapi belum punya anak, dasar mandul! " bentak Sania.
Deg!
Ucapan tersebut menusuk, Wulan terkejut dan terdiam sambil menahan perasaan nya yang harus menahan perkataan yang menusuk tersebut.
"Kayaknya besan dia belum tau deh, perlu kasih tau kalau gini nih, bakalan jadi janda gak sih dia, secara kan jaman sekarang banyak keluarga keluarga besar dari pihak suami rata rata penganut patriarki, bisa didiskualifikasi kak Wulan kalau gak bisa kasih keturunan buat bang Marsel" ucap Rena.
"Oh iya, kan bang Marsel itu orang nya mapan, tampan dan gagah. Cewe mana sih yang gak mau sama bang Marsel itu? Cewe kaya tajir melintir aja mungkin mau sama bang Marsel, kak Wulan mungkin gak selevel kalau bang Marsel nyari cewe diluaran yang lebih tinggi derajat nya daripada kak Wulan ini. Kan, secara kak Wulan aja kista, mustahil orang kista bisa hamil" ucap Caca dengan nada mengejek.
"J... Jangan! Jangan sampai kalian kasih tau soal Wulan sama besannya Wulan! " bantah Wulan.
"Yaudah, gini aja, kalau gak mau sampai besan tau sama kista yang kamu derita, kamu kasih aja tas tas yang dipengenin sama adik adikmu, lagian juga kamu yang pake tas tas ini malah dibilang sama orang tas kw" ucap Sania.
Dengan keadaan terpaksa, Wulan hanya bisa menyetujuinya.
Ketiga wanita tamak tersebut dengan bahagianya mengambil tas tas branded milik Wulan, mulai dari yang disukai sampai penilaian harga yang terlihat paling mahal.
Setelah kepergian bibi dan adik sepupunya, Wulan hanya tersungkur, ia melihat rumahnya dan mengingat ancaman dari bibinya, membuatnya tak berdaya dan hanya bisa menangis.
"Tuhan, kenapa engkau beri aku cobaan seberat ini... Apa dosaku selama ini? Apa masih kurang engkau jadikan aku anak yatim piatu yang diangkat derajatnya sebagai seorang istri dari suami yang mempunyai keluarga yang lengkap dan hangat? " keluh Wulan, ia meringkuk, menangis tersedu-sedu.
.
.
Di kantor, tampak para karyawan sibuk mengerjakan pekerjaan mereka demi mengejar target, sebagian dengan santai mengerjakan pekerjaan mereka dengan santai, seperti kelompok kerja yang dimiliki Marsel.
"Ya ampun Put, kayaknya sekilo lipstik kurang bagi kamu" ucap Yunita.
"Ya sesekali lah Nit, soalnya kan tau sendiri, gadis kecilku itu paling gak bisa lihat aku pake lipstik. Sekalinya lihat pasti pengen ngambil, kini kesempatan aku pake lipstik baru dan gak pakainya di depan Fani" ucap Putri.
"Gak ketebalan itu put? " tanya Marsel.
"Aduh, tebal banget ya? Maaf deh, efek gak lama pake lipstik, sekalinya pakai lagi jadi menor" jawab Putri dengan malu malu.
"Yasudah, kali ini yang kirim data pekerjaan kita sama pak Daniel yaitu Marsel sama Putri ya, Dimas sama Evi tugasnya order makanan buat makan sore kita" perintah Kirana.
"Lah, kalian? " tanya Dimas.
"Ya, beresin meja dan ngerjain sebagian sisa pekerjaan yang ada, kita sama sama bagi tugas lah" ucap Yunita.
"Heh, bilang aja kalian mau nyantai nyantai. Yaudah, ayo Sel, biar cepat" ajak Putri.
"Oh, oke, ayo"
Marsel dan Putri berjalan bersama menuju ke ruangan manager, sedangkan Evi dan Dimas berencana untuk keluar kantor memesan makanan di kios makanan tak jauh dari kantor, sisanya Kirana dan Yunita yang sedang menyelesaikan sisa pekerjaan mereka.
Di lorong, Marsel dan Putri sedang mengobrol, secara tiba-tiba seseorang berlari dan tak sengaja menyenggol Putri hingga terdorong ke arah Marsel, ketiga orang tersebut jatuh bersama di lorong.
"Aduh, kejadian kayak di lorong kok keulang lagi sih?! " kesal Marsel.
"Hei! Kamu anak magang kantor seberang kan?! Bisa gak kalau jalan aja ke arah lorong ini?! Gak lihat kami berdua jatuh gara-gara kamu hah?! " marah Putri.
__ADS_1
"Ma.. Maaf kak, bukan maksud mau ngedorong kakak kakak sekalian, tapi saya benar-benar terburu-buru ke kantor ini karena baru pertama kali bekerja" ucap karyawan magang tersebut dengan gugup.
"Yaudah! Sekarang pergi sana, sebelum aku telan kamu mentah mentah! " ancam Putri.
Karyawan magang tersebut langsung membereskan barang barangnya, begitupun dengan Putri dan Marsel.
"Sel, Marsel! " teriak Putri.
"Kenapa? Kenapa Put? " tanya Marsel kebingungan.
"Belakang baju kamu, aduh, lipstik ku nempel di belakang baju kamu, Sel! " panik Putri.
"Apa? Lipstik kamu nempel di baju aku, Put? " tanya Marsel dengan panik.
"Aduh, kukira lipstik ku waterproof, ternyata bukan. Bentar Sel, kamu berbalik dulu, aku coba buat hilangin pake tisu basah"
Marsel kemudian berbalik, Putri mengambil tisu basah yang ada di kantong roknya dan mengeluarkan satu, ia kemudian mencoba membersihkan bekas lipstik nya yang berbekas di kemeja Marsel.
"Astaga, maaf Sel, aduh mana berbekas lagi... " ucap Putri dengan panik dan kebingungan.
"Hah?! Ada bekasnya, put?! " panik Marsel.
"Iya Sel, bentar aku coba hapus pake kapas sama micellar water, moga aja bisa hilang...! Aduh, gak mau aku sampai kena masalah, Sel...! " ucap Putri dengan cemas.
Setelah lama mencoba untuk menghilangkan bekas lipstik, akhirnya Putri menyerah juga, Marsel pun begitu.
"Sudahlah Put, lagipula susah buat dihilangkan kecuali dicuci" ucap Marsel.
"Aduh Sel, aku takut kalau dikira kita ngapa ngapain, secara kamu udah nikah dan aku seorang ibu muda dengan dua anak, bisa bisa image kita yang baik selama ini bisa kacau sama kesalahpahaman kayak gini. Aku takut sama istrimu, Sel.... " cemas Putri.
"Jangan cemas dulu, Put, soal ini aku bakal sebisa mungkin jelasin sama istriku, sekarang kita harus cepat cepat kasih berkas kita sama pak Daniel" ucap Marsel menenangkan Putri.
"Kalau istrimu gak yakin, aku bakalan tanggungjawab buat bantu jelasin sama istrimu, Sel. Suer, aku janji" ucap Putri.
"Iya, yaudah kita langsung kasih berkas ini sama pak Daniel ya"
Putri menganggukan kepalanya, mereka kemudian pergi ke arah ruangan manager mereka dengan tergesa-gesa.
.
.
"Abang, abang beneran kerja lembur atau cuma boongan buat cari wanita diluar sana, bang? "
Wulan menatap foto kecil pernikahan nya yang berada di meja samping kasur, sekarang Wulan merasa overthinking dengan suaminya akibat ucapan bibinya dan sepupunya tadi.
"Wulan gak sanggup kalau abang menggantikan Wulan sama wanita lain diluar sana, bang Marsel. Sekarang cuma bang Marsel yang Wulan punya sekarang... Kalau bang Marsel meninggalkan Wulan karena Wulan gak bisa kasih anak dan abang punya wanita lain diluar sana untuk jadi pengganti Wulan, mungkin hidup Wulan akan hancur dan gak punya tujuan lagi... "
Wulan kemudian menangis, ia meringkuk dengan tangisannya yang tersedu-sedu.
"Abang, hanya abanglah cinta pertamanya Wulan. Wulan mohon, abang jangan sampai tinggalin Wulan karena kekurangan yang ada di diri Wulan ini... "
Entah apa saja yang dipikirkan oleh Wulan, itu semua diluar ekspetasi nya, karena ia sangat kepikiran dengan ancaman bibinya, membuatnya menjadi overthinking.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
Jangan lupa tinggalkan jejak 👣👣👣