Garis Merah

Garis Merah
[BONCHAP] 35: Harus nurut


__ADS_3

Note author: maaf jika banyak kekurangan pada cerita, karena author masih pemula 🔰


...Selamat membaca 🍊...


......................


Trimester awal menjadi awal yang berat untuk Wulan, setiap pagi ia akan mengalami morning sickness, tetapi Marsel dengan sabar menemani istrinya dan membantunya untuk lancar memuntahkan mual yang dirasakan oleh Wulan.


"Abang ambilin air dulu ya. " ucap Marsel.


Wulan menganggukkan kepalanya, ia berusaha mengambil nafasnya untuk bisa membuatnya lega sehabis muntah, tak lama kemudian Marsel datang dengan membawa air minum untuk Wulan minum.


"Diminum sayang. " ucap Marsel dengan memberikan segelas air minum.


Wulan meminumnya, ia menghela nafasnya kemudian dibantu berdiri oleh Marsel.


"Bang, sarapannya di kantor aja dulu ya, Wulan masih capek banget abis muntah. " mohon Wulan.


"Iya sayang, biar abang makan di kantor aja. Kalau gitu, abang mau siap siap, mau pergi ke kantor. "


Marsel bersiap siap untuk pergi ke kantor dan pergi ke kamar mandi, sementara Wulan kembali tidur, tubuhnya lemas dan ia memejamkan matanya sesekali.


"Abang pergi dulu ya, kamu nggak usah masak, abang udah pesanin kamu makanan. Abang pergi dulu ya. "


Marsel mencium kening Wulan, dan ia tak lupa mencium perut Wulan, ia pergi ke kantor.


"Bang, Wulan mau ikut... "


Langkah Marsel terhenti, ia kembali ke kamar.


"Ikut kemana? "


"Ikut abang ke kantor, Wulan kangen sama abang... "


Marsel menggelengkan kepalanya, ia menyuruh Wulan tetap di rumah saja. "Nggak, kamu harus di rumah. "


"Tapi bang... "


"Harus nurut, kalau lagi hamil, kamu harus nurut sama abang. " ucap Marsel.


Wulan akhirnya duduk, wajahnya muram dan bibirnya sudah naik, hanya saja Marsel tetap membujuk istrinya agar mengerti, bahwa di kantor bukan untuk bersantai.


Masa masa kehamilan masih muda ada saja keinginan nya yang terbilang cukup aneh.


Wulan memasang ekspresi sedih dengan Marsel yang menolak keinginan nya untuk ikut ke kantor, ia hanya bisa mengantarkan suaminya hingga ke depan pintu depan.

__ADS_1


"Kenapa ikut abang? "


"Nggak, Wulan cuma mau antar abang sampai ke depan rumah. Abang hati hati ya. "


Tanpa Marsel yang menyodorkan tangannya, Wulan mengambil tangan Marsel duluan, ia langsung bersalaman dengan tangan suaminya.


"Hati hati dijalan ya, bang. " ucap Wulan. Marsel tersenyum, ia mencium kening Wulan dan pamit dengan Wulan.


"Abang pergi, assalamu'alaikum. "


"Waalaikumsalam, hati hati bang. "


Wulan tersenyum, ia kemudian berbalik ke arah pintu, sekilas ia melihat bu Jeni di teras rumahnya, mengarah ke arah mobil suaminya dan menatap tidak senang ke arah bu Jeni.


Semakin lama ia melihat bu Jeni, semakin aneh juga tingkah laku bu Jeni, karena setiap terus terusan bu Jeni memantau suaminya, bahkan membuat nya ingin sekali bertanya apa tujuan bu Jeni yang selalu memantau suaminya tersebut.


"Bu Jeni tambah lama tambah aneh, suka banget lihat bang Marsel, dih. "


Wulan cemburu, ia kemudian masuk ke dalam rumah.


......................


Di kantor, Marsel baru saja sampai, ia langsung menaruh berbagai barang yang ia bawa.


"Wih, tumben terlambat datang nih calon bapak kembar, habis bantu bini muntah muntah ya? " ucap Dimas.


"Biarin, biar tau rasa! Memang kamu kira morning sickness tuh nggak sulit apa? Rasanya tuh isi perut mau keluar, kamu tau itu! " omel Putri.


"Iya, aku kan mana tau Put, yang aku tau sih cuma tukang buat aja, hehe. "


Putri ingin memukul sekali lagi Dimas, tetapi Dimas segera meminta maaf, Putri langsung meletakkan map tersebut di atas meja.


"Ganas betul kamu, Put, mau ada adek kali ya Faisal sama Fani sampe mamanya marah marah gini? "


"PMS gini kamu bilang aku tambah anak? Cuci otak kamu dulu sana, pikiran kamu kotor terus semenjak belum dikasih jatah sama istri. " ketus Putri.


Marsel hanya menggeleng kepalanya, kedua temannya itu masih suka berkelahi saat mereka sudah berpisah tempat, tetapi membuat mereka semakin rindu akan masa masa mereka bisa bekerja bersama sama lagi.


"Gimana trimester pertamanya, Sel? Lancar lancar aja kan? " tanya Putri.


"Iya Put, alhamdulillah, walaupun Wulan sering ngeluh lemas habis muntah, tapi dia berusaha aja buat yakin bisa lewatin semuanya. " jawab Marsel.


"Alhamdulillah, dijaga ya calon anaknya, sesekali ajak istri buat jalan jalan, biar dia rileks. Jangan juga disuruh buat kerja berat berat. " nasehat Putri.


"Siap, bunda Putri, ajarannya akan ku ingat. " ucap Marsel. "

__ADS_1


Hei, ayo langsung lanjut kerja lagi, kalian mau dipotong gaji? " tanya Evi.


Mereka semua bergegas kembali ke meja masing-masing, mengerjakan pekerjaan yang ada.


......................


Waktu telah menunjukkan pukul 5 sore, Marsel melihat layar hpnya, Wulan mengirimkan pesan untuk membelikannya martabak coklat.


Marsel menuruti nya dan segera membelinya. "Sip, rumahku bersih. "


Wulan menyapu sedikit rumahnya, ia juga menunggu Marsel untuk pulang, karena ia menunggu martabak yang telah ia pesan.


Tak lama waktu berselang, mobil Marsel terlihat dari depan rumah, Wulan dengan semangat membuka gerbang rumahnya dan menyambut Marsel yang baru pulang.


"Abang pulang. "


Marsel dan Wulan berpelukan, cium bibir sekilas dilakukan oleh Marsel, membuat Wulan mengunyel unyel wajah suaminya dengan gemas.


"Pesanan Wulan, bang? " tanya Wulan.


"Pasti nya abang nggak bakal lupa kok, nih buat kamu, ngidam banget martabak kayaknya. "


Wulan tersenyum senang, ia menerima kresek berisi martabak cokelat, tak sabar ingin ia makan sesegera mungkin.


Lagi lagi Wulan melihat bu Jeni yang berada di teras, menatap ke arah rumahnya dan melihat Marsel kembali. Karena hal tersebut, membuat Wulan semakin risih, ia akan bersikap tegas kepada bu Jeni yang terus terusan memantau suaminya.


"Eummhh, udah mandi nih belum? " tanya Marsel dengan mencium bau Wulan.


"Lagi males bang, udah sore begini rasanya males buat mandi. "


"Heh, kalau kamu mandi cuma satu kali sehari, itu nggak baik buat kesehatan kamu. " ucap Marsel.


"Ih, abang ngomong kayak gitu karena Wulan bau kan? "


"Nggak, abang cuma kasih tau doang. " ucap Marsel.


Saat ingin mengeluarkan sepatah kata, Wulan ditutup mulutnya dengan jari Marsel. "Harus nurut. "


Satu ucapan yang mampu membuat Wulan menjadi penurut, ia menuruti ucapan Marsel dan bergegas untuk mandi terlebih dahulu.


Wulan sudah berubah ekspresi nya, ia membuka kotak martabak pesanannya dan memakannya dengan nikmat.


Marsel tidak tau ingin berlaku apa, karena setiap keinginan wanita hamil harus dipenuhi, dan juga Wulan harus nurut dengan perintahnya.


...****************...

__ADS_1


Jangan lupa tinggalkan jejak 👣👣👣


__ADS_2