Garis Merah

Garis Merah
14: Keluarga tak sepadan


__ADS_3

Note author: maaf jika banyak kekurangan pada cerita, karena author masih pemula 🔰


.


Suasana yang syahdu, selepas shalat semua orang bertemu dan bersalaman di jalan, tak terkecuali dengan Marsel dan Wulan.


Tetangga mereka yang lama sangat senang melihat Marsel yang sudah menikah, ada juga yang merasa patah hati karena gagal menjodohkan anaknya dengan Marsel.


"Aduh, mohon maaf lahir dan batin ya. Udah ngisi belum istrinya, Sel? " tanya tetangganya.


"Belum bu, do'ain aja bisa secepatnya istri saya ngisi" jawab Marsel dengan lembut.


"Cepetan ngisi ya, biar bisa nyusul si Sela. Sela aja udah ngisi, jangan kalah ya sama dia" ucap tetangga tersebut.


Diambang mengimbangi perasaan sang istri, Marsel hanya menganggukan kepalanya sambil merangkul Wulan.


"Sayang, jangan kebawa sampai ke hati ya? " tanya Marsel dengan nada khawatir.


"Ngga papa kok bang, biar kita gak lupa. Nanti kalau lupa, malah kita keasikan berduaan aja terus" jawab Wulan dengan tersenyum.


Keluarga Thomas kembali ke rumah mereka, mereka bersungkeman terlebih dahulu sebelum melakukan aktivitas lainnya.


"Papa, kalau Wulan sama bang Marsel punya salah, Wulan minta maaf ya, entah itu dari sifat kami atau perilaku kami yang kurang berkenan sama papa, kami minta maaf" ucap Wulan bersalaman dengan Thomas.


"Iya nak, papa dan mama juga minta maaf sama kamu dan Marsel untuk tahun lalu dan sekarang, semoga hubungan keluarga kita tetap baik baik saja dan kalian berbahagia terus bersama"


Wulan tanpa ragu memeluk Thomas, karena ia telah menganggap Thomas dan Salma adalah orangtuanya.


.


.


Setelah bersalaman, mereka sekeluarga makan bersama di dapur, dengan canda dan tawa mereka menikmati makanan mereka.


"Assalamu'alaikum... "


Dari luar pintu tampak ada tamu, Salma berjalan ke depan dan menyambut tamu yang datang.


"Hei, asik bener makannya, gak mau ngajak kah? "


Marsel mengenal suara tersebut, itu adalah Enrico dan Arinska.


"Astaga kalian berdua, ayo sini makan sama sama" ucap Marsel.


"Wah, si bumil Arinska udah gede aja, kapan prediksi nya, kak iska? " tanya Misella.


"Ya, kalau dihitung sama dokternya gak lama lagi, sekitar 2-3 mingguan lagi. Gimana sama kandungan kamu sekarang, Sela, sehat sehat aja kan" jawab Arinska.


"Sehat, cuma belum nendang aja dia" ucap Misella.


Diantara obrolan kedua bumil tersebut, Wulan merasa ingin juga cepat hamil agar tidak merasa tertinggal oleh kedua bumil yang sedang mengobrol didepannya.


"Lan, kita mampir lebaran ke rumah keluarga sepupu kamu ya? "


Marsel datang dan mendekati Wulan, Wulan merasa terkejut, Wulan kemudian menarik tangan Marsel dan mengajaknya ke luar dapur.


"Abang tau darimana kalau Wulan punya keluarga sepupu? " tanya Wulan.


"Tau, abang tau kamu masih punya keluarga sepupu, itu dikasih tau dari bu Santi" jawab Marsel.


"Gak usah bang, Wulan gak mau mampir ke rumah nya keluarga sepupunya Wulan" tolak Wulan.


"Lan, yang namanya lebaran itu kita harus silaturahmi sama orang orang setelah sebulan berpuasa, ini momentum setahun sekali kita harus silahturahmi sama orang-orang terdekat kita, Wulan" jelas Marsel.


Wulan mulai berpikir, ia kemudian menganggukan kepalanya dan meminta kartu THR pada Salma untuk ia berikan nanti dengan sepupu atau keponakan dari keluarga sepupunya.


"Mama, Marsel minta kartu THR dong buat diisikan uang, mau mampir ke rumah keluarga sepupunya Wulan" panggil Marsel.


'Iya, ambil aja di atas televisi, mama naruhnya disana tadi' sahut Salma dari dapur.

__ADS_1


.


.


Diperjalanan, Wulan hanya merenung, menyadari hal tersebut Marsel langsung memanggil istrinya itu.


"Lan... "


"Iya, kenapa bang? " tanya Wulan.


"Kamu jangan begitu lah, kan keluarga sepupu itu juga kan termasuk keluarga mu, kamu gak boleh gak mampir dan kasih kabar sama keluarga sepupu kamu" jawab Marsel.


"Iya bang, Wulan bakalan mau kesana, abang bantu Wulan ya"


"Iya sayang... " ucap Marsel.


.


.


Sesampainya mereka di rumah keluarga sepupu nya Wulan, Marsel dan Wulan turun dari mobil dan berjalan masuk ke rumah.


Pintu rumah yang terbuka, terlihat sekali ada orang di rumah tersebut, Marsel dan Wulan mengucapkan salam dan masuk ke rumah.


"Astaga, mama, ada bule ganteng mampir kesini dibawa sama Wulan! "


Wanita muda yang langsung berlari dengan lancang langsung memeluk Marsel, hal tersebut membuat Marsel risih.


"Maaf, saya suaminya Wulan" ucap Marsel.


Wanita tersebut langsung merengut, ia melepaskan pelukannya dari Marsel dan melipat kedua tangannya.


"Sia... "


Di depan ruang tamu, wanita tua dan lelaki tua keluar dari ruangan dalam, mereka terdiam melihat Wulan.


"Kak Wulan...! Uang THR nya dong...! " teriak anak anak tersebut.


Wulan tersenyum, itu adalah keponakan dan sepupu paling kecil nya, ia kemudian mengeluarkan kartu kartu THR dari tasnya, hal tersebut membuat wanita muda melihat langsung ke arah tas branded milik Wulan.


"Ini ya THR untuk kalian, semoga kalian seneng... " ucap Wulan.


Wanita muda yang tadi memeluk Marsel menyodorkan tangannya ke arah Wulan, dengan senang Wulan memberikan juga kartu THR nya.


"Ini Rena, ini THR untuk kamu ya" ucap Wulan.


"Sayang, ayo salaman dulu sama bibi dan paman kamu" ajak Marsel.


"Baik bang" ucap Wulan.


"Kak Wulan, itu tasnya ori ya? Tas branded ori? " tanya Rena.


"Eh, gak tau juga ya, kamu boleh lihat aja dulu" jawab Wulan.


Sementara Wulan dan Marsel bersalaman dengan bibi dan paman Wulan, Rena melihat iri ke arah tas milik Wulan, karena tas tersebut adalah tas branded ori.


"Tas mahal aja bisa dibeli, masa kasih THR buat ponakan sama sepupu sepupu sendiri dikit banget? Niat ngasih gak sih? " sindir Rena.


Sindiran tersebut terdengar di telinga Wulan, Wulan merasa keluarga sepupu nya belum sama sekali berubah saat menyambut nya, apalagi sepupu sepupunya.


"Kamar mandi ada dimana ya? " tanya Marsel.


"Oh, ada di belakang, sebelah kiri di dapur" jelas bibi Wulan, Sania.


"Baik, saya permisi sebentar ya" ucap Marsel.


"Wah, ini tas branded Di*r yang mahal itu ya?! Gila, harga nya aja udah hampir 50 juta ini! Punya siapa?! "


Suara heboh di belakang Wulan, itu adalah sepupunya lagi, yaitu Caca.

__ADS_1


"Punyanya kak Wulan, mahal banget pasti, soalnya ori" jawab Rena.


"Kak Wulan kok bisa sih dapat barang barang bagus, padahal dulu tinggalnya di panti" ucap Caca.


"Biasa, kan kakak Wulan udah nikah, tadi suaminya ada, palingan suaminya dia orang kaya" ucap Rena.


Wulan hanya bisa diam, karena sepupu sepupunya selalu saja iri kalau ia punya barang baru, apalagi tas yang ia bawa itu adalah pemberian dari Arinska, bukan ia sendiri yang membelinya.


"Kak Wulan, aku pinjam sebentar ya, mau ku fotoin dulu" ucap Caca.


"Oh, boleh kok, silahkan" ucap Wulan.


Caca dan Rena memotret tas branded milik Wulan tersebut, karena mereka sengaja memotret barang barang mahal yang mereka temui, entah itu milik mereka atau bukan.


"Kalau post di sosmed terus dilihat sama temenmu gimana, ca? " tanya Rena.


"Ah, bilang aja itu tas kita. Kan punya nya kak Wulan itu juga punya kita, iya kan kak Wulan? " tanya Caca.


Wulan menganggukan kepalanya, entah ia setuju atau tidak yang pastinya ia belum menyetujui haknya bisa di klaim juga milik orang lain.


"Wulan, kamu udah nikah berapa bulan? Kok kemarin gak ngundang? " tanya Sania.


Baru kali itu Wulan mendengar Sania bertanya padanya, Wulan kemudian menanggapi pertanyaan bibinya itu.


"Udah setengah tahun, bi, maaf kemarin lupa kasih surat undangannya" jawab Wulan.


"Udah ngisi? " tanya Sania.


"Belum, kami lagi berusaha" jawab Wulan.


"Berusaha cepat, memang kamu mau dipermalukan keluarga besar suamimu kalau kamu gak mau kasih anak sama suamimu? Ntar dibilang childfree atau ngga mandul, kan bahaya nama keluarga besar kamu karena ulahmu" sindir Sania.


Merasa tidak nyaman karena keluarga sepupunya, Wulan hanya bisa menahan sembari menunggu suaminya kembali lagi dari kamar mandi.


Setelah Marsel kembali lagi dari kamar mandi, Wulan kemudian berdiri dan mendekati Marsel sambil memberikan kode kode.


'Bang, Wulan pengen pulang, tadi ada janji sama Misella' bisik Wulan.


Marsel menanggapi permintaan istrinya, ia kemudian izin dengan Sania dan Yudi, bibi dan paman dari Wulan.


"Kalau begitu, kami permisi dulu ya, ibu bapak sekali, terimakasih atas pelayanannya" ucap Marsel.


"Sama sama"


Marsel dan Wulan langsung memutuskan untuk pulang, Wulan langsung mengambil tasnya dari kedua sepupunya dan segera pergi dari rumah, baginya keluarganya sendiri tak sepadan seperti keluarga suaminya yang benar-benar tulus menyayangi nya ketimbang keluarga nya sendiri.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Jangan lupa tinggalkan jejak 👣👣👣

__ADS_1


__ADS_2