Garis Merah

Garis Merah
19: Hari aneh


__ADS_3

Note author: maaf jika banyak kekurangan pada cerita, karena author masih pemula 🔰


.


Beberapa hari berlalu, perubahan sikap Wulan mulai terlihat jelas, ia kadang-kadang ingin menyakiti dirinya dan sesekali meringis kesakitan sampai menangis karena habis meminum obat, melihat hal tersebut membuat Marsel khawatir.


"Lan, kamu jangan aneh aneh sayang, ingatlah selalu sama Tuhan dan keluarga yang Wulan punya sekarang" ucap Marsel.


"Abang cuma bisa bilang begitu karena abang belum pernah ngerasain sakitnya yang Wulan rasakan... Kalau saja penyakit ini gak ada di tubuh Wulan, mungkin Wulan gak seperti ini, bang... " ringis Wulan.


"Gak perlu abang rasakan langsung saja abang sudah bisa merasakan apa yang Wulan rasakan sekarang. Abang berharap kamu bisa melewati semua ini, abang akan selalu ngedukung kamu sampai kista yang kamu derita itu hilang, abang akan usahakan secepatnya" ucap Marsel.


Wulan yang meringkuk meringis kesakitan mulai merayap memeluk Marsel yang duduk di pinggir kasur, Marsel memeluk erat istrinya dan mengelus punggung istrinya itu.


"Yang sabar ya sayang, semua ada jalannya, asalkan kamu berusaha untuk sembuh dari sakit ini. Besok abang bakal minta izin untuk temenin kamu konsultasi ke dokter, untuk lihat kemajuan kamu selama ini" ucap Marsel.


Wulan menganggukan kepalanya, Marsel mengelus rambut dan mencium kening istrinya.


"Abang berangkat dulu ya sayang, nanti kalau ada apa apa hubungi abang"


"Iya bang, hati hati di jalan, maaf kalau gak nganter sampai depan pintu kayak biasanya... " ucap Wulan.


"Gak papa, yaudah kamu istirahat ya, jangan lupa makan sama minum obatnya, assalamu'alaikum"


"Waalaikumsalam"


Marsel beranjak dari kasur, ia berjalan membawa barang barang kerjanya.


"Wulan mau anter abang sampai ke depan... " lirih Wulan.


"Tapi kan Wulan... "


"Gak papa bang, udah jarang banget sekarang Wulan anter abang sampai ke depan pintu karena lagi masa masanya nyeri seluruh badan karena efek obat yang Wulan minum" ucap Wulan, ia kemudian berdiri dan berjalan mengikuti Marsel.


"Hati hati dijalan ya bang, maaf kalau bekal yang abang bawa itu sayurnya masih kurang banyak"


"Gak papa, nanti abang beli tambahannya di warung makan, kalau begitu abang pergi ya" ucap Marsel.


"Dadah bang... "


Mobil Marsel mulai menjauh dari pandangan, Wulan kemudian melihat lantai terasnya kotor, ia berinisiatif untuk menyapu terasnya.


.


.


Saat sedang menyapu terasnya, Wulan melihat bu Tuti berlari ketakutan melihat ke belakang.


"Bu Tuti! " panggil Wulan, bu Tuti dengan wajah cemas dan ketakutan merespon panggilan Wulan.


"Eh, Wulan...! "


Bu Tuti kemudian mendekat ke arah rumah Wulan, Wulan kemudian mendekat dan bertanya.

__ADS_1


"Bu Tuti, kok ekspresi ibu kayak ketakutan gitu? Ada apa bu? "


"Lan, kalau kamu mau mampir ke warungnya bu Mega, hati hati sama tetangga di sebelah nya ya, denger denger dia ODGJ, barusan tadi ibu diganggu sama dia, ishhh! " ucap bu Tuti dengan serius menjelaskan apa yang terjadi padanya.


"Seriusan bu? Diganggunya kayak gimana? Ibu dipukul sama dia? " tanya Wulan dengan serius.


"Bukan loh, ibu tadi dibilang mandul mandul sama dia, katanya dia stress karena ditinggalkan sama istri istri nya sebab si ODGJ itu mandul, Lan. Bu Mega juga tadi sama suaminya dibilang pasangan nakal suka berhubungan badan sama dia, ibu takut takut aja sih kalau kamu mampir ke warung bu Mega, itu orang ada terus gangguin kamu. Soalnya kalau kata bu Mega, kalau cewe yang jalan sendirian diteriakin mandul sama tuh ODGJ, pokoknya hati hati aja ya Lan" jawab bu Tuti dengan ketakutan.


"Waduhh, denger omongan ibu Tuti soal tetangga nya bu Mega, Wulan jadi takut bu, mana juga Wulan sempat rencananya mau belanja sayur sama kebutuhan dapur dan alat mandi. Wulan jadi was was" ucap Wulan.


"Kalau kamu mau mampir ke warungnya bu Mega, tetap bisa kok, asal kamu bisa pantau keadaan ya, soalnya dia kadang ada kadang ngga di depan warungnya bu Mega, ini ibu lagi sial aja sih. Yaudah, ibu duluan ya Lan, soalnya belum masak di rumah abis beli sayur di warungnya bu Mega"


"Iya bu, makasih informasi nya" ucap Wulan, bu Tuti kemudian pergi meninggalkan Wulan untuk pulang.


"Aduh, kok jadi dilema ya? Padahal mau nyuci, deterjen gak ada, lusa juga bang Marsel mau pakai baju kemeja batik yang belum dicuci... Gimana ya...? "


Wulan memikirkan sesuatu untuk bisa pergi ke warung bu Mega, ia tidak mempunyai cara lain selain nekat harus belanja di warung bu Mega, karena cuma warung itu yang paling dekat dengan rumahnya.


"Yaudah lah, kalau ada juga cuekin aja, tapi dia ODGJ. Abang Marsel, tolong Wulan dalam menghadapi semua ini... "


Wulan nyerocos tidak jelas, ia kemudian membawa tas belanjanya dan juga dompetnya, ia kemudian menutup pintu rumahnya dan menguncinya setelah itu langsung pergi.


.


.


Di dekat warung bu Mega, dengan memantau keadaan sekitar akhirnya Wulan aman dari ODGJ yang diceritakan oleh bu Tuti, ia masuk dan melihat lelaki parubaya yang mengumbar senyuman pada Wulan.


"Harganya 23 ribu Lan"


"Bu Mega, Wulan mau nanya"


"Hm, nanya apa Lan? " tanya balik bu Mega.


"Di depan rumah ibu itu siapa ya? Dia duduk duduk sambil ngumbarin senyum sana Wulan. Anggota keluarga ibu Mega ya? " tanya Wulan.


"Hah?! Kamu ketemu sama dia?! Masih di depan rumah dia, Lan?! "


Bu Mega bertanya pada Wulan dengan ekspresi wajah yang cemas, Wulan mendengar pertanyaan bu Mega hanya menganggukan kepalanya.


"Lan, kamu tau gak, dia itu tuh ODGJ! " tegas bu Mega.


Wulan terkejut mendengar hal tersebut, ternyata laki-laki yang mengumbar senyuman padanya itu adalah ODGJ yang diceritakan oleh bu Tuti tadi.


"Itu ODGJ nya ya bu? Wulan baru tau, bu" ucap Wulan.


"Aduh, yasudah, sekarang kamu mau pulang kan? Ibu panggil suami ibu bentar ya buat kawal kamu sampai keluar warungnya ibu, biar kamu gak diganggu sama dia" ucap bu Mega.


"Gak ngerepotin bu? Makasih ya bu"


"Iya, sebentar ya, ibu panggilin dulu suami ibu"


Bu Mega kemudian bergegas ke dalam, sedangkan Wulan memantau keadaan di luar warung sambil menunggu suami bu Mega datang dan membantunya untuk berjalan keluar dari warung.

__ADS_1


"Pak, bantuin si Wulan buat dikawal sampai keluar warung ya pak, takutnya Wulan diapa apain sama dia, secara Wulan masih muda begini pak" ucap bu Mega.


"Iya bu, ayo Lan, saya kawal sampai keluar warung" ajak suaminya bu Mega.


Wulan dikawal oleh suaminya bu Mega, secara tiba-tiba entah kenapa ODGJ tersebut mulai berlari mendekati ke arah Wulan.


"Wanita cantik! Mandul ya?! " teriak ODGJ tersebut, Wulan terkejut dan mulai bersembunyi dibalik suaminya bu Mega.


"Hei, kamu gak usah ganggu pelanggan kami! Semenjak kamu kabur dari RSJ, kamu sering nangkring disini, kamu buat pelanggan kami risih! " bentak pak Erwin, suaminya bu Mega.


ODGJ tersebut nekat untuk mendekati Wulan, pak Erwin kemudian berusaha melindungi Wulan dari ancaman yang akan dilakukan oleh ODGJ tersebut, bu Mega mendengar hal tersebut ikut keluar dari warung sambil membawa rotan besar.


"Nikahlah sama aku, lagian juga kamu kan kabarnya udah tiga tahun lebih gak punya anak. Inceran ku banget wanita yang mandul, gimana caranya kamu memandulkan diri kamu sendiri? Bisa aku coba sama istri istriku! " teriak kegirangan ODGJ tersebut.


"Masih juga kau! Mega, kemarikan rotan nya! "


Bu Mega kemudian memberikan rotan yang ia pegang, pak Erwin mengambilnya dan mulai mengejar ODGJ tersebut hingga membuat ODGJ tersebut berlari ketakutan.


"Sudah Lan, sekarang kamu cepatan pulang ke rumah, mumpung suaminya ibu lagi ngusir dia, takutnya dia ngikutin kamu kalau kamu masih stay disini" ucap bu Mega.


"Sebelumnya makasih ya bu, kalau begitu Wulan permisi"


Wulan kemudian dengan cepat beranjak dari warung bu Mega, ia merasakan hari ini adalah hari teraneh yang pernah ia alami.


.


.


Sesampainya di depan rumah, Wulan melihat sebuah mobil yang terparkir didepan rumahnya, ia kemudian melihat ada beberapa orang wanita sedang duduk di teras rumahnya.


"Bibi Sania? Caca? Rena? "


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


Jangan lupa tinggalkan jejak 👣👣👣


__ADS_2