Garis Merah

Garis Merah
28: Marsel kecelakaan?


__ADS_3

Note author: maaf jika banyak kekurangan pada cerita, karena author masih pemula 🔰


.


Deg!


Ucapan tersebut menyentuh perasaan Wulan, dalam diamnya ia merasa bersalah telah menuduh Marsel macam macam.


"Yasudah! Sekarang terserah sama kamu sendiri! Mau kamu percaya atau ngga sama abang itu pilihanmu! Abang capek tiap hari harus menghadapi wanita aneh dan keras kepala seperti kamu! " tegas Marsel, ia kemudian berjalan dan meninggalkan Wulan untuk bergegas untuk pergi dari rumah.


"Bang! Bang Marsel...! "


Wulan mengejar Marsel, di depan rumah berlari mengejar Marsel, tetapi Marsel telah pergi menggunakan ojek.


Wulan kemudian tersungkur, ia menangis dengan perasaan bersalah, hingga membuat suaminya segera pergi tanpa beristirahat atau ia sambut terlebih dahulu.


.


.


Di perjalanan menuju ke kantor, sebelumnya Marsel telah menelpon Misella, karena Raka tidak bisa dihubungi beberapa bulan kedepan sebab beberapa hari berlalu adik iparnya berangkat dinas kembali ke luar daerah.


Tujuan Marsel menelpon Misella adalah ia ingin meminjam pakaian milik Raka, karena ia tidak mungkin ingin kembali lagi ke rumah habis ribut dengan Wulan.


'Halo kak, langsung aja ke rumah ya, motor Sela tadi dipinjem sama mama buat ke toko, jadinya Sela gak bisa nyusul kakak ke sana'


"Begitu ya, yaudah, kakak kesana ya, tunggu sebentar" ucap Marsel.


Marsel kemudian menepuk-nepuk pundak supir ojek, ia meminta ojek tersebut mengikuti petunjuk arah peta yang sudah dibagikan oleh Misella.


"Tolong ikuti jalan ini ya bang, ada urusan sebentar" ucap Marsel.


"Oh iya mas"


Ojek tersebut mengikuti jalan yang telah ditunjukkan pada peta.


Menunggu sepanjang perjalanan, akhirnya Marsel sampai di kediaman keluarga nya, ia kemudian masuk ke rumah dan telah disambut oleh Misella yang sedang menimang Rafael.


"Sela, maaf ya pagi pagi begini kakak harus nelpon kamu, tapi sekarang kakak lagi butuh banget bantuan kamu" ucap Marsel.


"Iya kak, sekarang kakak mandi sama sarapan dulu ya, kasihan nanti gak bertenaga saat kerja" ucap Misella, Marsel menganggukkan kepalanya dan masuk ke rumah.


Sebelumnya, Marsel telah menyuruh Misella menawari minuman dan makanan untuk supir ojek yang di sewanya, karena akan lama menunggu nya bersiap siap dan sarapan terlebih dahulu.


"Masuk dulu pak, bakalan lama kalau nunggu kakak saya" tawar Misella sambil menghidangkan minuman dan makanan untuk supir ojek kakaknya.


.


.


Beberapa menit menunggu Marsel yang bersiap siap, Misella mengajak Marsel untuk sarapan terlebih dahulu.


"Kak, sarapan dulu ya, ini mama kita yang masak sebelum dia pergi ke toko"


Marsel kemudian duduk, sambil menimang Rafael, Misella menyendokkan nasi dan lauk untuk kakaknya.


"Dimakan ya kak" ucap Misella, Marsel mengambilnya dan memakannya.


Misella duduk menatap kakaknya, dengan menimang Rafael yang akhirnya tertidur, ia kemudian ingin bertanya dengan kakaknya itu.


"Kakak ribut lagi sama mbak Wulan? " tanya Misella.


Pertanyaan tersebut membuat Marsel memberhentikan makannya, ia menaruh kembali sendoknya kemudian mulai menghela nafasnya dan bersender di kursinya.


"Sepertinya itulah, Sela. Nampaknya mbak Wulanmu mulai suka berbohong sama kakak, hingga dia suka overthinking, nuduh nuduh kakak sembarangan tanpa bukti" jawab Marsel.


Misella mengerutkan keningnya, tampaknya ia belum mengerti apa maksud ucapan dari kakaknya.


"Maksud kakak? " tanya Misella.


Marsel menghela nafasnya, ia kemudian mulai menjelaskan semuanya pada adiknya itu.


"Kakak gak tau lagi, Sela. Dia bisa berbohong, mulai segala macam, seperti dia ingin menutupi semua rahasia nya dengan menyalahkan kesalahan yang sudah lalu. Tas yang diberikan oleh Arinska saja kemarin diambil oleh keluarga nya saja dia gak mau ngaku, malah dia mulai berdrama, seakan akan kakak lah yang menyiksa dirinya dengan berbagai pertanyaan kakak yang meminta dia untuk jujur. Andaikan saja penyakitnya tidak separah itu, mungkin mbakmu gak bakalan seperti ini sama kakak, pasti rumahtangga kakak sama mbakmu baik baik saja, gak bakalan kakak sama dia ribut terus" jelas Marsel.

__ADS_1


Misella mengerti semuanya, mulai dari penyakit yang diderita oleh kakak iparnya saja ia sudah tau dari Salma.


"Kak, apa kakak tetap menuntut mbak Wulan untuk mempunyai anak? " tanya Misella.


"Jangan tanya seperti itu, Sela, tak setega itu kakak akan memaksanya dengan kondisinya yang seperti orang yang putus asa, hampir depresi. Kakak ingin dia sendiri yang memutuskan semuanya, kakak bersyukur kalian tidak terlalu menuntut kami berdua untuk mempunyai anak" jawab Marsel.


Misella menganggukan kepalanya, ia kemudian menggenggam tangan kakaknya dengan erat.


"Yang sabar ya kak. Kakaknya Sela kan orangnya gagah, kuat dan perkasa, ganteng lagi. Masa masalah sepele mau nyerah? Arwah beraninya kakakku kemana kemarin? " tanya Misella dengan guyonannya.


Marsel tersenyum, dengan usil ia mencubit hidung Misella hingga membuat Misella meringis kesakitan.


"Sakit kak! Eh, Rafael bangun"


Misella membenarkan posisi gendongannya pada Rafael, Marsel tersenyum melihat keponakannya itu bangun dari tidurnya.


"Udah bangun ya nak? Maafin ayah Marsel ya, akibat ganggu ibunya Rafael, jadi bikin Rafael bangun tidur" ucap Marsel menatap lembut ke arah Rafael.


Misella melihat sorot mata kakaknya, benar benar sorot mata tulus pada seorang anak.


Kadang Misella juga merasa kasihan dengan kakaknya, hampir dua tahun menikah belum dikaruniai seorang anak, dapat ia rasakan perasaan kakaknya yang sangat menanti seorang anak.


"Kak" panggil Misella, Marsel menatap Misella.


"Oh iya, udah hampir telat ya? " tanya Marsel.


"Bukan kok, tapi... "


"Yaudah Sela, kakak pergi dulu ya, jaga diri baik baik sama Rafa di rumah" ucap Marsel.


Sebelum ia pergi, Marsel mencium wajah keponakannya itu, Misella kemudian salam kepada kakaknya, akhirnya Marsel berangkat bersama supir ojeknya.


.


.


Sesampainya di kantor, Marsel disambut oleh kelompok kerjanya, sepertinya sedang menyiapkan sesuatu untuknya.


"Queretta Marsel, selamat ulang tahun yang ke 26! "


"Kalian kok ingat? " tanya Marsel.


"Ingat dong, kami kan pernah lihat kalender sama portofolio kamu, ya jelas sekali kami lihat tanggal lahir kamu, hari ini ternyata hari kelahiran kamu" ucap Kirana.


Marsel kemudian mengusap wajahnya, yang ternyata ia menangis.


Melihat Marsel yang menangis, semua kelompok kerjanya merasa iba dan mengelus pundak Marsel, bertujuan untuk menenangkannya.


"Cup cup cup, udah dong, baru kali ini kita lihat dia nangis ya gess" ucap Putri.


"Kalian tuh benar-benar ya, kalian tuh bukan kelompok kerja, tapi kalian tuh teman baik. Aku sangat terharu, baru kali ini dirayakan seperti, malah dirayakan oleh teman teman baru. Hah, jadi terhura" ucap Marsel sambil mengusap air matanya.


"Ya sudah Sel, sekarang tiup gih, biar di meja kerja kita bisa makan sama sama" ucap Evi.


Marsel kemudian meniup lilinnya, kelompok kerjanya bersorak gembira dan dengan jahil mencolek wajah Marsel dengan kue.


"Hei, udah, kita nanti aja bercandaan nya, lanjut kerja dulu yuk" ajak Marsel.


"Yaudah, ayo, jangan lupa lanjutin lagi ya" ucap Yunita.


"Dih, si Yuni, seneng banget nih jahilin Marsel" ucap Dimas dengan tersenyum.


"Aihh, mau ngomong apa lagi kamu? Aku gigit nanti" ancam Yunita.


Guyonan Dimas dan Yunita membuat suasana menjadi seru, tetapi mereka tetap memutuskan untuk segera bekerja dan akan melanjutkan perayaan ulang tahun Marsel nantinya.


Di kediaman Marsel, tampak Wulan sedang memasak sesuatu, dengan fokus ia membuat sebuah kue.


Mengingat hari itu adalah hari ulangtahun suaminya, dan juga ingin menjadikan kejutan dari nya untuk permintaan maaf sebesar-besarnya pada suaminya, Wulan berusaha membuatkan kue yang spesial untuk suaminya.


"Abang, dengan kue ini dan hari ulangtahun abang hari ini, Wulan ingin minta maaf sama abang sebesar-besarnya. Wulan harap, abang nanti akan pulang dengan ikhlas memaafkan Wulan" ucap Wulan sambil mengadon kue.


.

__ADS_1


.


Menunjukkan pukul 11 malam, kelompok kerja Marsel akhirnya menyelesaikan pekerjaannya, mereka kemudian berniat merayakan ulang tahun Marsel di restoran.


"Sel, jangan pulang dulu ya" ucap Evi.


"Loh, gak usah repot repot ngerayainnya sampai ke restoran, jadi gak enak aku" ucap Marsel.


"Dih, aku tau nih, mau langsung pulang, gak sabar kelonan sama istri kan? " tanya Dimas dengan jahil.


"Apaan sih mas? Itu mah kamu yang pengen" ucap Kirana.


"Sabar dulu dong, Dimas, puasanya masih 30 hari lagi, biarin istrimu istirahat dulu, giliran anakmu dulu" ucap Putri.


"Dih, kena batunya aku" ucap Dimas.


"Yasudahlah, kalau bisa besok ya, kita pulang yuk" ajak Evi, semua kelompok kerja tersebut langsung pulang.


Di depan kantor, Marsel telah ditunggu oleh supir ojeknya, ia kemudian langsung naik dan ingin langsung pulang ke rumah.


Sebenarnya ada perasaan bersalah di hati Marsel pada Wulan, karena tadi pagi ia telah membentak istrinya dengan mengucapkan tidak akan memperdulikan Wulan lagi.


Marsel menyesal, tak seharusnya ia mengucapkan kalimat tersebut untuk istrinya, karena ia tau, hanya dirinya lah yang menjadi sandaran maupun pelindung untuk Wulan sebab tak ada lagi keluarga untuk Wulan selain dirinya dan keluarganya.


.


.


Di perjalanan, terlihat kemacetan sepanjang perjalanan, karena menunggu lampu merah.


Secara tiba-tiba sebuah mobil truk besar dari belakang melaju dengan cepat, sepertinya terlihat remnya blong.


Brak!


Memang malang, semua pengendara termasuk Marsel dengan supirnya, mengalami kecelakaan beruntun bersama pengendara lainnya.


"Auh! "


Lengan Wulan terkena pinggiran panci panas, ia meringis kesakitan dan segera membasahi lengannya dengan air keran.


"Kok daritadi firasat ku gak enak ya? Mana juga bang Marsel belum pulang pulang juga, udah jam 11 malam, mau ngehubungin bang Marsel tapi hpku rusak dan pecah karena ku banting kemarin" ucap Wulan.


'Wulan! Wulan! '


Suara teriak dari luar memanggil nama Wulan, Wulan kemudian mematikan keran air wastafel nya dan berlari keluar.


"Bu Sri, ada apa bu? " tanya Wulan.


Tampaknya para ibu ibu mulai sibuk keluar rumah, mereka bertujuan untuk pergi entah kemana.


"Lan, suamimu kecelakaan! "


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


Jangan lupa tinggalkan jejak 👣👣👣


__ADS_2