
Note author: maaf jika banyak kekurangan pada cerita, karena author masih pemula 🔰
.
Beberapa hari berlalu, Marsel dan Wulan melakukan aktivitas seperti biasanya, mereka kali ini memutuskan untuk menginap beberapa hari di rumah keluarga Thomas untuk melihat Rafael.
Suara tangisan bayi kini selalu terdengar di kediaman keluarga Thomas, karena Rafael yang masih kecil itu rewel, membuat rumah suasananya menjadi ramai karena tangisannya.
"Ululululu cucunya nenek, kenapa sayang? "
Salma menimang nimang Rafael, sedangkan Misella makan terlebih dahulu sebelum menyusui Rafael.
Di belakang rumah, tampak Wulan selesai menjemur baju dan memutuskan masuk ke dalam rumah.
"Eh mbak, baru ngejemur baju baju ya? "
Terlihat Raka sedang mengangkut ember berisi baju dan popok kain milik Rafael, Wulan menganggukkan kepalanya.
"Iya ka, sekarang mbak juga mau istirahat dulu, kalau bisa tolong angkutin baju yang sekiranya udah kering nanti ya, ka" ucap Wulan.
"Iya mbak, kalau begitu, Raka mau kebelakang dulu"
Raka kemudian kebelakang, sedangkan Wulan menuju ke kamarnya.
Saat menuju ke kamar, ia kemudian melihat Marsel yang ingin berangkat bekerja.
"Abang, abang mau berangkat kerja? " tanya Wulan.
"Iya, abang mau berangkat kerja, abang pergi dulu ya"
"Iya, Wulan anter sampai ke depan ya" ucap Wulan.
Marsel dan Wulan berjalan bersama ke luar rumah, mereka sambil bergandengan menuju ke pintu utama.
"Abang pergi dulu ya sayang, bantuin mama sama Sela, kalau capek istirahat ya, dan juga kalau lapar bisa masak sendiri ya" pesan Marsel.
"Iya bang, Wulan udah hapal, yaudah, hati hati ya bang"
Wulan bersalaman dengan Marsel, Marsel kemudian mencium kening istrinya dan juga mencium bibirnya.
"Ishhh abang...! " ucap Wulan dengan malu malu, Marsel tersenyum dan mengacak-acak rambut Wulan.
Marsel masuk ke mobilnya, Wulan melambaikan tangan nya sembari menunggu mobil suaminya menjauh dari pandangannya.
"Lan... "
Wulan merespon panggilan dari belakang, itu adalah Salma yang sedang menimang Rafael.
"Eh, kenapa mah? " tanya Wulan.
"Tolong timang Rafa dulu ya, mama mau mandi sama siap siap ke toko, nanti siang mama usahain cepat pulang, soalnya bakalan rindu sama Rafa" jawab Salma.
"Oh iya, boleh mah, sini Rafanya Wulan timang"
Salma kemudian memberikan Rafael ke pangkulan Wulan, dengan perlahan Wulan menimang Rafael.
"Rafael sama bunda Wulan dulu ya, nenek mau ke toko, nanti siang nenek bakalan main sama Rafa lagi" ucap Salma dengan Rafael kecil yang sedang tertidur itu.
Seperginya Salma dari ruang tamu, terlihat Wulan yang sedang menimang Rafael dengan pelan.
Wulan menatap dengan teliti setiap wajah Rafael, wajah Misella yang tak terlepas dari Rafael, membuat Wulan menghayal sesuatu.
'Pengen banget aku bisa hamil dan melahirkan anak yang wajahnya mirip sama bang Marsel, hitung hitung bibit unggul nya bang Marsel nanti buat calon anak ku '
Wulan kemudian mencium pelan wajah Rafael, ia kemudian lanjut menimang Rafael sampai Rafael tertidur.
.
.
Di kantor, Marsel yang baru sampai dengan bermacam-macam dokumen dan barangnya, khas sekali ia dengan kesibukannya menyusun barang barangnya.
"Pagi Sel, wah kayaknya lagi seneng nih, ada apa sih? " tanya Kirana.
"Iya, ada apa Sel? " tanya Putri.
"Ya, aku senang karena adikku udah lahiran, dan aku udah punya keponakan, panggilan ku juga ada loh" jawab Marsel.
"Wahh, pasti papa atau om nih" ucap Yunita.
"Ishh, adiknya Marsel yang lahiran, jadi anaknya kalau manggil Marsel ya papa, bapak atau ayah" tegur Evi.
"Yeee, salah aku kali ini, hehehe" ucap Yunita dengan malu malu.
Kelompok pekerja itu tertawa bersama, karena obrolan mereka yang tak jelas dan terkesan absurd.
"Oh iya, sebelumnya ada yang ulang tahun nih, hmmm pada nyadar gak ya...? " ucap Kirana.
"Hah? Siapa yang ulang tahun? " tanya Dimas.
Kirana kemudian berjalan ke arah meja Putri, ia kemudian menepuk bahu Putri, semuanya akhirnya menyadari.
"Ohhh, ternyata si Putri nih yang lagi ultah, happy birthday yang ke 22 tahun, Putri" ucap Yunita.
"Hah? Umur Putri masih 22 tahun? Bukannya Putri udah punya anak 2 ya? " tanya Evi.
"Anak anaknya Putri masih kecil kecil, Vi. Dia sama suaminya nikah muda, umur 20 tahun suaminya, David, ngajakin si Putri yang masih 17 tahun buat nikah muda. Anak sulungnya aja umurnya masih 5 tahun, sedangkan si bungsu umurnya 2 tahun" jawab Marsel.
"Wihhh si Marsel, kok tau semuanya sih? Penguntit ya? " goda Dimas.
"Sembarangan, aku sama suaminya temenan pas SMA sampai kuliah, si David aku akui walaupun dia dulu masih muda, tapi dia suami yang bijaksana dan sayang istri. Pas masa masa kuliah dulu, dia lebih milih ngurusin Putri yang lagi hamil ketimbang masuk kelas kuliah. Jadi, aku bisa tau umur anaknya karena kalau sering ketemu, si David suka nunjukin foto anak anaknya, foto Putri sama dia paling 1-2 foto aja" jelas Marsel.
"Udah ah Sel, jadi malu kalau dijelasin semuanya... " ucap Putri dengan malu malu.
"Cieee, ibu muda ulang tahun, rayain dimana nih? " goda Yunita.
"Yaudah, nanti sepulang kerja, mumpung dapat jadwal kerja cepat, nanti kita makan di saung dekat kebun teh ya, aku sama David traktir" ucap Putri.
Kelompok kerja tersebut merasa senang, mereka bersorak gembira dan langsung menutup mulutnya, karena suara mereka besar dan menganggu kelompok kerja yang lain.
__ADS_1
"Jangan berisik ya, ayo kita lanjut kerja, biar cepat selesai" ucap Putri.
"Siap" ucap kelompok kerja Putri dengan bersamaan.
.
.
Di kediaman keluarga Thomas, tepatnya di kamar milik Marsel, terlihat Wulan sedang serius menelpon seseorang.
"Jangan...! Aku mohon jangan... Serius, Wulan belum punya uang buat transfer untuk Caca sama Rena... " ucap Wulan dengan memelas.
'Makanya cepat transfer! Mustahil kamu gak nyimpen uang! Kasihan adik adikmu, mau jajan sama beli kosmetik aja harus nunggu transferan dari kamu! Mana alasannya gak ada uang lagi! ' tegas Sania dari telpon.
"Bi, Wulan serius, Wulan belum ada uang... Wulan janji, kalau Wulan di kasih uang belanja sama bang Marsel, Wulan bakal langsung transfer sama bibi, asalkan bibi jangan bocorin penyakit Wulan ini sama keluarga besarnya bang Marsel... " ucap Wulan dengan memohon.
'Oke, aku tunggu kamu transfer uangnya sampai minggu depan, dengan dua kali lipat! Ngerti?! ' tegas Sania.
Wulan hanya bisa menuruti kemauan bibinya, baginya lebih baik ia menuruti kemauan bibinya ketimbang keluarga besar suaminya tau bahwa ia memiliki penyakit kista.
'Ya sudah, aku matiin telponnya, soalnya tukang spa ku datang, ingat, awas kalau gak ingat! ' ancam Sania.
Panggilan berakhir, Wulan langsung menaruh hpnya di sebelahnya, ia kemudian merenung.
"Dimana aku bisa dapat dua kali lipat dari uang belanja dari bang Marsel, sedangkan aku saja gak diperbolehkan bekerja lagi sama bang Marsel... " keluh Wulan, ia kemudian menangis.
.
.
Menunjukkan pukul 4 sore, sesuai janji, Putri mengajak kelompoknya untuk ditraktir makan, karena Putri sedang berulang tahun hari ini.
"Mama, selamat ulang tahun... "
"Ayah? "
Putri berlari memeluk David, David ingin mencium Putri tetapi sudah ditahan oleh Putri, karena ia malu jika David asal menciumnya.
"Cieee Putri... " sorak wanita-wanita yang ada di depan, Putri merasa malu dan menutup wajahnya.
"Yaudah, ayo kita berangkat bersama sama, kalian giring kami dari belakang aja ya" ucap David.
"Wokeh"
Semua bergegas ke mobil dan motor masing-masing, mereka mengikuti kemana arah mobil David dan Putri berjalan.
Sesampainya di saung, mereka semua memarkirkan kendaraan mereka di parkiran, selesai memarkirkan kendaraan mereka berjalan bersama sama untuk mencari tempat yang sudah di booking sebelum nya.
Lagu yang santai dan lembut sekarang berubah menjadi lagu ulang tahun, MC lagu yang berada di panggung nya sendiri mulai menyanyikan lagu ulang tahun yang terkesan santai dan lembut.
Hari yang bahagia untuk Putri, ia merasa sangat spesial dengan kehadiran suami, anak anaknya dan kelompok kerjanya yang ikut merayakan ulang tahunnya.
"Ayo mah, ditiup dulu lilin ulang tahun nya, tapi sebelumnya make a wish dulu" ucap David.
Putri menganggukan kepalanya, sedangkan fotografer yang telah dipesan oleh David memotret semua momen yang ada.
"Sini kalian semua, aku mau suapin kue untuk kalian" ucap Putri.
Satu persatu para kelompok kerja Putri suapi dengan kue ulang tahun nya, kini saatnya Marsel yang akan disuapi oleh Putri.
"Gak papa nih, vid? " tanya Marsel pada David.
"Santai aja, kan tujuan istriku ngerayain ulang tahun beginian sama suapin kalian semua, biar kalian ikut merasakan dan merayakan ulang tahun istriku" jawab David dengan santai.
Saat Marsel ingin disuapi, seketika David dengan iseng mencolek wajahnya dengan krim ulang tahun, begitupun diikuti oleh Putri, Marsel kali itu menjadi keisengan dua pasutri itu.
"Jahil banget kalian ya? " tanya Marsel, David dan Putri tertawa, begitupun dengan kelompok kerja lainnya.
"Ya sudah, sekarang kita semua makan ya, nikmati, kalau mau nambah minta traktir sama Marsel" ucap David.
Marsel terkejut, kemudian David tertawa melihat ekspresi Marsel.
"Ish ayah ini, lihat, Marsel nya sampe terkejut begitu, jahil banget" ucap Putri sambil menahan tawanya.
.
.
Di kediaman keluarga Thomas, terlihat Wulan yang sedang menimang Rafael karena ia ingin menimang Rafael.
"Mbak, makasih ya udah nimang Rafael, tadi perut Sela benar-benar mules sih, hehehe" ucap Misella, Wulan kemudian memberikan Rafael ke Misella.
"Yaudah, mbak mau makan dulu ya, dadah anak ganteng" ucap Wulan.
"Dadah bunda Wulan, makannya yang kenyang ya, biar bisa main sama Rafael lagi... " ucap Misella.
Wulan kemudian berjalan ke dapur, sambil makan ia bermain HP.
Wulan kemudian melihat sosmed milik Marsel, yaitu akun Marsel yang ditandai, sebuah foto dan video ada di akun Marsel yang ditandai tersebut.
Satu persatu Wulan melihat foto foto tersebut, ia kemudian teralihkan oleh foto Marsel yang sedang disuapi oleh Putri.
Wulan merasa kesal dan marah, ia melihat wajah suaminya dicolek mesra oleh Putri dan disuapi seakan akan menatap mesra.
Brak!
Wulan menggebrak meja makan, hal tersebut membuat Raka yang berada di pintu belakang rumah terkejut dan menyusul ke dapur.
"Mbak Wulan, ada apa?! " tanya Raka dengan panik.
Wulan kemudian beranjak dari dapur, dengan langkah kaki marah ia menuju ke kamar, sedangkan Raka yang masih penasaran dengan kakak iparnya kemudian mengikutinya.
Pintu kamar tertutup, Raka tidak berani mengetuk pintu kamar, ia menunggu Wulan keluar dari kamar.
Pintu kamar Marsel terbuka, terlihat Wulan menenteng tas dan barang barangnya, Wulan juga berpapasan dengan Raka yang ada di depan pintu.
Tanpa basa basi, Wulan menghela nafasnya.
"Antar mbak pulang, ka! " tegas Wulan.
__ADS_1
"Tapi kan mbak, mbak pulangnya kan harus sama kak Marsel, kok mendadak? " tanya Raka.
Mendengar suara ribut didalam, Misella yang sedang menggendong Rafael langsung menyusul ke dalam, melihat apa yang sedang terjadi.
"Loh mbak, mbak Wulan mau kemana? " tanya Misella.
"Mbak mau pulang, Sela" jawab Wulan.
"Janganlah mbak, mbak kan harusnya pulang sama kak Marsel, masa mbak mau langsung pulang sendirian tanpa kak Marsel?" tanya Raka.
"Iya mbak, disini aja dong, nanti si Rafa rindu sama bunda Wulan nya" ucap Misella.
"Maaf Sela, tapi mbak mau pulang sekarang. Beri kabar saja untuk bang Marsel, kalau mbak udah pulang ke rumah awal" pesan Wulan menahan emosi.
Karena sudah tau urusan persoalan rumahtangga, Raka dan Misella saling memberi isyarat, akhirnya Raka siap mengantarkan Wulan kembali ke rumahnya.
.
.
Magrib telah tiba, Marsel pulang dari acara ulang tahun Putri, ia pulang menuju rumah orangtua nya dan memarkirkan mobilnya.
"Assalamu'alaikum"
"Waalaikumsalam, eh kak Marsel, kok gak langsung pulang ke rumah, kak? " tanya Raka.
Mendengar ucapan Raka, Marsel mengerutkan keningnya.
"Kenapa? Kamu ngusir, ka? " tanya Marsel.
"Bukan begitu kak, soalnya tadi kata mbak Wulan, kak Marsel udah tau dan bisa langsung pulang ke rumahnya kakak" jawab Raka.
"Loh, memangnya mbak Wulan mu kemana? " tanya Marsel.
"Mbak Wulan udah pulang ke rumahnya kakak, tadi sore dia minta Raka anterin dia ke sana" jawab Raka.
Merasa pasti ada sebab, Marsel kemudian masuk ke dalam rumahnya, ia membereskan barang barangnya yang masih ada di kamarnya kemudian menenteng tas nya.
"Ya sudah ka, kalau begitu kakak pamit ya, kalau mama sama papa nanya kakak sama mbak, bilang aja kami ada urusan mendadak di rumah kami" ucap Marsel.
"Iya kak, hati hati dijalan"
Marsel kemudian masuk ke dalam mobil, ia kemudian mengendarai mobilnya menuju ke rumahnya.
Sudah hampir 2 jam di perjalanan, akhirnya Marsel pulang ke rumahnya, ia melihat lampu depan rumahnya tidak menyala, begitupun di dalamnya.
Merasa cemas dan takut di prank, akhirnya Marsel memutuskan untuk masuk ke dalam rumah, ia mencoba membuka pintunya, tetapi pintu rumahnya tidak dikunci.
Suasana gelapnya malam dan tidak ada cahaya, membuat Marsel merasa takut, takut jika rumahnya kemalingan dan Wulan dalam keadaan tidak baik baik saja, ia mencoba menghidupkan saklar lampunya tetapi tidak hidup sama sekali.
Tiba-tiba sorot lampu senter menyala dari kamar, Marsel terkejut, ternyata itu adalah Wulan.
"Lan, kenapa lampu sama listrik rumah kita gak hidup? " tanya Marsel.
"Heh, giliran ulang tahun selingkuhan ingat, tagihan listrik rumah gak inget! " ucap Wulan dengan kesal.
Merasa itu adalah sebuah awal keributan, Marsel berusaha untuk tenang sejenak dan mencoba membayar tagihan listrik nya lewat online.
.
.
Menunggu beberapa menit, akhirnya listrik rumahnya hidup, Marsel melihat Wulan dengan wajah yang terlihat kesal dan duduk dengan melipat kedua tangannya.
"Lan, abang bisa... "
"Bisa jelasin apa?! Basi! Apa maksud abang dengan suap suapan sama si Putri itu, hah?! Sengaja ya mau nunjukin perselingkuhan abang sama dia dari sosmednya abang?! " bentak Wulan.
"Astaghfirullah Lan, abang gak selingkuh sama dia. Abang sama teman teman kerja abang diajak dia buat ngerayain ulang tahunnya, bukan selingkuh, suaminya aja ada kok di sana, itu fotografer nya yang motret" jelas Marsel.
Merasa bagi Wulan itu suatu alasan, terkeluar lah ucapan kotor yang mengarah ke Marsel.
"Wulan! Berani kamu bilang abang dengan ucapan kotor?! Abang ini suamimu! " tegas Marsel.
Akhirnya mereka berdua adu mulut, Marsel dan Wulan akhirnya ribut besar, Wulan melemparkan bantal sofa ke arah Marsel, sedangkan Marsel menggenggam lengan Wulan dengan kuat.
"Lepasin! " teriak Wulan.
"Gak! " tegas Marsel.
Akhirnya Wulan menyerah, kekuatan nya tak sebanding dengan Marsel, ia akhirnya menangis.
Marsel merasa ia telah menyakiti Wulan, ia melepaskan genggaman nya, ia kemudian meminta maaf pada Wulan, tetapi Wulan tidak menjawab maafnya.
"Daripada kita yang selalu ribut selama dua tahun pernikahan ini, dan juga Wulan belum bisa memberikan keturunan untuk abang, Wulan minta sama abang, ceraikan saja Wulan, bang... "
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Jangan lupa tinggalkan jejak 👣👣👣
__ADS_1