Garis Merah

Garis Merah
31: Asmara LaMar


__ADS_3

...âš  Mengandung unsur bahasa yang sedikit membuat geli dan tak nyaman, diharapkan bijak dalam membaca...


...Selamat membaca~...


.


Dua minggu berlalu, Marsel mulai pulih dari sakitnya sesudah kecelakaan, ia memutuskan untuk kerja kembali ke kantor setelah sebelumnya bekerja dari rumah saat pemulihan.


"Abang serius udah mau langsung kerja, bang? " tanya Wulan yang sedang memasak.


Marsel yang sedang berjalan dari kamar mandi menuju ke dapur menghampiri Wulan, ia kemudian menyenderkan dagunya di atas kepala istrinya.


"Bang, sakit" ucap Wulan.


"Abang seriusan mau kerja, lagipula abang mau melatih badan abang yang sempat kaku dari minggu kemarin, gak bakalan mungkin abang gak terbiasa mau gerakin badan abang, nanti bisa manja terus sama Wulan" ucap Marsel dengan nada bercanda.


Wulan mendengar ucapan suaminya menganggukan kepalanya, ia kemudian mengangkat masakannya ke piring.


"Yasudah, abang ganti baju sana, gak mungkin abang mau pake handuk begitu aja, nanti melorot bahaya" ucap Wulan.


"Gak bahaya, kan yang lihat cuma Wulan. Kalau hidup ya abang tinggal tarik Wulan ke kamar, biar di tenangin sama sangkarnya" ucap Marsel dengan nada menggoda.


"Abang! Bisa gak pikiran abang tuh gak ngarah ke sana terus?! Vulgar banget sih! " tegas Wulan dengan wajah memerah.


"Dih biasa aja, lagipula kan Wulan udah jadi istri abang, kecuali kalau belum jadi istri abang gak bakalan semurah itu abang kasih tunjuk, harga diri itu harga mati" ucap Marsel dengan bercanda.


"Iyalah tuh, udah, sekarang abang ganti baju sana, gak mungkin juga Wulan yang masangin baju abang" ucap Wulan sambil menaruh masakan di meja makan.


Marsel terpancing dengan ucapan Wulan, ia kemudian menarik lengan Wulan, membuat Wulan terkejut.


"Abang, kenapa sih?! " teriak Wulan.


"Ayo ikut abang, kata kamu, kamu mau pasangin bajunya abang. Sini, ikut abang ke kamar" ucap Marsel.


"Ishh, ngga ah! Wulan cuma bercanda aja ah! Abang! "


Suasana pagi Marsel dan Wulan di penuhi dengan candaan dewasa, Wulan merasa geli, namun ia tidak merasa candaannya dengan suaminya itu membuatnya tidak nyaman dan hanya menganggap itu semua candaan biasa.


Di depan rumah, Wulan membawakan barang barang milik Marsel, ia kemudian menyerahkan satu satu barang milik Marsel untuk dimasukkan di dalam mobil.


"Abang pergi kerja ya Lan, jaga rumah" ucap Marsel.


"Iya bang" ucap Wulan.


Marsel kemudian mencium kening istrinya dan mencuri ciuman ke bibir Wulan, namun Wulan hanya tersenyum, tak seperti biasanya akan salting.


Mengambil kesempatan, Wulan melingkarkan satu lengannya ke bahu Marsel, ia mulai membisikkan sesuatu pada Marsel.


'Abang, nanti malam pulangnya jangan kelamaan ya, Wulan mau nunjukin sesuatu sama abang' bisik Wulan.


Insting laki laki Marsel bekerja, pikirannya mulai memberitahukan nya sebuah pemikiran yang ia dengar dari istrinya, adalah sebuah sesuatu yang akan ditunjukkan oleh Wulan nanti.


'Iya sayang, abang gak bakalan pulang lama, tunggu abang ya' bisik Marsel.


Wulan tersenyum, ia kemudian melepaskan lingkaran lengannya di bahu suaminya, ia bersalaman dan mengucapkan semangat pada Marsel.


Seperginya mobil Marsel dari rumah, Wulan kemudian memasuki rumahnya, sebelumnya ia melihat ke samping rumahnya tepatnya rumah bu Jeni, bu Jeni menatap ke arah mobil suaminya pergi, tetapi dengan hati yang jernih, baginya mungkin bu Jeni melihat pemandangan yang searah dengan mobil suaminya pergi.


Wulan memutuskan untuk masuk ke rumah, ia menutup pintunya dari dalam kemudian mulai berberes beres.


.


.


Di kantor, Marsel kemudian membawa barang barangnya, sesampainya di mejanya ia disambut baik oleh kelompok kerja nya.


"Selamat datang kembali, Marsel, lekas sembuh ya rasa nyeri yang ada di badan kamu, Sel" ucap Putri dengan menyambut Marsel.

__ADS_1


"Iya, makasih"


"Udah kelihatan sehat ini, cuma bekas lebam abis kecelakaan nya masih ada, jangan lupa pake minyak yang aku kasih kemarin ya, Sel" ucap Kirana.


"Iya, udah ku pake, agak mudar hasilnya, makasih Kirana" ucap Marsel.


"Cepat sembuh, Sel, kasihan istri nganggur karena suaminya gak bertenaga habis musibah kemarin, kurang belaian bisa bikin bahaya loh" ucap Dimas.


Mendengar ucapan Dimas, para perempuan yang ada di kelompok kerjanya mendorongnya dan menyoraki nya.


"Apaan sih Dim, otakmu itu kotor terus, gak bisa mikirnya yang jernih dikit apa? " ucap Yunita.


"Entahlah, mana ada Marsel mikir begituan, itu otak kamu tuh yang ngeres, mikirnya ngarah ke situ, sabar dulu kek buat nunggu istrimu bisa ajak main" ucap Putri.


"Ya biasa aja dong, itu kan memang insting kami sebagai seorang laki-laki sesudah nikah, Marsel juga pastinya pernah mikir kayak gitu kok, bukan aku aja" ucap Dimas membela dirinya.


"Gak pernah, kalau mau ya langsung curhat sama istriku, kamu gak tahanan jadi orang, Dimas" ucap Marsel.


"Dih, bukannya ngebela malah ikut nyerang, gak asik kamu Sel, unfriend kita"


Mereka semua tertawa melihat Dimas yang merajuk, karena lagi lagi berhasil membuat Dimas yang sedang berpikiran kotor menjadi hilang karena merajuk.


"Udah yuk, kalau gitu kita langsung kerja ya, nanti kita gak dapat target kerja, kan lumayan bulan depan terakhir ngejar target" ucap Marsel.


Mendengar ucapan Marsel, semua kelompok nya yang tertawa menjadi terdiam, mereka mulai bertatapan satu sama lain dengan raut wajah mereka yang seakan sedih.


"Yah, aku lupa" ucap Marsel.


"Aduh, kok cepat banget ya, baru berasa kemarin kita sama sama kompak buat ngejar target kerjaan ini, gak nyangka udah mau mendekati target kinerja kita, kini udah mau abis aja jangka waktu kejar targetnya" ucap Putri.


"Bakalan pisah meja kerja lagi kita, apalagi Marsel sama Kirana dan Evi nanti juga ikut pindah ke ruang kerjanya lagi, jadi kangen aja" ucap Yunita.


"Ya, cepat banget ya, jadi gak mau buat ngejar target lagi ketimbang berpisah sama kalian semua" ucap Evi.


"Duh, jadi gak bisa ngegosip sama ngeganggu kalian lagi, balik kemeja masing-masing, palingan aku cuma ketemu Yunita sama Putri di ruangan ini tapi beda meja dan pastinya jarang ketemu, apalagi kalian bertiga yang bakalan balik ke ruangan dan meja masing-masing, jadi hambar kita" ucap Dimas.


"Oh iya juga ya, yasudah, demi liburan bareng, ayo kita kerja lagi" ucap Kirana.


"Bagus juga, ayo segera, biar lebih cepat lebih baik, soalnya gak sabar nemu istri sama anak di rumah" ucap Dimas.


Mereka semua akhirnya memutuskan untuk bekerja, dengan semangat mereka mengerjakan pekerjaan mereka dengan bersama sama.


"Hah, dari sesudah tunangan kamu beli baju beginian, Sela?! " tanya Wulan dengan terkejut.


Misella hanya tertawa, baru kali ini ia melihat kakak iparnya terkejut.


"Apaan sih mbak? Masa cuma baju beginian mbak malunya sampai segitu? " tanya Misella.


"Masalah nya ini baju yang kamu kasih kayak kurang bahan gitu, kamu yang bener aja kalau kasih saran, mbak minta saran nyambut kakak kamu dengan romantis dan baik, bukan keluar dengan pake baju kurang bahan begini! Ishh, ada ada aja kamu, Sela... " ucap Wulan dengan wajah memerah.


"Dih, semua saran yang mbak inginkan itu udah ada di baju ini. Ini namanya baju dinas, bukan baju dinas kayak Raka, tapi baju dinas malam buat sambut romantis kakak Marsel. Ini dulu yang beliin dan milihin baju ini untuk Sela itu Raka, katanya biar menantang, tapi karena mendadak dan Sela yang masih marah sama Raka jadinya ini baju gak ada fungsinya. Jadi Sela mau kasih sama mbak aja, sesekali menantang itu bagus mbak, kak Marsel itu orangnya menantang loh, pasti seru" ucap Misella dengan semangat.


Wulan diam dengan wajah merahnya, ia memikirkan sesuatu dengan perasaannya yang masih malu malu.


"Udah, pokoknya diterima ya, moga bisa jadi hoki buat kakak, apalagi milih warna merah, beuhh pasti kak Marsel suka, mbak" ucap Misella dengan memberikan totebag berisi baju pemberiannya.


Wulan mengambil totebag berisi baju yang diberikan oleh Misella, Misella kemudian pamit untuk pulang.


.


.


Malam harinya, Marsel pulang dari bekerja, ia dengan membawa makanan untuk dimakan bersama Wulan.


Marsel merasakan keanehan, kali ini lampu di rumahnya hanya di teras saja, bukan di dalam rumahnya.


"Assalamu'alaikum, Wulan... " panggil Marsel.

__ADS_1


Di tengah gelapnya ruangan, Marsel kemudian melihat ke arah dapur, cahaya remang remang yang terpancar terlihat dari ruang tamu.


"Abang udah pulang? "


Wulan menyambut Marsel, sinar cahaya lilin yang remang remang dengan berbagai makanan yang ada di atas meja, membuat suasana meja makan menjadi romantis.


"Lan, kamu nyiapin semua ini, sayang? Sejak kapan? " tanya Marsel, Wulan berdiri dan langsung menarik lengan suaminya.


"Udah, ayo sini langsung makan sama Wulan, nanti dingin makanannya" ucap Wulan, Marsel mengikuti Wulan.


Wulan memberikan makanan buatannya untuk Marsel, kemudian ia menyuapkan makanan nya pada Marsel.


"Enak bang? " tanya Wulan.


"Enak ini, masakan Wulan tuh gak pernah gagal sama sekali" jawab Marsel.


Kedua pasangan tersebut menikmati makan malam mereka, selesainya, Wulan membereskan berbagai peralatan makannya.


"Abang bantu cuciin piringnya ya? " tanya Marsel.


"Gak usah bang, bisa besok kok ngerjainnya" jawab Wulan.


"Udah, lebih cepat lebih bagus, biar kamu besok tinggal santai santai aja" ucap Marsel.


Wulan akhirnya menuruti bantuan suaminya, ia kemudian ikut mencuci peralatan masak dan makannya, dengan kompak Marsel dan Wulan membersihkan semuanya.


Selesai mencuci piring, Wulan mengajak Marsel ke dalam kamar, terlihat kamar mereka sudah dihiasi berbagai macam bunga.


"Lan... "


"Kerjaannya Misella tadi bang, Wulan minta saran nyambut abang dengan romantis, malah aneh aneh gini saran dari dia, rasanya malu banget, apalagi isi totebag nya bajunya udah aneh juga" ucap Wulan, ia kemudian mengambil totebag yang dimaksud nya.


Wulan memberikan totebag berisi baju yang diberikan oleh Misella dengan nya, Marsel kemudian melihatnya dan dilihatkan motif bajunya, bagi Marsel baju baju itu cukup menggoda.


"Mau nyoba, Lan? " tanya Marsel.


Deg! Jantung Wulan berdetak kencang, wajahnya memerah, dengan menganggukan kepalanya kemudian mengikuti pertanyaan suaminya.


"Boleh, kita beranak yok bang, Wulan pake baju ini, mau kan? " tanya Wulan dengan menampilkan baju tersebut ke arah Marsel.


Marsel tersenyum puas, ia menganggukkan kepala nya, tak butuh waktu yang lama, akhirnya mereka berdua beraksi.


Malam itu menjadi malam yang indah untuk mereka berdua, ya termasuk nganu itu, hehe.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Jangan lupa tinggalkan jejak 👣👣👣

__ADS_1


__ADS_2