Garis Merah

Garis Merah
18: Hambar


__ADS_3

Note author: maaf jika banyak kekurangan pada cerita, karena author masih pemula 🔰


.


Setelah kejadian itu, Wulan merogoh lacinya, ia melihat beberapa testpack yang telah ia pakai dan belum ia pakai sama sekali, rasa kecewa tertumpah kan di dalam testpack tersebut.


"Untuk apa mau nyoba benda ini kemarin sehabis nikah sama bulan madu, kalau hasilnya sama aja bahkan kini didiagnosa ada kista, zonk! "


Wulan mengeluarkan benda tersebut dari laci, ia dengan benci mengeluarkan barang barang maupun obat yang dipercaya bisa memperlancar kesuburan saat ingin program kehamilan.


Mulai dari madu, testpack, obat penyubur kandungan hingga dreamcatcher yang ia taruh harapan untuk memiliki anak secepatnya, tetapi semua itu mustahil baginya sekarang.


Marsel hanya bisa melihat istrinya yang putus asa, bahkan rasanya rumah yang ia tinggali bersama sang istri seperti hambar tak berarti.


"Lan... " panggil Marsel.


Wulan dengan tatapan kesal dan sedih menatap Marsel, ia kemudian membalikkan badannya ke tempat sampah dengan barang barang yang ia buang.


"Lan, kamu kok buang semua itu, sayang? " tanya Marsel.


"Bang, melihat benda benda ini di laci rasanya sakit banget, apalagi abang tau Wulan sekarang bagaimana, semua ini gak ada gunanya bagi Wulan, lebih baik Wulan buang jauh jauh daripada berharap keajaiban yang gak mungkin akan terjadi" jawab Wulan dengan nada geram dan kesal.


Marsel hanya menatap sedih, istrinya benar-benar putus asa untuk kesembuhan dirinya sendiri, ia berharap Wulan bisa kembali lagi bersemangat, bukannya pasrah dan putus asa.


"Kalau begitu, abang pergi kerja dulu ya Lan, kamu istirahat lah di rumah, assalamu'alaikum"


"Waalaikumsalam"


Tanpa adanya sambutan dan mengantar sampai depan pintu rumah, Marsel merasa ada yang kurang, tidak seperti biasanya ia akan diantar sampai ke depan pintu oleh istrinya.


Wulan selesai membuang semua barang yang ia kumpulkan, ia kemudian berjalan ke arah jendela luar dan melihat keadaan di luar, mobil suaminya yang akan pergi mencari nafkah dan akan pulang pada waktunya.


Wulan membuka pintu rumahnya, ia kemudian duduk di teras rumahnya, padahal sudah ada kursi.


Anak anak yang bermain gembira, ditambah lagi dengan ibu ibu yang menggendong anak sambil menyuapi anaknya, membuat Wulan merasa iri dan ingin merasakannya.


"Kapan aku bisa ngerasain seperti itu. Ingin sekali bisa menggendong anak seperti ibu ibu itu, ingin sekali"


Wulan kemudian meneteskan air matanya, ia merasa iri dan sakit ketika meratapi dirinya dan mengharapkan keinginannya.


.


.


Di kantor, semua karyawan dikumpulkan dan berdiri di meja kerja masing-masing, terlihat seperti memberikan pengumuman.


"Lembur? Bakalan bagi kelompok? " tanya karyawan lain.


"Apa kayak 2 tahun yang lalu, lembur untuk mengejar bonus? " tanya karyawan lainnya lagi.


Riuh berisik suara dari para karyawan membuat senior, manager dan Enrico merasa pusing, salah satu senior akhirnya menyuruh para karyawan diam terlebih dahulu.


"Tenang, diharapkan tenang dulu semuanya" perintah senior.

__ADS_1


Para karyawan akhirnya diam, mereka kemudian memperhatikan setiap pengumuman yang diberikan.


"Oke akhirnya kalian semua diam. Nah, sengaja saya mengumpulkan kalian disini seperti kata kalian, kalian akan saya lemburkan semua jadwal pekerjaannya, begitupun dengan karyawan lorong sebelah. Jadi, dengan kesepakatan yang dibuat oleh ibu manager kalian ini, bu Reni, dengan manager sebelah, Daniel, sudah memutuskan akan menyatukan kalian semua dengan karyawan lorong sebelah untuk saling bekerja sama saling mendata dan mengerjakan pekerjaan kalian. Kami semua sudah sepakat, akan menggabungkan kalian dan akan memencarkan kalian dengan karyawan lorong sebelah dengan meja kerja kalian yang sudah dipisahkan, jadi mulai besok dan dengan waktu yang akan ditentukan, kalian akan bekerjasama dengan karyawan lorong sebelah dengan jadwal kerja kalian di lemburkan " jelas Enrico.


"Ada jaminan berupa bonus gak, pak Enrico? " tanya karyawan lainnya.


"Pasti, dan kalau target data kinerja kalian mencapai targetnya, saya pastikan akan memberikan kalian pilihan, mulai dari gaji dan bonus, liburan ke LN atau LK dan kalau bisa jaminan naik pangkat"


Mendengar jaminan bonus dari Enrico, para karyawan tersebut mulai bersemangat, entah itu semangat yang serius atau terpaksa.


"Ya sudah, sekarang kalian lanjut bekerja, nanti sekitar sesudah jam makan siang, kalian akan langsung melakukan pertukaran kerjasama karyawan, oke sekarang lanjutlah bekerja"


Semua karyawan kembali bekerja, Enrico kemudian mendekati Marsel dengan mencolek bahunya.


"Seriusan ric bakalan kerjasama sama pertukaran sebagian karyawan? " tanya Marsel.


"Iya Sel, sesuai kesepakatan juga ini. Lagian juga kalian para karyawan rata rata ada aja saling memupuk perbedaan sampai jadi saingan cuma beda lorong, padahal satu kantor, kinerja kalian mulai menurun seiring jalannya waktu karena ada aja permasalahan antara kalian, itu dapat mempengaruhi kualitas dan kuantitas dari data kinerja kantor ini. Dan juga, gak papa lah buat nambah teman bekerja, lagian juga gak selamanya kan kamu bakalan nempel terus sama aku, Sel. Ingat, kita udah punya istri loh" jawab Enrico.


"Begitu ya... " ucap Marsel.


"Ric, kasih bocoran dong, aku dapat patner kerja sama siapa? " sambung Marsel bertanya pada Enrico.


"Hmmm, pokoknya kalau gak salah kamu bakalan pindah meja ke lorong kantor sebelah, dan juga gak salah banyakan patner kerjamu cewek Sel ketimbang cowok" jawab Enrico.


"Begitu ya, yaudah, makasih ric udah kasih bocoran"


"Iya sama sama, kamu lanjut lagi kerjanya, beresin dulu barang barang kamu, jangan sekalian komputer kantor, maling kamu jadinya" ucap Enrico.


"Ishh, iya, sudah aku mau lanjut kerja"


.


.


Selesai makan siang, terlihat para karyawan sudah berkemas untuk pindah meja maupun ruangan, terlihat juga karyawan sebelah mulai menempati ruangan lainnya.


Dengan membawa kardus dan barang barang, Marsel berjalan ke lorong menuju ke kantor sebelah, ia kemudian melihat orang orang sibuk mencari meja maupun pindah ruangan.


Marsel melihat meja yang ditempati olehnya, itu pun ada beberapa perempuan dan 1 laki-laki, Marsel melihat salah satu perempuan yang ia kenal.


"Eh, kamu kan... "


"Apa? Kenapa kamu kesini? Salah kelompok patner kerja? Sana, jangan ganggu kelompok kami"


Marsel mengenal wanita itu, wanita itu adalah wanita yang pernah mendorongnya kemudian menghina fisiknya yang seperti tiang saat di lorong.


"Gak, ini tempatku, aku gak salah" jawab Marsel.


"Oh, tapi maaf ya, jangan kira kami terima kamu di kelompok ini karena kamu patner kerja kami" ucap wanita itu.


Marsel merasa bingung, ia kemudian memikirkan sesuatu.


"Yasudah, mungkin karena kejadian dulu, kebetulan saat pembagian kelompok patner kerja jadi kamu gak terima saya buat bekerjasama disini. Saya minta maaf kalau begitu, ini demi mengejar target data kinerja kita semua, saya yang mengalah, saya minta maaf saat kejadian itu"

__ADS_1


Mendengar ucapan Marsel yang pasrah, wanita yang mengecam nya tadi menjadi kasihan, secara kejadian terdorong di lorong itu memang murni kesalahan wanita tersebut.


"Iya deh, yasudah, ayo barang barangnya kamu di beresin dulu di sini, kita sebentar lagi akan memulai pekerjaan sampai nanti malam" ucap wanita tersebut.


"Sebelumnya namaku Putri, kamu pasti Marsel si bule yang sering diobrolin sama bu Reni dan pak Daniel itu kan? Karyawan kantor sebelah? " tanya Putri.


"Eh, iya, salam kenal sebelumnya, saya Marsel" kenal Marsel.


"Aku Dimas, salam kenal" ucap satu lelaki tersebut.


"Aku Yunita"


"Aku Evi"


"Aku Kirana"


Setelah berkenalan, mereka kemudian mulai menyusun tempat bekerja mereka.


"Kita dengan ini sepakat, untuk saling bekerjasama demi bonus dan semacamnya. Dan juga jangan sering bermasalah, itu juga mempengaruhi kinerja kita semua, ngerti? " tanya Putri.


"Siap, ayo kita semua mulai"


Mereka semua mulai bekerja, dengan fokus mereka saling bekerjasama.


.


.


Di rumah, Wulan duduk merenung dengan hpnya yang masih hidup, ia tampak kesal dengan isi pesan dari Marsel yang mengatakan bahwa Marsel akan lembur.


"Kayaknya bang Marsel mulai berubah, ya? Mungkin karena aku begini makanya bang Marsel berubah... "


Wulan meminum obatnya, dengan perasaan kesal dan sedih ia berusaha meneguk obat tersebut, dan nantinya ia akan merasakan sakit pada bagian badannya karena efek dari obat yang ia konsumsi itu.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


.


Jangan lupa tinggalkan jejak 👣👣👣


__ADS_2