
Note author: maaf jika banyak kekurangan pada cerita, karena author masih pemula 🔰
.
Beberapa hari kemudian, Marsel sudah diizinkan untuk pulang, Wulan membimbing jalan Marsel agar tidak jatuh.
"Pelan pelan ya bang" ucap Wulan.
Di kamar, Marsel melihat kantong sampahnya, terlihat bangkai HP yang terletak di dalamnya.
"Lan, itu HP kamu, sayang? " tanya Marsel.
Wulan terdiam, ia hanya menganggukkan kepalanya.
"Iya bang, maaf... " jawab Wulan.
Marsel menganggukkan kepalanya, ia kemudian mengelus rambut istrinya.
"Gak papa, lagipula bulan depan setelah gajian, rencananya abang mau beli HP lagi, udah lemot soalnya" ucap Marsel dengan tersenyum.
"Alasannya kenapa kamu lempar kemarin, sayang? Coba jelasin secara jujur sama abang? " tanya Marsel.
"Sebelumnya maaf ya bang, Wulan merasa kesal kemarin sama bibinya Wulan, setiap hari kerjaannya hanya meminta uang dari Wulan hanya untuk keperluan nya sendiri, itulah yang buat Wulan kesal kemarin sampe banting hpnya Wulan kemarin, maaf ya bang... " jawab Wulan.
"Iya, abang udah tau" ucap Marsel.
Wulan kemudian tersenyum, begitupun dengan Marsel, ia senang ketika melihat senyum istrinya kembali lagi.
"Lan, dan kamu tau gak apa yang terjadi sama bibimu itu setelah abang temukan tas kamu? " tanya Marsel.
"Memang kenapa bang? Tas Wulan udah ketemu di rumahnya, bang? " tanya Wulan.
"Iya, abang ketemu tas kamu, paling besok baru bisa diantar lagi kesini, dan juga bibi dan sepupumu itu ditangkap oleh polisi" jawab Marsel.
"Karena ngambil tasnya Wulan? " tanya Wulan kembali.
"Ya, atas perampasan hak milik orang lain tanpa izin, dan juga mereka punya keterlibatan obat obatan terlarang" jawab Marsel.
Bukannya sedih, Wulan malah tersenyum, seperti ada kepuasan tersendiri ketika mendengar bibi dan sepupunya dipenjara.
"Kok kamu senyum, lan? Bukan harusnya kamu kaget denger bibi sama sepupu kamu ditangkap polisi? " tanya Marsel.
"Ya, Wulan merasa senang aja, itu harapan Wulan dari dulu kok bang, mereka dapat dipenjara itu udah membuat Wulan tuh senang" jawab Wulan.
Marsel merasa heran, baru kali ini ia melihat istrinya tersenyum puas ketika keluarga istri nya sendiri yang dipenjara.
"Abang masih heran? " tanya Wulan.
"Ya, tentu saja, lan, abang baru kali ini lihat senyum kamu yang seolah-olah puas dengan mereka yang ditangkap oleh polisi, kamu kayak balas dendam aja kesannya" jawab Marsel.
"Abang gak tau kenapa Wulan senang mereka akhirnya dipenjara, itu yang Wulan tunggu tunggu dari dulu. Wulan benci sama mereka" ucap Wulan.
"Lan, jangan bilang kamu dendam? " tanya Marsel.
Wulan menghela nafasnya, suaminya belum mengerti apa yang ia maksudkan, Wulan kemudian menjelaskan alasan kenapa dirinya sangat membenci keluarga bibinya.
"Tepatnya 19 tahun yang lalu, saat Wulan umur 4 tahun, Wulan sama kedua orang tua Wulan menghabiskan waktu bersama untuk berlibur di hari minggu. Seingat Wulan, kami kecelakaan, bapak sama mamak Wulan gak selamat. Abang ingat saat awal menikah, abang bertanya, kenapa di dekat bahu Wulan ada seperti bekas luka? Itulah penyebabnya, Wulan terjepit saat kecelakaan itu terjadi, untungnya jepitan itu gak mematikan syaraf lengannya Wulan, kalau ngga pasti tangan dan lengan Wulan cuma satu. Sayangnya, hanya Wulan yang selamat, ngga dengan bapak dan mamaknya Wulan, mereka meninggal. Paling menyedihkan sekali ketika Wulan dirawat di rumah sakit, bibi dan pamannya Wulan memang datang, mereka sempat ribut, bukan masalah ribut ingin mengambil alih hak asuh Wulan, melainkan mereka ingin Wulan yang akan diasuh dan dititipkan di panti... "
__ADS_1
Wulan menangis, ia sedih ketika menceritakan masa lalunya, Marsel menenangkan istrinya agar tidak menangis.
"Abang bisa bayangkan sendiri, Wulan masih punya keluarga, bahkan paman Wulan adalah adik mamaknya Wulan, dia gak mau mengadopsi Wulan, melainkan membuang Wulan ke panti asuhan. Wulan sedih banget, ketika ulangtahun Wulan yang ke 10 tahun, bibi dan kedua sepupu Wulan bukan ingin menjenguk Wulan, tapi mereka cuma mau ngambil uang dari pengurus panti asuhan yang dikelola oleh bu Santi. Setiap ulangtahun Wulan, mereka datang hanya untuk mengambil uangnya Wulan. Bahkan saat kuliah kemarin, Wulan harus sembunyi sembunyi soal gaji kerja Wulan selama menjadi pelayan restoran, tapi mereka tetap mengetahuinya dan mengambil paksa gaji Wulan untuk keperluan mereka sendiri. Mereka bilang Wulan itu sudah diperkaya oleh panti, dan mengambil semua uang Wulan dengan alasan Wulan tak memerlukan uang, bagi mereka apa kegunaan uang untuk seorang anak yatim piatu di panti asuhan. Bahkan sampai sampai Wulan hanya bisa menahan lapar ketika kuliah, dan Wulan malu dengan Misella dan kak Azizah dulu, mereka sering mentraktir Wulan karena Wulan sama sekali gak megang uang sedikitpun setelah gajian, Wulan malu sekali. Sampai menikah pun, mereka masih meneror Wulan, mereka merampas apa yang Wulan punya, Wulan benci sekali... "
Marsel merasa sedih, ia dengan tubuh yang masih sakit kemudian membelai rambut istrinya dan menghapus air mata istrinya.
Wulan menatap Marsel, ia kemudian memeluk suaminya, Marsel dengan menahan sakitnya hanya diam dan memeluk istrinya, tak ada waktu baginya untuk mengeluh kesakitan sekarang.
"Sekarang Wulan merasa lega, lega sekali, karena Wulan akhirnya terlepas dari jerat teror mereka, rasanya lega sekali. Ini seperti mimpi Wulan yang terwujud, Wulan ingin hidup damai dengan keluarga abang, tanpa ada mereka yang selalu meneror maupun mengganggu Wulan... " isak tangis Wulan.
"Iya Lan, tapi ingat ya sayang, jangan balas kejahatan dengan kejahatan. Maksud abang, kamu boleh marah ketika dijahati, tapi jangan sesekali kamu ingin membalas orang yang jahat sama kamu dengan kamu balas mereka dengan kejahatan. Ikhlaskan saja, berusaha tabah, hidup memang berat, tapi abang berharap sama Wulan, jangan menjadi pendendam, mau bagaimana pun, mereka tetap keluarga Wulan kan? " nasehat Marsel pada Wulan.
"Keluarga Wulan hanya bang Marsel, kedua mertua Wulan, adik ipar Wulan si Raka dan Misella, dan keponakan Wulan si Rafael, itu adalah keluarga Wulan" bantah Wulan.
Marsel menggeleng kepalanya, ia hanya bisa diam dan mengelus rambut istrinya.
"Dasar pendendam"
"Biarin" ucap Wulan dengan singkat.
"Kalau begitu, Wulan mau ke tempat bu Jeni ya bang, mau tujuh harian setelah meninggalnya Randi. Abang jangan kerja dulu, istirahat total dulu untuk sehari ini" ucap Wulan.
"Iya Lan, udah, sekarang kamu pergi dulu sana" ucap Marsel, Wulan kemudian menganggukkan kepalanya dan beranjak dari tempat tidur.
Wulan kemudian dengan pakaian yang sopan dan kerudung yang telah ia pasang, Wulan berjalan ke rumah bu Jeni, masih terlihat jelas tenda masih berdiri dengan bendera kuning yang tertancap di pot bunga depan rumah.
Wulan memasuki rumah bu Jeni, terlihat para tetangga sudah duduk dan akan mendoakan kepergian Randi yang sudah 7 hari berlalu.
Terlihat di dalam ruang keluarga, bu Jeni yang masih meneteskan air matanya, sangat teramat pedih dan mengikis hati ketika diri nya harus melepaskan anak sulungnya yang tak mungkin kembali lagi.
Bu Jeni kemudian menatap ke arah Wulan, Wulan kemudian memeluk bu Jeni, begitupun bu Jeni.
"Bu Jeni, yang sabar ya bu... " ucap Wulan.
"Berat rasanya, Lan... Ibu belum bisa sepenuhnya bersabar atas kepergian Randi... Ibu berharap dia akan kembali lagi, dan yang kemarin dikuburkan itu cuma salah orang aja... Ibu belum sanggup, ibu belum sepenuhnya bisa ngelepasin dia... " tangis bu Jeni.
Wulan mengusap air mata bu Jeni, tetapi air mata itu belum ingin kering sama sekali, ingin terus menetes.
"Bu Jeni, memang berat rasanya, semoga ibu bisa berusaha untuk tabah ya bu, biar Randi bisa tenang di alamnya... " ucap Wulan.
Bu Jeni menganggukkan kepalanya, ia kemudian berhenti menangis dan mengusap air matanya.
"Iya, ibu akan berusaha tabah walaupun rasanya susah dan akan lama bisa ngelupain Randi" ucap bu Jeni.
Wulan mengelus punggung bu Jeni, memang susah menerima yang terkasih itu pergi, dan jug masih merasa bahwa mereka yang tiada seakan masih ada.
"Lan, nanti atau besok, kami sempatkan buat jengukin suami kamu ya, mau tau kondisi dia sekarang setelah kecelakaan kemarin" ucap bu Jeni.
"Iya bu, boleh, sekarang sudah mulai bu, ayo kita duduk dan ikut berdo'a" ucap Wulan.
Semua yang berada di rumah mulai mendo'akan 7 hari kepergian Randi, dari pihak keluarga juga berharap, yang didoakan itu adalah orang lain dan bukan Randi, mereka seolah-olah memikirkan Randi yang selamat dan memutuskan untuk menjauh sementara dan akan pulang nantinya.
Sehabis 7 hari, Wulan kemudian pulang ke rumah, ia kemudian membuka pintu dan terkejut melihat Marsel yang sedang berjalan menuju ke dapur.
"Abang, abang kenapa? " tanya Wulan.
"Hanya mau minum air, haus rasanya" jawab Marsel.
__ADS_1
Wulan kemudian menggiring Marsel duduk ke kursi sofa, ia kemudian mengambilkan air minum untuk suaminya dari dapur.
"Ini bang, diminum ya"
Wulan memberikan air minum pada Marsel, Marsel meminumnya dan menaruh dengan perlahan gelasnya.
"Abis nangis? " tanya Marsel.
Mendengar ucapan suaminya, Wulan kemudian menyeka air matanya, ia menggelengkan kepalanya.
"Ngga kok, Wulan gak nangis" jawab Wulan.
"Bohong, abang tau kok, habis do'a 7 hari di sebelah, iya ngga? " tanya Marsel.
Merasa tak bisa mengelak lagi, Wulan menganggukan kepalanya, ia mengakuinya.
"Sini, ayo ngobrol sama abang" ajak Marsel menepuk-nepuk sofa untuk Wulan duduk disebelahnya.
Wulan kemudian duduk dan menyenderkan kepalanya di bahu Marsel, Marsel dengan perlahan membelai rambut istrinya itu.
"Lan, yang namanya hidup itu gak ada yang abadi, contohnya kayak Randi. Kita gak tau ajak itu kapan datangnya, dan juga gak mandang umur. Kita lahir kemudian meninggal, ibarat kayak kita nyewa penginapan terus besoknya kita berangkat, jadi ingatlah, yang bernyawa pasti akan berpulang. Mau diratapi bagaimanapun, yang pergi tak akan bisa kembali, cuma satu kata, yaitu merelakan" ucap Marsel.
"Ya tapi sedih aja sih bang, apalagi bu Jeni, pasti dia merasa terpukul ketika kehilangan anak. Kehilangan anak itu hampir sama kayak kehilangan orangtua, makanya rasa sakit untuk merelakan itu sangat dalam" ucap Wulan.
"Merelakan juga berat, tapi apa salahnya untuk mencoba merelakan. Berusaha tabah, agar yang telah pergi merasa tenang tanpa selalu terus ditangisi dan terlalu dikenang. Seperti kita juga, kita sedang berusaha tabah bukan, tabah dan pasrah pada Tuhan untuk bisa diberikan keturunan" ucap Marsel.
"Iya bang, Wulan mengerti sekarang... " ucap Wulan.
Marsel tersenyum, ia kemudian mencium kening istrinya dengan lembut.
"Ya sudah, ayo kita makan, abang udah lapar" ajak Marsel.
"Oh iya bang, akan Wulan ambilkan makanannya"
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Jangan lupa tinggalkan jejak 👣👣👣
__ADS_1