Garis Merah

Garis Merah
Bawah Sadar


__ADS_3

Alam bawah sadarku begitu aneh. Tak seperti biasanya kini aku memasuki wilayah yang membingungkan. Pepohonan besar menangkal sinar matahari sampai ke tanah. Tanah yang sedikit basah diselimuti udara yang lembab. Seperti tak ada kehidupan di sekitar ini.


Hanya jejak kaki yang lumayan besar degan jarak tak teratur. Menarik minatku untuk melangkah mengikutinya. Hingga lelah aku berjalan, tapi tak juga menemukan siapa pemiliknya.


Gambar tekanan kaki di tanah itu menghilang di dekat sebuah pohon berlumut yang basah. Aku mencoba meyakinkan diri bahwa di sini tidak apa-apa. Tapi tak berhasil. Aku tetap ingin menemukan seseorang.


Setengah berlari aku mengelilingi pohon, menuju ke belakangnya. Benar, ada seorang laki-laki. Dia menyedekapkan tangan. Mengenakan pakaian yang rapi dan terlihat berwibawa.


"Kau siapa?"


"Aku orang tua dari garis ayahmu."


"Aku tidak mengerti.Kenapa seperti tak ada kehidupan di sini?"


"Tidak ada siapa pun di sini kecuali mereka yang telah ditakdirkan. Ternyata titik itu adalah padamu.Siapkan dirimu, Nak. Kau akan menguras banyak tenaga di sini."


Orang itu berlalu begitu saja. Sempat aku mengejarnya, tapi dia terlalu cepat. Rasanya sangat lelah, dan tak sanggup. Seketika aku terkesiap. Bangun dari mimpi. Ya ini mimpi. Mimpi yang akan segera berakhir. Buktinya sekarang aku berada di tempat tidurku yang nyaman.


Tapi, tunggu! Tidak ini bukan mimpi. Tiba-tiba kasurku berubah menjadi tanah tertutup daun setengah busuk. Ada sensasi lain. Ala ini semakin mencekam. Gelap. Seperti tak suka dengan keberadaanku. Tetumbuhan yang seharusnya hijau berubah menjadi hitam. Kelembaban yang menyelimuti hutan itu berubah menjadi kengerian, Seperti  maut. Membelai-belai dengan mesra, kemudian membunuh dengan sadis.


Beberapa batu besar jatuh entah dari mana hendak menimpaku. Aku yakin barusan tadi, di sekitarku adalah pepohonan. Tidak ada tebing batu. Entah kenapa jadi begini. Rasanya ada orang yang berusaha mengganggu kenyamanan ini. Tak terhitung berapa batu yang nyaris saja menghantamku. selalu saja berhasil kuhindari.


"Anna, Anna!"


"Oh, Damar."


"Kau baik-baik saja?"


Aku bangkit dan mengatur nafas. Damar menghapus peluhku dengan baju lengan panjangnya.


"Aku mimpi buruk." Gumamku ngeri.


"Aku tahu." Damar menyodorkan segelas air putih. Aku memang selalu meletakkan segelas air di kamar sebelum tidur. Kutenggak setengahnya. Perih sekali tenggorokan ini. Rasanya seperti terbakar. Dalam mimpi tadi, aku tak bisa berteriak.

__ADS_1


"Apa artinya batu dalam sebuah mimpi?" Nafasku belum juga teratur.


"Aku tak tahu." Damar terdengar frustasi. Dia menatapku lalu menerawang jauh keluar jendela. Desahannya membuatku penasaran, dan yakin--bahwa dia menyembunyikan sesuatu.


Kulempar selimut cepat dan berjingkat turun mendekati kado Eyang. Damar beralih mengawasiku. Matanya tak mau lepas. Kuberitahu dia bahwa aku sudah mencari informasi dari internet. Anggukkan tunggal yang dia beri adalah gambaran dia sudah mengira aku akan begitu. Dia paling tahu aku. Mungkin dia juga sudah melakukannya.


Matanya tetap lekat. Entah kenapa dia terlihat menahan nafas saat aku memegang bagian atas benda itu. Tiba-tiba bocah itu menghilang. Luntur seperti tinta tersiram air. Kamarku berubah menjadi hutan menakutkan itu.


"Damar! Tidak! jangan tinggalkan aku sendiri." Kontan aku histeris. Keringat sebesar-besar biji jagung telah bercucuran di sekitar pelipisku. Nafasku semakin tersengal seiring dengan degub jantung yang semakin cepat. Dadaku naik turun tak beraturan, dan terus memanggilnya. Entah seberapa keras. Aku yakin aku masih berteriak, tapi suaraku tak sampai ke telinga. Airmataku perlahan meleleh.


"Anna, aku di sini." Bisiknya iba. Tiba-tiba saja aku sudah dalam pelukannya. Tanganku yang tegang merileks di punggungnya. Dia terus mengelus hingga nafasku melambat.


"Apa yang terjadi?" Tanyanya dengan wajah tak penasaran. Dia melapas dekapannya dan menatap wajahku. Tanganku gemetar di depan dadanya.Dia tahu aku mencari benda itu, dan dia menunjukkan telapak tangannya. Aku kembali ke kamar setelah dia mengambilnya dari genggamanku.


"Ini seperti dunia sihir."


"Sudahlah, ayo tidur lagi." Dia merangkulku,membimbing menuju pembaringan. Dia mengecup dahiku setelah menutup sebagian besar tubuhku dengan selimut. Sempat juga dia menyeka keringatku yang masih berlinangan di sekitar wajah. Rasa frustasiku disusul kekalutan, karena sadar kasih sayangnya hanya sebagai saudara sepupu.


Sejak bisa melewati malam itu dengan Damar yang sudah tidur di kamar kosong di rumah, aku sering bermimpi di tempat dan dengan orang yang sama. Hingga akhirnya orang itu terasa akrab. Dan alur-alur mimpi terasa tidak mengerikan. Karena aku sudah terbiasa, tidak perlu lagi Damar atau orang lain menenangkanku.


Wibawa menakjubkan selalu mengalir dari keduanya. Itu juga yang menyebabkan aku yakin bahwa beberapa persen ada sifat yang mirip di antara mereka.


Beberapa hari yang lalu--sekitar tiga hari setelah mimpi yang pertama--aku ditemani Damar mengatakan hal itu pada Eyang. Dia hanya menatap Damar sebentar, lalu manggut-manggut menghadapi ketakutanku. Beberapa kali aku menuntut agar dia menghentikan mimpi itu. Yeah, itu mustahil. Dan seperti dugaan, dia bilang tidak sama sekali berkuasa atas apa yang terjadi pada diriku. Seolah semuanya memang sudah ditakdirkan.


Keputus asa-an memenangkan sebagian besar hatiku seketika. Takluk tanpa perlawanan. Menyerah tanpa syarat. Aku akan rela menjadi orang yang telah ditakdirkan. Atau menjadi orang yang seolah-olah ditakdirkan. Asal orang lain tidak menanggapi kenyataan mustahil ini dengan cibiran. Jangan sampai ada yang menganggapku gila karena hal ini. Tapi, itu juga mustahil kan?


Hal aneh yang membuatku semakin frustasi dengan hal ini adalah bahwa nyatanya aku tidak bisa mewujudkan mimpiku. Menuliskan hal yang kualami menjadi cerita fenomenal dan mendapat royalti yang fantastis. Tentu saja royalti yang kudapatkan dengan bukan hanya menjadi penulis.


Kuharap dengan menerbitkan novel dan terkenal, orang lain akan mengetahui hobi lainku--menyanyi. Mungkin dengan cara itu aku bisa menjadi penyanyi juga.


Ha! Serakah sekali!


Aku hanya tidak perlu repot mengajar anak-anak remaja--yang belum tentu lebih bodoh dariku--untuk memahami konsep fisika. Mengartikan kalimat matematis ke pemahaman mereka. Atau mengubah bahasa sosial dalam soal cerita menjadi persamaan matematika. Itu semua sungguh tak perlu kulakukan jika aku sudah merasa cukup dengan pendapatanku sebagai penulis dan--mungkin--penyanyi.

__ADS_1


Seandainya saja bisa.


Kenyataannya jauh. Dengan terjadinya hal itu otakku hanya terus larut dalam dugaan-dugaan yang semakin irrasional. Aku tidak bisa menuangkan keruwetan dalam kepalaku ke bahasa prosa yang indah dan menyentuh. Aku terlalu sibuk dengan ketakutan yang kian menyiksa.


Ini malam kelima sejak kunjunganku ke rumah Eyang. Kuperbolehkan Damar untuk tidak mengawalku lagi. Aku bilang padanya bahwa aku sudah bisa menerima semuanya. Jika memang aku yang ditakdirkan, maka aku ikhlas hati. Dia mengiyakan perintahku dengan ragu.


Meski tak sering berkunjung dia selalu menelepon. Minimal sehari sekali. Pesan singkatnya juga selalu menghiasi hari liburku di rumah. Masih sebulan lagi, aku harus bertahan dengan rumah yang sepi. Beberapa hari terakhir usaha makanan ayahku laku keras. Sering kali dia pulang saat malam hampir habis. Aku jelas sudah tidur dengan mimpi-mimpi melelahkan itu.


Seperti biasanya, malam ini pun aku sendiri. Rumah yang jauh dari jalan utama desa membuatnya terasa sangat terpencil. Saat malam tiba, jika TV tak menyala, maka yang kudengar adalah nyanyian jangkrik. Siang hari menjelang musim kemarau, hewan bernama cenggeret yang entah seperti apa bentunya juga meramaikan dunia. Jika beruntung dan hari cerah, pagi hari aku bisa berhadapan dengan gunung keselamatan yang menjulang jauh di timur laut. Sangat jauh dii sana, tapi tetap terlihat besar.


kumainkan sakelar lampu tidurku . Tak ada inspirasi menulis. Belum yakin juga untuk menuangkan keanehan yang menghiasi hidupku selama beberapa hari terakhir. Aku takut ini adalah bentuk kesintinganku juga.


Aku terkejut ketika melihat kilat yang sangat terang di langit jendelaku. Ini musim kemarau. Sejak sebulan yang lalu sudah tak ada lagi hujan turun.


Kudekati jendela dan menyisir langit. Tak ragu lagi, langit sangat cerah. Tak sedikitpun mendung berani mengacaukan jatah bulan dan bintang. Tugas mulia untuk menciptakan malam minggu yang indah bagi sebagian orang di luar sana. Tidak. Tidak sekepal, tidak dua kepal. Tidak sedetik, tidak dua detik. Lalu, semburat cahaya yang tiba-tiba muncul membelah langit itu apa?


Kuhirup nafas dalam dan panjang. Kuyakinkan diriku bahwa pastilah aku yang terlalu banyak pikiran sehingga muncul delusi yang tak mungkin.


Sekarang aku duduk di kursiku.. Kupandang laptop kemudian benda purba yang masih awet di tempatnya. Belum pernah aku mengangkatnya sejak malam itu. Tak cukup berani. Apalagi sejak aku melihat cahaya keluar dari keempat batu akik merah di sana.


Tapi kali ini aku memutuskan untuk tidak lagi bersikap demikian. Jika memang aku ditakdirkan untuk benda ini, sekeras apa pun aku menghindar, tak akan ada gunanya. Mulai detik ini aku akan membuang jauh rasa takut dan sifat pengecut yang telah tumbuh begitu subur. Aku memulainya dengan mengelus benda itu.


Kurasa kehati-hatianku keterlaluan. Tanganku sampai terlihat bergetar. Baiklah, ini baru permulaan. Baru perkenalan. Selanjutnya aku akan terbiasa. Aku akan hidup dengan benda itu sampai menjelang ajal. Sama seperti kakak Eyang yang baru menyerahkan benda itu sesaat sebelum dia menghadap Tuhan.


Baru saja gemetar di jemari tanganku mereda, aku kembali dikagetkan oleh kilat di langit itu. Sekarang aku yakin betul bahwa kilat itu menyentuh tanganku. Tidak membuatku mati. Mungkin menuju dan mengenai benda itu.


Entah apa yang ditunjukkan oleh alam. Mungkin aku harus segera melakukan penelitian. Meski dari dulu aku tidak suka bereksperimen. Tapi, bagaimana hal ini bisa terjadi? Kilat itu jelas-jelas mengenai benda itu dan sebagian tanganku. Tapi, aku tak merasakan sengatan listrik sedikitpun. Itu tadai lebih seperti belaian rambut kelinci.


Asyik menerka dengan dahi berkerut-kerut dan bibir bawah tak sengaja tergigit sesekali, aku tak memperhatikan hadiahku itu beberapa detik. Dan aku sadar bahwa aku sedang dalam masa pengakraban.


Jika memang aku ditakdirkan untukmu. 


Aku kembali berpikir, hingga menelungkupkan muka.

__ADS_1


Segera saja kukembalikan perhatianku pada benda itu. Dan entah untuk keberapa kalinya, aku melihat batu akik merahnya menyala. Semakin lama nyalanya semakin terang. Heran aku dibuatnya. Dan semakin sering melihat kejadian itu, semakin berkurang rasa takutku. Mungkin memang aku digariskan untuk ini. Untuk mengalami hal aneh tak masuk akal ini.


(****)


__ADS_2