
Satu jam kupandangi langit-langit kamarku yang berwarna putih. Tanganku menimang ponsel sejak setengah jam lalu. Sesekali kutatap juga kado dari Eyang. Sangat fokus,Kemarin batu akik itu menyala.
Segera kupencet panggilan cepat pada Damar.
"Ada apa, Tuan Putri? Kau tiba-tiba menelepon." sapanya di seberang.
"Aku bersumpah, Damar. Aku kembali melihat barang itu menyala. Percayalah padaku. Hanya kau yang selalu mendengarkanku meski menganggapku sama seperti yang lain. Dan, Well! lagi pula kau bilang kau sudah memutuskan untuk ikut menjadi gila, kan?"
"Sayang, aku percaya. Kau punya penglihatan yang lebih tajam dari pada orang lain."
"Damar, kumohon percayalah. Jangan mengejek begitu." Rengekku frustasi.
"Sudah kubilang, aku percaya. Sekarang cobalah tidur."
"Tidak, aku tidak bisa."
"Perlu kutemani?"
"Mungkin akan lebih baik. Bawa punyamu juga ke sini."
"Baiklah, beberapa menit lagi."
Kututup sambungan teleponku dengan Damar, dan mataku kembali fokus pada pusaka lagi. Entah apa aku harus menyebutnya. Ada rasa takut membuncah. Takut bahwa aku yang akan menuai semua perbuatan nenek moyang, jika benar merekalah pihak yang jahat. Meski mereka bukan orang jahat-pun, aku tetap takut. Takut tergolong orang yang menduakan Tuhan.
Sebelum pintu kamar dibuka dengan cepat setelah sepuluh menit menunggu, benda itu tak juga bersinar. Segera setelah kualihkan pandanganku ke Damar, kuawasi lagi benda itu. Sekarang aku yakin bahwa memang ada unsur gaib di dalamnya.
__ADS_1
"Damar, sungguh. Aku akan menjadi benar-benar gila." Gerutuku.
"Kau memang gila. Tak akan terjadi apa-apa. Tidurlah, aku akan menjagamu."
Aku mencoba berbaring di tempat tidur. Beberapa menit berlalu hanya dengan iringan nafas kami bedua bergantian. Terkadang aku menarik atau menghembuskan nafas dengan tenaga yang lebih besar. Mirip desahan. Damar akan bertanya apa aku baik-baik saja.
"Aku sedang berusaha untuk tidak jadi pengecut."
"Memangnya selama ini kau merasa menjadi pengecut?"
"Tidak juga."
"Lalu?"
"Beberapa hari pertama benda itu kuletakkan di meja berdampingan dengan lampu belajar, aku terus menunggunya mengeluarkan cahaya, atau makhluk dari dunia lain seperti jin yang ada di film-film, atau apa. Tapi sekarang itu benar-benar terjadi dan aku ketakutan."
"Wajar, jadi sepertinya kau sudah mengalaminya."
Dia tersenyum setengah menggeleng.
"Katakan yang sebenarnya."
"Tidak."
"Damar."
__ADS_1
"Apa yang kau katakan pada ibumu? Dia memandangku aneh tadi."
"Kau membelokkan arah pembicaraan?"
"Ya. Mari kita bahas hal lain." Desahnya.
"Oke. Aku bilang aku menyukaimu."
"Maksudmu?"
"Aku bilang aku menyukaimu. Masa kau tidak paham juga? Aku menyayangimu. Bukan sebagai sepupu jauh, tapi sebagai seorang laki-laki. Yeah, Aku mencintaimu." Kuamati dia setelah panjang lebar menjelaskan. Sudah pasti dia bukan tidak tahu. Wajahnya datar seperti sudah mengira bahwa ini akan terjadi. Dan sekarang adalah waktunya.
"Apa yang kau harapkan dengan mengatakan hal itu? Kau ingin orang-orang berhenti mengolokmu? Bangga karena kau berhasil jatuh cinta?"
"Aku sendiri tidak tahu." Aku frustasi. Dia memberi harapan pada sepupu jauh-nya sendiri. Sekarang ingin cuci tangan, rupanya.
"Ini sudah larut. Kurang tidur akan membuat kulit terlihat kusam."
"Kau tahu aku lebih dari orang lain. Kau paling mengerti bahwa aku sama sekali tak perduli dengan kecantikan."
"Ya. Aku hanya tidak punya alasan lain untuk menyuruhmu tidur."
"Kau hanya tak mau membahas tentang kita." Pungkasku.
Kutatap wajahnya dalam-dalam. Tak habis pikir kenapa aku selalu merasa bahwa dia milikki, takdirku, jodohku.Aku tak suka dia bercerita tentang pacarnya. Benci saat dia bilang ada gadis yang sedang mengejarnya. Atau sedikit saja seorang perempuan bertingkah aneh di depannya. Aku benci dia tertarik pada wanita lain.
__ADS_1
Seulas senyum terlukis di bibir berwarna pink miliknya. Seketika Damar mengantarku dalam lelap.Aku tak tahu apa dia benar-benar menjagaku atau tidak. Tapi, aku tenang. Aku yakin dia tidak akan meninggalkanku. Setidaknya hingga besok pagi.
(****)