
Note author: maaf jika banyak kekurangan pada cerita, karena author masih pemula 🔰
.
Sebulan berlalu, kali ini Marsel dan Wulan sudah berbaikan layaknya pasangan baru.
"Bang, abang... "
Wulan membangunkan suaminya yang sedang tertidur pulas, di balutan selimut, Marsel merespon panggilan Wulan dan memilih melanjutkan tidurnya.
"Nanti... " ucap Marsel.
Merasa kesal dengan Marsel, Wulan kemudian memutuskan untuk langsung menimpa tubuh suaminya, tetapi perutnya merasa sedikit sakit.
"Aduh... " ucap Wulan dan Marsel bersamaan.
Marsel terbangun dari tidurnya, ia meringis kesakitan akibat ditimpa oleh Wulan, dan ia melihat Wulan yang memegang perutnya.
"Loh, kenapa lan? " tanya Marsel dengan nada khawatir.
"Sakit akibat nimpa abang, kualat kayaknya Wulan sama abang, hehe... " jawab Wulan dengan tertawa kesakitan.
Marsel tertawa, ia kemudian memeluk Wulan dengan balutan selimut, membuat Wulan berteriak akibat dipeluk.
"Abang...! " teriak Wulan dengan tawanya.
"Abang jadiin kamu bantal guling, rasain" ucap Marsel.
Kedua pasangan tersebut berpelukan, kemudian dengan tiba-tiba Wulan mencubit lengan Marsel.
"Aduh, sakit sayang... " ringis Marsel.
"Makanya bangun, jangan tidur lagi, ayo kita joging di sekitar gang" ajak Wulan.
Dengan perasaan malas, Marsel meminta Wulan menariknya untuk bangun, Wulan kemudian berdiri dan menarik lengan suaminya.
.
.
Setelah bersiap siap, Wulan dan Marsel kemudian memulai pemanasan sebelum mereka berdua joging, dengan bercandaan sepanjang olahraga mereka hanyalah bermain main saja.
Baru di perempatan jalan menuju gang lain, Wulan langsung engos engosan tanda kelelahan, ia meminta Marsel untuk duduk dan beristirahat sebentar.
"Tumben kamu mau istirahat secepat ini, sayang? Biasanya kamu yang paling kuat kalau joging beginian" tanya Marsel.
"Iya bang, udah seminggu ini Wulan mudah capek kalau joging, biasanya bisa Wulan tinggalin abang pas joging begini" jawab Wulan.
Marsel membelikan air minum untuk Wulan di dekat angkringan, Wulan meminum air yang telah dibelikan oleh Marsel.
"Abang Marsel" panggil Wulan, Marsel yang sedang minum merespon panggilan istrinya.
"Hm, ada apa, lan? " tanya Marsel.
"Bang, Wulan lapar... " jawab Wulan.
"Heh, bukannya gak boleh makan sesudah olahraga? Kan harus nunggu dulu beberapa jam" tanya Marsel.
"Lapar! Wulan lapar! " kesal Wulan.
Melihat perubahan mood istrinya yang mulai berubah-ubah, Marsel merasa bulanan Wulan akan dekat, sehingga secara drastis perubahan moodnya selalu berubah-ubah.
"Yasudah, ayo kita beli makanan di depan, kan sedikit lagi nyampai ke depan gang, biasanya ada tuh mamang mamang yang jualan makanan" ajak Marsel.
"Tapi Wulan capek, bang, pengen gendong" ucap Wulan dengan nada memohon.
Daripada akan memicu keributan, Marsel kemudian menyerah, ia menuruti kemauan istrinya dan kemudian menggendong Wulan.
Menanggung berat badan Wulan sehabis ia gendong, Marsel kemudian sampai di dekat gerobak bakso, Wulan dengan senang segera memesan seporsi bakso dan mengambil cemilan kemudian duduk di meja yang telah disiapkan.
__ADS_1
"Ini neng, bakso nya"
"Terimakasih" ucap Wulan.
Melihat semangkuk bakso milik istrinya, Marsel menjadi berselera, ia kemudian memutuskan untuk memesan seporsi bakso pada tukang bakso tersebut.
"Bang, bakso seporsi lagi" ucap Marsel.
"Katanya gak boleh makan abis olahraga, kok sekarang abang ikut ikutan? " tanya Wulan.
"Ya, abang selera juga, sayang. Siapa yang bisa nolak kalau lihat orang makan bakso di depan kita" jawab Marsel.
Wulan hanya ber oh ria, ia melanjutkan makannya dengan lahap.
Sesampainya di rumah, Marsel dan Wulan masuk ke rumah, mengingat weekend kali ini ada pekerjaan di kantor, Marsel memutuskan untuk bersiap siap ke kantor.
"Lan, abang mandi duluan ya, soalnya hari ini ada kerjaan di kantor" ucap Marsel.
Mendengar ucapan Marsel, Wulan cemberut, ia kemudian memeluk Marsel dengan erat.
"Lan... "
"Gak usah ke kantor hari ini bisa gak bang? Wulan masih mau sama abang di rumah, sehari ini aja" ucap Wulan.
"Cuma sebentar aja kok Lan, lagipula nanti siang abang bakalan pulang lebih awal kok, kan weekend" ucap Marsel.
"Iya, makanya daripada tanggung, lebih baik dirumah aja sama Wulan. Abang mau kan di rumah aja sama Wulan? " tanya Wulan.
Marsel menggelengkan kepalanya, ia menolak permintaan istrinya untuk dirumah saja, sedangkan hari ini adalah hari terakhir dirinya menyelesaikan target kinerjanya bersama tim kerjanya.
"Gak bisa Lan, abang harus berangkat hari ini" tolak Marsel.
Wulan merengut, ia kemudian melepaskan pelukannya dan menuruti ucapan Marsel yang menolak ajakannya untuk berlibur.
"Iya deh, sekarang abang bersiaplah, Wulan bakalan siapin bekal buat abang bawa ke kantor" ucap Wulan.
Selesai berkemas, Wulan kemudian memasukkan bekal dan barang milik suaminya di dalam mobil, Marsel hanya berkemas dan segera pergi setelah barang barangnya dibereskan oleh Wulan.
"Abang pergi dulu ya sayang, baik baik di rumah" ucap Marsel.
"Iya bang, hati hati di jalan" ucap Wulan, ia kemudian bersalaman dengan Marsel kemudian mencium pipi suaminya.
"Assalamu'alaikum"
"Waalaikumsalam, hati hati dijalan ya bang" ucap Wulan.
Marsel memasuki mobil nya, ia menghidupkan mesin mobilnya kemudian pergi dari rumah.
.
.
Memakan waktu yang cukup lama akibat kemacetan, Marsel sampai di kantor, ia membawa barang barang termasuk bekal miliknya.
"Wah, akhirnya si bule datang" sambut Dimas.
Tim kerjanya kemudian tersenyum, membuat Marsel bingung dengan senyuman mereka.
"Loh, kok tumben kalian senyum senyum kayak gini? Ada apaan sih? " tanya Marsel dengan bingung.
Putri kemudian memegang tangan Marsel, dengan senyuman Putri, membuat Marsel menjadi bingung.
"Tim kerja kita sudah mencapai target kinerja yang baik, Sel! Kita semua berhasil! " ucap Putri dengan semangat.
Mendengar ucapan Putri, Marsel kemudian ikut tersenyum, begitupun dengan tim kerjanya, mereka semua ikut bahagia atas usaha dan pencapaian mereka dalam bekerjasama selama ini.
Tak lama dengan kegembiraan mereka, mereka kemudian berubah menjadi sedih, mengingat hal itu adalah hari terakhir mereka kerja tim, dan akan pulang ke ruangan maupun ke meja masing-masing lagi.
"Yah, jadinya sedih deh, hari ini terakhir kita kerjanya bersama, terus kita berpisah ruangan maupun tempat duduk" ucap Yunita.
__ADS_1
"Iya, jadi sedih gak bisa barengan sama kalian lagi, jadi bikin kangen aja dengan suasana beginian" ucap Evi.
"Yaudah, gini aja, ketimbang kita sedih sedihan terus, gimana kalau kita abadikan momen ini dengan foto bersama? Kan bisa tuh nanti dijadikan kenangan buat kita, benar gak saran aku? " tanya Dimas.
"Boleh, pake HP aku ya, nanti kutag sosmed kalian biar bisa dilihat sama teman teman kalian" jawab Putri.
"Boleh, ayo kita susun posisi kita masing masing" perintah Kirana.
"Ini siapa yang fotoin? Gak boleh salah satu dari kita gak dapat foto, pokoknya setiap jepretan, tim kita harus dapat" ucap Putri.
"Eh, pak, pak cleaning servis"
Kirana memanggil cleaning servis, kemudian mendekati Kirana, dengan cepat Putri menyerahkan HP miliknya untuk meminta sebagai fotografer mereka kali ini.
"Pak, tolong fotokan kami ya, ikuti aba aba kami"
"Baik neng, posisinya yang bagus sedikit"
Satu persatu jepretan foto mengabadikan momen mereka bersama, tim kerja Marsel dengan gaya dan berbagai aktivitas mereka diabadikan dalam jepretan tersebut, sungguh setiap jepretan dan momennya tak akan bisa diulangi lagi.
.
.
Menunjukkan pukul 2 siang, Marsel pulang menuju rumahnya, di depan rumah ia melihat Wulan yang sedang asik menyirami tanamannya.
Wulan menyambut kepulangan Marsel dari tempat bekerja, ia sampai berlari ke arah Marsel hanya untuk memeluk Marsel.
"Abang, Wulan kangen banget sama abang tau, katanya pulang siang, ini mau sore loh" ucap Wulan pada Marsel.
Marsel hanya menggelengkan kepalanya, ia kemudian mencium kening istrinya dan membalas pelukannya.
"Maaf deh, tadi abang sempat foto foto dulu sama tim kerjanya abang, karena hari ini hari terakhir kami buat kerja bareng lagi" ucap Marsel.
"Yah, kasihan banget abang, pasti sedih ya pisah dari tim kerjanya abang? " tanya Wulan.
"Sedih sih ngga, tapi kangen aja, nanti juga bakalan berpisah dan pindah ruangan lagi karena target kinerja kami bagus dan mencapai target. Ya, bisa dikatakan, bikin sedih juga sih, hehe" jawab Marsel.
Wulan mengunyel unyel wajah Marsel, Marsel merasa kali ini Wulan tampak berbeda dengan berbagai tingkah laku yang ditunjukkan oleh istrinya daritadi pagi.
"Lan, abang boleh minta izin gak sama kamu? " tanya Marsel.
"Minta izin apaan, bang? " tanya Wulan kembali.
"Boleh gak kalau abang ambil liburan bersama sama tim kerjanya abang? "
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Jangan lupa tinggalkan jejak 👣👣👣
__ADS_1