
Note author: maaf jika banyak kekurangan pada cerita, karena author masih pemula 🔰
.
Di kantor, Marsel dengan perasaan senang mengerjakan pekerjaannya, ia kemudian didatangi oleh Enrico.
"Kayaknya seneng banget kamu, Sel. Tadi malam dapat jatah ya? " tanya Enrico.
"Apasih ric, aku gak mikir soal begituan, otak kamu tuh yang terlalu kotor, sampai aku senang aja selalu kamu kait kaitkan sama hal itu" jawab Marsel.
"Pura-pura polos kamu Sel, bukannya hal itu tuh menyenangkan? Bikin wajah kita tuh berseri seri kalau udah dikasih jatah? " tanya Enrico.
"Ric, berarti kamu menganggap Arinska seperti itu? " tanya Marsel, Enrico menaikkan bahunya.
"Ric, kebahagiaan pernikahan itu gak hanya soal hubungan dewasa aja, tapi banyak kebahagiaan lainnya yang bisa kita berikan untuk pasangan kita, contohnya aja bantu ngeberesin rumah, masak bersama, bermain bersama layaknya sahabat dan selalu ajakin makan sama jalan jalan. Wanita itu asal kenyang dia bahagia, apalagi ditambah kita bisa romantis sama dia. Jadi, gak selamanya hubungan dewasa bisa menjamin kedua pasangan itu bahagia, itu namanya kepuasan yang sementara terus diulang lagi" jelas Marsel.
"Ya, itu semua aku sering kok kasih untuk Arinska, ya cuma batas kasih uang sama beliin dia barang barang branded sih" ucap Enrico.
"Sesekali luangkanlah waktu buat bersama, Ric, kalau anak kalian sudah lahir, waktu kalian untuk bersama itu aja bisa jadi benar-benar terbatas loh, sempetin bisa punya waktu luang yang berharga untuk pasangan, waktu tuh gak bakal terulang lagi" jelas Marsel.
"Iya Sel...! Yaudah, nanti habis balik dari kerja langsung gas bukber bareng keluarga, mau gak? Tenang, soal biaya aku yang traktir" ucap Enrico dengan santai.
"Serius nih? " tanya Marsel.
"Sel, kamu sengaja ngelupain nya atau memang benar-benar lupa? Selama ini... Ah sudahlah, jadi gak berkah hartaku yang sudah ku bagikan kalau diungkit kembali" ucap Enrico.
"Pokoknya kalian semua dateng aja deh, biar bukbernya lebih berasa, nanti juga ada rombongan kita yang dulu juga ikutan hadir" sambung Enrico.
Marsel mengangguk setuju, ia kemudian menelpon Wulan.
.
.
Drrrttt!
Getaran suara HP Wulan di atas meja makan, Wulan yang sedang membersihkan beras meninggalkan berasnya sementara, ia mengambil hpnya dan mengangkat telponnya.
"Halo bang, ada apa? " tanya Wulan.
"Lan, nanti kasih tau sama mama, papa, Misella dan Raka kita bukber diluar ya sama rombongan kita dulu, katanya Enrico mau traktir kita semua" ucap Marsel.
"Oh, oke bang, nanti Wulan sampaikan" ucap Wulan.
Marsel kemudian menatap ke arah Enrico, ia kemudian mengingat sesuatu.
"Lan, gimana sama kondisi Misella? Dia gak aneh aneh kan? " tanya Marsel.
"Dia gak macam macam bang, cuma tadi sempat ribut aja sama Raka. Sekarang aja dia pergi ke kampus, padahal Wulan udah larang dia, kan dia gak boleh capek capek dulu" ucap Wulan.
"Oh begitu ya, nanti abang jemput aja dia di kampus, kamu nanti sore siap siap juga ya, jangan lupa kasih tau sama semua orang rumah" ucap Marsel.
"Iya bang, kalau gitu Wulan matiin ya telponnya, assalamu'alaikum"
Pip!
Wulan mematikan telponnya, ia kemudian melanjutkan membersihkan beras.
"Gimana Sel? Pada mau? " tanya Enrico.
"Ya nunggu pendapat orang rumah dulu lah, masa nanti ada yang gak mau dipaksa buat ikutan" ucap Marsel.
"Oke deh, kalau gitu, selamat bekerja"
Enrico meninggalkan meja kerja Marsel, sedangkan Marsel melanjutkan pekerjaannya.
__ADS_1
.
.
Di rumah, Raka kembali dari toko catering, ia melihat Wulan yang sedang tertidur di sofa.
"Mbak... Mbak... "
Raka memanggil manggil Wulan, Wulan kemudian terbangun dari tidurnya dan melihat Raka yang ada berdiri membangunkannya.
"Eh Raka, kamu baru pulang ya? " tanya Wulan.
"Iya mbak, maaf kalau Raka bangunin mbak Wulan, soalnya gak bagus kalau mbak tidur di sofa, langsung istirahat aja di kamar" jawab Raka.
Wulan menganggukan kepalanya, ia kemudian duduk dan berdiri.
"Sela kemana, mbak? " tanya Raka.
"Kuliah dia, ka" jawab Wulan.
"Loh, kenapa mbak suruh Sela buat kuliah mbak? Usia kandungan Sela kan masih muda banget mbak, gak boleh capek capek banget" ucap Raka dengan khawatir.
"Maafin mbak, Raka, mbak tadi udah sempet larang si Sela pergi kuliah, tapi taulah Sela gimana orangnya, dia ngancam bakalan pukul perutnya kalau mbak larang dia buat pergi kuliah" ucap Wulan.
"Begitu ya, ya mau bagaimana lagi, Raka gak bisa bujukin Sela saat ini karena dia masih kesal dan benci sama Raka, jadinya enakan Raka ngalah sama dia, ditambah lagi dia lagi hamil anaknya Raka" ucap Raka dengan nada pasrah.
"Yang sabar ya dek, mbak yakin kamu pasti mampu melewati masa sulit kayak gini di pernikahan mu" ucap Wulan.
"Makasih ya mbak, kalau begitu Raka mau istirahat dulu, capek habis bantuin mama ngangkut barang barang di tokonya" ucap Raka.
Wulan menganggukan kepalanya, ia kemudian mengingat sesuatu.
"Raka...! " panggil Wulan.
Raka yang sedang berjalan menuju kamar ia menanggapi panggilan kakak iparnya, ia kemudian menyahuti nya dan mendekati Wulan.
"Nanti sore gak usah siapin apa apa di atas meja makan untuk buka puasa ya, soalnya kata bang Marsel kita semua bakalan buka diluar, ditraktir sama temennya" ucap Wulan.
"Oh begitu, iya mbak, nanti Raka gak bakalan nyiapin apapun diatas meja. Mama sama papa udah mbak kasih tau belum soal ini? " tanya Raka.
"Nanti bakalan mbak kasih tau, soalnya tau sendiri mama sama papa lagi sibuk kerja, gak bakalan sempat megang hp mereka berdua" jawab Wulan.
"Oke mbak, kalau gitu Raka mau istirahat dulu ya"
Raka kemudian berbalik lagi ke arah kamarnya, sedangkan Wulan melanjutkan tidurnya di atas sofa, baginya sofa ruang tamu itu adalah tempat tidur terbaik.
.
.
Sore harinya, terlihat Misella yang terlihat lelah sehabis mata pelajaran nya habis, ia kemudian berniat untuk mencari taksi online atau angkot yang bisa ia naiki untuk pulang ke rumah.
Tin!
Suara klakson dari dekat, Misella membalikkan pandangannya dan melihat mobil milik Marsel.
"Cewe, sore gini kok baru pulang? " tanya Marsel dengan usil.
"Ih kakak gak tau aja Sela lagi sibuk sibuknya ngejar kuliah, apalagi ditambah lagi hamil, jadinya double banget tenaga yang Sela gunain" jawab Misella.
"Yaudah, sekarang masuk ke pintu belakang ya, mbak Wulan mu duduk disebelah kakak" ucap Marsel.
Saat membuka pintu, Misella merasa kesal, ia harus duduk disamping Raka, tetapi tidak ingin membuang banyak waktu, akhirnya ia duduk saja disebelah Raka.
.
__ADS_1
.
Sesampainya di restoran yang telah ditujukan, mereka semua langsung turun dan disambut oleh Enrico.
"Akhirnya datang juga, ayo masuk, kita nikmati makanannya buat buka nanti" ucap Enrico.
Enrico sengaja mengajak berbuka bersama di restoran, ia ingin sesekali merasakan berbaur dengan semua orang selain orang terdekatnya, ditambah lagi itu juga keinginan Arinska yang sedang ngidam makan diluar dengan orang orang asing.
"Eh kalian udah dateng, mana tante sama om? " tanya Arinska.
"Gak mau ikut katanya, mereka lagi pengen berbuka di rumah sama keluarga dari sepupunya bang Marsel, makanya cuma kita berempat aja" jawab Wulan.
"Begitu ya, yaudah ayo masuk, sekalian kita nunggu azan magrib tiba untuk berbuka"
Enrico dan Arinska menunjukan meja yang ditempati, khusus family table sangat cocok untuk mereka berkumpul bersama.
Disana ada Azizah dan Arifin, Enrico dan Arinska, serta dua pasangan lainnya.
"Makanannya udah dipesen, ric? " tanya Marsel.
"Udah, tinggal nunggu aja lagi"
Mereka serombongan asik mengobrol bersama, sesekali sambil melihat pesanan mereka yang ingin sampai.
Suara azan dikumandangkan, akhirnya waktu berbuka telah tiba, semua yang ada dimeja tersebut berdoa bersama dan mulai menikmati makanan mereka masing masing.
Enrico menawarkan nanas pada Misella, tetapi dengan cepat Raka melarangnya.
"Jangan dikasih nanas dulu ya kak Enrico, ada yang lagi tidur di dalam perutnya" ucap Raka.
Mendengar hal tersebut, membuat semua orang terkejut mendengar ucapan Raka.
"Jadi, Sela udah isi ya? Wah, bakalan nyusul nih kayaknya, sesamaan kayak aku, Sela" ucap Arinska, semua orang menjadi senang dan bahagia mendengar ucapan Arinska.
Di sisi lain, terlihat Azizah yang sedang menikmati makanannya dibalik cadar yang ia gunakan, hal tersebut membuat Arinska tertarik.
"Izah, kamu makannya gak repot? " tanya Arinska.
"Ngga kok, iska, aku udah biasa, makasih udah merhatiin nya" jawab Azizah.
"Kalau gitu, semangat ya hijrahnya, semoga kamu tetap jadi lebih tercerahkan maupun bisa memperbaiki" ucap Arinska memberikan semangat.
Ucapan Arinska membuat Azizah senang, ia menganggukan kepala dan melanjutkan makan makanan mereka lagi.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
Jangan lupa tinggalkan jejak 👣👣👣