Garis Merah

Garis Merah
17: Takut memberitahu


__ADS_3

Note author: maaf jika banyak kekurangan pada cerita, karena author masih pemula 🔰


.


Dunia seakan terbalik, ucapan dokter tersebut membuat Marsel terdiam dan tak percaya, begitupun dengan Wulan.


"Apa dok? Kista? " tanya Marsel dengan tidak percaya.


"Ibu Wulan mempunyai kista berukuran 5 cm dan 3 kista di rahimnya, yang menyebabkan datang bulannya mengalami sakit yang luar biasa, dan juga sangat kecil kemungkinan akan bisa hamil... " jelas dokter.


Wulan dengan air matanya ia kemudian berusaha untuk duduk, ingin menanyakan sesuatu pada dokter.


"Ada harapan untuk saya bisa hamil, dokter? " tanya Wulan.


"Semoga saja ada, bu Wulan, saya akan memberikan obatnya sesuai dosis yang telah ditentukan untuk ibunya. Kalau masih terasa menjadi, kita akan memberikan dua pilihan untuk ibu Wulan" jawab dokter.


Dokter kemudian memberikan resep obat untuk Wulan, Marsel membantu Wulan turun dari kasur dan duduk di kursi.


"Ini obat hormon untuk ibu Wulan, diminum secara rutin. Memang nantinya bu Wulan akan mengalami pusing, kram perut, terasa nyeri seluruh tubuh, kembung dan semacamnya itu efek samping dari penggunaan nya, jadi ditahan saja jika tidak terlalu parah dan sesekali periksa untuk mengetahui kemajuan kista di rahim ibunya. Dan juga ini bimbingan dari saya untuk ibunya, mengatur pola hidup sehat, dan yang terpenting jangan sering nahan buang air kecil nya ya bu" jelas dokter.


"Makasih ya dok, kalau begitu kami permisi"


Marsel merangkul Wulan ke luar ruangan, mereka memutuskan untuk pulang.


.


.


Di parkiran, Wulan menjatuhkan dirinya dan tersungkur, membuat Marsel panik.


"Wulan....! " panik Marsel.


Wulan menutupi wajahnya, ia kemudian menangis tersedu sedu, tangisan yang terdengar menyakitkan.


"Kenapa... Kenapa harus begini... "


Wulan meratapi kesedihannya, ia menangis sambil mer*mas bajunya sendiri.


"Lan, kamu jangan begitu sayang... Abang yakin Wulan bisa sembuh... Ayo, kita sekarang pulang... "


Marsel menenangkan Wulan, Wulan masih menangis dengan tersedu-sedu, seakan tidak percaya dengan apa yang terjadi padanya.


Di perjalanan, Wulan hanya menatap kosong ke arah jendela, sepertinya ia merasa tak percaya harus menerima apa yang terjadi padanya.


"Aku gak pernah nyangka, impianku untuk satu tahun menikah ini untuk bisa memiliki anak bersama suamiku. Tapi... "

__ADS_1


Belum sempat melanjutkan perkataan nya, Wulan kemudian menangis lagi, ia tidak sanggup menceritakan apa yang terjadi pada dirinya sendiri.


"Lan, jangan salahin diri kamu sendiri. Abang gak suka kalau kamu harus menyalahkan diri kamu sendiri, karena abang yakin, takdir akan selalu berubah kalau kapanpun kamu selalu yakin kalau kamu bisa melewati ini" ucap Marsel.


"Entah sampai kapan pun itu gak bakal terjadi... Takdir ya takdir, itu jalan hidup kita, bang... Yang namanya takdir itu gak bisa kita ubah... " ucap Wulan.


Marsel hanya bisa menatap istrinya yang putus asa, seakan tidak akan ada keajaiban yang akan terjadi pada Wulan sendiri.


.


.


Sesampainya di rumah, Wulan masuk ke dalam rumah seakan seperti mayat hidup, lemas dan terlihat pucat akibat menangis.


Marsel merasa khawatir, ia menyusul istrinya ke kamar, berusaha untuk menenangkan istrinya itu.


Wulan duduk dipinggir ranjang, ia menatap obatnya yang ada dimeja dengan tatapan kosong, ia tak mau melihat obat yang akan membantunya yang sedang terpuruk itu.


"Lan... " panggil Marsel.


Wulan menatap ke arah pintu kamar, ia kemudian memalingkan wajahnya dari Marsel.


Marsel menghela nafasnya, ia kemudian mendekati Wulan dan duduk disampingnya.


"Wulan gak lapar, Wulan juga gak mau makan... " jawab Wulan dengan nada putus asa.


Tiba-tiba suara dering dari HP milik Wulan, Wulan kemudian melihat siapa nama yang ada dilayar hpnya, itu adalah Salma.


Wulan berusaha menghilangkan sesenggukan nya, ia kemudian menghapus air matanya, berusaha menahan tangisnya yang ia keluarkan tadi.


"Halo mah, ada apa? " tanya Wulan.


"Wulan, bagaimana keadaan kamu nak? Apa masih nyeri? " tanya Salma dari telpon.


Mendengar hal tersebut Wulan berusaha kuat, ia takut ingin memberitahukan hal yang ia alami pada Salma.


"Ngga, ngga lagi kok mah, saran mama tadi benar-benar manjur kok, sekarang Wulan gak merasa nyeri. Ya, gak merasa nyeri... " jawab Wulan dengan berbohong.


"Syukurlah, oh iya, mama mau ngasih tau sama kalian kalau Arinska udah lahiran loh, cowo jenis kelaminnya, anaknya lucu banget, mama baru aja mampir dari sana. Dia bilang, dia mau nunggu kalian datang untuk lihat bayinya" jelas Salma.


Mendengar hal tersebut, rasanya Wulan ingin menangis, tetapi tetap ia tahan demi tidak terbongkarnya apa yang terjadi padanya.


"Oh iya mah, nanti Wulan sama bang Marsel mampir ke sana. Udah gak sabar mau lihat bayinya Arinska, pasti imut ya, hahaha... " ucap Wulan.


"Ahahaha iya nak, harus tuh, biar si Arinska seneng kalau kalian datang. Yaudah, mama matiin ya telponnya, soalnya mama mau ke toko. Assalamualaikum"

__ADS_1


"Waalaikumsalam... " balas Wulan.


Panggilan berakhir, Wulan menaruh hpnya di sebelahnya, ia kemudian menyenderkan tubuhnya ke suaminya.


"Lan... "


"Wulan sakit sekali rasanya, bang... Disaat semua wanita bisa hamil dan melahirkan buah hatinya, Wulan harus mengidap kista ini... Kenapa Wulan gak bisa mencapai apa yang Wulan ingin kan...! "


Wulan menangis dengan kencang, ia mer*mas baju suaminya, sedangkan Marsel hanya bisa merelakan istrinya melampiaskan kekesalan yang ada di benak hati istrinya itu.


"Lan, jangan salahkan diri kamu sayang... "


"Itu semua salah Wulan, bang...! Wulan ingin sekali memberikan keluarga serta mama papa keturunan dari Wulan dan abang, tetapi kenapa harus begini...! " tangis Wulan dengan kencang.


"Lan, abang sama keluarga gak pernah nuntut kamu harus hamil, Lan... Itu semua berdasarkan keputusan kamu sendiri, Lan... "


"Tapi Wulan ingin kalian bahagia...! "


Tangisan Wulan makin menjadi, Marsel memeluk istrinya dengan erat dan berusaha menenangkan istrinya itu dari tangisan, ia pun ikut menangis melihat ratapan istrinya.


"Sabar sayang, abang yakin kamu bisa... "


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Jangan lupa tinggalkan jejak 👣👣👣

__ADS_1


__ADS_2