
Note author: maaf jika banyak kekurangan pada cerita, karena author masih pemula 🔰
.
Keesokan harinya, Marsel dan Wulan bergegas untuk berangkat pagi pagi sekali, karena mereka sudah dihubungi beberapa kali oleh Raka.
Pagi itu, mereka diam, karena sehabis keributan malam tadi membuat mereka masih diambang ambang kekesalan masing masing.
"Pintu sudah diperiksa? " tanya Marsel.
"Sudah" jawab Wulan dengan singkat.
Marsel kemudian menghidupkan mobilnya, Wulan masuk ke dalam mobil sambil mengangkut barang-barang, Marsel kemudian mengendarai mobilnya menuju ke rumah sakit tempat Misella melahirkan.
.
.
Sepanjang perjalanan Marsel dan Wulan saling berdiaman, mereka tidak berniat untuk saling menyapa, karena ego mereka yang mengendalikan mereka agar tidak ingin memulai percakapan.
Tiba-tiba HP Marsel berdering, ia merogoh kantongnya dan mengangkat telponnya.
"Halo ka, ada apa ya? " tanya Marsel.
'Kak, kakak sama mbak dimana? ' tanya Raka lewat telpon.
"Kami mau ke rumah sakit. Bagaimana sama kondisi Sela ka? Lancar lancar aja kan? " tanya Marsel.
'Alhamdulillah kak, semuanya lancar lancar aja, cuma sekarang Sela lagi butuh donor darah, karena sempat kekurangan darah saat lahiran '
Marsel kemudian mengingat golongan darah adiknya, yaitu A+, tetapi ia mengikuti Salma, yaitu golongan darah O+.
"Waduhh, sekarang sudah ketemu pendonor darah buat Sela, ka? Sela golongan darahnya A+ kan? " tanya Marsel.
'Iya kak, sayangnya sekarang pendonor darahnya belum ketemu, butuh 1 kantong lagi soalnya. Golongan darah Raka sama Sela berbeda, kalau Raka golongan darahnya B- ' jelas Raka.
Merasa sudah mepet, Marsel merasa kebingungan, ia kemudian menatap ke arah Wulan.
"Lan, golongan darah kamu A+ kan? " tanya Marsel.
"Iya, golongan darah Wulan A+, Sela butuh donor darah kan? " tanya Wulan.
"Iya Lan, abang mohon sama kamu, jadilah pendonor darah buat Misella, soalnya Sela lagi butuh donor darah sehabis melahirkan" jawab Marsel dengan memohon.
"Iya, demi Misella, Wulan bakal donorin darah Wulan" ucap Wulan.
"Makasih, eh ka, mbak Wulanmu yang bakalan jadi pendonor darahnya Sela, sabar ya, kami secepatnya kesana" ucap Marsel.
'Iya kak, sebelumnya makasih, hati hati di jalan'
Panggilan berakhir, Marsel menaruh hpnya di kantongnya kembali, Wulan kembali ke sifat semula, masih tak ingin memulai pembicaraan dengan Marsel.
"Lan... " panggil Marsel.
"Kenapa? " tanya Wulan dengan singkat.
"Lan, kamu masih marah sama abang? " tanya Marsel dengan lembut.
"Jelas banget Wulan masih marah sama abang! Wanita mana yang gak marah kalau suaminya bawa bawa wanita lain terus dia asal ceramah sembarangan begitu?! Dikira dia siapa bisa ceramahin Wulan?! " jawab Wulan dengan nada kesal.
Marsel menghela nafasnya, ia kemudian memegang tangan Wulan, tetapi Wulan menghempaskan nya.
"Lan, kamu serius, kalau kamu masih nganggep abang sama teman abang tadi malam kalau kami punya hubungan? " tanya Marsel.
"Kenapa nanya begituan? Berarti benar ya?! " tanya Wulan.
"Ngga Lan, abang serius, abang sama Putri itu sekedar teman kerja biasa. Masalah belas lipstik itu, itu murni kesalahpahaman" jawab Marsel, tetapi jawaban tersebut tidak digubris oleh Wulan, membuatnya menyerah.
"Ya secara mungkin abang juga salah, memang salah seharusnya. Kenapa saat itu abang sama Putri ditunjuk sama kelompok kami buat nganterin berkas pekerjaan yang sudah kami kerjakan? Harusnya kan bisa abang sendiri yang nganterin, ah, memang bodohlah abang Marselmu ini, Lan... "
Ucapan Marsel membuat Wulan tak enak hati, karena sampai sampai suaminya merendahkan dirinya sendiri di depan nya.
"Abang... "
Wulan meraih tangan Marsel, Marsel menatap ke arah Wulan.
"Maaf, maafin Wulan, karena Wulan, abang harus mengucapkan diri abang sendiri dengan ucapan yang seharusnya gak cocok sama abang. Wulan minta maaf, semalam Wulan bentak bentak abang, karena Wulan masih kurang yakin malam tadi dengan abang membawa teman abang itu. Abang gak bodoh, abang itu hebat dan pintar, sejatinya abang itu suami Wulan yang hebat, jangan bilang diri abang bodoh lagi ya? " ucap Wulan.
__ADS_1
Marsel menganggukan kepalanya, sambil mengendarai mobilnya ia memegang tangan Wulan.
.
.
Sesampainya di rumah sakit, dengan terburu-buru Marsel dan Wulan mencari ruangan Misella, tetapi mereka akhirnya disusul oleh Raka.
"Kak, akhirnya datang juga, maaf pagi pagi begini Raka bikin repot kak Marsel sama mbak Wulan" ucap Raka.
"Gak papa Raka, sekarang di mana ruang donor darah? Ini harus secepatnya di donorkan untuk Misella"
Raka kemudian menunjukkan ruangan donor darah, Wulan mengikutinya dan masuk ke ruangan.
"Bisa di luar ruangan terlebih dahulu ya mas mas sekalian, agar pendonor menjadi tenang saat pengambilan darahnya" ucap suster.
"Oh oke" ucap kedua laki laki tersebut, Marsel dan Raka duduk menunggu donor darah dari Wulan selesai.
Beberapa menit kemudian, Wulan keluar dengan diberi minum dan makanan, ia kemudian mendekat ke arah Marsel.
"Gimana sayang? Sudah? "
"Ya, Wulan udah diambil darahnya, cuma disuruh istirahat dulu" jawab Wulan.
"Oh iya ka, boleh gak kami lihat anakmu? Kami belum lihat soalnya" ucap Wulan.
Dengan perasaan berat hati, Raka menganggukan kepalanya, karena ia tidak sanggup jika orang lain melihat anaknya yang terlahir prematur.
"Ya, ayo kak, mbak, ikut Raka ke ruang bayi" ajak Raka.
Marsel dan Wulan berjalan mengikuti Raka ke ruang bayi, Marsel merangkul Wulan sambil berjalan agar Wulan tidak merasa lelah sehabis donor darah.
.
.
Di ruang bayi, Marsel, Wulan dan Raka dihimbau oleh suster yang menjaga untuk tidak berisik, karena masih banyak bayi bayi lainnya yang tertidur tenang di ruangan tersebut.
"Harap jangan berisik ya kakak kakak sekalian" ucap suster tersebut, ketiga orang tersebut menganggukan kepala.
"Kecil sekali bayimu, Raka" ucap Wulan.
"Sayang... "
Marsel menegur Wulan, tiba-tiba Raka menangis.
"Raka... "
"Maaf, baru kali ini Raka nangis di depan kalian, soalnya Raka merasa sedih, anak kami harus lahir lebih awal dengan ukuran tubuhnya yang hanya sebesar botol air mineral yang besar. Lihatlah telapak kakinya saja, terlihat sekali urat-urat nya, beratnya saja kurang lebih 2 kilogram. Raka gak tau bagaimana respon Misella kalau lihat anak kami seperti ini... " isak tangis Raka.
Wulan mengelus punggung Raka, ia menenangkan adik iparnya yang menangis.
"Sudah ka, gini ya, walaupun mbak belum punya anak sampai sekarang, tapi mbak yakin, anak kamu sama Sela pasti bisa jadi anak bayi yang normal. Penuhilah kebutuhannya, kasih asupan nutrisi yang baik buat anak kamu, mbak yakin, nanti anak kamu bisa jadi bayi normal seperti biasanya" ucap Wulan.
"Mbak yakin? " tanya Raka.
"Yakin, mbakmu itu seorang wanita, pasti dia mengerti" jawab Marsel.
Raka sedikit merasa tenang, ia kemudian menatap kembali anaknya yang berada dalam inkubator, sedangkan Wulan melamun menatap anak Raka yang berada di dalam inkubator.
'Kapan ya aku bisa melahirkan seorang bayi, dan dengan bahagianya bang Marsel melihat anaknya nanti seperti Raka ini dengan keadaan sehat dan normal? '
Hati Wulan terasa sakit kembali, ia ingin meneteskan air matanya, tapi berusaha tegar agar tidak terlihat lemah dan semua orang akan mengetahui penyakitnya.
.
.
Setelah beberapa lama menunggu, Misella kembali sadar dari pingsannya, ia kemudian melihat ke sebelahnya, keluarganya menunggu dan menjenguknya.
"Raka... " panggil Misella.
"Ya sayang, aku di sini" ucap Raka.
"Dimana bayi kita? Apa dia sehat sehat saja? " tanya Misella.
Raka hanya terdiam, ia tidak berani menjawabnya.
__ADS_1
"Sehat kok dek, anak kamu sehat sehat aja"
Misella menatap kakaknya, Marsel yang berada di samping nya duduk menatapnya.
"Kakak udah lihat anaknya Sela? " tanya Misella.
"Udah, anak kamu kondisinya sehat kok" jawab Marsel.
"Serius? Boleh Sela lihat anaknya Sela? " tanya Misella.
Suster yang berada di ruangan tersebut mendorong dengan pelan inkubator, Misella melihat anaknya, ia terkejut dengan ukuran bayinya.
"Anak Sela... "
"Sela... "
Misella kemudian menangis, ia sedih ketika melihat ukuran bayinya yang sangat kecil.
"Anak Sela kecil banget, gak kayak bayi normal seperti biasanya... Kenapa harus lahir lebih awal sih... " isak tangis Misella, Raka kemudian memeluk istrinya dan menenangkan nya.
"Sabar sayang, yang penting anak kita terlahir sehat sehat saja, gak ada kekurangan "
"Tapi ini kecil banget, ka... Kenapa juga sih air ketuban ku sedikit kemarin, gak normal seperti biasanya... Aku kasihan lihat kondisi anak kita sekarang, karena aku yakin dia sangat rapuh karena terlahir lebih cepat... " keluh tangis Misella.
"Misella, nak, syukurilah dengan keadaan anak kamu sekarang. Mama yakin, kalau kamu sama Raka merawatnya dengan baik, kasih asupan nutrisi yang baik, pasti anak kalian bisa jadi bayi normal seperti biasanya. Sekarang, kamu peluklah anakmu, lihat lah wajahnya walaupun dia rapuh" bujuk Salma.
"Raka, anakmu sudah kamu azankan? " tanya Thomas.
"Sudah pah, saat masih di ruang bersalin tadi, Raka sudah azankan anak kami" jawab Raka.
Suster memangku bayi tersebut pada Misella, Misella kemudian memangku anaknya dan menatap wajahnya anaknya yang tak jauh dari wajahnya.
"Halo Rafael sayang, maafin ibu ya, bukan maksud ibu gak suka sama Rafael, cuma ibu kasihan lihat Rafael yang badannya kecil seperti ini... "
Misella mencium kening anaknya, perlahan mata Rafael mulai terbuka sedikit kemudian menutup kembali.
"Namanya Rafael ya? " tanya Wulan.
"Iya, halo bunda, nama aku Rafael... "
Wulan merasa tertegun, panggilan bunda untuknya membuatnya senang, ia kemudian mendekatkan posisi duduknya di sebelah Misella dan menatap Rafael yang tertidur kembali.
"Halo nak... " sapa Wulan, ia kemudian mengelus dengan pelan kepala Rafael dan menatap wajah Rafael.
"Bunda, kalau bunda punya adek nanti, Rafael mampir buat lihat adeknya Rafael ya, bunda... " ucap Misella seolah-olah Rafael yang bertanya.
"Iya sayang, boleh kok, nanti kalau bunda punya adek, Rafael boleh kok lihat adeknya... " jawab Wulan.
Walaupun belum hamil, tetapi ucapan tersebut bisa berupa do'a, oleh karena itu Wulan menjawabnya dengan senang hati.
'Kalau aku hamil, terus melahirkan, anakku nanti mirip bang Marsel gak ya? ' tanya Wulan dalam hati.
"Selamat datang, ponakan.... "
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Jangan lupa tinggalkan jejak 👣👣👣
__ADS_1